07 June 2012

Jadi Gubernur DKI

Ini tulisan tak akan menyoroti nama-nama yang mencalonkan diri jadi Gubernur DKI. Juga bukan soal DPT yang tidak akurat. Ini tulisan mau mencoba memberikan panduan apa yang seharusnya dilakukan oleh Gubernur DKI.

gambar diambil dari http://ryannzha.deviantart.com/art/Ali-Sadikin-163894966


Baiklah kita mulai.

Gubernur DKI harus mengelola tanah DKI. Pahami ini dalam konteks land-reform. Dengan menciptakan kejelasan mengenai luas tanah, status tanah, rencana penggunaan tanah dengan menggunakan kerangka pikir kemaslahatan kota Jakarta dan penduduknya, maka Pemerintah DKI akan mampu melahirkan kebijakan pertanahan yang tepat. Apabila ada tanah-tanah yang keberadaanya akan menganggu seluruh ekosistem kota Jakarta, maka perlu dijalankan reformasi tanahnya. Beberapa kebijakan turunan dari kejelasan tanah antara lain konservasi air, tata ruang kota, infrastruktur dan ruang terbuka atau barangkali perkebunan. Intinya adalah tanah akan jadi induk segala kebijakan. Semua kebijakan harus ditujukan demi kebaikan tanah, kebaikan bumi.

Langkah kedua yang harus dilakukan Gubernur DKI adalah membangun dan atau meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah sekeliling: Tangerang Selatan, Depok dan Bekasi. Apabila diperlukan, kolaborasi diperlus hingga ke level Gubernur Jabar dan Banten. Kolaborasi akan jadi kendala yang sangat menghalangi kemakmuran Jakarta. Apabila gagal menjalin kerjasama dengan pejabat pemerintah sekelilingnya, niscaya apapun kebijakan di Jakarta akan memberi hasil kurang dan dalam kurun waktu panjang akan percuma. Beberapa contoh kebijakan Jakarta yang harus melibatkan pemerintah sekitar adalah tempat pembuangan sampah, penanggulangan banjir, integrasi transportasi dan yang paling penting adalah water reservoir.

Tindakan ketiga yang harus digagas Gubernur DKI adalah meningkatkan kompetensi dan kapabilitas karyawan pemerintah DKI. Ketidakefektifian dan ketidakefisien layanan dapat diatasi dengan pemanfaatan Teknologi Informasi. Dan untuk itu, Pemda DKI harus memastikan bahwa seluruh karyawan DKI melek teknologi. Di tataran kasat mata, cara berpikir karyawan DKI juga harus diperlebar, jangan melulu project-oriented, tetapi tidak mampu berpikir strategis dan jangka panjang.

Langkah keempat yang harus dilakukan Gubernur DKI adalah memberi contoh, menjadi role model. Dalam kata-kata Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sing tulodo - di depan memberi tauladan. Kalau berkampanye tolak korupsi ya jangan korupsi. Pokoknya harus satu kata satu perbuatan. Ketidakmampuan menjadi role model akan menentukan kesuksesan si Gubernur. Dan apabila si Gubernur gagal jadi tauladan maka seluruh penduduk Jakarta dan juga penduduk di wilayah sekeliling Jakarta atau bahkan warga negara Indonesia akan menanggung resikonya.

Itu saja, sekian.

20 March 2012

Penggali Jalan, RAK & CSR

Penggali jalan adalah tenaga kontrak yang diminta perusahaan untuk melubangi jalan agar bisa dipasangi alat yang dimiliki perusahaan yang menyuruhnya. Penggali jalan tugasnya hanya itu, membuka pintu. Dia adalah pioner dalam rangkaian kerja pemasangan infrastruktur, bisa telekomunikasi, listrik atau air minum.

 sumber: http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/11/18/67034/galian_pipa_limbah/#.T9Az0MXy0Vk

Kemampuan dasar penggali jalan adalah bisa menguasai alat-alat penggalian: pacul, linggis, sekop. Dan memiliki keahlian ekstra seperti mekanisme pemboran tanah sederhana. Penggali jalan adalah pelaksana. Dia tidak perlu memiliki kemampuan komunikasi atau kemampuan lansekap.Pokoknya, dia tidak tahu hal lain selain bahwa tugasnya melubangi jalan. Mau efek galian bikin macet jalan dan saluran air, dia tak peduli. Dia hanya menuruti apa kata mandornya yang menuruti si perancang kerja.

Si perancang adalah perusahaan pemilik fasilitas. Di pundaknya lah seharusnya segala macam efek harus dia tanggung. Jika galian meninggalkan lobang, maka dia wajib menutupnya. Intinya adalah dia bertanggung jawab mengembalikan situasi lahan galian seperti semula, syukur-syukur malah lebih bagus.

Nah, bisakah kita bilang dengan meyakinkan setiap perusahaan yang telah melubangi jalan mengembalikan ke keadaan semula atau bahkan menjadikannya lebih baik? Saya tak bisa, meski saya tahu perusahaan-perusahaan itu mampu jika mau mengasah budi pekerti.

 sumber: http://goodneighborstories.com/2012/02/13/random-acts-of-kindness-week/

Dan budi pekerti seperti inilah yang tengah digelorakan, atau lebih tepatnya, bersemi di lubuk perusahaan kelas dunia. Para pengamat tren perilaku mengenalinya sebagai Random Act of Kindness yang dipraktekan dalam lingkup korporat. Oh ya, RAK itu - kata wikipedia - is a selfless act performed by a person or people wishing to either assist or cheer up an individual person or people. Jadi RAK perusahaan adalah tindakan baik yang tanpa syarat, tanpa rencana. Beda dengan CSR.

Kita pastinya sudah karib dengan istilah CSR itu kan? Nah, CSR sekarang dikelola dengan demikian seriusnya sampai-sampai ia lebih mirip fungsi bisnis inti ketimbang makna orisinalnya: tanggung jawab sosial dari sebuah perusahaan. Banyak perusahaan Indonesia kini memiliki divisi CSR yang dibentuk atas "dorongan pencitraan" bukan bertanggung jawab kepada masyarakatnya.

Itu sebabnya CSR yang biasa kita dengar dan lihat adalah kegiatan rutin, tanpa hati, seromonial, enggak ikhlas. Ini sebabnya, jalan-jalan yang telah dilubangi oleh perusahaan telekomunikasi yang punya profit banyak, tetap berlobang atau ditambal dengan cara yang buruk dan membahayakan pengguna jalan lain. Kasus lebih parah bila yang rusak itu trotoar, memaksa pejalan kaki masuk ke jalan dan membahayakan dirinya.

Dan bagi saya, bukan CSR yang diperlukan saat ini oleh masyarakat Indonesia, tetapi RAK. Jika para perusahaan itu merasa bahwa RAK secara korporasi merugikan, mereka harus lihat kemampuan social media menyalurkan suara tulus masyarakat.




08 March 2012

Telepati


Telepathy (from the Greek τηλε, tele meaning "distant" and πάθη, pathe meaning "affliction, experience"),is the transmission of information from one person to another without using any of our known sensory channels or physical interaction. The term was coined in 1882 by the classical scholar Fredric W. H. Myers, a founder of the Society for Psychical Research and has remained more popular than the more-correct expression thought-transference.

Kutipan di atas dicomot dari Wikipedia. Ringkasan terjemahannya adalah telepati berasal dari kata Yunani: tele dan pathe. Tele berarti jauh, pathe berarti pengalaman. Digabung jadi telepati yang didefinisikan sebagai lalu-lintas informasi dari satu orang ke orang lain tanpa menggunakan saluran sensor yang sudah dikenal, ini berarti bahasa lisan, tulisan, dan interaksi fisik.

 sumber: http://www.crystalinks.com/telepathy.html

Apakah kita bisa telepati? Saya kok cenderung mengatakan bisa, bahkan mahir. Apa buktinya? Lihat saja di jalan raya. Aktivitas telepati berlangsung tiap hari, hamper 24 jam penuh.

Kita bisa dengan mudah melihat kendaraan, baik roda empat atau dua, berbelok tanpa memberikan tanda lampu sein. Kita juga akan dengan mudah mendapati lampu rem kendaraan yang menginformasikan aktivitas  “stop” atau “mengurangi kecepatan” tidak berfungsi.

Ini membuktikan bahwa kita sebagai pengendali kendaraan itu mampu bertelepati. Karena kemampuan ini pula, fasilitas yang disediakan oleh pabrikan mobil dan motor itu, tidak diperlukan lagi.
Jika masih ada yang menggunakan fasilitas lampu sein atau lampu rem, maka artinya si pembawa kendaraan tadi belum sakti dan tidak sepantasnya mengendari kendaraannya di jalan umum.

sumber: http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/91/news/100727201958/limit/0/Jalur-Lintas-Sepeda-Motor-di-Jakarta-Akan-Dibatasi.html


Demikian.

08 August 2008

Import Now, Risk Later

Kata maju identik dengan Barat: Eropa dan Amerika. Kedua benua itulah yang memiliki kata maju. Jepang, kendati maju juga, boleh menggunakannya dengan berbagai syarat. Negara dunia ketiga - istilah yang diciptakan negara-negara maju - tidak berhak menggunakan kata maju, apalagi dengan sembrono, apalagi untuk merujuk aktivitas-aktivitas yang mengandalkan otak. Orang dari negara dunia ketiga sama sekali tidak pantas menggunakan kata kemajuan jika mereka menemukan teknologi baru. Mereka hanya pantas menyebutnya sebagai perkembangan.

Oleh sebab itulah, jika ada negara-negara tidak maju ingin menjadi negara maju, maka ia harus mengimpor dan mengimplementasikan ragam hal yang berasal dari negara maju. Mesin-mesin, sistem politik hingga cara berpikir.

Apakah Indonesia sudah melakukan impor itu? Sudah lah. Mau contoh. Perempuan seksi bagi pria Indonesia kebanyakan adalah mereka yang memiliki payudara besar. Mengapa begitu? Sebab film Amerika yang beredar di Indonesia diciptakan oleh mereka yang tergila-gila kepada Dolly Parton, Pamela Anderson. Coba jika dulu pria Indonesia lebih banyak menonton film Perancis yang punya kategori berbeda tentang perempuan seksi itu!

Apakah dengan mengimpor kemajuan negara-negara maju Indonesia kemudian menjadi maju? Enggak juga tuh. Indonesia malah semakin terpuruk karena seiring dengan penyerapan yang berbau asing itu, Indonesia justru lupa, atau bahkan meniadakan, dirinya sendiri. Ini yang terjadi dengan batik, rendang, lagu Rasa Sayange atau yang paling mutahir: penjualan naskah kuno dari Kesultanan Cirebon ke Malaysia.

Parahnya lagi, negara-negara maju yang dulu memaksa kita menerima produk-produk kemajuan mereka, justru kelihatannya mengimpor nilai-nilai yang ada di negara-negara dunia ketiga. Misalnya ada sebuah artikel: Two into one won't go: Cambridge survey shows new doubts over working mothers (http://www.guardian.co.uk/society/2008/aug/06/equality.gender?gusrc=rss&feed=networkfront) menemukan bahwa dukungan terhadap kesetaraan jender di Inggris dan Amerika menurun. Lucunya, kesetaraan jender sedang gencar dikampanyekan di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Hal lain yang tengah digemari oleh negara-negara maju adalah produk makanan yang masih murni. Artinya, hasil dari pengolahan tradisional, bukan hasil dari teknologi pertanian. Dan produk-produk ini mahal harganya.

Kelihatannya adalah negara-negara maju mengiming-imingi negara-negara dunia ketiga dengan kemajuan supaya mereka bisa dapat dengan mudah mengambil produk-produk dari negara-negara ketiga. Ini adalah lanjutan dari kolonialisme, kayaknya.

Dan kita sebagai penduduk dunia ketiga cenderung percaya untuk terus mengimpor, resikonya ditanggung belakangan. Padahal resikonya sudah terlalu besar dibanding barang-barang impor yang sekarang tak berguna!



04 August 2008

TUA MUDA

Malam minggu di rumah menonton pertandingan sepakbola antara Arsenal dan Juventus. Ada kontras di sana. Arsenal dipenuhi pemain muda usia, Juventus sebaliknya. Tetapi kedua tim bermain dengan kualitas yang sama. Bahkan pemain Arsenal cenderung lebih ofensif dalam tingkat kematangan yang sama dengan para pemain Juventus. Mungkin karena main di kandang sendiri.

Saya sih terkagum-kagum saja melihat permainan bola kelas tinggi dimainkan dengan apik oleh anak-anak muda. Kok bisa? Kok di negeri kita tak bisa? Kalau mau repot-repot mencari penjelasanny, well, kita akan dapat banyak jawaban. Mungkin fasilitas, kultur, sistem edukasi atau faktor pelatih, tetapi yang pasti bukan karena faktor manusia. Sebab, manusia di mana-mana sama. Jika ada pembunuh berantai (terminologi yang aneh: kalau dirantai bagaimana bisa membunuh....) di Amerika yang mengubur mayat-mayatnya di dasar rumahnya, di Indonesia juga ada tuh. Sebab itu, jika ada anak-anak berusia muda dari pelbagai penjuru dunia dan berkumpul di Arsenal dan memainkan bola bagus, harusnya ada jugalah anak-anak Indonesia yang bisa bermain sebagus mereka. Apalagi, jika kita menimbang sejarah, banyak sekali orang Indonesia di masa lalu yang memiliki prestasi melebihi orang-orang Eropa. Sebut saja Tan Malaka yang berhasil memenangkan kursi di dewan perwakilan Belanda mewakilui partai buruh pada saat berusia 20-an tahun, mengungguli ketua partainya sendiri yang notabene orang Belanda asli. Anak Indonesia, bukanlah anak-anak terbelakang terlepas dari makanan, gaya hidup, cara dibesarkan, dan dipimpin oleh koruptor.

Apakah usia memang harus jadi isu? Ya! Sebab, dalam dua dekade terakhir, prestasi anak muda berbanding lurus dengan kecepatan informasi. Kok? Informasi cenderung bebas, dan mengalir demikian cepatnya, apa yang terjadi di belahan dunia lain, dalam hitungan detik, dapat diketahui oleh mereka yang tinggal di sisi yang lain. Informasi ini telah membuat orang yang mengaksesnya berkembang sedemikian cepatnya karena orang-orang ini dengan cepat pula menggunakan informasi itu untuk kepentingan dirinya, untuk kemajuan dirinya. Anak muda cenderung lebih adaptif dengan informasi sebab mereka masih terbilang cukup murni, tanpa beban, dan memiliki visi tanpa menyadari bahwa di masa datang begitu banyak yang harus dihadapi. Tetapi biar begitu, mereka maju pantang mundur. Alih-alih tertelan oleh sistem, mereka mendobrak sistem. Ini yang terjadi dengan sepakbola. Ketika Ronaldo yang masih muda menjadi pemain termahal, dengan segera digantikan oleh Michael Owen, dan seterusnya.

Singkat kata memang perlu lokomotif. Harus ada yang mencoba. Syukur-syukur, yang mencoba itu gerombolan, kelompok besar. Sehingga, daya dobrak kian besar. Sekali terdobrak, gerbong lain akan dengan sendirinya tertarik masuk.

Ini yang saya harapkan dari wacana yang dikembangkan oleh PKS yang meminta tokoh tua mundur. Sebenarnya ini bukan hal baru sebab di bidang-bidang lain, para muda Indonesia sudah mulai menggejolak, bukan dengan demo, tetapi dengan karya, dengan prestasi.

Saya dukung ini bukan berarti saya fans PKS. Saya cuma sudah bosan aja dengan orang-orang yang itu-itu juga. Kita telah berisiko menjadikan mereka pemimpin dan hasilnya juga boleh dibilang sama dengan rezim terdahulu. Saya pingin para muda yang memimpin, ambil resiko itu, moga-moga hasilnya beda. Kalaupun gagal, kita cuma kehilangan lima tahun. Tetapi kita bisa bangga bahwa kita pernah mencoba. Dan kita bisa mati dengan tanpa rasa sesal!

28 July 2008

PEMBUNUHAN OLEH MEDIA

Media punya isu bagus sepekan terakhir. Bukan politik, bukan pula skandal artis, tetapi pembunuhan. Biasanya berita macam ini tampil di koran-koran yang disajikan untuk kelas menengah bawah, sekarang bahkan media kuat, ikut memanfaatkan isu ini jadi penglaris jualan.

Memang pembunuhan kali ini sangat khas. Dalam pemasaran produk, pembunuhan kali ini baru, beda, dan segar. Baru karena pembunuhnya satu, korbannya banyak - serial killer lah istilahnya. Bedanya karena pembunuhnya adalah laki-laki kemayu yang membunuh karena cemburu pacar prianya digoda. Segar karena kedua hal tadi hadir di tengah situasi kondisi masyarakat yang lagi megap-megap membeli barang kebutuhan pokok yang naik terus.

Setelah isu KPK yang menangkap koruptor kelas kakap, katanya, maka pembunuhan berantai oleh gay adalah daya tarik berkekuatan besar. Well, setidaknya bisa dibikin besar oleh media. Beberapa hari sebelum peristiwa ini sebenarnya ada hukuman mati bagi beberapa tersangka pembunuhan yang rada mirip dengan pembunuhan kali ini. Dan saat berita pembunuhan ini ramai, ada pula pembunuhan kategori sadis lain yang ketahuan - judulnya mayat dalam koper.

Singkat kata, dua pekan terakhir dan mungkin sampai beberapa pekan ke depan, masyarakat Indonesia akan terus dijejali dengan pembunuhan oleh media massa. Publik jadi lupa jika harga beras terus naik, minyak tanah susah, tabung LPG meledak, kekeringan, gagal panen, dan persoalan lain yang tiap hari dihadapinya. Media massa seperti bersepakat mengalihkan penderitaan banyak orang Indonesia menjadi bebannya si pembunuh seorang.

Sepertinya, apapun boleh dilakukan penguasa untuk membuat masyarakat lupa kalau mereka punya problem. Saya sih mengira-ngira, Liga Inggris yang tadinya dimonopoli stasiun TV berbayar akan dibebaskan lagi supaya masyarakat terus lupa kalau mereka punya masalah.

Kalau soal Liga Inggris itu, saya juga suka dan mungkin juga lupa dengan masalah saya.

03 July 2007

Popularity versus Security

Bayangkan, Anda adalah orang terkenal karena status sosial. Dengan posisi itu, Anda punya kuasa yang lumayan besar dan menentukan. Dan semakin Anda terkenal semakin Anda berkuasa. Kekuasaan Anda ada karena keterkenalan, dan keterkenalan akan semakin memperkuat posisi Anda.

Apa yang akan Anda lakukan jika karena sesuatu dan lain hal keterkenalan Anda berkurang, baik akibat perbuatan sendiri maupun perbuatan orang lain. Jawaban normalnya adalah Anda akan dengan segala macam cara membuat keterkenalan Anda pulih, syukur-syukur bisa meningkat dan menguat.

Jika aktivitas memulihkan keterkenalan Anda harus mengorbankan orang lain, apakah Anda akan melakukannya? Jika jawaban Anda "mungkin", maka dapat dipastikan Anda bukanlah sosok berkepribadian kuat. Anda harus menjawab "ya", termasuk terhadap pertanyaan, "Apakah Anda siap jika ada orang mati gara-gara keterkenalan Anda?"

Apakah pernah ada kasus seperti ini dalam dunia nyata? Ada, kebanyakan di Amerika Serikat. Di Indonesia juga pernah terjadi. Bahkan peristiwa itu belum lama berselang. Mau tahu?

Itu loh peristiwa pengibaran bendera RMS di depan SBY waktu peringatan Hari Keluarga Nasional di Ambon sana. Peristiwa itu sekarang ramai, perdebatannya di seputar pengamanan Presiden. Ada yang bilang BIN ceroboh, POLRI kebocoran, dan PEMDA yang tak berkoordinasi. Saya menyimpulkan bahwa SBY telah dengan SENGAJA membiarkan pengibaran itu terjadi di depannya supaya popularitasnya meningkat. Lalu mengapa pengibaran RMS? Ya karena dalil umum saja, semakin Anda bisa menonjolkan diri dalam situasi yang rawan, semakin terkenal lah Anda itu. SBY bukan pengecualian!

Bagaimana logikanya? Dulu, ada peringatan SBY diancam akan dibunuh, kalau tidak salah BIN yang melansir isu ini. Artinya, BIN sudah sangat canggih sampai tahu bakal ada yang membunuh SBY. Di kasus bendera RMS, masak iya BIN tidak tahu. Pastinya BIN tahu tentang rencana itu, dan bakan juga tahu bahwa rencana itu TIDAK membahayakan Presiden. Apakah POLRI juga tahu, ya iyalah! Pemda? Ya tahu juga lah...

Singkat kata pengibaran bendera RMS di Ambon itu sepenuhnya adalah rekayasa "tanda-tanda" untuk mempopulerkan SBY. Tak lebih tak kurang.

  • Tanda pertama: Ambon - berkat berita yang simpang siur - adalah wilayah rawan konflik Indonesia. Tentu akan sangat heroik jika Presiden datang ke sana.
  • Tanda kedua: RMS adalah gerombolan yang terkenal karena selalu ingin makar terhadap Indonesia.
  • Tanda ketiga: SBY sendiri - dia adalah perwakilan utuhnya NKRI
Dibuatlah peristiwa yang merangkum tanda tadi: SBY datang ke AMBON terus ada RMS. Tafsirannya ternyata Ambon tidak aman beneran karena ada aksi dari pemberontak di sebuah peristiwa yang notabene harusnya "bersih" dari pengacau. Tafsiran lainnya adalah pihak-pihak koordinator acara tadi membiarkan atraksi kekacauan yang masih dalam kendali pihak keamanan. Asyik kan...

Kita terperdaya oleh pop culture beneran dah...

08 March 2007

tanda

jika bawa mobil atau motor dan ingin berbelok, seharusnya menyalakan lampu sein (benar tak sih tulisannya), itu loh lampu warna kuning yang berkedip-kedip, ke arah yang kita inginkan. Ini dimaksudkan untuk tidak membahayakan diri sendiri dan tentu saja orang lain. Lampu sein adalah tanda yang resiprokal - timbal balik dalam proses pemaknaannya.

saya bawa mobil dan berusaha tidak lupa menyalakan lampu sein apabila ingin berbelok. cuma beberapa kali, lampu sein saya diabaikan oleh pengendara lain, khususnya motor. jadi biar sein kanan menyala, tetap saja ada yang menyalip. pernah saya mengeluarkan tangan saya untuk menegaskan bahwa lampu sein itu saya nyalakan dengan sengaja dan maksudnya pun serius. dan setelah itu, baru deh pengemudi lain percaya kalau saya mau berbelok. fisik, dalam hal ini, masih sangat berperan dalam membantu kita menyatakan keinginan kita.

lampu sein hingga saat ini sih sepertinya hiasan saja, banyak pengemudi yang tidak memfungsikannya. kalaupun dinyalakan, itu baru terjadi hanya beberapa meter dari arah belokan, bahkan sudah berhenti. ini sering dilakukan angkot.

dalam konteks yang lebih besar, banyak sekali fungsi-fungsi alat yang diciptakan untuk memudahkan kita atau menjamin keamanan, tidak digunakan. misalnya handphone canggih 3G, wi-fi, dan lainnya, paling pol dipakai hanya untuk SMS dan bertelepon.

ini juga barangkali yang membuat kecelakan moda transportasi sering terjadi karena beberapa fungsi tidak diteliti kelaikan dan tidak pula digunakan.

kecelakaan-kecelakaan itu adalah sebenarnya juga tanda bagi indonesia, bagi cara hidup kita. tanda-tanda zaman tersebut sejak reformasi 1998, direspon indonesia dengan sangat rasional, menyelesaikan masalah-masalah sosial, politik dan ekonomi. hasilnya, rakyat masih merasakan kesusahan.

masalah masih ada, rasa tidak nyaman dan aman masih berlanjut. mungkin ada baiknya kita mencoba cara non-scientific, yang dulu sering digunakan oleh nenek moyang kita, menanggapi tanda zaman tadi, dengan harapan dapat menyelesaikan masalah.

dibilang klenik, sabodo amat... bilang saja kalau ini adalah local wisdom. karena cara logis sudah tak mempan lagi.

17 January 2007

Januari 2007

Diawali dengan kecelakaan transportasi: laut dan udara. Terus perubahan cuaca yang drastis, hujan seminggu disusul panas hingga 36 derajat celcius. Bencana alam di sana-sini. Kontroversi haji: tidak ada supply makanan waktu jemaah ada di Padang Arafah. Ada lagi kecelakaan kereta api. Terakhir ramai Dewan Revolusi. Jadi ada sekumpulan jenderal pensiunan AD yang katanya tak puas dengan SBY terus bikin gerakan-gerakan. Ada juga flu burung yang semakin meluas penyebarannya.

Bidang ekonomi, katanya suku bunga bank akan turun, banyak dana keluar masuk ke bursa, dan mungkin bisa memicu krisis ekonomi ala 90-an. Konsumsi naik.

Di bidang sosial, tontonan TV makin payah. Pemenang piala Citra FFI kembalikan pialanya sebagai protes ke panitia yang memenangkan film jiplakan dalam musiknya. Mungkin tingkat kejahatan akan naik karena semakin sedikit lahan yang menghasilkan uang dan jumlah penduduk yang semakin banyak.

Di bidang politik lainnya dan ini yang menyebalkan: DPRD sa Indonesia berhasil maksa pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengatur tiap pemprov dan pemkan mengalokasikan uang untuk kesejahteraan mereka.

Gila, banyak sekali yang harus diserap oleh masyarakat yang pada saat bersamaan harus bertempur dengan lonjakan harga beras yang drastis sekali, dan memicu kenaikan harga-harga sembako lainnya. Di kalangan masyarakat awam, uang 50.000 semakin tak bernilai ekonomis.

Beberapa hal yang diperkirakan datang: banjir di Jakarta akan besar seperti tahun 2002, karena itu adalah siklus 5 tahunan, kata BMG. Bencana alam lain juga diperkirakan akan muncul bergantian.

Saya pikir, akan banyak sekali uang keluar untuk recovery dan akibatnya konsumsi masyarakat turun, dan harga emang jadi turun, tetapi uang akan semakin sulit dicari.

18 December 2006

Kemiripan

Otak manusia adalah sebuah sistem yang sangat rumit. Hingga kini belum ada satupun komputer yang mampu menandingi kemampuan otak dalam mengingat, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi. Sayangnya, kerja otak, menurut beberapa ahli, belum optimal. Entah kenapa, manusia sepertinya belum mampu membuat otaknya bekerja lebih banyak. Ahli-ahli ini menyimpullkan kemampuan otak masih banyak yang menganggur. Bagaimana kemampuan otak sebenarnya itu, mungkin contoh yang paling mudah adalah film yang dimainkan John Travolta, judulnya kalau tidak salah Phenomenon.

Ceritanya, si Travolta yang cuma pemiliki bengkel kota kecil di Amerika sana, mengaku melihat cahaya dan terus menghantam dirinya. Semenjak itu, si tukang bengkel ini jadi jenius sekali. Bisa belajar bahasa asing dalam beberapa menit saja. Di akhir cerita, ada penyakit di kepalanya yang justru menjadi pemicu kerja saraf otaknya hingga ke taraf super jenius. Waktu nonton film ini saya membayangkan apa jadinya kalau semua orang bisa berpikir seperti dia.

Saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi rasa-rasanya salah satu kerja otak dalam menyerap informasi dan kemudian mengeluarkannya adalah dengan mekanisme kemiripan. Jadi sebuah obyek akan serta merta dibandingkan dengan informasi yang sebelumnya tersimpan. Maka dari itu tak heranlah pabila ada ungkapan "sejarah selalu berulang", "hidup itu seperti roda yang berputar". Ini menjelaskan biar hidup itu bergerak maju, manusia cenderung menafsirkannya sebagai kemiripan dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.

Kadang-kadang kemiripan dapat berfungsi dengan baik bagi hidup seseorang, kadang juga sebaliknya. Misalnya ada orang yang dikenali sebagai orang yang mirip dengan keturunan bangsawan yang telah hilang dan merupakan ahli waris dari kekayaan berjuta-juta. Orang ini bernasib baik. Sebaliknya, ada orang yang mirip dengan pelaku pembunuhan, walaupun dia tidak melakukannya sama sekali, akan menanggung sanksi.

Kemiripan ini juga yang membuat orang kadang panik, bingung atau bahagia malah. Misalnya ada gempa di Medina. Bagi sebagian orang akan menyangka gempa terjadi di Arab Saudi sana, oleh sebab itu masyarakat Indonesia yang anggota keluarga sedang berhaji menjadi panik. Padahal gempa itu terjadi di Sumatra.

Apabila mengamati berita-berita sekarang ini di media massa, di sana juga terdapat banyak kemiripan. Bukan dalam redaksionalnya saja, tapi dala polanya. Misalnya, artis bercerai, artis mati narkoba, politisi nakal, selalu datang silih berganti dengan perseteruan SBY-JK, bencana alam, kenaikan harga beras, prestasi olah raga. Satu yang tidak pernah berubah adalah rakyat menderita di seluruh kategori di atas.

Rasa-rasanya fenomena ini juga mirip dengan dongeng-dongen HC Andersen di mana rakyat menderita karena kerajaan diperintah oleh orang tak bijak, lalim. Kisah ini juga jadi genre dalam dongeng klasik di Indonesia.

Rakyat bergembira apabila sang pemimpin adil, bijaksana, dan biasanya bertampang ganteng atau cantik. Tapi kok keadaan ini tak ada kemiripannya dengan rakyat Indonesia ya...

Auk ah.

05 December 2006

Alat Kelamin dan Seks

Anggota DPR dan artis dangdut telanjang berduaan di milis. Aa Gym dan istri barunya di Internet.

Di kedua peristiwa tersebut, kecenderungan orang menafsirkan peristiwa terpisah itu dengan satu definisi: seks. Dan istilah itu mempersempit menjadi alat kelamin. Si anggota DPR memanjakan alat kelaminnya di vagina penyanyi dangdut; Aa Gym melakukannya dengan berlindung pada kalimat-kalimat yang sulit dimengerti.

Sejujurnya, adakah yang perlu didebatkan andai saja kategorisasi moral/akhlaq kita distandarisasikan menjadi nol, seperti ajakan Nietszche: nihilism? Mungkin masih ada. Penyelewengan Pangeran Charles dengan Camilla atau Putri Diana dengan beberapa pria juga jadi isu nasional di Inggris. Monica Lewinsky juga pernah bikin Bill Clinton kebingungan. Padahal kedua peristiwa tersebut terjadi di negara-negara yang memiliki definisi moral longgar terhadap aktivitas seks.

Mungkin kata kuncinya adalah perkawinan. Seluruh agama di kebudayaan manapun menganggap perkawinan sakral. Walaupun, demi untuk mengakomodasi kekuasaan, raja di manapun diperkenankan untuk memiliki banyak istri dan selir-selir. Dan kebanyakan orang menganggap hal ini wajar.

Akan jadi perdebatan apabila yang melakukan orang-orang yang seharusnya bertugas menjaga moralitas seperti anggota DPR dan konon kabarnya - ulama! Orang-orang dari kalangan ini terlarang mengumbar alat kelaminnya, apalagi untuk seks.

Kesimpulannya: masyarakat Indonesia semakin hari semakin sakit saja. Dan pada saat bersamaan ruang publik pun - dalam arti fisik maupun psikis - berantakan tak terurus untuk mengakomodasi kepenatan akal dan kegelisahan emosi.

Atau barangkali saat ini adalah momen yang sangat berharga bagi berjalannya proses menuju nihilisme ala Nietszche, dan kemudian semua orang akan mampu membentuk mentalitas yang sangat tangguh dan dengan sendirinya akan membuat Indonesia menjadi sangat kuat, yang saking kuatnya akan membuat survivalitas bangsa Cina dan kedisipilinan orang Jepang jadi masa lalu tak berguna.

Semoga saja begitu; dan jika cara itu yang terjadi maka anggota DPR dan ulama itu bolehlah kita sebut sebagai martir!

08 August 2006

Zaman

Ia berubah. Yang ada saat ini adalah kelanjutan dari apa yang sudah tertelan waktu. Sementara apa yang dikatakan sisa-sisa masa lalu adalah istilah yang bisa kita tengok-tengok barang sebentar apabila kita sudah kehilangan alasan untuk merencana masa depan.

Atas dasar inilah, maka pengetahuan kita akan masa lalu jadi instrumental saja. Maksudanya adalah kita gunakan masa lalu sebagai ketapel untuk melemparkan diri kita jauh ke masa depan. Karena bersifat instrumental - apalagi belum pernah kita ketahui dan hanya dapat kita ketahui sepotong-sepotong - maka jika pengetahuan tentang masa lalu kita jadikan pijakan jadi tak masuk akal dan seringkali "salah tempat."

Contoh pas untuk hal ini adalah perang, khususnya atas nama agama. Bagi si pemenang, perang tersebut akan terus dijadikan simbol yang terus dihidupkan dan diulang-ulang keterangannya - terlepas dari kurang tafsir atau malah hiperbolik - kepada generasi mudanya. Bagi pihak yang kalah, maka akan dilupakan kecuali pihak yang kalah memiliki konsep lain bagaimana menerima kekalahan tadi. Misalnya dengan istilah "pelanggaran HAM".

Jadi, seberapa besarkan usaha kita dan jumlah informasi yang kita harus miliki tentang masa lalu kita? Apakah memang pengetahuan sejarah itu harus instrumental; atau - bicara secara ilmiah - untuk kebenaran dan fakta sebenarnya?

Fakta sebenarnya adalah klaim yang aneh tentang zaman yang tidak pernah kita miliki...

Dan perang memang bisa terjadi bahkan tanpa masa lalu sekalipun.

Bagi para penggemar sejarah, mungkin dia akan mati bosan, mati bingung, mati gila... tidak akan ada yang mati bahagia kecuali mereka menghentikan berpikir tentang "kebenaran".

What a fine paradox?

29 May 2006

Gempa yogya

Tulisan ini mungkin agak basi, telat dan latah... tapi biar saja. Ada yang sangat menyebalkan di gempa yogya ini.

Gila nggak, setelah beberapa hari gempa yang terjadi di JAWA, di mana transportasinya terbilang lebih mudah ketimbang daerah-daerah terpencil......... korban gempa masih menderita!

Dan fasilitas kesehatan yang ada di JAWA juga terbilang buruk dan gak mampu!

Bahkan bantuan yang dikirim ke sana saja tak secepat dan sebanyak yang diperlukan!

Sepertinya, orang Indonesia sudah tak tertarik lagi dengan gempa yang cuma beberapa richter itu dan tidak mengakibatkan efek sedahsyat tsunami di Aceh sana. Gempa yogya masih di bawah benchmark!!!

Kacau banget Indonesia......

saya sampai gak tahu mau nulis apa!

Gila, padahal cuma di Yogya!

12 May 2006

Naik kereta api


Belum lama berselang, saya naik kereta api lagi setelah lama tak menggunakan jasanya. Kesan yang timbul. Pertama, tentang stasiun Gambir. Semenjak awal Gambir direnovasi saya tak habis mengerti mengapa bentuknya harus begitu, selain memindahkan rel di atas, tak ada yang sangat menakjubkan. Saya tak mengerti bagaimana perancangnya mengakomodasi perilaku berkereta api di Indonesia. Ada pintu masuk yang selalu tertutup. Wah, saya ndak tahu harus bilang apa, tetapi Gambir bukan cerminan karya arsitektur yang bisa dinilai karena berfungsi sangat baik dan memudahkan... maaf nih para arsitek.

Sekarang ke penjualan tiket. Petunjuk tak jelas. Orang pertama yang datang ke Gambir pasti akan bertanya kemana harus beli tiket kereta jurusan mana. Untungnya tak terlalu merepotkan jika membeli tiket untuk keberangkatan hari itu dan bukan hari libur. Tapi kalau sudah libur, apalagi yang panjang, jangan harap beli tiket adalah kemudahan. Calo ada saja walau sudah di-omongin berkali-kali bakal dibrantas.

Ada lagi tentang tiket. Harganya euy...audzibillah mahalnya. Makin terasa mahal jika melihat pelayanan perusahaan kereta api kita ini.

Sekarang naik ke kereta apinya. Walah... jelek bener sekarang, padahal katanya kereta eksekutif. AC-nya memang dingin, hanya tempat duduknya sudah tak nyaman. Dan terasa makin tak nyaman saat dilayani para petugas kereta api.

Dari harga tiket eksekutif, tiap penumpang mendapat jatah makan. Tapi apa mau dikata, si petugas restorasi bukannya memberikan segera setelah kereta bergerak, tetapi dia malah berjualan dulu. Mending dengan menawarkan. Ini tidak, langsung aja dikasihkan begitu saja. Penumpang awam kan akan menganggapnya itu gratisan. Sudah itu, mereka menagih pembayaran dengan tanpa rasa malu. Itu memang bayar mas.... Nah setelah terbayar, barulah dikasih yang jatah gratisan itu. Ini diberikan dua jam setelah kereta berangkat dari Gambir. Ini bentuk penipuan. Kalau memang restorasi tak banyak yang beli, kenapa harus ada gerbong itu.

Nah di atas kereta api yang kebetulan kosong ada petugas kebersihan KA yang sedang malakukan tawar menawar dengan penumpang yang tak punya karcis. Harga resminya hampir 200 ribu, ditawar jadi 70 ribu dan berhasil. Si penumpang ini juga mendapat fasiitas yang diterima penumpang yang membayar full. Dan ... sekali lagi, tak ada satupun petugas KA yang malu tuh...

Nah sewaktu kembali, saya naik kereta yang lebih murah, kelas bisnis. Wah tak usah dibahas kereta apinya kayak apa. Karena mengantuk, saya sewa bantal. Semuanya tak jadi masalah sampai ketika kereta hampir masuk jatinegara. Dan itu masih ada 30 menit. Petugas dengan kasarnya membangunkan saya meminta bantalnya kembali. Saya sebal dan menolak, tetapi apa katanya, "Nanti saya kerja dua kali". Dalam hati, 'lah, itu kan memang tugas elu." Sebenarnya tak masalah bantal diminta, hanya caranya saja yang tak pantas.

Satu hal lagi yang dari dulu saya pingin tanyakan kepada KA adalah mengenai jadwal kereta api. Well, semua orang tahu, jika KA api telat itu sudah biasa. Dulu bahkan saya pernah terkejut saat KA tepat waktu. Tumben. Mengenai hal ini, di tiket KA kan biasanya mencantumkan kapan kereta berangkat dan tiba hingga ke menitnya. Jadi misalnya. Berangkat pkl 20.00 tiba pukul. 00.53. Gila, seolah-olah KA sangat peduli dengan waktu hingga ke menit-menitnya. Ya mbok yao... kalau telat melulu, kasih aja ukurannya yang masuk akal. Berangkat jam 20.00, tiba pukul 01.00 kan lebih enak. Tetapi jadwal kereta api, boleh diakui makin tepat waktu.

Hanya yang paling menyeballkan adalah orang-orangnya.... semuanya dari petugas di stasiun hingga yang bertugas di kereta api.... tak ada kesadaran melayani, layaknya petugas PLN, Telkom atau BUMN lain.

Payah.

14 December 2005

Orang Menyebalkan

Pernahkan kalian bertemu orang yang menyebalkan? Artinya, orang itu sangat menganggu indra pendengaran dan mata kita dan tahap selanjutnya adalah menganggu akal pikiran dan perasaan kita. Jika bertemu dengan orang semacam ini mungkin sebaiknya kita merasa iba.

Orang menyebalkan biasanya adalah orang yang 'sakit'. Sejarah hidupnya mungkin terlalu 'memanjakan' dirinya untuk tidak perlu ber-empati dengan sekelilingnya. Mungkin pelajaran untuk memiliki self esteem malah menjadi boomerang bagi dirinya di kemudian hari. Orang semacam ini jadi tidak punya kemampuan 'mendengar'. Dia lebih senang jika didengar. Jadi perhatian. Mendengar, hanya dia lakukan, semata-mata jika itu penting bagi dirinya sendiri. Lucunya, mereka merasa bahwa itu adalah cara bergaul terbaik yang ada. Mereka ingin diakui oleh orang-orang yang mungkin saja bosan mendengar bualannya.

Pernah orang tua saya berkata menjadi pelit, galak, toleran atau kata-kata sifat yang bernilai sosial tidak pernah diajarkan oleh sekolah, tetapi oleh keluarga. "Jadi perlihatkan kepada anak-anakmu saat kamu bersedekah dan jelaskan berulang-ulang kebaikannya," kata mereka. Berangkat dari sini apabila si orang tua tidak pernah mempertontonkan pemberian beras atau uang kepada peminta-minta, tidak perlu heran andaikata jika di hari tuanya si anak akan menganggap si pengemis adalah sampah masyarakat.

Ini adalah adalah masalah etika hidup. Kalau mau agak berat ya boleh lah disebut sebagai akhlaq atau moralitas, walaupun sebenarnya ini juga agak mudah untuk diperdebatkan.

Singkatnya adalah, jika berada pada posisi dekat orang menyebalkan, langkah terbaik adalah sabar. Atau diam sajalah. Karena bisa-bisa keadaaan menjadi lebih destruktif bagi semua orang. Tetapi kalau sudah tidak bisa menahan diri ya bolehlah meludahi mukanya atau menendang pantatnya.

10 December 2005

Mengulang

Dalam berbagai cerita serial Hercule Poirot, Agatha Christie menuliskan bahwa ada beberapa orang yang suka mengulang cerita pengalamannya, bukan sekali saja, tetapi berkali-kali. Dan ternyata saya merasakannya juga. Ada orang yang setiap kali ketemu bercerita hal yang sama. Orang segolongan ini biasanya berusia lanjut yang mengkisahkan pengalaman masa mudanya dulu.

Tapi ada juga orang muda yang sering mengulang cerita yang sama. Orang itu saya!

Menyadari ini saya jadi semakin tahu kalau ternyata orang memang sangat susah berkembang, membuka diri pada hal-hal yang baru. Orang hanya akan mendengar apa yang ingin dia dengar, melihat apa yang ingin dia lihat dan mengatakan apa yang ingin dia katakan saja.

Kendati saya mencoba membaca bagaimana mengatasi mobil mogok, saya tidak pernah bisa mengingat dengan baik. Tapi kalau itu masalah rumah, saya ingat.

Seorang kawan pencinta musik, kalau dia bicara dampak ikutan dari harga kenaikan harga BBM, dia akan kelihatan enggan setengah mati dan omongannya jadi tidak bermutu.

Saya menyimpulkan bahwa life circle kemampuan diri menyerap informasi dari luar sebenarnya sangat pendek. Mungkin sampai usia di bawah 20 tahun. Jadi informasi yang dikumpulkan selama 20 tahun akan dia ulang hingga dia mati. Jika usianya mencapai 40 tahun, dia mengulang satu kali; jika usianya 60 tahun, dia mengulang dua kali.

Lalu apa yang membuatnya hidup hingga selama itu jika ternyata seluruh hidupnya adalah pengulangan?

Saya tak tahu jawabannya.

04 October 2005

Apalagi?

Dari sudut pandang orang Indonesia yang sangat normal, bom yang meledak di Bali sungguh tidak dapat dicerna. Sehari sebelumnya, seluruh orang Indonesia bertempur dengan logika mereka sendiri memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup ditengah kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan sehari-hari menyusul kenaikan bahan bakar minyak yang teramat drastis. Lalu bom meledak di Bali lagi. Orang Indonesia harus bereaksi seperti apa?

Marah? Kepada siapa? Jengkel? Kepada siapa? Balas dendam? Kepada siapa? Perasaan ini harus ditujukan kepada siapa? Oalah, nelangsa benar jadi orang Indonesia, mau menumpahkan perasaan saja tidak bisa.

Apakah ini pengalih-perhatian? Sebuah trik lama yang biasa digunakan oleh Orde Baru untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang substansial. Memang benar, berita tentang kenaikan BBM langsung berkurang drastis sewaktu bom Bali meledak.

Ada yang berspekulasi ini ulah negara lain yang tengah getol-getolnya mempromosikan pariwisatanya. Dan ternyata tokoh pembom yang dicari-cari itu orang dari negara itu juga.

Jadi dapat disimpulkan: itu kerjaan pemerintah kita sendiri dan kerjaan pemerintah negara lain.

Tapi sesungguhnya itu tidak menarik sama sekali. Ada yang lebih penting: bagaimana caranya memperoleh tambahan penghasilan untuk hidup sehari-hari. Tidak lebih tidak kurang.

Saya benar-benar kehilangan kata-kata karena otak saya juga tidak sedang bisa menyimpulkan.

Malang nian nasib awak....

28 September 2005

Apa ya? Bosan? Mual?

Entah harus merasa apa sekarang menyambut kenaikan harga BBM yang katanya akan naik per 1 Oktober ini. Marah? Ealah ya percuma saja. Dulu kita marah saat Soeharto tidak mau turun-turun juga. Terus kita gembira ketika akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri. Walau kemudian agak tidak sreg melihat gantinya. Apalagi kemudia dia membuat kita tidak mengerti, marah dan kecewa saat dia melepaskan Timor Timur.

Untungnya, keadaan agak membaik sedikit. Apalagi si Habibie membuat pemilihan umum yang sangat ramai dan kata orang-orang asing sukses. Kita senang bisa melepaskan kepenatan pikiran dan batin kita. Kendati kemudian kita tidak mengerti, bingung dan ragu saat Gus Dur terpilih jadi presiden.

Pada giliaran berikutnya, kita malah jadi tak tentu arah akibat gaya kepemimpinan dan pernyataan Gus Dur yang dari sudut pandang masyarakat awam tulalit. Agak khawatir muncul saat masa peralihan dari Gus Dur ke Mega. Untungnya Mega dapat membawa negara ini agak stabil kendati sebagian besar masyarakat juga tidak puas.

Kita agak sumringah waktu SBY dipilih jadi presiden. Banyak orang berharap akan terjadinya hal-hal baik selama masa kepemimpinannya. Tetapi kemudian ada tragedi bencana alam amat dahsyat di NAD sana. Kemudian ada krisis energi yang jadi alasan naiknya harga BBM.

Karena itu sangat beralasan untuk tidak merasa apa-apa terhadap situasi saat ini mengingat bahwa seluruh perasaan yang dikeluarkan karena kedekatan emosional dan bernada harapan sudah tertumpah sebelumnya. Yang masih tersisa mungkin bosan dengan segala janji pemerintah. Bahkan sebagian orang - atau mungkin cuma saya - sudah mual dan mau muntah....

Tak ada harapan yang pantas diletakkan pada orang yang berasal dari masa lalu.... karena masa lalu harusnya sudah beku dimakan usia dan jadi tempat berkunjung sekali waktu kala kita rindu. Tapi tak pantas sama sekali jadi cara menjalani hidup!

Mari kita muntah! Sekarang!

13 June 2005

Kembali ke masa lalu

Apa yang paling mengasyikan di kala kita suntuk, tak tahu arah, putus asa, bosan atau jenuh? Ya! Kembali ke masa lalu. Sebab itu masuk akal bila acara reuni atau apapun yang bertujuan mengulang yang sudah-sudah akan diminati.

Ini juga yang sepertinya akan dilakukan pemerintah sekarang. Dengan klaim bahwa beberapa program masa lalu ternyata telah mumpuni dapat mencegah beberapa musibah yang menimpa kita, misalnya, persoalan Poso yang tak kunjung usai atau penyakit busung lapar yang tidak terdeteksi, mereka memutuskan 'meneruskan'-nya. Untuk menghindarkan diri dari cercaan orang karena berniat menggunakan metode-metode Orde Baru dalam praktik pemerintahannya, SBY mewanti-wanti ada beberapa hal yang juga harus ditinggalkan, misalnya KKN, korupsi, supremasi militer atas sipil.

Mungkinkah itu terjadi? Hanya waktu yang akan membuktikan. Hanya saja kita berspekulasi. Mengingat bahwa program dan metotode tersebut berasal dari satu paket, maka agak sulit memisahkan yang dianggap 'baik' dan 'buruk'. Sangat mungkin andaikata beberapa dari tadi diuji coba, maka resikonya semuanya turut serta.

Mungkin akan sedikit lain jika penamaannya berbeda. Jadi istilah Posyandu untuk Pos Pelayanan Terpadu diubah jadi Kegiatan Masyarakat Untuk Kesehatan Ibu dan Anak-anak (KeMUKA) atau apapun lah. Sebab sebutan akan banyak sekali terhadap praksis. Ini nampak nyata pada pergantian dari ABRI ke TNI. Keduanya merujuk ke hal sama tetapi efek dibenak para pendengar lain.

Saya sepakat bahwa program-program atau metode-metode masa lalu sangat efektif untuk menjaga keutuhan negara kita. Sayangya, dulu praksis di lapangan biasanya sangat overaktif. Sekarang harus diubah.

Ada satu lagi yang harus kembali ke masa lalu, yakni sentralisme kekuasaan. Ini cara lebih tepat dan berhasil menjaga keutuhan negara ketimbang demokrasi - sebuah konsep yang sama utopianya dengan komunisme.

....

06 June 2005

Dipenjara Adalah Gaya Hidup

Apa jadinya bila kita, salah satu dari anggota keluarga kita dikenai sanksi; entah itu dari tempat kerja, sekolah, masyarakat atau kepolisian. Bila pun terjadi hal yang tidak diinginkan orang akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan sanksi itu tersebar luas di masyarakat.

Karena empati dan tepo seliro, biasanya si pemberi hukumpun akan bersepekat untuk menghindarkan sanksi yang lebih kejam dari masyarakat. Akibatnya aturam main yang selama ini ada jadi tidak diterapkan sepenuhnya dan adil.

Kebiasaan ini secara langsung memberikan kekuasaan yang berlebih kepada aparat penegak hukum. Dia jadi merasa berkuasa dan sebab itu wajar saja bila menerapkan ’harga’ dalam tanggung jawabnya. Lama-lama ini jadi aturan main yang terjadi.

Bentuk lanjut dari evolusi ini adalah aturan main yang seharusnya tidak menakutkan lagi. Tidak bergigi karena ternyata aturan itu bisa dibeli. Aturan bahkan bagi orang yang tidak mampu membeli adalah penghalang. Trik orang-orang berkuasa untuk memperkaya diri. Ada kecenderungan bahwa semakin tidak aturan semakin aman sebuah daerah.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi pergeseran yang amat radikal terhadap anggapan orang mengenai sanksi ini. Dulu sanksi adalah aib dan orang yang terkena berusaha sebisanya menutupi, sekarang sanksi jadi gaya hidup.

Awalnya orang yang tadinya dikenai sanksi tidak bisa tidak harus masuk bui. Terpaksalah mereka mengikuti aturan main itu. Tetapi saat di dalam bui, dia mulai bermain.

Bila harus disel, maka ruang tahanannya ber-AC, TV dan komplit. Alat komunikasi juga boleh, apalagi makanan. Semuanya mungkin asal dia mampu membayar. Ini yang terjadi dengan tahanan kelas kakap, misalnya Tommy Soeharto. Penjara jadi benar-benar tempat untuk relaksasi.

Bahkan nampaknya penjara jadi tempat yang sangat efektif untuk berbisnis karena seorang yang mampu membeli fasilitas penjara ini tidak harus mengikuti ritual-ritual sosial yang melelahkan. Misalnya, di undang Gubernur ke satu acara, eh ndak tahunya harus menyumbang. Belum jatah ini itu.... terlalu banyak dan pemborosan.

Namun sekali lagi, keindahan hidup macam itu hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang punya uang. Rakyat miskin jelata yang tak punya identitas dan pengaruh... yang akan memiliki kesengsaraan yang kian membesar seiring waktu.