tanda
jika bawa mobil atau motor dan ingin berbelok, seharusnya menyalakan lampu sein (benar tak sih tulisannya), itu loh lampu warna kuning yang berkedip-kedip, ke arah yang kita inginkan. Ini dimaksudkan untuk tidak membahayakan diri sendiri dan tentu saja orang lain. Lampu sein adalah tanda yang resiprokal - timbal balik dalam proses pemaknaannya.
saya bawa mobil dan berusaha tidak lupa menyalakan lampu sein apabila ingin berbelok. cuma beberapa kali, lampu sein saya diabaikan oleh pengendara lain, khususnya motor. jadi biar sein kanan menyala, tetap saja ada yang menyalip. pernah saya mengeluarkan tangan saya untuk menegaskan bahwa lampu sein itu saya nyalakan dengan sengaja dan maksudnya pun serius. dan setelah itu, baru deh pengemudi lain percaya kalau saya mau berbelok. fisik, dalam hal ini, masih sangat berperan dalam membantu kita menyatakan keinginan kita.
lampu sein hingga saat ini sih sepertinya hiasan saja, banyak pengemudi yang tidak memfungsikannya. kalaupun dinyalakan, itu baru terjadi hanya beberapa meter dari arah belokan, bahkan sudah berhenti. ini sering dilakukan angkot.
dalam konteks yang lebih besar, banyak sekali fungsi-fungsi alat yang diciptakan untuk memudahkan kita atau menjamin keamanan, tidak digunakan. misalnya handphone canggih 3G, wi-fi, dan lainnya, paling pol dipakai hanya untuk SMS dan bertelepon.
ini juga barangkali yang membuat kecelakan moda transportasi sering terjadi karena beberapa fungsi tidak diteliti kelaikan dan tidak pula digunakan.
kecelakaan-kecelakaan itu adalah sebenarnya juga tanda bagi indonesia, bagi cara hidup kita. tanda-tanda zaman tersebut sejak reformasi 1998, direspon indonesia dengan sangat rasional, menyelesaikan masalah-masalah sosial, politik dan ekonomi. hasilnya, rakyat masih merasakan kesusahan.
masalah masih ada, rasa tidak nyaman dan aman masih berlanjut. mungkin ada baiknya kita mencoba cara non-scientific, yang dulu sering digunakan oleh nenek moyang kita, menanggapi tanda zaman tadi, dengan harapan dapat menyelesaikan masalah.
dibilang klenik, sabodo amat... bilang saja kalau ini adalah local wisdom. karena cara logis sudah tak mempan lagi.
Ini kepala kadang-kadang berpikir yang enggak-enggak. Jadinya, ya begini-ini. Mimpi yang gak karu-karuan... untungnya kagak harus bayar.
08 March 2007
17 January 2007
Januari 2007
Diawali dengan kecelakaan transportasi: laut dan udara. Terus perubahan cuaca yang drastis, hujan seminggu disusul panas hingga 36 derajat celcius. Bencana alam di sana-sini. Kontroversi haji: tidak ada supply makanan waktu jemaah ada di Padang Arafah. Ada lagi kecelakaan kereta api. Terakhir ramai Dewan Revolusi. Jadi ada sekumpulan jenderal pensiunan AD yang katanya tak puas dengan SBY terus bikin gerakan-gerakan. Ada juga flu burung yang semakin meluas penyebarannya.
Bidang ekonomi, katanya suku bunga bank akan turun, banyak dana keluar masuk ke bursa, dan mungkin bisa memicu krisis ekonomi ala 90-an. Konsumsi naik.
Di bidang sosial, tontonan TV makin payah. Pemenang piala Citra FFI kembalikan pialanya sebagai protes ke panitia yang memenangkan film jiplakan dalam musiknya. Mungkin tingkat kejahatan akan naik karena semakin sedikit lahan yang menghasilkan uang dan jumlah penduduk yang semakin banyak.
Di bidang politik lainnya dan ini yang menyebalkan: DPRD sa Indonesia berhasil maksa pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengatur tiap pemprov dan pemkan mengalokasikan uang untuk kesejahteraan mereka.
Gila, banyak sekali yang harus diserap oleh masyarakat yang pada saat bersamaan harus bertempur dengan lonjakan harga beras yang drastis sekali, dan memicu kenaikan harga-harga sembako lainnya. Di kalangan masyarakat awam, uang 50.000 semakin tak bernilai ekonomis.
Beberapa hal yang diperkirakan datang: banjir di Jakarta akan besar seperti tahun 2002, karena itu adalah siklus 5 tahunan, kata BMG. Bencana alam lain juga diperkirakan akan muncul bergantian.
Saya pikir, akan banyak sekali uang keluar untuk recovery dan akibatnya konsumsi masyarakat turun, dan harga emang jadi turun, tetapi uang akan semakin sulit dicari.
Diawali dengan kecelakaan transportasi: laut dan udara. Terus perubahan cuaca yang drastis, hujan seminggu disusul panas hingga 36 derajat celcius. Bencana alam di sana-sini. Kontroversi haji: tidak ada supply makanan waktu jemaah ada di Padang Arafah. Ada lagi kecelakaan kereta api. Terakhir ramai Dewan Revolusi. Jadi ada sekumpulan jenderal pensiunan AD yang katanya tak puas dengan SBY terus bikin gerakan-gerakan. Ada juga flu burung yang semakin meluas penyebarannya.
Bidang ekonomi, katanya suku bunga bank akan turun, banyak dana keluar masuk ke bursa, dan mungkin bisa memicu krisis ekonomi ala 90-an. Konsumsi naik.
Di bidang sosial, tontonan TV makin payah. Pemenang piala Citra FFI kembalikan pialanya sebagai protes ke panitia yang memenangkan film jiplakan dalam musiknya. Mungkin tingkat kejahatan akan naik karena semakin sedikit lahan yang menghasilkan uang dan jumlah penduduk yang semakin banyak.
Di bidang politik lainnya dan ini yang menyebalkan: DPRD sa Indonesia berhasil maksa pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengatur tiap pemprov dan pemkan mengalokasikan uang untuk kesejahteraan mereka.
Gila, banyak sekali yang harus diserap oleh masyarakat yang pada saat bersamaan harus bertempur dengan lonjakan harga beras yang drastis sekali, dan memicu kenaikan harga-harga sembako lainnya. Di kalangan masyarakat awam, uang 50.000 semakin tak bernilai ekonomis.
Beberapa hal yang diperkirakan datang: banjir di Jakarta akan besar seperti tahun 2002, karena itu adalah siklus 5 tahunan, kata BMG. Bencana alam lain juga diperkirakan akan muncul bergantian.
Saya pikir, akan banyak sekali uang keluar untuk recovery dan akibatnya konsumsi masyarakat turun, dan harga emang jadi turun, tetapi uang akan semakin sulit dicari.
18 December 2006
Kemiripan
Otak manusia adalah sebuah sistem yang sangat rumit. Hingga kini belum ada satupun komputer yang mampu menandingi kemampuan otak dalam mengingat, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi. Sayangnya, kerja otak, menurut beberapa ahli, belum optimal. Entah kenapa, manusia sepertinya belum mampu membuat otaknya bekerja lebih banyak. Ahli-ahli ini menyimpullkan kemampuan otak masih banyak yang menganggur. Bagaimana kemampuan otak sebenarnya itu, mungkin contoh yang paling mudah adalah film yang dimainkan John Travolta, judulnya kalau tidak salah Phenomenon.
Ceritanya, si Travolta yang cuma pemiliki bengkel kota kecil di Amerika sana, mengaku melihat cahaya dan terus menghantam dirinya. Semenjak itu, si tukang bengkel ini jadi jenius sekali. Bisa belajar bahasa asing dalam beberapa menit saja. Di akhir cerita, ada penyakit di kepalanya yang justru menjadi pemicu kerja saraf otaknya hingga ke taraf super jenius. Waktu nonton film ini saya membayangkan apa jadinya kalau semua orang bisa berpikir seperti dia.
Saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi rasa-rasanya salah satu kerja otak dalam menyerap informasi dan kemudian mengeluarkannya adalah dengan mekanisme kemiripan. Jadi sebuah obyek akan serta merta dibandingkan dengan informasi yang sebelumnya tersimpan. Maka dari itu tak heranlah pabila ada ungkapan "sejarah selalu berulang", "hidup itu seperti roda yang berputar". Ini menjelaskan biar hidup itu bergerak maju, manusia cenderung menafsirkannya sebagai kemiripan dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.
Kadang-kadang kemiripan dapat berfungsi dengan baik bagi hidup seseorang, kadang juga sebaliknya. Misalnya ada orang yang dikenali sebagai orang yang mirip dengan keturunan bangsawan yang telah hilang dan merupakan ahli waris dari kekayaan berjuta-juta. Orang ini bernasib baik. Sebaliknya, ada orang yang mirip dengan pelaku pembunuhan, walaupun dia tidak melakukannya sama sekali, akan menanggung sanksi.
Kemiripan ini juga yang membuat orang kadang panik, bingung atau bahagia malah. Misalnya ada gempa di Medina. Bagi sebagian orang akan menyangka gempa terjadi di Arab Saudi sana, oleh sebab itu masyarakat Indonesia yang anggota keluarga sedang berhaji menjadi panik. Padahal gempa itu terjadi di Sumatra.
Apabila mengamati berita-berita sekarang ini di media massa, di sana juga terdapat banyak kemiripan. Bukan dalam redaksionalnya saja, tapi dala polanya. Misalnya, artis bercerai, artis mati narkoba, politisi nakal, selalu datang silih berganti dengan perseteruan SBY-JK, bencana alam, kenaikan harga beras, prestasi olah raga. Satu yang tidak pernah berubah adalah rakyat menderita di seluruh kategori di atas.
Rasa-rasanya fenomena ini juga mirip dengan dongeng-dongen HC Andersen di mana rakyat menderita karena kerajaan diperintah oleh orang tak bijak, lalim. Kisah ini juga jadi genre dalam dongeng klasik di Indonesia.
Rakyat bergembira apabila sang pemimpin adil, bijaksana, dan biasanya bertampang ganteng atau cantik. Tapi kok keadaan ini tak ada kemiripannya dengan rakyat Indonesia ya...
Auk ah.
Otak manusia adalah sebuah sistem yang sangat rumit. Hingga kini belum ada satupun komputer yang mampu menandingi kemampuan otak dalam mengingat, menyimpan dan mengeluarkan kembali informasi. Sayangnya, kerja otak, menurut beberapa ahli, belum optimal. Entah kenapa, manusia sepertinya belum mampu membuat otaknya bekerja lebih banyak. Ahli-ahli ini menyimpullkan kemampuan otak masih banyak yang menganggur. Bagaimana kemampuan otak sebenarnya itu, mungkin contoh yang paling mudah adalah film yang dimainkan John Travolta, judulnya kalau tidak salah Phenomenon.
Ceritanya, si Travolta yang cuma pemiliki bengkel kota kecil di Amerika sana, mengaku melihat cahaya dan terus menghantam dirinya. Semenjak itu, si tukang bengkel ini jadi jenius sekali. Bisa belajar bahasa asing dalam beberapa menit saja. Di akhir cerita, ada penyakit di kepalanya yang justru menjadi pemicu kerja saraf otaknya hingga ke taraf super jenius. Waktu nonton film ini saya membayangkan apa jadinya kalau semua orang bisa berpikir seperti dia.
Saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi rasa-rasanya salah satu kerja otak dalam menyerap informasi dan kemudian mengeluarkannya adalah dengan mekanisme kemiripan. Jadi sebuah obyek akan serta merta dibandingkan dengan informasi yang sebelumnya tersimpan. Maka dari itu tak heranlah pabila ada ungkapan "sejarah selalu berulang", "hidup itu seperti roda yang berputar". Ini menjelaskan biar hidup itu bergerak maju, manusia cenderung menafsirkannya sebagai kemiripan dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.
Kadang-kadang kemiripan dapat berfungsi dengan baik bagi hidup seseorang, kadang juga sebaliknya. Misalnya ada orang yang dikenali sebagai orang yang mirip dengan keturunan bangsawan yang telah hilang dan merupakan ahli waris dari kekayaan berjuta-juta. Orang ini bernasib baik. Sebaliknya, ada orang yang mirip dengan pelaku pembunuhan, walaupun dia tidak melakukannya sama sekali, akan menanggung sanksi.
Kemiripan ini juga yang membuat orang kadang panik, bingung atau bahagia malah. Misalnya ada gempa di Medina. Bagi sebagian orang akan menyangka gempa terjadi di Arab Saudi sana, oleh sebab itu masyarakat Indonesia yang anggota keluarga sedang berhaji menjadi panik. Padahal gempa itu terjadi di Sumatra.
Apabila mengamati berita-berita sekarang ini di media massa, di sana juga terdapat banyak kemiripan. Bukan dalam redaksionalnya saja, tapi dala polanya. Misalnya, artis bercerai, artis mati narkoba, politisi nakal, selalu datang silih berganti dengan perseteruan SBY-JK, bencana alam, kenaikan harga beras, prestasi olah raga. Satu yang tidak pernah berubah adalah rakyat menderita di seluruh kategori di atas.
Rasa-rasanya fenomena ini juga mirip dengan dongeng-dongen HC Andersen di mana rakyat menderita karena kerajaan diperintah oleh orang tak bijak, lalim. Kisah ini juga jadi genre dalam dongeng klasik di Indonesia.
Rakyat bergembira apabila sang pemimpin adil, bijaksana, dan biasanya bertampang ganteng atau cantik. Tapi kok keadaan ini tak ada kemiripannya dengan rakyat Indonesia ya...
Auk ah.
05 December 2006
Alat Kelamin dan Seks
Anggota DPR dan artis dangdut telanjang berduaan di milis. Aa Gym dan istri barunya di Internet.
Di kedua peristiwa tersebut, kecenderungan orang menafsirkan peristiwa terpisah itu dengan satu definisi: seks. Dan istilah itu mempersempit menjadi alat kelamin. Si anggota DPR memanjakan alat kelaminnya di vagina penyanyi dangdut; Aa Gym melakukannya dengan berlindung pada kalimat-kalimat yang sulit dimengerti.
Sejujurnya, adakah yang perlu didebatkan andai saja kategorisasi moral/akhlaq kita distandarisasikan menjadi nol, seperti ajakan Nietszche: nihilism? Mungkin masih ada. Penyelewengan Pangeran Charles dengan Camilla atau Putri Diana dengan beberapa pria juga jadi isu nasional di Inggris. Monica Lewinsky juga pernah bikin Bill Clinton kebingungan. Padahal kedua peristiwa tersebut terjadi di negara-negara yang memiliki definisi moral longgar terhadap aktivitas seks.
Mungkin kata kuncinya adalah perkawinan. Seluruh agama di kebudayaan manapun menganggap perkawinan sakral. Walaupun, demi untuk mengakomodasi kekuasaan, raja di manapun diperkenankan untuk memiliki banyak istri dan selir-selir. Dan kebanyakan orang menganggap hal ini wajar.
Akan jadi perdebatan apabila yang melakukan orang-orang yang seharusnya bertugas menjaga moralitas seperti anggota DPR dan konon kabarnya - ulama! Orang-orang dari kalangan ini terlarang mengumbar alat kelaminnya, apalagi untuk seks.
Kesimpulannya: masyarakat Indonesia semakin hari semakin sakit saja. Dan pada saat bersamaan ruang publik pun - dalam arti fisik maupun psikis - berantakan tak terurus untuk mengakomodasi kepenatan akal dan kegelisahan emosi.
Atau barangkali saat ini adalah momen yang sangat berharga bagi berjalannya proses menuju nihilisme ala Nietszche, dan kemudian semua orang akan mampu membentuk mentalitas yang sangat tangguh dan dengan sendirinya akan membuat Indonesia menjadi sangat kuat, yang saking kuatnya akan membuat survivalitas bangsa Cina dan kedisipilinan orang Jepang jadi masa lalu tak berguna.
Semoga saja begitu; dan jika cara itu yang terjadi maka anggota DPR dan ulama itu bolehlah kita sebut sebagai martir!
Anggota DPR dan artis dangdut telanjang berduaan di milis. Aa Gym dan istri barunya di Internet.
Di kedua peristiwa tersebut, kecenderungan orang menafsirkan peristiwa terpisah itu dengan satu definisi: seks. Dan istilah itu mempersempit menjadi alat kelamin. Si anggota DPR memanjakan alat kelaminnya di vagina penyanyi dangdut; Aa Gym melakukannya dengan berlindung pada kalimat-kalimat yang sulit dimengerti.
Sejujurnya, adakah yang perlu didebatkan andai saja kategorisasi moral/akhlaq kita distandarisasikan menjadi nol, seperti ajakan Nietszche: nihilism? Mungkin masih ada. Penyelewengan Pangeran Charles dengan Camilla atau Putri Diana dengan beberapa pria juga jadi isu nasional di Inggris. Monica Lewinsky juga pernah bikin Bill Clinton kebingungan. Padahal kedua peristiwa tersebut terjadi di negara-negara yang memiliki definisi moral longgar terhadap aktivitas seks.
Mungkin kata kuncinya adalah perkawinan. Seluruh agama di kebudayaan manapun menganggap perkawinan sakral. Walaupun, demi untuk mengakomodasi kekuasaan, raja di manapun diperkenankan untuk memiliki banyak istri dan selir-selir. Dan kebanyakan orang menganggap hal ini wajar.
Akan jadi perdebatan apabila yang melakukan orang-orang yang seharusnya bertugas menjaga moralitas seperti anggota DPR dan konon kabarnya - ulama! Orang-orang dari kalangan ini terlarang mengumbar alat kelaminnya, apalagi untuk seks.
Kesimpulannya: masyarakat Indonesia semakin hari semakin sakit saja. Dan pada saat bersamaan ruang publik pun - dalam arti fisik maupun psikis - berantakan tak terurus untuk mengakomodasi kepenatan akal dan kegelisahan emosi.
Atau barangkali saat ini adalah momen yang sangat berharga bagi berjalannya proses menuju nihilisme ala Nietszche, dan kemudian semua orang akan mampu membentuk mentalitas yang sangat tangguh dan dengan sendirinya akan membuat Indonesia menjadi sangat kuat, yang saking kuatnya akan membuat survivalitas bangsa Cina dan kedisipilinan orang Jepang jadi masa lalu tak berguna.
Semoga saja begitu; dan jika cara itu yang terjadi maka anggota DPR dan ulama itu bolehlah kita sebut sebagai martir!
08 August 2006
Zaman
Ia berubah. Yang ada saat ini adalah kelanjutan dari apa yang sudah tertelan waktu. Sementara apa yang dikatakan sisa-sisa masa lalu adalah istilah yang bisa kita tengok-tengok barang sebentar apabila kita sudah kehilangan alasan untuk merencana masa depan.
Atas dasar inilah, maka pengetahuan kita akan masa lalu jadi instrumental saja. Maksudanya adalah kita gunakan masa lalu sebagai ketapel untuk melemparkan diri kita jauh ke masa depan. Karena bersifat instrumental - apalagi belum pernah kita ketahui dan hanya dapat kita ketahui sepotong-sepotong - maka jika pengetahuan tentang masa lalu kita jadikan pijakan jadi tak masuk akal dan seringkali "salah tempat."
Contoh pas untuk hal ini adalah perang, khususnya atas nama agama. Bagi si pemenang, perang tersebut akan terus dijadikan simbol yang terus dihidupkan dan diulang-ulang keterangannya - terlepas dari kurang tafsir atau malah hiperbolik - kepada generasi mudanya. Bagi pihak yang kalah, maka akan dilupakan kecuali pihak yang kalah memiliki konsep lain bagaimana menerima kekalahan tadi. Misalnya dengan istilah "pelanggaran HAM".
Jadi, seberapa besarkan usaha kita dan jumlah informasi yang kita harus miliki tentang masa lalu kita? Apakah memang pengetahuan sejarah itu harus instrumental; atau - bicara secara ilmiah - untuk kebenaran dan fakta sebenarnya?
Fakta sebenarnya adalah klaim yang aneh tentang zaman yang tidak pernah kita miliki...
Dan perang memang bisa terjadi bahkan tanpa masa lalu sekalipun.
Bagi para penggemar sejarah, mungkin dia akan mati bosan, mati bingung, mati gila... tidak akan ada yang mati bahagia kecuali mereka menghentikan berpikir tentang "kebenaran".
What a fine paradox?
Atas dasar inilah, maka pengetahuan kita akan masa lalu jadi instrumental saja. Maksudanya adalah kita gunakan masa lalu sebagai ketapel untuk melemparkan diri kita jauh ke masa depan. Karena bersifat instrumental - apalagi belum pernah kita ketahui dan hanya dapat kita ketahui sepotong-sepotong - maka jika pengetahuan tentang masa lalu kita jadikan pijakan jadi tak masuk akal dan seringkali "salah tempat."
Contoh pas untuk hal ini adalah perang, khususnya atas nama agama. Bagi si pemenang, perang tersebut akan terus dijadikan simbol yang terus dihidupkan dan diulang-ulang keterangannya - terlepas dari kurang tafsir atau malah hiperbolik - kepada generasi mudanya. Bagi pihak yang kalah, maka akan dilupakan kecuali pihak yang kalah memiliki konsep lain bagaimana menerima kekalahan tadi. Misalnya dengan istilah "pelanggaran HAM".
Jadi, seberapa besarkan usaha kita dan jumlah informasi yang kita harus miliki tentang masa lalu kita? Apakah memang pengetahuan sejarah itu harus instrumental; atau - bicara secara ilmiah - untuk kebenaran dan fakta sebenarnya?
Fakta sebenarnya adalah klaim yang aneh tentang zaman yang tidak pernah kita miliki...
Dan perang memang bisa terjadi bahkan tanpa masa lalu sekalipun.
Bagi para penggemar sejarah, mungkin dia akan mati bosan, mati bingung, mati gila... tidak akan ada yang mati bahagia kecuali mereka menghentikan berpikir tentang "kebenaran".
What a fine paradox?
29 May 2006
Gempa yogya
Tulisan ini mungkin agak basi, telat dan latah... tapi biar saja. Ada yang sangat menyebalkan di gempa yogya ini.
Gila nggak, setelah beberapa hari gempa yang terjadi di JAWA, di mana transportasinya terbilang lebih mudah ketimbang daerah-daerah terpencil......... korban gempa masih menderita!
Dan fasilitas kesehatan yang ada di JAWA juga terbilang buruk dan gak mampu!
Bahkan bantuan yang dikirim ke sana saja tak secepat dan sebanyak yang diperlukan!
Sepertinya, orang Indonesia sudah tak tertarik lagi dengan gempa yang cuma beberapa richter itu dan tidak mengakibatkan efek sedahsyat tsunami di Aceh sana. Gempa yogya masih di bawah benchmark!!!
Kacau banget Indonesia......
saya sampai gak tahu mau nulis apa!
Gila, padahal cuma di Yogya!
Gila nggak, setelah beberapa hari gempa yang terjadi di JAWA, di mana transportasinya terbilang lebih mudah ketimbang daerah-daerah terpencil......... korban gempa masih menderita!
Dan fasilitas kesehatan yang ada di JAWA juga terbilang buruk dan gak mampu!
Bahkan bantuan yang dikirim ke sana saja tak secepat dan sebanyak yang diperlukan!
Sepertinya, orang Indonesia sudah tak tertarik lagi dengan gempa yang cuma beberapa richter itu dan tidak mengakibatkan efek sedahsyat tsunami di Aceh sana. Gempa yogya masih di bawah benchmark!!!
Kacau banget Indonesia......
saya sampai gak tahu mau nulis apa!
Gila, padahal cuma di Yogya!
12 May 2006
Naik kereta api
Belum lama berselang, saya naik kereta api lagi setelah lama tak menggunakan jasanya. Kesan yang timbul. Pertama, tentang stasiun Gambir. Semenjak awal Gambir direnovasi saya tak habis mengerti mengapa bentuknya harus begitu, selain memindahkan rel di atas, tak ada yang sangat menakjubkan. Saya tak mengerti bagaimana perancangnya mengakomodasi perilaku berkereta api di Indonesia. Ada pintu masuk yang selalu tertutup. Wah, saya ndak tahu harus bilang apa, tetapi Gambir bukan cerminan karya arsitektur yang bisa dinilai karena berfungsi sangat baik dan memudahkan... maaf nih para arsitek.
Sekarang ke penjualan tiket. Petunjuk tak jelas. Orang pertama yang datang ke Gambir pasti akan bertanya kemana harus beli tiket kereta jurusan mana. Untungnya tak terlalu merepotkan jika membeli tiket untuk keberangkatan hari itu dan bukan hari libur. Tapi kalau sudah libur, apalagi yang panjang, jangan harap beli tiket adalah kemudahan. Calo ada saja walau sudah di-omongin berkali-kali bakal dibrantas.
Ada lagi tentang tiket. Harganya euy...audzibillah mahalnya. Makin terasa mahal jika melihat pelayanan perusahaan kereta api kita ini.
Sekarang naik ke kereta apinya. Walah... jelek bener sekarang, padahal katanya kereta eksekutif. AC-nya memang dingin, hanya tempat duduknya sudah tak nyaman. Dan terasa makin tak nyaman saat dilayani para petugas kereta api.
Dari harga tiket eksekutif, tiap penumpang mendapat jatah makan. Tapi apa mau dikata, si petugas restorasi bukannya memberikan segera setelah kereta bergerak, tetapi dia malah berjualan dulu. Mending dengan menawarkan. Ini tidak, langsung aja dikasihkan begitu saja. Penumpang awam kan akan menganggapnya itu gratisan. Sudah itu, mereka menagih pembayaran dengan tanpa rasa malu. Itu memang bayar mas.... Nah setelah terbayar, barulah dikasih yang jatah gratisan itu. Ini diberikan dua jam setelah kereta berangkat dari Gambir. Ini bentuk penipuan. Kalau memang restorasi tak banyak yang beli, kenapa harus ada gerbong itu.
Nah di atas kereta api yang kebetulan kosong ada petugas kebersihan KA yang sedang malakukan tawar menawar dengan penumpang yang tak punya karcis. Harga resminya hampir 200 ribu, ditawar jadi 70 ribu dan berhasil. Si penumpang ini juga mendapat fasiitas yang diterima penumpang yang membayar full. Dan ... sekali lagi, tak ada satupun petugas KA yang malu tuh...
Nah sewaktu kembali, saya naik kereta yang lebih murah, kelas bisnis. Wah tak usah dibahas kereta apinya kayak apa. Karena mengantuk, saya sewa bantal. Semuanya tak jadi masalah sampai ketika kereta hampir masuk jatinegara. Dan itu masih ada 30 menit. Petugas dengan kasarnya membangunkan saya meminta bantalnya kembali. Saya sebal dan menolak, tetapi apa katanya, "Nanti saya kerja dua kali". Dalam hati, 'lah, itu kan memang tugas elu." Sebenarnya tak masalah bantal diminta, hanya caranya saja yang tak pantas.
Satu hal lagi yang dari dulu saya pingin tanyakan kepada KA adalah mengenai jadwal kereta api. Well, semua orang tahu, jika KA api telat itu sudah biasa. Dulu bahkan saya pernah terkejut saat KA tepat waktu. Tumben. Mengenai hal ini, di tiket KA kan biasanya mencantumkan kapan kereta berangkat dan tiba hingga ke menitnya. Jadi misalnya. Berangkat pkl 20.00 tiba pukul. 00.53. Gila, seolah-olah KA sangat peduli dengan waktu hingga ke menit-menitnya. Ya mbok yao... kalau telat melulu, kasih aja ukurannya yang masuk akal. Berangkat jam 20.00, tiba pukul 01.00 kan lebih enak. Tetapi jadwal kereta api, boleh diakui makin tepat waktu.
Hanya yang paling menyeballkan adalah orang-orangnya.... semuanya dari petugas di stasiun hingga yang bertugas di kereta api.... tak ada kesadaran melayani, layaknya petugas PLN, Telkom atau BUMN lain.
Payah.
14 December 2005
Orang Menyebalkan
Pernahkan kalian bertemu orang yang menyebalkan? Artinya, orang itu sangat menganggu indra pendengaran dan mata kita dan tahap selanjutnya adalah menganggu akal pikiran dan perasaan kita. Jika bertemu dengan orang semacam ini mungkin sebaiknya kita merasa iba.
Orang menyebalkan biasanya adalah orang yang 'sakit'. Sejarah hidupnya mungkin terlalu 'memanjakan' dirinya untuk tidak perlu ber-empati dengan sekelilingnya. Mungkin pelajaran untuk memiliki self esteem malah menjadi boomerang bagi dirinya di kemudian hari. Orang semacam ini jadi tidak punya kemampuan 'mendengar'. Dia lebih senang jika didengar. Jadi perhatian. Mendengar, hanya dia lakukan, semata-mata jika itu penting bagi dirinya sendiri. Lucunya, mereka merasa bahwa itu adalah cara bergaul terbaik yang ada. Mereka ingin diakui oleh orang-orang yang mungkin saja bosan mendengar bualannya.
Pernah orang tua saya berkata menjadi pelit, galak, toleran atau kata-kata sifat yang bernilai sosial tidak pernah diajarkan oleh sekolah, tetapi oleh keluarga. "Jadi perlihatkan kepada anak-anakmu saat kamu bersedekah dan jelaskan berulang-ulang kebaikannya," kata mereka. Berangkat dari sini apabila si orang tua tidak pernah mempertontonkan pemberian beras atau uang kepada peminta-minta, tidak perlu heran andaikata jika di hari tuanya si anak akan menganggap si pengemis adalah sampah masyarakat.
Ini adalah adalah masalah etika hidup. Kalau mau agak berat ya boleh lah disebut sebagai akhlaq atau moralitas, walaupun sebenarnya ini juga agak mudah untuk diperdebatkan.
Singkatnya adalah, jika berada pada posisi dekat orang menyebalkan, langkah terbaik adalah sabar. Atau diam sajalah. Karena bisa-bisa keadaaan menjadi lebih destruktif bagi semua orang. Tetapi kalau sudah tidak bisa menahan diri ya bolehlah meludahi mukanya atau menendang pantatnya.
Pernahkan kalian bertemu orang yang menyebalkan? Artinya, orang itu sangat menganggu indra pendengaran dan mata kita dan tahap selanjutnya adalah menganggu akal pikiran dan perasaan kita. Jika bertemu dengan orang semacam ini mungkin sebaiknya kita merasa iba.
Orang menyebalkan biasanya adalah orang yang 'sakit'. Sejarah hidupnya mungkin terlalu 'memanjakan' dirinya untuk tidak perlu ber-empati dengan sekelilingnya. Mungkin pelajaran untuk memiliki self esteem malah menjadi boomerang bagi dirinya di kemudian hari. Orang semacam ini jadi tidak punya kemampuan 'mendengar'. Dia lebih senang jika didengar. Jadi perhatian. Mendengar, hanya dia lakukan, semata-mata jika itu penting bagi dirinya sendiri. Lucunya, mereka merasa bahwa itu adalah cara bergaul terbaik yang ada. Mereka ingin diakui oleh orang-orang yang mungkin saja bosan mendengar bualannya.
Pernah orang tua saya berkata menjadi pelit, galak, toleran atau kata-kata sifat yang bernilai sosial tidak pernah diajarkan oleh sekolah, tetapi oleh keluarga. "Jadi perlihatkan kepada anak-anakmu saat kamu bersedekah dan jelaskan berulang-ulang kebaikannya," kata mereka. Berangkat dari sini apabila si orang tua tidak pernah mempertontonkan pemberian beras atau uang kepada peminta-minta, tidak perlu heran andaikata jika di hari tuanya si anak akan menganggap si pengemis adalah sampah masyarakat.
Ini adalah adalah masalah etika hidup. Kalau mau agak berat ya boleh lah disebut sebagai akhlaq atau moralitas, walaupun sebenarnya ini juga agak mudah untuk diperdebatkan.
Singkatnya adalah, jika berada pada posisi dekat orang menyebalkan, langkah terbaik adalah sabar. Atau diam sajalah. Karena bisa-bisa keadaaan menjadi lebih destruktif bagi semua orang. Tetapi kalau sudah tidak bisa menahan diri ya bolehlah meludahi mukanya atau menendang pantatnya.
10 December 2005
Mengulang
Dalam berbagai cerita serial Hercule Poirot, Agatha Christie menuliskan bahwa ada beberapa orang yang suka mengulang cerita pengalamannya, bukan sekali saja, tetapi berkali-kali. Dan ternyata saya merasakannya juga. Ada orang yang setiap kali ketemu bercerita hal yang sama. Orang segolongan ini biasanya berusia lanjut yang mengkisahkan pengalaman masa mudanya dulu.
Tapi ada juga orang muda yang sering mengulang cerita yang sama. Orang itu saya!
Menyadari ini saya jadi semakin tahu kalau ternyata orang memang sangat susah berkembang, membuka diri pada hal-hal yang baru. Orang hanya akan mendengar apa yang ingin dia dengar, melihat apa yang ingin dia lihat dan mengatakan apa yang ingin dia katakan saja.
Kendati saya mencoba membaca bagaimana mengatasi mobil mogok, saya tidak pernah bisa mengingat dengan baik. Tapi kalau itu masalah rumah, saya ingat.
Seorang kawan pencinta musik, kalau dia bicara dampak ikutan dari harga kenaikan harga BBM, dia akan kelihatan enggan setengah mati dan omongannya jadi tidak bermutu.
Saya menyimpulkan bahwa life circle kemampuan diri menyerap informasi dari luar sebenarnya sangat pendek. Mungkin sampai usia di bawah 20 tahun. Jadi informasi yang dikumpulkan selama 20 tahun akan dia ulang hingga dia mati. Jika usianya mencapai 40 tahun, dia mengulang satu kali; jika usianya 60 tahun, dia mengulang dua kali.
Lalu apa yang membuatnya hidup hingga selama itu jika ternyata seluruh hidupnya adalah pengulangan?
Saya tak tahu jawabannya.
Dalam berbagai cerita serial Hercule Poirot, Agatha Christie menuliskan bahwa ada beberapa orang yang suka mengulang cerita pengalamannya, bukan sekali saja, tetapi berkali-kali. Dan ternyata saya merasakannya juga. Ada orang yang setiap kali ketemu bercerita hal yang sama. Orang segolongan ini biasanya berusia lanjut yang mengkisahkan pengalaman masa mudanya dulu.
Tapi ada juga orang muda yang sering mengulang cerita yang sama. Orang itu saya!
Menyadari ini saya jadi semakin tahu kalau ternyata orang memang sangat susah berkembang, membuka diri pada hal-hal yang baru. Orang hanya akan mendengar apa yang ingin dia dengar, melihat apa yang ingin dia lihat dan mengatakan apa yang ingin dia katakan saja.
Kendati saya mencoba membaca bagaimana mengatasi mobil mogok, saya tidak pernah bisa mengingat dengan baik. Tapi kalau itu masalah rumah, saya ingat.
Seorang kawan pencinta musik, kalau dia bicara dampak ikutan dari harga kenaikan harga BBM, dia akan kelihatan enggan setengah mati dan omongannya jadi tidak bermutu.
Saya menyimpulkan bahwa life circle kemampuan diri menyerap informasi dari luar sebenarnya sangat pendek. Mungkin sampai usia di bawah 20 tahun. Jadi informasi yang dikumpulkan selama 20 tahun akan dia ulang hingga dia mati. Jika usianya mencapai 40 tahun, dia mengulang satu kali; jika usianya 60 tahun, dia mengulang dua kali.
Lalu apa yang membuatnya hidup hingga selama itu jika ternyata seluruh hidupnya adalah pengulangan?
Saya tak tahu jawabannya.
04 October 2005
Apalagi?
Dari sudut pandang orang Indonesia yang sangat normal, bom yang meledak di Bali sungguh tidak dapat dicerna. Sehari sebelumnya, seluruh orang Indonesia bertempur dengan logika mereka sendiri memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup ditengah kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan sehari-hari menyusul kenaikan bahan bakar minyak yang teramat drastis. Lalu bom meledak di Bali lagi. Orang Indonesia harus bereaksi seperti apa?
Marah? Kepada siapa? Jengkel? Kepada siapa? Balas dendam? Kepada siapa? Perasaan ini harus ditujukan kepada siapa? Oalah, nelangsa benar jadi orang Indonesia, mau menumpahkan perasaan saja tidak bisa.
Apakah ini pengalih-perhatian? Sebuah trik lama yang biasa digunakan oleh Orde Baru untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang substansial. Memang benar, berita tentang kenaikan BBM langsung berkurang drastis sewaktu bom Bali meledak.
Ada yang berspekulasi ini ulah negara lain yang tengah getol-getolnya mempromosikan pariwisatanya. Dan ternyata tokoh pembom yang dicari-cari itu orang dari negara itu juga.
Jadi dapat disimpulkan: itu kerjaan pemerintah kita sendiri dan kerjaan pemerintah negara lain.
Tapi sesungguhnya itu tidak menarik sama sekali. Ada yang lebih penting: bagaimana caranya memperoleh tambahan penghasilan untuk hidup sehari-hari. Tidak lebih tidak kurang.
Saya benar-benar kehilangan kata-kata karena otak saya juga tidak sedang bisa menyimpulkan.
Malang nian nasib awak....
Dari sudut pandang orang Indonesia yang sangat normal, bom yang meledak di Bali sungguh tidak dapat dicerna. Sehari sebelumnya, seluruh orang Indonesia bertempur dengan logika mereka sendiri memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup ditengah kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan sehari-hari menyusul kenaikan bahan bakar minyak yang teramat drastis. Lalu bom meledak di Bali lagi. Orang Indonesia harus bereaksi seperti apa?
Marah? Kepada siapa? Jengkel? Kepada siapa? Balas dendam? Kepada siapa? Perasaan ini harus ditujukan kepada siapa? Oalah, nelangsa benar jadi orang Indonesia, mau menumpahkan perasaan saja tidak bisa.
Apakah ini pengalih-perhatian? Sebuah trik lama yang biasa digunakan oleh Orde Baru untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang substansial. Memang benar, berita tentang kenaikan BBM langsung berkurang drastis sewaktu bom Bali meledak.
Ada yang berspekulasi ini ulah negara lain yang tengah getol-getolnya mempromosikan pariwisatanya. Dan ternyata tokoh pembom yang dicari-cari itu orang dari negara itu juga.
Jadi dapat disimpulkan: itu kerjaan pemerintah kita sendiri dan kerjaan pemerintah negara lain.
Tapi sesungguhnya itu tidak menarik sama sekali. Ada yang lebih penting: bagaimana caranya memperoleh tambahan penghasilan untuk hidup sehari-hari. Tidak lebih tidak kurang.
Saya benar-benar kehilangan kata-kata karena otak saya juga tidak sedang bisa menyimpulkan.
Malang nian nasib awak....
28 September 2005
Apa ya? Bosan? Mual?
Entah harus merasa apa sekarang menyambut kenaikan harga BBM yang katanya akan naik per 1 Oktober ini. Marah? Ealah ya percuma saja. Dulu kita marah saat Soeharto tidak mau turun-turun juga. Terus kita gembira ketika akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri. Walau kemudian agak tidak sreg melihat gantinya. Apalagi kemudia dia membuat kita tidak mengerti, marah dan kecewa saat dia melepaskan Timor Timur.
Untungnya, keadaan agak membaik sedikit. Apalagi si Habibie membuat pemilihan umum yang sangat ramai dan kata orang-orang asing sukses. Kita senang bisa melepaskan kepenatan pikiran dan batin kita. Kendati kemudian kita tidak mengerti, bingung dan ragu saat Gus Dur terpilih jadi presiden.
Pada giliaran berikutnya, kita malah jadi tak tentu arah akibat gaya kepemimpinan dan pernyataan Gus Dur yang dari sudut pandang masyarakat awam tulalit. Agak khawatir muncul saat masa peralihan dari Gus Dur ke Mega. Untungnya Mega dapat membawa negara ini agak stabil kendati sebagian besar masyarakat juga tidak puas.
Kita agak sumringah waktu SBY dipilih jadi presiden. Banyak orang berharap akan terjadinya hal-hal baik selama masa kepemimpinannya. Tetapi kemudian ada tragedi bencana alam amat dahsyat di NAD sana. Kemudian ada krisis energi yang jadi alasan naiknya harga BBM.
Karena itu sangat beralasan untuk tidak merasa apa-apa terhadap situasi saat ini mengingat bahwa seluruh perasaan yang dikeluarkan karena kedekatan emosional dan bernada harapan sudah tertumpah sebelumnya. Yang masih tersisa mungkin bosan dengan segala janji pemerintah. Bahkan sebagian orang - atau mungkin cuma saya - sudah mual dan mau muntah....
Tak ada harapan yang pantas diletakkan pada orang yang berasal dari masa lalu.... karena masa lalu harusnya sudah beku dimakan usia dan jadi tempat berkunjung sekali waktu kala kita rindu. Tapi tak pantas sama sekali jadi cara menjalani hidup!
Mari kita muntah! Sekarang!
Entah harus merasa apa sekarang menyambut kenaikan harga BBM yang katanya akan naik per 1 Oktober ini. Marah? Ealah ya percuma saja. Dulu kita marah saat Soeharto tidak mau turun-turun juga. Terus kita gembira ketika akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri. Walau kemudian agak tidak sreg melihat gantinya. Apalagi kemudia dia membuat kita tidak mengerti, marah dan kecewa saat dia melepaskan Timor Timur.
Untungnya, keadaan agak membaik sedikit. Apalagi si Habibie membuat pemilihan umum yang sangat ramai dan kata orang-orang asing sukses. Kita senang bisa melepaskan kepenatan pikiran dan batin kita. Kendati kemudian kita tidak mengerti, bingung dan ragu saat Gus Dur terpilih jadi presiden.
Pada giliaran berikutnya, kita malah jadi tak tentu arah akibat gaya kepemimpinan dan pernyataan Gus Dur yang dari sudut pandang masyarakat awam tulalit. Agak khawatir muncul saat masa peralihan dari Gus Dur ke Mega. Untungnya Mega dapat membawa negara ini agak stabil kendati sebagian besar masyarakat juga tidak puas.
Kita agak sumringah waktu SBY dipilih jadi presiden. Banyak orang berharap akan terjadinya hal-hal baik selama masa kepemimpinannya. Tetapi kemudian ada tragedi bencana alam amat dahsyat di NAD sana. Kemudian ada krisis energi yang jadi alasan naiknya harga BBM.
Karena itu sangat beralasan untuk tidak merasa apa-apa terhadap situasi saat ini mengingat bahwa seluruh perasaan yang dikeluarkan karena kedekatan emosional dan bernada harapan sudah tertumpah sebelumnya. Yang masih tersisa mungkin bosan dengan segala janji pemerintah. Bahkan sebagian orang - atau mungkin cuma saya - sudah mual dan mau muntah....
Tak ada harapan yang pantas diletakkan pada orang yang berasal dari masa lalu.... karena masa lalu harusnya sudah beku dimakan usia dan jadi tempat berkunjung sekali waktu kala kita rindu. Tapi tak pantas sama sekali jadi cara menjalani hidup!
Mari kita muntah! Sekarang!
13 June 2005
Kembali ke masa lalu
Apa yang paling mengasyikan di kala kita suntuk, tak tahu arah, putus asa, bosan atau jenuh? Ya! Kembali ke masa lalu. Sebab itu masuk akal bila acara reuni atau apapun yang bertujuan mengulang yang sudah-sudah akan diminati.
Ini juga yang sepertinya akan dilakukan pemerintah sekarang. Dengan klaim bahwa beberapa program masa lalu ternyata telah mumpuni dapat mencegah beberapa musibah yang menimpa kita, misalnya, persoalan Poso yang tak kunjung usai atau penyakit busung lapar yang tidak terdeteksi, mereka memutuskan 'meneruskan'-nya. Untuk menghindarkan diri dari cercaan orang karena berniat menggunakan metode-metode Orde Baru dalam praktik pemerintahannya, SBY mewanti-wanti ada beberapa hal yang juga harus ditinggalkan, misalnya KKN, korupsi, supremasi militer atas sipil.
Mungkinkah itu terjadi? Hanya waktu yang akan membuktikan. Hanya saja kita berspekulasi. Mengingat bahwa program dan metotode tersebut berasal dari satu paket, maka agak sulit memisahkan yang dianggap 'baik' dan 'buruk'. Sangat mungkin andaikata beberapa dari tadi diuji coba, maka resikonya semuanya turut serta.
Mungkin akan sedikit lain jika penamaannya berbeda. Jadi istilah Posyandu untuk Pos Pelayanan Terpadu diubah jadi Kegiatan Masyarakat Untuk Kesehatan Ibu dan Anak-anak (KeMUKA) atau apapun lah. Sebab sebutan akan banyak sekali terhadap praksis. Ini nampak nyata pada pergantian dari ABRI ke TNI. Keduanya merujuk ke hal sama tetapi efek dibenak para pendengar lain.
Saya sepakat bahwa program-program atau metode-metode masa lalu sangat efektif untuk menjaga keutuhan negara kita. Sayangya, dulu praksis di lapangan biasanya sangat overaktif. Sekarang harus diubah.
Ada satu lagi yang harus kembali ke masa lalu, yakni sentralisme kekuasaan. Ini cara lebih tepat dan berhasil menjaga keutuhan negara ketimbang demokrasi - sebuah konsep yang sama utopianya dengan komunisme.
....
Apa yang paling mengasyikan di kala kita suntuk, tak tahu arah, putus asa, bosan atau jenuh? Ya! Kembali ke masa lalu. Sebab itu masuk akal bila acara reuni atau apapun yang bertujuan mengulang yang sudah-sudah akan diminati.
Ini juga yang sepertinya akan dilakukan pemerintah sekarang. Dengan klaim bahwa beberapa program masa lalu ternyata telah mumpuni dapat mencegah beberapa musibah yang menimpa kita, misalnya, persoalan Poso yang tak kunjung usai atau penyakit busung lapar yang tidak terdeteksi, mereka memutuskan 'meneruskan'-nya. Untuk menghindarkan diri dari cercaan orang karena berniat menggunakan metode-metode Orde Baru dalam praktik pemerintahannya, SBY mewanti-wanti ada beberapa hal yang juga harus ditinggalkan, misalnya KKN, korupsi, supremasi militer atas sipil.
Mungkinkah itu terjadi? Hanya waktu yang akan membuktikan. Hanya saja kita berspekulasi. Mengingat bahwa program dan metotode tersebut berasal dari satu paket, maka agak sulit memisahkan yang dianggap 'baik' dan 'buruk'. Sangat mungkin andaikata beberapa dari tadi diuji coba, maka resikonya semuanya turut serta.
Mungkin akan sedikit lain jika penamaannya berbeda. Jadi istilah Posyandu untuk Pos Pelayanan Terpadu diubah jadi Kegiatan Masyarakat Untuk Kesehatan Ibu dan Anak-anak (KeMUKA) atau apapun lah. Sebab sebutan akan banyak sekali terhadap praksis. Ini nampak nyata pada pergantian dari ABRI ke TNI. Keduanya merujuk ke hal sama tetapi efek dibenak para pendengar lain.
Saya sepakat bahwa program-program atau metode-metode masa lalu sangat efektif untuk menjaga keutuhan negara kita. Sayangya, dulu praksis di lapangan biasanya sangat overaktif. Sekarang harus diubah.
Ada satu lagi yang harus kembali ke masa lalu, yakni sentralisme kekuasaan. Ini cara lebih tepat dan berhasil menjaga keutuhan negara ketimbang demokrasi - sebuah konsep yang sama utopianya dengan komunisme.
....
06 June 2005
Dipenjara Adalah Gaya Hidup
Apa jadinya bila kita, salah satu dari anggota keluarga kita dikenai sanksi; entah itu dari tempat kerja, sekolah, masyarakat atau kepolisian. Bila pun terjadi hal yang tidak diinginkan orang akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan sanksi itu tersebar luas di masyarakat.
Karena empati dan tepo seliro, biasanya si pemberi hukumpun akan bersepekat untuk menghindarkan sanksi yang lebih kejam dari masyarakat. Akibatnya aturam main yang selama ini ada jadi tidak diterapkan sepenuhnya dan adil.
Kebiasaan ini secara langsung memberikan kekuasaan yang berlebih kepada aparat penegak hukum. Dia jadi merasa berkuasa dan sebab itu wajar saja bila menerapkan ’harga’ dalam tanggung jawabnya. Lama-lama ini jadi aturan main yang terjadi.
Bentuk lanjut dari evolusi ini adalah aturan main yang seharusnya tidak menakutkan lagi. Tidak bergigi karena ternyata aturan itu bisa dibeli. Aturan bahkan bagi orang yang tidak mampu membeli adalah penghalang. Trik orang-orang berkuasa untuk memperkaya diri. Ada kecenderungan bahwa semakin tidak aturan semakin aman sebuah daerah.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi pergeseran yang amat radikal terhadap anggapan orang mengenai sanksi ini. Dulu sanksi adalah aib dan orang yang terkena berusaha sebisanya menutupi, sekarang sanksi jadi gaya hidup.
Awalnya orang yang tadinya dikenai sanksi tidak bisa tidak harus masuk bui. Terpaksalah mereka mengikuti aturan main itu. Tetapi saat di dalam bui, dia mulai bermain.
Bila harus disel, maka ruang tahanannya ber-AC, TV dan komplit. Alat komunikasi juga boleh, apalagi makanan. Semuanya mungkin asal dia mampu membayar. Ini yang terjadi dengan tahanan kelas kakap, misalnya Tommy Soeharto. Penjara jadi benar-benar tempat untuk relaksasi.
Bahkan nampaknya penjara jadi tempat yang sangat efektif untuk berbisnis karena seorang yang mampu membeli fasilitas penjara ini tidak harus mengikuti ritual-ritual sosial yang melelahkan. Misalnya, di undang Gubernur ke satu acara, eh ndak tahunya harus menyumbang. Belum jatah ini itu.... terlalu banyak dan pemborosan.
Namun sekali lagi, keindahan hidup macam itu hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang punya uang. Rakyat miskin jelata yang tak punya identitas dan pengaruh... yang akan memiliki kesengsaraan yang kian membesar seiring waktu.
Apa jadinya bila kita, salah satu dari anggota keluarga kita dikenai sanksi; entah itu dari tempat kerja, sekolah, masyarakat atau kepolisian. Bila pun terjadi hal yang tidak diinginkan orang akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan sanksi itu tersebar luas di masyarakat.
Karena empati dan tepo seliro, biasanya si pemberi hukumpun akan bersepekat untuk menghindarkan sanksi yang lebih kejam dari masyarakat. Akibatnya aturam main yang selama ini ada jadi tidak diterapkan sepenuhnya dan adil.
Kebiasaan ini secara langsung memberikan kekuasaan yang berlebih kepada aparat penegak hukum. Dia jadi merasa berkuasa dan sebab itu wajar saja bila menerapkan ’harga’ dalam tanggung jawabnya. Lama-lama ini jadi aturan main yang terjadi.
Bentuk lanjut dari evolusi ini adalah aturan main yang seharusnya tidak menakutkan lagi. Tidak bergigi karena ternyata aturan itu bisa dibeli. Aturan bahkan bagi orang yang tidak mampu membeli adalah penghalang. Trik orang-orang berkuasa untuk memperkaya diri. Ada kecenderungan bahwa semakin tidak aturan semakin aman sebuah daerah.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi pergeseran yang amat radikal terhadap anggapan orang mengenai sanksi ini. Dulu sanksi adalah aib dan orang yang terkena berusaha sebisanya menutupi, sekarang sanksi jadi gaya hidup.
Awalnya orang yang tadinya dikenai sanksi tidak bisa tidak harus masuk bui. Terpaksalah mereka mengikuti aturan main itu. Tetapi saat di dalam bui, dia mulai bermain.
Bila harus disel, maka ruang tahanannya ber-AC, TV dan komplit. Alat komunikasi juga boleh, apalagi makanan. Semuanya mungkin asal dia mampu membayar. Ini yang terjadi dengan tahanan kelas kakap, misalnya Tommy Soeharto. Penjara jadi benar-benar tempat untuk relaksasi.
Bahkan nampaknya penjara jadi tempat yang sangat efektif untuk berbisnis karena seorang yang mampu membeli fasilitas penjara ini tidak harus mengikuti ritual-ritual sosial yang melelahkan. Misalnya, di undang Gubernur ke satu acara, eh ndak tahunya harus menyumbang. Belum jatah ini itu.... terlalu banyak dan pemborosan.
Namun sekali lagi, keindahan hidup macam itu hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang punya uang. Rakyat miskin jelata yang tak punya identitas dan pengaruh... yang akan memiliki kesengsaraan yang kian membesar seiring waktu.
Korupsi, Fragment dan SBY
Sekarang lagi musim penangkapan orang-orang terkenal karena dugaan korupsi. KPU menyumbang banyak. Yang terkenal dari KPU adalah Mulyana W Kusumah dan Nazzaruddin S. Bank Mandiri juga ikut menyumbang. Katanya sih akan ada penangkapan lainnya.
KPK, Kejaksaan Agung, Polisi sudah didukung Presiden, bekerjasama dengan banyak lembaga untuk mengumpulkan bukti. Sayangnya hingga kini tidak ada yang meyakinkan.
Dan hasil seperti itu sudah diduga oleh sebagian besar dari kita. Pasti semuanya akan bebas. Yang terjadi ini hanyalah fragmen satu babak, yang tak akan ada lanjutannya, kecuali para penonton - kita - meminta sambungannya.
Korupsi itu tidak akan lenyap dari bumi Indonesia. Bagi sebagian besar orang, korupsi banyak manfaatnya, ketimbang mudharatnya. Karena hingga detik ini tak ada orang yang bener-bener serius menghabisinya.
Bahkan media massa yang teorinya adalah kekuatan rakyat, watchdog, juga terlalu perhitungan dalam menyingkap praktik korupsi. Memang tidak semua media begitu, hanya saja paduan suara media cenderung melemahkan semangat pemberantasan korupsi.
Praktik media seperti ini juga berlaku di semua kasus-kasus besar: Kerusuhan Mei, Pengadilan Soeharto - semua berakhir hambar karena seolah-olah tak ada pasal hukum yang dapat menjerat mereka.
Walhasil, fragmen ini hanyalah sekedar kisah tak penting...
Tapi ngomong-ngomong soal fragmen, sepertinya Pemerintah SBY sangat gemar memanfaatkan isu-isu besar untuk menjaga kepopuleran. Seperti bintang film Hollywood yang enggan pudar dan terus menghasilkan uang..
Sekarang lagi musim penangkapan orang-orang terkenal karena dugaan korupsi. KPU menyumbang banyak. Yang terkenal dari KPU adalah Mulyana W Kusumah dan Nazzaruddin S. Bank Mandiri juga ikut menyumbang. Katanya sih akan ada penangkapan lainnya.
KPK, Kejaksaan Agung, Polisi sudah didukung Presiden, bekerjasama dengan banyak lembaga untuk mengumpulkan bukti. Sayangnya hingga kini tidak ada yang meyakinkan.
Dan hasil seperti itu sudah diduga oleh sebagian besar dari kita. Pasti semuanya akan bebas. Yang terjadi ini hanyalah fragmen satu babak, yang tak akan ada lanjutannya, kecuali para penonton - kita - meminta sambungannya.
Korupsi itu tidak akan lenyap dari bumi Indonesia. Bagi sebagian besar orang, korupsi banyak manfaatnya, ketimbang mudharatnya. Karena hingga detik ini tak ada orang yang bener-bener serius menghabisinya.
Bahkan media massa yang teorinya adalah kekuatan rakyat, watchdog, juga terlalu perhitungan dalam menyingkap praktik korupsi. Memang tidak semua media begitu, hanya saja paduan suara media cenderung melemahkan semangat pemberantasan korupsi.
Praktik media seperti ini juga berlaku di semua kasus-kasus besar: Kerusuhan Mei, Pengadilan Soeharto - semua berakhir hambar karena seolah-olah tak ada pasal hukum yang dapat menjerat mereka.
Walhasil, fragmen ini hanyalah sekedar kisah tak penting...
Tapi ngomong-ngomong soal fragmen, sepertinya Pemerintah SBY sangat gemar memanfaatkan isu-isu besar untuk menjaga kepopuleran. Seperti bintang film Hollywood yang enggan pudar dan terus menghasilkan uang..
19 April 2005
Artinya.......
Saya teringat pelajaran tentang makna sewaktu kuliah dulu. Pelajaran itu membeberkan bahwa kita telah diajari bagaimana mengenal makna yang berasal dari tindakan ataupun perkataan. Pelajaran itu juga menyimpulkan bahwa kita tanpa sadar cenderung bertanya: "apa makna" dari ucapan ini atau tindakan itu bila kita tidak tahu. Padahal cara mengetahui makna lebih tepat jika menanya: "kapan itu bermakna". 'Itu' di sini bisa ucapan atau perbuatan.
Misalnya PKI. Jika bertanya apa, maka jawabnya 'Partai Komunis Indonesia'. Ini benar tetapi pertanyaa itu hanya menjawab definisinya saja. Belum menjawab konteknya. Sebab itu pertanyaan yang lebih menyeluruh adalah 'kapan PKI jadi bermakna?' Jawabnya macam-macam situasi. Misalnya mau melamar jadi pegawai negeri, maka PKI berarti sang pelamar harus lurus 'screening' bebas PKI. Lain situasi adalah kode Eks Tapol (ET) di Kartu Identitas Penduduk (KTP) mereka yang pernah terlibat PKI. Singkatnya, pertanyaan 'kapan bermakna' menjelaskan situasi-situasi yang membuat satu tindakan/ucapan memiliki makna.
TETAPI, itu baru menyentuh kesejarahan sebuah ucapan atau tindakan. Bagaimana kalau mau mengetahu masa depan yang timbul dari ucapan atau perbuatan tertentu? Jika demikian, maka makna harus dilihat dari sejumlah tindakan dan atau ucapan yang merujuk pada ucapan atau tindakan tadi.
Mengambil contoh di atas. Sekali seorang disebut PKI, maka dia akan menghadapi serangkaian halangan. Dia akan sulit berbisnis, bergaul. Dia akan dijauhi layaknya penderita lepra atau orang gila. Serangkaian tindakan inilah yang semakin meneguhkan makna dari PKI tadi.
Ada baiknya mungkin mengambil contoh yang lebih masa kini. "Kumpul kebo" adalah hidup bersama tanpa nikah. Istilah ini ngetop pada tahun 80-an awal. Pasangan yang dikenai cap 'berkumpul kebo' akan dijauhi masyarakat. TETAPI, bagaimana makna itu sekarang. Kumpul kebo tidak diperdebatkan lagi. Istilahnya bahkan diperhalus jadi hidup bersama. Sebuah frasa yang agak membingungkan dan tak merujuk pada 'hidup bagaiakan suami istri'. Masyarakat masa kini bahkan melihatnya sebagai sebuah gaya hidup, jadi tak perlu dicampuri. Tak ada sanksi yang perlu diterapkan.
Dengan kerangka pikir ini, maka ada baiknya bila kita melihat ucapan atau tindakan seseorang dari praktik yang menyertainya. Misalnya Gus Dur bilang bahwa dia demokratis, tetapi sewaktu dia dipilih jadi dewan syuro PKB secara aklamatif dan mengabaikan prosedur demokrasi, dia nyantai aja tuh. Banyak contoh lain: Mulyana W Kusuma aktivis jujur dan dedikatif, lah kok bisanya dia 'terjebak' penyuapan.
Ucapan bukanlah makna yang penting. Ucapan seringkali memiliki beda makna di tiap jaman. Tetapi tindakan adalah derivasi otomatis, mengikat dan permanen dari sebuah keinginan.
Keinginan zaman di Indonesia adalah seorang pemimpin harus lama dan hanya turun bila dia sakit, mati atau dipaksa turun. Sudah tahu begini kok ya nekad mengenalkan demokrasi. Waste of time, gitu lohhhhh.......
Jadi ya.... what can you expect gitu loh dari pemerintahan yang diam-diam berhasrat mempertahankan kekuasaannya dapat menciptakan negara yang penduduknya aman tentram makmur sehat bagahia....
Mimpi deh...
Saya teringat pelajaran tentang makna sewaktu kuliah dulu. Pelajaran itu membeberkan bahwa kita telah diajari bagaimana mengenal makna yang berasal dari tindakan ataupun perkataan. Pelajaran itu juga menyimpulkan bahwa kita tanpa sadar cenderung bertanya: "apa makna" dari ucapan ini atau tindakan itu bila kita tidak tahu. Padahal cara mengetahui makna lebih tepat jika menanya: "kapan itu bermakna". 'Itu' di sini bisa ucapan atau perbuatan.
Misalnya PKI. Jika bertanya apa, maka jawabnya 'Partai Komunis Indonesia'. Ini benar tetapi pertanyaa itu hanya menjawab definisinya saja. Belum menjawab konteknya. Sebab itu pertanyaan yang lebih menyeluruh adalah 'kapan PKI jadi bermakna?' Jawabnya macam-macam situasi. Misalnya mau melamar jadi pegawai negeri, maka PKI berarti sang pelamar harus lurus 'screening' bebas PKI. Lain situasi adalah kode Eks Tapol (ET) di Kartu Identitas Penduduk (KTP) mereka yang pernah terlibat PKI. Singkatnya, pertanyaan 'kapan bermakna' menjelaskan situasi-situasi yang membuat satu tindakan/ucapan memiliki makna.
TETAPI, itu baru menyentuh kesejarahan sebuah ucapan atau tindakan. Bagaimana kalau mau mengetahu masa depan yang timbul dari ucapan atau perbuatan tertentu? Jika demikian, maka makna harus dilihat dari sejumlah tindakan dan atau ucapan yang merujuk pada ucapan atau tindakan tadi.
Mengambil contoh di atas. Sekali seorang disebut PKI, maka dia akan menghadapi serangkaian halangan. Dia akan sulit berbisnis, bergaul. Dia akan dijauhi layaknya penderita lepra atau orang gila. Serangkaian tindakan inilah yang semakin meneguhkan makna dari PKI tadi.
Ada baiknya mungkin mengambil contoh yang lebih masa kini. "Kumpul kebo" adalah hidup bersama tanpa nikah. Istilah ini ngetop pada tahun 80-an awal. Pasangan yang dikenai cap 'berkumpul kebo' akan dijauhi masyarakat. TETAPI, bagaimana makna itu sekarang. Kumpul kebo tidak diperdebatkan lagi. Istilahnya bahkan diperhalus jadi hidup bersama. Sebuah frasa yang agak membingungkan dan tak merujuk pada 'hidup bagaiakan suami istri'. Masyarakat masa kini bahkan melihatnya sebagai sebuah gaya hidup, jadi tak perlu dicampuri. Tak ada sanksi yang perlu diterapkan.
Dengan kerangka pikir ini, maka ada baiknya bila kita melihat ucapan atau tindakan seseorang dari praktik yang menyertainya. Misalnya Gus Dur bilang bahwa dia demokratis, tetapi sewaktu dia dipilih jadi dewan syuro PKB secara aklamatif dan mengabaikan prosedur demokrasi, dia nyantai aja tuh. Banyak contoh lain: Mulyana W Kusuma aktivis jujur dan dedikatif, lah kok bisanya dia 'terjebak' penyuapan.
Ucapan bukanlah makna yang penting. Ucapan seringkali memiliki beda makna di tiap jaman. Tetapi tindakan adalah derivasi otomatis, mengikat dan permanen dari sebuah keinginan.
Keinginan zaman di Indonesia adalah seorang pemimpin harus lama dan hanya turun bila dia sakit, mati atau dipaksa turun. Sudah tahu begini kok ya nekad mengenalkan demokrasi. Waste of time, gitu lohhhhh.......
Jadi ya.... what can you expect gitu loh dari pemerintahan yang diam-diam berhasrat mempertahankan kekuasaannya dapat menciptakan negara yang penduduknya aman tentram makmur sehat bagahia....
Mimpi deh...
14 March 2005
Datang dan datang lagi
Dimulai ketika SBY terpilih. Itu adalah musibah pertama. Sebab Indonesia kembali mencatat terpilihnya orang karena ngetop, bukan karena berani. Dulu Gus Dur, trus Mega, sekarang SBY. Jadi maklum saja jika tak ada perubahan berarti dari tiap pergantian itu. Ini mungkin karena para presiden itu tidak diperlukan sama sekali. Orang-orang yang jadi presiden harusnya BERANI. Mungkin Jusuf Kalla lebih tepat. Sayangnya dia wapres dan kenal terlalu banyak orang, yang barangkali saja, akan memanfaatkannya.
Lalu ada bencana tsunami yang tingkat kehancurannya susah dimengerti, termasuk, mengapa di Aceh. Yang terakhir lebih metafisik. Artinya, dengan nama Serambi Mekkah, kok ya Tuhan, tega-teganya menimpakan bencana di sana... Atau barangkali, Aceh sudah tak pantas lagi menyandang julukan Serambi Mekkah lagi. Cara memahami ini juga sangat diterima ketika bom meledak di Kuta, Bali. Bahkan orang-orang Bali yakin bahwa Bali sudah tidak suci lagi sehingga perlu diingatkan.
Cara ini pula begitu marak setiap pergantian tahun. Para peramal dimintai pendapat mengenai apa yang akan terjadi di bumi nusantara selama setahun ini. Satu ringkasan ramalan yang pernah saya baca menganjurkan Indonesia untuk melakukan ruwat nasional pada perayaan kemerdekaan tahun ini. Untuk menghindarkan dari bala lebih lanjut. Apalagi ternyata SBY - dalam kalender Jawa - tidak memiliki weton yang cocok untuk jadi pemimpin nasional. Dengan weton sekarang, SBY akan mendatangkan aneka bencana - semacam gonjang-ganjing. Dan ternyata - entah ini logis apa tidak - beberapa malapetakan telah datang dan ada beberapa yang mulai terlihat.
Antaranya: perebutan blok Ambalat dengan Malaysia, bencana kelaparan (baca: KELAPARAN) di provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah apa lagi yang akan datang besok.
Percaya atau tidak percaya, kita tidak bisa mengandalkan orang untuk dapat mengurusi negeri kepulauan yang luas ini pada orang yang tidak berani. Kita perlu pemberani, seorang pahlawan yang tidak peduli pada keselamatan jiwanya dan banyak akal, sedikit licik mungkin, untuk maksud yang bermanfaat bagi penduduk Indonesia seluruhnya...
Dimulai ketika SBY terpilih. Itu adalah musibah pertama. Sebab Indonesia kembali mencatat terpilihnya orang karena ngetop, bukan karena berani. Dulu Gus Dur, trus Mega, sekarang SBY. Jadi maklum saja jika tak ada perubahan berarti dari tiap pergantian itu. Ini mungkin karena para presiden itu tidak diperlukan sama sekali. Orang-orang yang jadi presiden harusnya BERANI. Mungkin Jusuf Kalla lebih tepat. Sayangnya dia wapres dan kenal terlalu banyak orang, yang barangkali saja, akan memanfaatkannya.
Lalu ada bencana tsunami yang tingkat kehancurannya susah dimengerti, termasuk, mengapa di Aceh. Yang terakhir lebih metafisik. Artinya, dengan nama Serambi Mekkah, kok ya Tuhan, tega-teganya menimpakan bencana di sana... Atau barangkali, Aceh sudah tak pantas lagi menyandang julukan Serambi Mekkah lagi. Cara memahami ini juga sangat diterima ketika bom meledak di Kuta, Bali. Bahkan orang-orang Bali yakin bahwa Bali sudah tidak suci lagi sehingga perlu diingatkan.
Cara ini pula begitu marak setiap pergantian tahun. Para peramal dimintai pendapat mengenai apa yang akan terjadi di bumi nusantara selama setahun ini. Satu ringkasan ramalan yang pernah saya baca menganjurkan Indonesia untuk melakukan ruwat nasional pada perayaan kemerdekaan tahun ini. Untuk menghindarkan dari bala lebih lanjut. Apalagi ternyata SBY - dalam kalender Jawa - tidak memiliki weton yang cocok untuk jadi pemimpin nasional. Dengan weton sekarang, SBY akan mendatangkan aneka bencana - semacam gonjang-ganjing. Dan ternyata - entah ini logis apa tidak - beberapa malapetakan telah datang dan ada beberapa yang mulai terlihat.
Antaranya: perebutan blok Ambalat dengan Malaysia, bencana kelaparan (baca: KELAPARAN) di provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah apa lagi yang akan datang besok.
Percaya atau tidak percaya, kita tidak bisa mengandalkan orang untuk dapat mengurusi negeri kepulauan yang luas ini pada orang yang tidak berani. Kita perlu pemberani, seorang pahlawan yang tidak peduli pada keselamatan jiwanya dan banyak akal, sedikit licik mungkin, untuk maksud yang bermanfaat bagi penduduk Indonesia seluruhnya...
10 March 2005
Batas kita sampai mana
Harus ada batas. Semua hal harus ada batasnya.
Pertanyaannya: bagaimana menemukan batas itu? Kapan? Di mana?
Seringkali, apalagi saat bahagia, batas itu tak nampak. Jikapun terlihat, kita abaikan. Sebab batas tadi akan menghentikan kebahagiaan kita. Sebaliknya, apabila sedih, sang batas adalah impian yang minta segera diwujudkan, atau hadir, atau ada. Dan ini wajar, sangat manusiawi.
Problemnya: kita tak bisa hidup semanusiawi itu selamanya. Setiap saat kita dituntut untuk seperti Tuhan. Baik budi taat beribadah, menjauhi yang kejahatan, beramal kebajikan. Sementara di sekeliling kita ada materi yang harus dimiliki, ada kekuasaan yang harus kita punyai, ada benda-benda nyata dan tak nyata yang lebih mengasyikan untuk dilakukan. Nampaknya kita hidup di lingkungan yang salah. Seperti ayam yang harus hidup di belantara.
Batas, bagaimanapun juga adalah persoalan. Seringkali, batas susah ditentukan. Ada yang menyangka batas di lokasi tertentu, batas ditentukan oleh perilaku tertentu. Lawan bicara kita bilang kita sudah kelewat batas, sementara kita pikir masih belum seberapa.
Ketidakcocokan pemahaman atas batas pasti menimbulkan perselisihan. Bisa bertengkar mulut, bisa juga beradu fisik, bahkan sampai mati.
Batas adalah kesepakatan. Batas dosa dan tidak dosa adalah kesepakatan kita dengan Tuhan, kiyai atau pemuka agama tak punya wewenang mengintervensi. Batas legal dan illegal merupakan kesepakatan kita dengan negara. Batas tak bisa ditentukan sendiri. Batas adalah resultan dari dua atau lebih pendapat.
Begitulah. Batas kita dengan Malaysia tak akan selesai jika tak ada kesepakatan. Dan kesepakatan itu bisa kita peroleh dengan duduk berbincang atau berperang. Yang kalah akan kalah, yang menang boleh ambil semua.
Dan itu sah saja untuk sekali-kali dengan tegas mengatakan kepada orang lain di mana batas kita dan bagaimana rupanya.
Harus ada batas. Semua hal harus ada batasnya.
Pertanyaannya: bagaimana menemukan batas itu? Kapan? Di mana?
Seringkali, apalagi saat bahagia, batas itu tak nampak. Jikapun terlihat, kita abaikan. Sebab batas tadi akan menghentikan kebahagiaan kita. Sebaliknya, apabila sedih, sang batas adalah impian yang minta segera diwujudkan, atau hadir, atau ada. Dan ini wajar, sangat manusiawi.
Problemnya: kita tak bisa hidup semanusiawi itu selamanya. Setiap saat kita dituntut untuk seperti Tuhan. Baik budi taat beribadah, menjauhi yang kejahatan, beramal kebajikan. Sementara di sekeliling kita ada materi yang harus dimiliki, ada kekuasaan yang harus kita punyai, ada benda-benda nyata dan tak nyata yang lebih mengasyikan untuk dilakukan. Nampaknya kita hidup di lingkungan yang salah. Seperti ayam yang harus hidup di belantara.
Batas, bagaimanapun juga adalah persoalan. Seringkali, batas susah ditentukan. Ada yang menyangka batas di lokasi tertentu, batas ditentukan oleh perilaku tertentu. Lawan bicara kita bilang kita sudah kelewat batas, sementara kita pikir masih belum seberapa.
Ketidakcocokan pemahaman atas batas pasti menimbulkan perselisihan. Bisa bertengkar mulut, bisa juga beradu fisik, bahkan sampai mati.
Batas adalah kesepakatan. Batas dosa dan tidak dosa adalah kesepakatan kita dengan Tuhan, kiyai atau pemuka agama tak punya wewenang mengintervensi. Batas legal dan illegal merupakan kesepakatan kita dengan negara. Batas tak bisa ditentukan sendiri. Batas adalah resultan dari dua atau lebih pendapat.
Begitulah. Batas kita dengan Malaysia tak akan selesai jika tak ada kesepakatan. Dan kesepakatan itu bisa kita peroleh dengan duduk berbincang atau berperang. Yang kalah akan kalah, yang menang boleh ambil semua.
Dan itu sah saja untuk sekali-kali dengan tegas mengatakan kepada orang lain di mana batas kita dan bagaimana rupanya.
12 January 2005
Same Old Story
Lahhhhhh..................ada air bah di Aceh. Ah itu sudah usang. Semua orang sudah tahu berkat pemberitaan media massa. Jadi tak penting dibahas.
Lahhhhhh..................ada anak mantan pejabat Orde Baru menembak mati anak rantau dari Indonesia timur dan semua orang kelihatannya kebingungan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Masak iya Presiden RI bicara untuk masalah ini seolah-olah penembakan itu akan dipeti-eskan. Sekarang kan jaman baru, semuanya mau menjalankan hidup sesuai aturan yang berlaku. Jadi tak perlu khawatir polisi tak berani mengatasi ini. TETAPI, kalaupun ternyata kemudian polisi kita memble, itu bukan cerita baru.
Lahhhhhh.................ada segerombolan pegawai negeri di Temanggung Jawa Tengah mengundurkan diri, seolah-olah mereka sudah kaya raya. Mereka mengaku karena diintimidasi Bupati supaya tidak menanggapi penyelidikan polisi atas dugaan korupsi si bupatinya. Ini kan bukan cara baru, yang baru hanya si yang mengaku ditekan bupati menolak permintaan bupati. Biar begitu, itu bukan hal baru lagi, khususnya sejak Soeharto diturunkan. Dulu ada Kapolri yang tak mau mundur, ada pejabat yang menolak diganti. Macam-macam lah...
Lahhhhhh................ada dugaan bantuan Aceh dikorupsi. Ini sama sekali bukan cerita baru. Tak perlu komentar lebih lanjut.
Lahhhhhh...............ada yang menyangka terjadi konflik antara Presiden dan Wakil Presiden. Ini juga bukan hal baru. Contohnya banyak, tapi yang paling sensasional ya antara Gus Dur dan Mega.
Lahhhhhh................ terus apa yang baru, padahal katanya kita baru memasuki tahun baru!
Lahhhhhh..................ada air bah di Aceh. Ah itu sudah usang. Semua orang sudah tahu berkat pemberitaan media massa. Jadi tak penting dibahas.
Lahhhhhh..................ada anak mantan pejabat Orde Baru menembak mati anak rantau dari Indonesia timur dan semua orang kelihatannya kebingungan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Masak iya Presiden RI bicara untuk masalah ini seolah-olah penembakan itu akan dipeti-eskan. Sekarang kan jaman baru, semuanya mau menjalankan hidup sesuai aturan yang berlaku. Jadi tak perlu khawatir polisi tak berani mengatasi ini. TETAPI, kalaupun ternyata kemudian polisi kita memble, itu bukan cerita baru.
Lahhhhhh.................ada segerombolan pegawai negeri di Temanggung Jawa Tengah mengundurkan diri, seolah-olah mereka sudah kaya raya. Mereka mengaku karena diintimidasi Bupati supaya tidak menanggapi penyelidikan polisi atas dugaan korupsi si bupatinya. Ini kan bukan cara baru, yang baru hanya si yang mengaku ditekan bupati menolak permintaan bupati. Biar begitu, itu bukan hal baru lagi, khususnya sejak Soeharto diturunkan. Dulu ada Kapolri yang tak mau mundur, ada pejabat yang menolak diganti. Macam-macam lah...
Lahhhhhh................ada dugaan bantuan Aceh dikorupsi. Ini sama sekali bukan cerita baru. Tak perlu komentar lebih lanjut.
Lahhhhhh...............ada yang menyangka terjadi konflik antara Presiden dan Wakil Presiden. Ini juga bukan hal baru. Contohnya banyak, tapi yang paling sensasional ya antara Gus Dur dan Mega.
Lahhhhhh................ terus apa yang baru, padahal katanya kita baru memasuki tahun baru!
30 November 2004
Munir Mati
Munir, orang yang sangat terkenal saat masa gonjang-ganjing 1998 karena membela orang-orang yang hilang diculik tentara, mati saat berada di pesawat Garuda rute Jakarta-Belanda, kira-kira tiga bulan lalu. Kabarnya karena gangguan kesehatan, entah itu lever atau ginjal.
Waktu saya lihat berita itu di Metro TV, saya langsung ambil kesimpulan bahwa ia mati dibunuh. Saya rasa waktu itu kok banyak yang tak wajar, entah itu apa, tapi banyak yang tidak cocok di sana. Saat itu, kok saya merasa saya adalah Hercule Poirot. Apalagi ternyata, kisah kematian Munir sangat mirip dengan salah satu cerita Agatha Christie, sayangnya judulnya saya lupa.
Sayangnya lagi, saya kemudian tak memaksa sel-sel abu-abu saya untuk bekerja. Karena percuma juga kan? Baru belakangan hari ini saya melanjutkan kecurigaan saya setelah berita-berita mengatakan kalau si Munir mati di racun: satu metode yang sering digunakan oleh para tokoh pembunuh di novel Christie itu. Sekarang kematian Munir sedang diselidiki. Banyak yang terlibat, bahkan hingga presiden.
Seiring dengan itu, istri Munir diteror. Si peneror, langsung tidak langsung menyebut diri sebagai tentara. Tetapi si boss tentara, namaya Endriatono Sutarto, langsung memperingatkan untuk menjauhkan TNI dari kematian Munir. Sekarang, semua sedang tak punya petunjuk, apalagi si polisi kita itu.
Padahal kalau mengikuti plot cerita Hercule Poirot, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: siapa yang diuntungkan secara finansial oleh kematian Munir.
Untuk menjawab itu semua orang harus dicurihai, termasuk istrinya atau ahli warisnya. Apalagi ternyata sang istri adalah salah seorang yang punya akses memasukan racun beberapa saat sebelum Munir naik pesawat. Dari sini pertanyaan bisa dikembangkan: apakah Munir menyeleweng dengan perempuan lain, atau justru istrinya yang menyeleweng, atau pertanyaan seputar itu. Adakah orang lain? Mestinya para penyelidik mengungkap berapa kekayaan Munir dan siapa saja yang akan menerima limpahannya kalau dia mati. Pertanyaan dapat berkembang di tempat Munir biasa beraktivitas sehari-hari.
Jika tak ditemukan bukti kuat, maka harus dicari yang diuntungkan secara politis? Nah, jawaban ini sih tak akan ditemukan. Karena itu, pembunuh Munir yang sebenarnya juga tidak akan ketemu. Paling-paling yang akhirnya muncul si antah berantah yang dikambing-hitamkan.
Mungkin kita perlu seorang Hercule Poirot yang bisa kerja sehingga segala penjahat yang merajalela di Indonesia ditangkap dan dihukum.
Kalau tetap mengandalkan polisi kita yang sekarang, pasti jadinya lucu... sumpah!
Munir, orang yang sangat terkenal saat masa gonjang-ganjing 1998 karena membela orang-orang yang hilang diculik tentara, mati saat berada di pesawat Garuda rute Jakarta-Belanda, kira-kira tiga bulan lalu. Kabarnya karena gangguan kesehatan, entah itu lever atau ginjal.
Waktu saya lihat berita itu di Metro TV, saya langsung ambil kesimpulan bahwa ia mati dibunuh. Saya rasa waktu itu kok banyak yang tak wajar, entah itu apa, tapi banyak yang tidak cocok di sana. Saat itu, kok saya merasa saya adalah Hercule Poirot. Apalagi ternyata, kisah kematian Munir sangat mirip dengan salah satu cerita Agatha Christie, sayangnya judulnya saya lupa.
Sayangnya lagi, saya kemudian tak memaksa sel-sel abu-abu saya untuk bekerja. Karena percuma juga kan? Baru belakangan hari ini saya melanjutkan kecurigaan saya setelah berita-berita mengatakan kalau si Munir mati di racun: satu metode yang sering digunakan oleh para tokoh pembunuh di novel Christie itu. Sekarang kematian Munir sedang diselidiki. Banyak yang terlibat, bahkan hingga presiden.
Seiring dengan itu, istri Munir diteror. Si peneror, langsung tidak langsung menyebut diri sebagai tentara. Tetapi si boss tentara, namaya Endriatono Sutarto, langsung memperingatkan untuk menjauhkan TNI dari kematian Munir. Sekarang, semua sedang tak punya petunjuk, apalagi si polisi kita itu.
Padahal kalau mengikuti plot cerita Hercule Poirot, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: siapa yang diuntungkan secara finansial oleh kematian Munir.
Untuk menjawab itu semua orang harus dicurihai, termasuk istrinya atau ahli warisnya. Apalagi ternyata sang istri adalah salah seorang yang punya akses memasukan racun beberapa saat sebelum Munir naik pesawat. Dari sini pertanyaan bisa dikembangkan: apakah Munir menyeleweng dengan perempuan lain, atau justru istrinya yang menyeleweng, atau pertanyaan seputar itu. Adakah orang lain? Mestinya para penyelidik mengungkap berapa kekayaan Munir dan siapa saja yang akan menerima limpahannya kalau dia mati. Pertanyaan dapat berkembang di tempat Munir biasa beraktivitas sehari-hari.
Jika tak ditemukan bukti kuat, maka harus dicari yang diuntungkan secara politis? Nah, jawaban ini sih tak akan ditemukan. Karena itu, pembunuh Munir yang sebenarnya juga tidak akan ketemu. Paling-paling yang akhirnya muncul si antah berantah yang dikambing-hitamkan.
Mungkin kita perlu seorang Hercule Poirot yang bisa kerja sehingga segala penjahat yang merajalela di Indonesia ditangkap dan dihukum.
Kalau tetap mengandalkan polisi kita yang sekarang, pasti jadinya lucu... sumpah!
08 October 2004
Kalah Menang
Ada situasi di mana dua pihak berdiri berhadap-hadapan, bertanding, lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Situasi ini terjadi di Indonesia selama tahun 2004, melalui pemilihan umum, pemilihan presiden tahap satu dan paling kentara di putaran kedua pilpres. Hasilnya, Mega kalah dan SBY menang.
Ada banyak orang yang mencoba bijak dengan mengatakan tidak ada yang kalah, semuanya menang atau menegaskan bahwa yang menang adalah rakyat, bukan Mega dan SBY. Mengapa harus malu-malu bahwa memang ada yang kalah dan ada yang menang saat situasi serupa begitu kentara dan gamblang dipamerkan waktu pemilihan ketua DPR, DPD dan MPR.
Ada juga klaim kemenangan berupa iklan satu halaman penuh di berbagai media yang dibuat oleh pengacara Hotman Paris Hutapean mewakili kliennya yang dimenangkan oleh keputusan MA melawan pejabat-pejabat negara, antara lain Laksamana Sukardi dan Tumenggung, mantan ketua bekas BPPN.
Ada situasi-situasi di mana orang juga sering tidak mengaku kalah padahal semua orang tahu dia kalah. Misalnya Polri yang kecolongan lolosnya Adrian Woworuntu dan kegagalan mereka menangkap tersangka teroris asal Malaysia, Dr Azahari dan Noordin Moh Top.
Ada juga yang kalah tapi masih berusaha untuk terus berkuasa. Misalnya Golkar dan PDIP yang mau melakukan apa saja asal mereka bisa menjadi pimpinan lembaga legislatif di berbagai propinsi.
Ada yang kalah terus menerus dan kendati sudah tahu kalah tidak pernah belajar dan berusaha keras untuk bisa jadi pemenenang. Mereka ini adalah timnas sepakbola PSSI yang selalu kalah dalam kategori umur apapapun dan di turnamean apapun.
Sementara, jarang ada pemenang yang mencoba tetap arif dan menjadi orang biasa-biasa saja. Misalnya SBY yang kabarnya begitu jumawa bahwa dirinya saja sebenarnya mampu menjadi pilihaan rakyat tanpa harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kemenangan selalu diterima dengan berlebih-lebihan sehingga membuat orang lupa. Coba ingat bagaimana Elly Pical dielu-elukan, lalu hilang.
Terus.... apa lagi ya kemenangan yang pernah terjadi di negara kita, oleh negara kita, kok susah banget mengingat-ingat ya... rasa-rasanya kita ini kalah melulu.
Oh ya, kita ini sering menang di lomba-lomba sains belakangan hari ini, tapi kok justru tak ada yang peduli itu. Pemenang AFI 1 dan 2, juga Indonesian Idol, lalu KDI ternyata lebih dipuja.... dan lucunya, sebenarnya mereka bukan pemenang, sebab sebenarnya mereka tak mengalahkan siapapapun juga.
Jadi, kata kalah sebenarnya tak ada rujukannya di dunia nyata Indonesia, sebab semua orang merasa jadi pemenang. Jikapun orang yang kalah merasa kalah, dia akan selalu ditenangkan orang banyak bahwa dia hanya tidak beruntung. Sebaliknya, kata menang punya ekspresi yang lebih beragam..
Atau sebenarnya bukan Indonesia saja yang tidak mengenal kata kalah... Mungkin akan lebih tepat apabila kalah diganti menjadi belum-menang.
Tauk ah gelep.......
Ada situasi di mana dua pihak berdiri berhadap-hadapan, bertanding, lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Situasi ini terjadi di Indonesia selama tahun 2004, melalui pemilihan umum, pemilihan presiden tahap satu dan paling kentara di putaran kedua pilpres. Hasilnya, Mega kalah dan SBY menang.
Ada banyak orang yang mencoba bijak dengan mengatakan tidak ada yang kalah, semuanya menang atau menegaskan bahwa yang menang adalah rakyat, bukan Mega dan SBY. Mengapa harus malu-malu bahwa memang ada yang kalah dan ada yang menang saat situasi serupa begitu kentara dan gamblang dipamerkan waktu pemilihan ketua DPR, DPD dan MPR.
Ada juga klaim kemenangan berupa iklan satu halaman penuh di berbagai media yang dibuat oleh pengacara Hotman Paris Hutapean mewakili kliennya yang dimenangkan oleh keputusan MA melawan pejabat-pejabat negara, antara lain Laksamana Sukardi dan Tumenggung, mantan ketua bekas BPPN.
Ada situasi-situasi di mana orang juga sering tidak mengaku kalah padahal semua orang tahu dia kalah. Misalnya Polri yang kecolongan lolosnya Adrian Woworuntu dan kegagalan mereka menangkap tersangka teroris asal Malaysia, Dr Azahari dan Noordin Moh Top.
Ada juga yang kalah tapi masih berusaha untuk terus berkuasa. Misalnya Golkar dan PDIP yang mau melakukan apa saja asal mereka bisa menjadi pimpinan lembaga legislatif di berbagai propinsi.
Ada yang kalah terus menerus dan kendati sudah tahu kalah tidak pernah belajar dan berusaha keras untuk bisa jadi pemenenang. Mereka ini adalah timnas sepakbola PSSI yang selalu kalah dalam kategori umur apapapun dan di turnamean apapun.
Sementara, jarang ada pemenang yang mencoba tetap arif dan menjadi orang biasa-biasa saja. Misalnya SBY yang kabarnya begitu jumawa bahwa dirinya saja sebenarnya mampu menjadi pilihaan rakyat tanpa harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kemenangan selalu diterima dengan berlebih-lebihan sehingga membuat orang lupa. Coba ingat bagaimana Elly Pical dielu-elukan, lalu hilang.
Terus.... apa lagi ya kemenangan yang pernah terjadi di negara kita, oleh negara kita, kok susah banget mengingat-ingat ya... rasa-rasanya kita ini kalah melulu.
Oh ya, kita ini sering menang di lomba-lomba sains belakangan hari ini, tapi kok justru tak ada yang peduli itu. Pemenang AFI 1 dan 2, juga Indonesian Idol, lalu KDI ternyata lebih dipuja.... dan lucunya, sebenarnya mereka bukan pemenang, sebab sebenarnya mereka tak mengalahkan siapapapun juga.
Jadi, kata kalah sebenarnya tak ada rujukannya di dunia nyata Indonesia, sebab semua orang merasa jadi pemenang. Jikapun orang yang kalah merasa kalah, dia akan selalu ditenangkan orang banyak bahwa dia hanya tidak beruntung. Sebaliknya, kata menang punya ekspresi yang lebih beragam..
Atau sebenarnya bukan Indonesia saja yang tidak mengenal kata kalah... Mungkin akan lebih tepat apabila kalah diganti menjadi belum-menang.
Tauk ah gelep.......
Subscribe to:
Posts (Atom)