08 August 2006

Zaman

Ia berubah. Yang ada saat ini adalah kelanjutan dari apa yang sudah tertelan waktu. Sementara apa yang dikatakan sisa-sisa masa lalu adalah istilah yang bisa kita tengok-tengok barang sebentar apabila kita sudah kehilangan alasan untuk merencana masa depan.

Atas dasar inilah, maka pengetahuan kita akan masa lalu jadi instrumental saja. Maksudanya adalah kita gunakan masa lalu sebagai ketapel untuk melemparkan diri kita jauh ke masa depan. Karena bersifat instrumental - apalagi belum pernah kita ketahui dan hanya dapat kita ketahui sepotong-sepotong - maka jika pengetahuan tentang masa lalu kita jadikan pijakan jadi tak masuk akal dan seringkali "salah tempat."

Contoh pas untuk hal ini adalah perang, khususnya atas nama agama. Bagi si pemenang, perang tersebut akan terus dijadikan simbol yang terus dihidupkan dan diulang-ulang keterangannya - terlepas dari kurang tafsir atau malah hiperbolik - kepada generasi mudanya. Bagi pihak yang kalah, maka akan dilupakan kecuali pihak yang kalah memiliki konsep lain bagaimana menerima kekalahan tadi. Misalnya dengan istilah "pelanggaran HAM".

Jadi, seberapa besarkan usaha kita dan jumlah informasi yang kita harus miliki tentang masa lalu kita? Apakah memang pengetahuan sejarah itu harus instrumental; atau - bicara secara ilmiah - untuk kebenaran dan fakta sebenarnya?

Fakta sebenarnya adalah klaim yang aneh tentang zaman yang tidak pernah kita miliki...

Dan perang memang bisa terjadi bahkan tanpa masa lalu sekalipun.

Bagi para penggemar sejarah, mungkin dia akan mati bosan, mati bingung, mati gila... tidak akan ada yang mati bahagia kecuali mereka menghentikan berpikir tentang "kebenaran".

What a fine paradox?

29 May 2006

Gempa yogya

Tulisan ini mungkin agak basi, telat dan latah... tapi biar saja. Ada yang sangat menyebalkan di gempa yogya ini.

Gila nggak, setelah beberapa hari gempa yang terjadi di JAWA, di mana transportasinya terbilang lebih mudah ketimbang daerah-daerah terpencil......... korban gempa masih menderita!

Dan fasilitas kesehatan yang ada di JAWA juga terbilang buruk dan gak mampu!

Bahkan bantuan yang dikirim ke sana saja tak secepat dan sebanyak yang diperlukan!

Sepertinya, orang Indonesia sudah tak tertarik lagi dengan gempa yang cuma beberapa richter itu dan tidak mengakibatkan efek sedahsyat tsunami di Aceh sana. Gempa yogya masih di bawah benchmark!!!

Kacau banget Indonesia......

saya sampai gak tahu mau nulis apa!

Gila, padahal cuma di Yogya!

12 May 2006

Naik kereta api


Belum lama berselang, saya naik kereta api lagi setelah lama tak menggunakan jasanya. Kesan yang timbul. Pertama, tentang stasiun Gambir. Semenjak awal Gambir direnovasi saya tak habis mengerti mengapa bentuknya harus begitu, selain memindahkan rel di atas, tak ada yang sangat menakjubkan. Saya tak mengerti bagaimana perancangnya mengakomodasi perilaku berkereta api di Indonesia. Ada pintu masuk yang selalu tertutup. Wah, saya ndak tahu harus bilang apa, tetapi Gambir bukan cerminan karya arsitektur yang bisa dinilai karena berfungsi sangat baik dan memudahkan... maaf nih para arsitek.

Sekarang ke penjualan tiket. Petunjuk tak jelas. Orang pertama yang datang ke Gambir pasti akan bertanya kemana harus beli tiket kereta jurusan mana. Untungnya tak terlalu merepotkan jika membeli tiket untuk keberangkatan hari itu dan bukan hari libur. Tapi kalau sudah libur, apalagi yang panjang, jangan harap beli tiket adalah kemudahan. Calo ada saja walau sudah di-omongin berkali-kali bakal dibrantas.

Ada lagi tentang tiket. Harganya euy...audzibillah mahalnya. Makin terasa mahal jika melihat pelayanan perusahaan kereta api kita ini.

Sekarang naik ke kereta apinya. Walah... jelek bener sekarang, padahal katanya kereta eksekutif. AC-nya memang dingin, hanya tempat duduknya sudah tak nyaman. Dan terasa makin tak nyaman saat dilayani para petugas kereta api.

Dari harga tiket eksekutif, tiap penumpang mendapat jatah makan. Tapi apa mau dikata, si petugas restorasi bukannya memberikan segera setelah kereta bergerak, tetapi dia malah berjualan dulu. Mending dengan menawarkan. Ini tidak, langsung aja dikasihkan begitu saja. Penumpang awam kan akan menganggapnya itu gratisan. Sudah itu, mereka menagih pembayaran dengan tanpa rasa malu. Itu memang bayar mas.... Nah setelah terbayar, barulah dikasih yang jatah gratisan itu. Ini diberikan dua jam setelah kereta berangkat dari Gambir. Ini bentuk penipuan. Kalau memang restorasi tak banyak yang beli, kenapa harus ada gerbong itu.

Nah di atas kereta api yang kebetulan kosong ada petugas kebersihan KA yang sedang malakukan tawar menawar dengan penumpang yang tak punya karcis. Harga resminya hampir 200 ribu, ditawar jadi 70 ribu dan berhasil. Si penumpang ini juga mendapat fasiitas yang diterima penumpang yang membayar full. Dan ... sekali lagi, tak ada satupun petugas KA yang malu tuh...

Nah sewaktu kembali, saya naik kereta yang lebih murah, kelas bisnis. Wah tak usah dibahas kereta apinya kayak apa. Karena mengantuk, saya sewa bantal. Semuanya tak jadi masalah sampai ketika kereta hampir masuk jatinegara. Dan itu masih ada 30 menit. Petugas dengan kasarnya membangunkan saya meminta bantalnya kembali. Saya sebal dan menolak, tetapi apa katanya, "Nanti saya kerja dua kali". Dalam hati, 'lah, itu kan memang tugas elu." Sebenarnya tak masalah bantal diminta, hanya caranya saja yang tak pantas.

Satu hal lagi yang dari dulu saya pingin tanyakan kepada KA adalah mengenai jadwal kereta api. Well, semua orang tahu, jika KA api telat itu sudah biasa. Dulu bahkan saya pernah terkejut saat KA tepat waktu. Tumben. Mengenai hal ini, di tiket KA kan biasanya mencantumkan kapan kereta berangkat dan tiba hingga ke menitnya. Jadi misalnya. Berangkat pkl 20.00 tiba pukul. 00.53. Gila, seolah-olah KA sangat peduli dengan waktu hingga ke menit-menitnya. Ya mbok yao... kalau telat melulu, kasih aja ukurannya yang masuk akal. Berangkat jam 20.00, tiba pukul 01.00 kan lebih enak. Tetapi jadwal kereta api, boleh diakui makin tepat waktu.

Hanya yang paling menyeballkan adalah orang-orangnya.... semuanya dari petugas di stasiun hingga yang bertugas di kereta api.... tak ada kesadaran melayani, layaknya petugas PLN, Telkom atau BUMN lain.

Payah.

14 December 2005

Orang Menyebalkan

Pernahkan kalian bertemu orang yang menyebalkan? Artinya, orang itu sangat menganggu indra pendengaran dan mata kita dan tahap selanjutnya adalah menganggu akal pikiran dan perasaan kita. Jika bertemu dengan orang semacam ini mungkin sebaiknya kita merasa iba.

Orang menyebalkan biasanya adalah orang yang 'sakit'. Sejarah hidupnya mungkin terlalu 'memanjakan' dirinya untuk tidak perlu ber-empati dengan sekelilingnya. Mungkin pelajaran untuk memiliki self esteem malah menjadi boomerang bagi dirinya di kemudian hari. Orang semacam ini jadi tidak punya kemampuan 'mendengar'. Dia lebih senang jika didengar. Jadi perhatian. Mendengar, hanya dia lakukan, semata-mata jika itu penting bagi dirinya sendiri. Lucunya, mereka merasa bahwa itu adalah cara bergaul terbaik yang ada. Mereka ingin diakui oleh orang-orang yang mungkin saja bosan mendengar bualannya.

Pernah orang tua saya berkata menjadi pelit, galak, toleran atau kata-kata sifat yang bernilai sosial tidak pernah diajarkan oleh sekolah, tetapi oleh keluarga. "Jadi perlihatkan kepada anak-anakmu saat kamu bersedekah dan jelaskan berulang-ulang kebaikannya," kata mereka. Berangkat dari sini apabila si orang tua tidak pernah mempertontonkan pemberian beras atau uang kepada peminta-minta, tidak perlu heran andaikata jika di hari tuanya si anak akan menganggap si pengemis adalah sampah masyarakat.

Ini adalah adalah masalah etika hidup. Kalau mau agak berat ya boleh lah disebut sebagai akhlaq atau moralitas, walaupun sebenarnya ini juga agak mudah untuk diperdebatkan.

Singkatnya adalah, jika berada pada posisi dekat orang menyebalkan, langkah terbaik adalah sabar. Atau diam sajalah. Karena bisa-bisa keadaaan menjadi lebih destruktif bagi semua orang. Tetapi kalau sudah tidak bisa menahan diri ya bolehlah meludahi mukanya atau menendang pantatnya.

10 December 2005

Mengulang

Dalam berbagai cerita serial Hercule Poirot, Agatha Christie menuliskan bahwa ada beberapa orang yang suka mengulang cerita pengalamannya, bukan sekali saja, tetapi berkali-kali. Dan ternyata saya merasakannya juga. Ada orang yang setiap kali ketemu bercerita hal yang sama. Orang segolongan ini biasanya berusia lanjut yang mengkisahkan pengalaman masa mudanya dulu.

Tapi ada juga orang muda yang sering mengulang cerita yang sama. Orang itu saya!

Menyadari ini saya jadi semakin tahu kalau ternyata orang memang sangat susah berkembang, membuka diri pada hal-hal yang baru. Orang hanya akan mendengar apa yang ingin dia dengar, melihat apa yang ingin dia lihat dan mengatakan apa yang ingin dia katakan saja.

Kendati saya mencoba membaca bagaimana mengatasi mobil mogok, saya tidak pernah bisa mengingat dengan baik. Tapi kalau itu masalah rumah, saya ingat.

Seorang kawan pencinta musik, kalau dia bicara dampak ikutan dari harga kenaikan harga BBM, dia akan kelihatan enggan setengah mati dan omongannya jadi tidak bermutu.

Saya menyimpulkan bahwa life circle kemampuan diri menyerap informasi dari luar sebenarnya sangat pendek. Mungkin sampai usia di bawah 20 tahun. Jadi informasi yang dikumpulkan selama 20 tahun akan dia ulang hingga dia mati. Jika usianya mencapai 40 tahun, dia mengulang satu kali; jika usianya 60 tahun, dia mengulang dua kali.

Lalu apa yang membuatnya hidup hingga selama itu jika ternyata seluruh hidupnya adalah pengulangan?

Saya tak tahu jawabannya.

04 October 2005

Apalagi?

Dari sudut pandang orang Indonesia yang sangat normal, bom yang meledak di Bali sungguh tidak dapat dicerna. Sehari sebelumnya, seluruh orang Indonesia bertempur dengan logika mereka sendiri memikirkan bagaimana caranya menjalani hidup ditengah kenaikan harga-harga barang-barang kebutuhan sehari-hari menyusul kenaikan bahan bakar minyak yang teramat drastis. Lalu bom meledak di Bali lagi. Orang Indonesia harus bereaksi seperti apa?

Marah? Kepada siapa? Jengkel? Kepada siapa? Balas dendam? Kepada siapa? Perasaan ini harus ditujukan kepada siapa? Oalah, nelangsa benar jadi orang Indonesia, mau menumpahkan perasaan saja tidak bisa.

Apakah ini pengalih-perhatian? Sebuah trik lama yang biasa digunakan oleh Orde Baru untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang substansial. Memang benar, berita tentang kenaikan BBM langsung berkurang drastis sewaktu bom Bali meledak.

Ada yang berspekulasi ini ulah negara lain yang tengah getol-getolnya mempromosikan pariwisatanya. Dan ternyata tokoh pembom yang dicari-cari itu orang dari negara itu juga.

Jadi dapat disimpulkan: itu kerjaan pemerintah kita sendiri dan kerjaan pemerintah negara lain.

Tapi sesungguhnya itu tidak menarik sama sekali. Ada yang lebih penting: bagaimana caranya memperoleh tambahan penghasilan untuk hidup sehari-hari. Tidak lebih tidak kurang.

Saya benar-benar kehilangan kata-kata karena otak saya juga tidak sedang bisa menyimpulkan.

Malang nian nasib awak....

28 September 2005

Apa ya? Bosan? Mual?

Entah harus merasa apa sekarang menyambut kenaikan harga BBM yang katanya akan naik per 1 Oktober ini. Marah? Ealah ya percuma saja. Dulu kita marah saat Soeharto tidak mau turun-turun juga. Terus kita gembira ketika akhirnya dia memutuskan mengundurkan diri. Walau kemudian agak tidak sreg melihat gantinya. Apalagi kemudia dia membuat kita tidak mengerti, marah dan kecewa saat dia melepaskan Timor Timur.

Untungnya, keadaan agak membaik sedikit. Apalagi si Habibie membuat pemilihan umum yang sangat ramai dan kata orang-orang asing sukses. Kita senang bisa melepaskan kepenatan pikiran dan batin kita. Kendati kemudian kita tidak mengerti, bingung dan ragu saat Gus Dur terpilih jadi presiden.

Pada giliaran berikutnya, kita malah jadi tak tentu arah akibat gaya kepemimpinan dan pernyataan Gus Dur yang dari sudut pandang masyarakat awam tulalit. Agak khawatir muncul saat masa peralihan dari Gus Dur ke Mega. Untungnya Mega dapat membawa negara ini agak stabil kendati sebagian besar masyarakat juga tidak puas.

Kita agak sumringah waktu SBY dipilih jadi presiden. Banyak orang berharap akan terjadinya hal-hal baik selama masa kepemimpinannya. Tetapi kemudian ada tragedi bencana alam amat dahsyat di NAD sana. Kemudian ada krisis energi yang jadi alasan naiknya harga BBM.

Karena itu sangat beralasan untuk tidak merasa apa-apa terhadap situasi saat ini mengingat bahwa seluruh perasaan yang dikeluarkan karena kedekatan emosional dan bernada harapan sudah tertumpah sebelumnya. Yang masih tersisa mungkin bosan dengan segala janji pemerintah. Bahkan sebagian orang - atau mungkin cuma saya - sudah mual dan mau muntah....

Tak ada harapan yang pantas diletakkan pada orang yang berasal dari masa lalu.... karena masa lalu harusnya sudah beku dimakan usia dan jadi tempat berkunjung sekali waktu kala kita rindu. Tapi tak pantas sama sekali jadi cara menjalani hidup!

Mari kita muntah! Sekarang!

13 June 2005

Kembali ke masa lalu

Apa yang paling mengasyikan di kala kita suntuk, tak tahu arah, putus asa, bosan atau jenuh? Ya! Kembali ke masa lalu. Sebab itu masuk akal bila acara reuni atau apapun yang bertujuan mengulang yang sudah-sudah akan diminati.

Ini juga yang sepertinya akan dilakukan pemerintah sekarang. Dengan klaim bahwa beberapa program masa lalu ternyata telah mumpuni dapat mencegah beberapa musibah yang menimpa kita, misalnya, persoalan Poso yang tak kunjung usai atau penyakit busung lapar yang tidak terdeteksi, mereka memutuskan 'meneruskan'-nya. Untuk menghindarkan diri dari cercaan orang karena berniat menggunakan metode-metode Orde Baru dalam praktik pemerintahannya, SBY mewanti-wanti ada beberapa hal yang juga harus ditinggalkan, misalnya KKN, korupsi, supremasi militer atas sipil.

Mungkinkah itu terjadi? Hanya waktu yang akan membuktikan. Hanya saja kita berspekulasi. Mengingat bahwa program dan metotode tersebut berasal dari satu paket, maka agak sulit memisahkan yang dianggap 'baik' dan 'buruk'. Sangat mungkin andaikata beberapa dari tadi diuji coba, maka resikonya semuanya turut serta.

Mungkin akan sedikit lain jika penamaannya berbeda. Jadi istilah Posyandu untuk Pos Pelayanan Terpadu diubah jadi Kegiatan Masyarakat Untuk Kesehatan Ibu dan Anak-anak (KeMUKA) atau apapun lah. Sebab sebutan akan banyak sekali terhadap praksis. Ini nampak nyata pada pergantian dari ABRI ke TNI. Keduanya merujuk ke hal sama tetapi efek dibenak para pendengar lain.

Saya sepakat bahwa program-program atau metode-metode masa lalu sangat efektif untuk menjaga keutuhan negara kita. Sayangya, dulu praksis di lapangan biasanya sangat overaktif. Sekarang harus diubah.

Ada satu lagi yang harus kembali ke masa lalu, yakni sentralisme kekuasaan. Ini cara lebih tepat dan berhasil menjaga keutuhan negara ketimbang demokrasi - sebuah konsep yang sama utopianya dengan komunisme.

....

06 June 2005

Dipenjara Adalah Gaya Hidup

Apa jadinya bila kita, salah satu dari anggota keluarga kita dikenai sanksi; entah itu dari tempat kerja, sekolah, masyarakat atau kepolisian. Bila pun terjadi hal yang tidak diinginkan orang akan berusaha sekuat mungkin untuk menghindarkan sanksi itu tersebar luas di masyarakat.

Karena empati dan tepo seliro, biasanya si pemberi hukumpun akan bersepekat untuk menghindarkan sanksi yang lebih kejam dari masyarakat. Akibatnya aturam main yang selama ini ada jadi tidak diterapkan sepenuhnya dan adil.

Kebiasaan ini secara langsung memberikan kekuasaan yang berlebih kepada aparat penegak hukum. Dia jadi merasa berkuasa dan sebab itu wajar saja bila menerapkan ’harga’ dalam tanggung jawabnya. Lama-lama ini jadi aturan main yang terjadi.

Bentuk lanjut dari evolusi ini adalah aturan main yang seharusnya tidak menakutkan lagi. Tidak bergigi karena ternyata aturan itu bisa dibeli. Aturan bahkan bagi orang yang tidak mampu membeli adalah penghalang. Trik orang-orang berkuasa untuk memperkaya diri. Ada kecenderungan bahwa semakin tidak aturan semakin aman sebuah daerah.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi pergeseran yang amat radikal terhadap anggapan orang mengenai sanksi ini. Dulu sanksi adalah aib dan orang yang terkena berusaha sebisanya menutupi, sekarang sanksi jadi gaya hidup.

Awalnya orang yang tadinya dikenai sanksi tidak bisa tidak harus masuk bui. Terpaksalah mereka mengikuti aturan main itu. Tetapi saat di dalam bui, dia mulai bermain.

Bila harus disel, maka ruang tahanannya ber-AC, TV dan komplit. Alat komunikasi juga boleh, apalagi makanan. Semuanya mungkin asal dia mampu membayar. Ini yang terjadi dengan tahanan kelas kakap, misalnya Tommy Soeharto. Penjara jadi benar-benar tempat untuk relaksasi.

Bahkan nampaknya penjara jadi tempat yang sangat efektif untuk berbisnis karena seorang yang mampu membeli fasilitas penjara ini tidak harus mengikuti ritual-ritual sosial yang melelahkan. Misalnya, di undang Gubernur ke satu acara, eh ndak tahunya harus menyumbang. Belum jatah ini itu.... terlalu banyak dan pemborosan.

Namun sekali lagi, keindahan hidup macam itu hanya akan diperuntukkan bagi mereka yang punya uang. Rakyat miskin jelata yang tak punya identitas dan pengaruh... yang akan memiliki kesengsaraan yang kian membesar seiring waktu.
Korupsi, Fragment dan SBY

Sekarang lagi musim penangkapan orang-orang terkenal karena dugaan korupsi. KPU menyumbang banyak. Yang terkenal dari KPU adalah Mulyana W Kusumah dan Nazzaruddin S. Bank Mandiri juga ikut menyumbang. Katanya sih akan ada penangkapan lainnya.

KPK, Kejaksaan Agung, Polisi sudah didukung Presiden, bekerjasama dengan banyak lembaga untuk mengumpulkan bukti. Sayangnya hingga kini tidak ada yang meyakinkan.

Dan hasil seperti itu sudah diduga oleh sebagian besar dari kita. Pasti semuanya akan bebas. Yang terjadi ini hanyalah fragmen satu babak, yang tak akan ada lanjutannya, kecuali para penonton - kita - meminta sambungannya.

Korupsi itu tidak akan lenyap dari bumi Indonesia. Bagi sebagian besar orang, korupsi banyak manfaatnya, ketimbang mudharatnya. Karena hingga detik ini tak ada orang yang bener-bener serius menghabisinya.

Bahkan media massa yang teorinya adalah kekuatan rakyat, watchdog, juga terlalu perhitungan dalam menyingkap praktik korupsi. Memang tidak semua media begitu, hanya saja paduan suara media cenderung melemahkan semangat pemberantasan korupsi.

Praktik media seperti ini juga berlaku di semua kasus-kasus besar: Kerusuhan Mei, Pengadilan Soeharto - semua berakhir hambar karena seolah-olah tak ada pasal hukum yang dapat menjerat mereka.

Walhasil, fragmen ini hanyalah sekedar kisah tak penting...

Tapi ngomong-ngomong soal fragmen, sepertinya Pemerintah SBY sangat gemar memanfaatkan isu-isu besar untuk menjaga kepopuleran. Seperti bintang film Hollywood yang enggan pudar dan terus menghasilkan uang..

19 April 2005

Artinya.......


Saya teringat pelajaran tentang makna sewaktu kuliah dulu. Pelajaran itu membeberkan bahwa kita telah diajari bagaimana mengenal makna yang berasal dari tindakan ataupun perkataan. Pelajaran itu juga menyimpulkan bahwa kita tanpa sadar cenderung bertanya: "apa makna" dari ucapan ini atau tindakan itu bila kita tidak tahu. Padahal cara mengetahui makna lebih tepat jika menanya: "kapan itu bermakna". 'Itu' di sini bisa ucapan atau perbuatan.

Misalnya PKI. Jika bertanya apa, maka jawabnya 'Partai Komunis Indonesia'. Ini benar tetapi pertanyaa itu hanya menjawab definisinya saja. Belum menjawab konteknya. Sebab itu pertanyaan yang lebih menyeluruh adalah 'kapan PKI jadi bermakna?' Jawabnya macam-macam situasi. Misalnya mau melamar jadi pegawai negeri, maka PKI berarti sang pelamar harus lurus 'screening' bebas PKI. Lain situasi adalah kode Eks Tapol (ET) di Kartu Identitas Penduduk (KTP) mereka yang pernah terlibat PKI. Singkatnya, pertanyaan 'kapan bermakna' menjelaskan situasi-situasi yang membuat satu tindakan/ucapan memiliki makna.

TETAPI, itu baru menyentuh kesejarahan sebuah ucapan atau tindakan. Bagaimana kalau mau mengetahu masa depan yang timbul dari ucapan atau perbuatan tertentu? Jika demikian, maka makna harus dilihat dari sejumlah tindakan dan atau ucapan yang merujuk pada ucapan atau tindakan tadi.

Mengambil contoh di atas. Sekali seorang disebut PKI, maka dia akan menghadapi serangkaian halangan. Dia akan sulit berbisnis, bergaul. Dia akan dijauhi layaknya penderita lepra atau orang gila. Serangkaian tindakan inilah yang semakin meneguhkan makna dari PKI tadi.

Ada baiknya mungkin mengambil contoh yang lebih masa kini. "Kumpul kebo" adalah hidup bersama tanpa nikah. Istilah ini ngetop pada tahun 80-an awal. Pasangan yang dikenai cap 'berkumpul kebo' akan dijauhi masyarakat. TETAPI, bagaimana makna itu sekarang. Kumpul kebo tidak diperdebatkan lagi. Istilahnya bahkan diperhalus jadi hidup bersama. Sebuah frasa yang agak membingungkan dan tak merujuk pada 'hidup bagaiakan suami istri'. Masyarakat masa kini bahkan melihatnya sebagai sebuah gaya hidup, jadi tak perlu dicampuri. Tak ada sanksi yang perlu diterapkan.

Dengan kerangka pikir ini, maka ada baiknya bila kita melihat ucapan atau tindakan seseorang dari praktik yang menyertainya. Misalnya Gus Dur bilang bahwa dia demokratis, tetapi sewaktu dia dipilih jadi dewan syuro PKB secara aklamatif dan mengabaikan prosedur demokrasi, dia nyantai aja tuh. Banyak contoh lain: Mulyana W Kusuma aktivis jujur dan dedikatif, lah kok bisanya dia 'terjebak' penyuapan.

Ucapan bukanlah makna yang penting. Ucapan seringkali memiliki beda makna di tiap jaman. Tetapi tindakan adalah derivasi otomatis, mengikat dan permanen dari sebuah keinginan.

Keinginan zaman di Indonesia adalah seorang pemimpin harus lama dan hanya turun bila dia sakit, mati atau dipaksa turun. Sudah tahu begini kok ya nekad mengenalkan demokrasi. Waste of time, gitu lohhhhh.......

Jadi ya.... what can you expect gitu loh dari pemerintahan yang diam-diam berhasrat mempertahankan kekuasaannya dapat menciptakan negara yang penduduknya aman tentram makmur sehat bagahia....

Mimpi deh...

14 March 2005

Datang dan datang lagi

Dimulai ketika SBY terpilih. Itu adalah musibah pertama. Sebab Indonesia kembali mencatat terpilihnya orang karena ngetop, bukan karena berani. Dulu Gus Dur, trus Mega, sekarang SBY. Jadi maklum saja jika tak ada perubahan berarti dari tiap pergantian itu. Ini mungkin karena para presiden itu tidak diperlukan sama sekali. Orang-orang yang jadi presiden harusnya BERANI. Mungkin Jusuf Kalla lebih tepat. Sayangnya dia wapres dan kenal terlalu banyak orang, yang barangkali saja, akan memanfaatkannya.

Lalu ada bencana tsunami yang tingkat kehancurannya susah dimengerti, termasuk, mengapa di Aceh. Yang terakhir lebih metafisik. Artinya, dengan nama Serambi Mekkah, kok ya Tuhan, tega-teganya menimpakan bencana di sana... Atau barangkali, Aceh sudah tak pantas lagi menyandang julukan Serambi Mekkah lagi. Cara memahami ini juga sangat diterima ketika bom meledak di Kuta, Bali. Bahkan orang-orang Bali yakin bahwa Bali sudah tidak suci lagi sehingga perlu diingatkan.

Cara ini pula begitu marak setiap pergantian tahun. Para peramal dimintai pendapat mengenai apa yang akan terjadi di bumi nusantara selama setahun ini. Satu ringkasan ramalan yang pernah saya baca menganjurkan Indonesia untuk melakukan ruwat nasional pada perayaan kemerdekaan tahun ini. Untuk menghindarkan dari bala lebih lanjut. Apalagi ternyata SBY - dalam kalender Jawa - tidak memiliki weton yang cocok untuk jadi pemimpin nasional. Dengan weton sekarang, SBY akan mendatangkan aneka bencana - semacam gonjang-ganjing. Dan ternyata - entah ini logis apa tidak - beberapa malapetakan telah datang dan ada beberapa yang mulai terlihat.

Antaranya: perebutan blok Ambalat dengan Malaysia, bencana kelaparan (baca: KELAPARAN) di provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah apa lagi yang akan datang besok.

Percaya atau tidak percaya, kita tidak bisa mengandalkan orang untuk dapat mengurusi negeri kepulauan yang luas ini pada orang yang tidak berani. Kita perlu pemberani, seorang pahlawan yang tidak peduli pada keselamatan jiwanya dan banyak akal, sedikit licik mungkin, untuk maksud yang bermanfaat bagi penduduk Indonesia seluruhnya...

10 March 2005

Batas kita sampai mana


Harus ada batas. Semua hal harus ada batasnya.

Pertanyaannya: bagaimana menemukan batas itu? Kapan? Di mana?

Seringkali, apalagi saat bahagia, batas itu tak nampak. Jikapun terlihat, kita abaikan. Sebab batas tadi akan menghentikan kebahagiaan kita. Sebaliknya, apabila sedih, sang batas adalah impian yang minta segera diwujudkan, atau hadir, atau ada. Dan ini wajar, sangat manusiawi.

Problemnya: kita tak bisa hidup semanusiawi itu selamanya. Setiap saat kita dituntut untuk seperti Tuhan. Baik budi taat beribadah, menjauhi yang kejahatan, beramal kebajikan. Sementara di sekeliling kita ada materi yang harus dimiliki, ada kekuasaan yang harus kita punyai, ada benda-benda nyata dan tak nyata yang lebih mengasyikan untuk dilakukan. Nampaknya kita hidup di lingkungan yang salah. Seperti ayam yang harus hidup di belantara.

Batas, bagaimanapun juga adalah persoalan. Seringkali, batas susah ditentukan. Ada yang menyangka batas di lokasi tertentu, batas ditentukan oleh perilaku tertentu. Lawan bicara kita bilang kita sudah kelewat batas, sementara kita pikir masih belum seberapa.

Ketidakcocokan pemahaman atas batas pasti menimbulkan perselisihan. Bisa bertengkar mulut, bisa juga beradu fisik, bahkan sampai mati.

Batas adalah kesepakatan. Batas dosa dan tidak dosa adalah kesepakatan kita dengan Tuhan, kiyai atau pemuka agama tak punya wewenang mengintervensi. Batas legal dan illegal merupakan kesepakatan kita dengan negara. Batas tak bisa ditentukan sendiri. Batas adalah resultan dari dua atau lebih pendapat.

Begitulah. Batas kita dengan Malaysia tak akan selesai jika tak ada kesepakatan. Dan kesepakatan itu bisa kita peroleh dengan duduk berbincang atau berperang. Yang kalah akan kalah, yang menang boleh ambil semua.

Dan itu sah saja untuk sekali-kali dengan tegas mengatakan kepada orang lain di mana batas kita dan bagaimana rupanya.

12 January 2005

Same Old Story

Lahhhhhh..................ada air bah di Aceh. Ah itu sudah usang. Semua orang sudah tahu berkat pemberitaan media massa. Jadi tak penting dibahas.

Lahhhhhh..................ada anak mantan pejabat Orde Baru menembak mati anak rantau dari Indonesia timur dan semua orang kelihatannya kebingungan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Masak iya Presiden RI bicara untuk masalah ini seolah-olah penembakan itu akan dipeti-eskan. Sekarang kan jaman baru, semuanya mau menjalankan hidup sesuai aturan yang berlaku. Jadi tak perlu khawatir polisi tak berani mengatasi ini. TETAPI, kalaupun ternyata kemudian polisi kita memble, itu bukan cerita baru.

Lahhhhhh.................ada segerombolan pegawai negeri di Temanggung Jawa Tengah mengundurkan diri, seolah-olah mereka sudah kaya raya. Mereka mengaku karena diintimidasi Bupati supaya tidak menanggapi penyelidikan polisi atas dugaan korupsi si bupatinya. Ini kan bukan cara baru, yang baru hanya si yang mengaku ditekan bupati menolak permintaan bupati. Biar begitu, itu bukan hal baru lagi, khususnya sejak Soeharto diturunkan. Dulu ada Kapolri yang tak mau mundur, ada pejabat yang menolak diganti. Macam-macam lah...

Lahhhhhh................ada dugaan bantuan Aceh dikorupsi. Ini sama sekali bukan cerita baru. Tak perlu komentar lebih lanjut.

Lahhhhhh...............ada yang menyangka terjadi konflik antara Presiden dan Wakil Presiden. Ini juga bukan hal baru. Contohnya banyak, tapi yang paling sensasional ya antara Gus Dur dan Mega.

Lahhhhhh................ terus apa yang baru, padahal katanya kita baru memasuki tahun baru!

30 November 2004

Munir Mati

Munir, orang yang sangat terkenal saat masa gonjang-ganjing 1998 karena membela orang-orang yang hilang diculik tentara, mati saat berada di pesawat Garuda rute Jakarta-Belanda, kira-kira tiga bulan lalu. Kabarnya karena gangguan kesehatan, entah itu lever atau ginjal.

Waktu saya lihat berita itu di Metro TV, saya langsung ambil kesimpulan bahwa ia mati dibunuh. Saya rasa waktu itu kok banyak yang tak wajar, entah itu apa, tapi banyak yang tidak cocok di sana. Saat itu, kok saya merasa saya adalah Hercule Poirot. Apalagi ternyata, kisah kematian Munir sangat mirip dengan salah satu cerita Agatha Christie, sayangnya judulnya saya lupa.

Sayangnya lagi, saya kemudian tak memaksa sel-sel abu-abu saya untuk bekerja. Karena percuma juga kan? Baru belakangan hari ini saya melanjutkan kecurigaan saya setelah berita-berita mengatakan kalau si Munir mati di racun: satu metode yang sering digunakan oleh para tokoh pembunuh di novel Christie itu. Sekarang kematian Munir sedang diselidiki. Banyak yang terlibat, bahkan hingga presiden.

Seiring dengan itu, istri Munir diteror. Si peneror, langsung tidak langsung menyebut diri sebagai tentara. Tetapi si boss tentara, namaya Endriatono Sutarto, langsung memperingatkan untuk menjauhkan TNI dari kematian Munir. Sekarang, semua sedang tak punya petunjuk, apalagi si polisi kita itu.

Padahal kalau mengikuti plot cerita Hercule Poirot, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: siapa yang diuntungkan secara finansial oleh kematian Munir.

Untuk menjawab itu semua orang harus dicurihai, termasuk istrinya atau ahli warisnya. Apalagi ternyata sang istri adalah salah seorang yang punya akses memasukan racun beberapa saat sebelum Munir naik pesawat. Dari sini pertanyaan bisa dikembangkan: apakah Munir menyeleweng dengan perempuan lain, atau justru istrinya yang menyeleweng, atau pertanyaan seputar itu. Adakah orang lain? Mestinya para penyelidik mengungkap berapa kekayaan Munir dan siapa saja yang akan menerima limpahannya kalau dia mati. Pertanyaan dapat berkembang di tempat Munir biasa beraktivitas sehari-hari.

Jika tak ditemukan bukti kuat, maka harus dicari yang diuntungkan secara politis? Nah, jawaban ini sih tak akan ditemukan. Karena itu, pembunuh Munir yang sebenarnya juga tidak akan ketemu. Paling-paling yang akhirnya muncul si antah berantah yang dikambing-hitamkan.

Mungkin kita perlu seorang Hercule Poirot yang bisa kerja sehingga segala penjahat yang merajalela di Indonesia ditangkap dan dihukum.

Kalau tetap mengandalkan polisi kita yang sekarang, pasti jadinya lucu... sumpah!

08 October 2004

Kalah Menang

Ada situasi di mana dua pihak berdiri berhadap-hadapan, bertanding, lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Situasi ini terjadi di Indonesia selama tahun 2004, melalui pemilihan umum, pemilihan presiden tahap satu dan paling kentara di putaran kedua pilpres. Hasilnya, Mega kalah dan SBY menang.

Ada banyak orang yang mencoba bijak dengan mengatakan tidak ada yang kalah, semuanya menang atau menegaskan bahwa yang menang adalah rakyat, bukan Mega dan SBY. Mengapa harus malu-malu bahwa memang ada yang kalah dan ada yang menang saat situasi serupa begitu kentara dan gamblang dipamerkan waktu pemilihan ketua DPR, DPD dan MPR.

Ada juga klaim kemenangan berupa iklan satu halaman penuh di berbagai media yang dibuat oleh pengacara Hotman Paris Hutapean mewakili kliennya yang dimenangkan oleh keputusan MA melawan pejabat-pejabat negara, antara lain Laksamana Sukardi dan Tumenggung, mantan ketua bekas BPPN.

Ada situasi-situasi di mana orang juga sering tidak mengaku kalah padahal semua orang tahu dia kalah. Misalnya Polri yang kecolongan lolosnya Adrian Woworuntu dan kegagalan mereka menangkap tersangka teroris asal Malaysia, Dr Azahari dan Noordin Moh Top.

Ada juga yang kalah tapi masih berusaha untuk terus berkuasa. Misalnya Golkar dan PDIP yang mau melakukan apa saja asal mereka bisa menjadi pimpinan lembaga legislatif di berbagai propinsi.

Ada yang kalah terus menerus dan kendati sudah tahu kalah tidak pernah belajar dan berusaha keras untuk bisa jadi pemenenang. Mereka ini adalah timnas sepakbola PSSI yang selalu kalah dalam kategori umur apapapun dan di turnamean apapun.

Sementara, jarang ada pemenang yang mencoba tetap arif dan menjadi orang biasa-biasa saja. Misalnya SBY yang kabarnya begitu jumawa bahwa dirinya saja sebenarnya mampu menjadi pilihaan rakyat tanpa harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kemenangan selalu diterima dengan berlebih-lebihan sehingga membuat orang lupa. Coba ingat bagaimana Elly Pical dielu-elukan, lalu hilang.

Terus.... apa lagi ya kemenangan yang pernah terjadi di negara kita, oleh negara kita, kok susah banget mengingat-ingat ya... rasa-rasanya kita ini kalah melulu.

Oh ya, kita ini sering menang di lomba-lomba sains belakangan hari ini, tapi kok justru tak ada yang peduli itu. Pemenang AFI 1 dan 2, juga Indonesian Idol, lalu KDI ternyata lebih dipuja.... dan lucunya, sebenarnya mereka bukan pemenang, sebab sebenarnya mereka tak mengalahkan siapapapun juga.

Jadi, kata kalah sebenarnya tak ada rujukannya di dunia nyata Indonesia, sebab semua orang merasa jadi pemenang. Jikapun orang yang kalah merasa kalah, dia akan selalu ditenangkan orang banyak bahwa dia hanya tidak beruntung. Sebaliknya, kata menang punya ekspresi yang lebih beragam..

Atau sebenarnya bukan Indonesia saja yang tidak mengenal kata kalah... Mungkin akan lebih tepat apabila kalah diganti menjadi belum-menang.

Tauk ah gelep.......

07 October 2004

Jangan iri

Merit sebagai kata benda dapat ditafsirkan sebagai kualitas yang mengagumkan; sebagai kata kerja dia berarti layak atau memiliki nilai tertentu. Sistem merit yang diterapkan Singapura dalam rekrutmen SDM adalah pemilihan individual untuk menempati pos jabatan tertentu sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan kepantasan yang dirasa oleh si individu tersebut.

Sehingga, seseorang yang telah bekerja di, misalnya Departemen Pertahanan sejak lulus kuliah, lalu menekuni studi geopolitik serta berbagai keahlian atau pengetahuan lain dan ia mahir serta menguasai apa yang telah ia pelajari, maka dia pantas untuk memperoleh jabatan tertinggi, atau setidaknya penting, di dalam departemen tersebut, dengan fasilitas finansial yang membuatnya nyaman bekerja.

Di Indonesia jaman Orde Baru, sistem merit tidak diterapkan secara menyeluruh. Ada satu dua, tetapi pada umumnya rekrutmen pegawai lebih karena kedekatan seseorang kepada pusat kekuasaan. Istilah yang biasa dipakai adalah patron-client atau hubungan Bapak-anak. Di dalam lembaga kepolisian, ada sistem jendela. Maksudnya, apabila ada seorang polisi yang sering mondar-mandir di luar jendela atasannya, maka ia akan dengan mudah diingat apabila ada promosi jabatan.

Jadi orang-orang yang duduk di jabatan tertentu di dalam pemerintahan saat itu dipilih bukan karena kemampuannya atau karena orang tadi pantas menempati pos itu, melainkan karena tekad dan niat si orang yang ditunjuk untuk patuh dan memperkuat posisi atasannya, baik jabatan ataupun harta bendanya. Gampangnya, selain memberi upeti, seorang bawahan juga harus bersedia pasang badan melindungi atasannya.

Pada jaman itu juga sistem merit juga tidak terjadi di perusahaan swasta nasional. Kekeluargaan, persahabatan, geng adalah mekanisme perekrutan, khususnya untuk posisi-posisi vital dalam usaha tersebut. Ada yang baik, tetapi kebanyakan tidak. Sebab kultur itu ternyata menjalar hingga ke tingkat terendah. Jadi, si pesuruh kantor akan merekrut saudaranya apabila ada lowongan kerja serabutan. Si kepala proyek akan mengajak teman mainnya untuk jadi pelaksana proyek. Dan seterusnya. Walhasil, seluruh perusahaan diurus oleh orang yang kenal satu sama lain di masa sebelumnya.

Akibatnya, pengelolaan perusahaan menjadi tidak sempurna sebab ada ewuh pakewuh, sopan santun, tak enak, dan perasaan personal lainnya. Atau, karena kedekatan ini, pengelolaan perusahaan jadi tidak efisien sebab bila ada penyelewengan, semua bisa diajak bekerja sama.

Dampak lebih lanjut adalah ada orang yang kebagian uang banyak, ada orang yang kebagian sedikit, bahkan ada yang tidak menerima bagian sama sekali. Golongan yang tidak kebagian adalah mereka yang tidak dekat dengan kekuasaan, tidak bersaudara dengan salah satu pejabat yang berkuasa; mereka adalah orang-orang yang terpaksa bekerja keras mencari uang sebanyak-banyanknya dengan cara yang benar. Sebab orang-orang ini tidak memiliki kesempatan melakukan penyelewengan yang menguntungkan dirinya secara finansial. Orang-orang ini bisa jadi lebih mahir dan kompeten dalam pekerjaannya, akan tetapi karena kultur budaya tidak memungkinkan mereka naik pangkat atau memegang jabatan penting, mereka biasanya akan menjadi kacung selama hidupnya. Artinya, dialah sebenarnya yang bekerja, tetapi orang lain yang menikmati hasilnya.

Dapat disimpulkan, apabila sistem merit diberlakukan kepada orang dalam golongan terakhir, maka seharusnya dialah yang memegang jabatan penting dengan gaji yang sepadan dengan kemampuannya itu.

Apakah sekarang sistem merit sudah dapat diterapkan? Belum juga, sebab kultur kedekatan adalah cara yang sudah ada dan dipelihara selama bertahun-tahun oleh berbagai budaya di Indonesia. Sehingga, memerlukan waktu yang teramat lama untuk mengubah pola pikir semacam itu. Bahkan, sejujurnya, pola ini tidak akan pernah lenyap, mengingat bahwa sistem ini ternyata menguntungkan bagi orang yang termasuk di dalamnya. Bagi mereka yang tidak termasuk ke dalam sistem, alih-alih mempromosikan cara baru dalam rekrutmen, mereka justru berusaha masuk ke dalam sistem.

Yang tidak berhasil, jangan iri, kendati sistem itu menyebalkan bukan main. Cara paling tepat adalah membangun pusat kekuasaan sendiri bagaimanapun caranya.

Inilah Indonesia kita!


26 August 2004

Masa Lalu

Banyak pencipta lagu yang terinspirasi oleh masa lalu. Ada lagu yang mengenang masa indah dengan teman karib atau pacar tercinta. Ada juga tentang kemalangan hidup. Biar beda temanya, lagu bersyair masa lalu selalu enak didengar dan dikenang.

Satu hal yang dapat ditarik dari kecenderungan manusia mengingat masa lalu adalah kenyataan bahwa masa lalu dapat dikontrol. Artinya, masa lalu yang dilihat dari masa kini sudah beku, diam dan permanen. Karena sifatnya yang tak bergerak-gerak itulah, masa lalu jadi gampang untuk ditafsir ulang, diambil hikmahnya, diberi nilai yang barangkali berguna bagi dirinya untuk, antara lain, memotivasi dirinya menghadapi masa kini dan masa depan.

Tetapi ada juga yang fatal. Masa lalu dijadikan pegangan hidup. Misalnya, di zaman Orde Baru,militer, khususnya Angkatan Darat, sangat kuat dan mereka dapat menjamin keamanan dan kenyamanan penduduknya. Sayangnya, pada masa itu orang non militer jadi tak punya kesempatan mengaktualisasikan dirinya. Sebab jabatan apapun, khususnya di pemerintahan, adalah jatah militer. Jadinya, orang sipil yang belajar mati-matian dari SD hingga kuliah S-3, akan selalu jadi kacung karena pejabat tertingginya militer, walaupun si militer tadi tak punya keahlian babar-blas. Masak iya, mantan jenderal jadi komisaris bank?

Nah ada banyak orang yang ingin keadaan kita saat ini kembali ke masa lalu itu. Alasannya cukup jelas: lelah menghadapi hidup sekarang yang tak pernah jelas juntrungnya. Para politisi terlalu banyak cakap tapi tak mahir bertindak. Rakyat banyak, yah... jadi korban juga. Sebab itu daripada jadi korban masa sekarang yang jelas-jelas tak enak, lebih baik jadi korban Orde Baru tapi bisa makan dan hidup enak...

Jadi kembali ke masa Orba tak fatal dong? .... kelihatannya enggak juga tuh. Duh... manusia memang selalu rindu pada masa lalu. Manusia memang selalu enggan dan takut menghadapi masa depan. Ini adalah masalah mengetahui dan tidak mengetahui.

Situasi ini seperti pacar lama dan pacar baru saja. Kita tentu sudah tahu siapa dan bagaimana pacar lama kita. Dan karena kita sudah tahu, kita juga tahu hal terbaik yang bisa kita berikan ke pacar lama itu dan apa yang harus direncanakan dan bagaimana mewujudkannya. Sementara dengan pacar baru, yang layaknya hal baru, semuanya harus dicoba. Bila gagal, ya sudah, cari yang baru atau kalau mau sedikit sabar, coba lagi, sampai berhasil. Dan bila sudah berhasil, silakan lah cari pacar baru. Atau bertahan seumur hidup dengan pacar itu.

Hidup, dalam konteks ini, adalah avonturir! Seseorang bertambah pengetahuannya karena rasa ingin tahu, dan seseorang bertambah bijak karena ia ragukan kebenaran yang ada dan menciptakan kebenaran bagi dirinya sendiri.

Jadi tak usah sesali masa lalu!

24 August 2004

Bela Diri

Sewaktu SMP saya ditawari untuk ikut pelajaran bela diri. Dari silat, karate, teakwondo, semuanya saya tolak. Saya pikir waktu itu belum tentu pelajaran itu berguna apabila kita menghadapi, misalnya, tawuran sekolah. Saya bilang kepada teman-teman saya, bila keadaan memaksa seseorang membela diri, tak ada orang yang akan ingat teknik berkelahi yang benar. Pokoknya asal hantam saja.

Alasan lain yang tak saya katakan pada mereka adalah saya takut berkelahi. Buat saya adu fisik itu benar-benar tak masuk akal. Lha wong kita punya mulut dan akal, masak iya tak bisa membuat yang bertentangan jadi rukun. Lain hal juga adalah kenyataan bahwa mereka yang sudah memiliki teknik bela diri, cenderung berkeinginan mempraktekan itu. Lain kata, dia akan cari masalah dengan orang dan sesudahnya dia dapat mempraktekan keahliannya itu.

Dan itu benar. Orang yang punya ilmu bela diri pasti akan lebih petantang-petenteng. Dia akan bergaya sok jago. Memang ada yang dengan bijak bertingkah laku seperti orang biasa, tetapi tindak tanduk itu akan ia tampakkan bila sudah berusia banyak. Bagi mereka yang baru memperoleh ilmu bela diri, dapat dipastikan bahwa orang tadi akan bergaya berlebihan.

Mau bukti. Parto anggota kelompok pembanyol Patrio, baru-baru ini menembakkan pistolnya ke langit-langit Planet Hollywood karena jengkel dikerumuni para wartawan. Ia mengaku bahwa dia baru dua bulan memiliki izin kepemilikan pistol dan karena baru, ia gagah-gagahan. Pasti akan lain kejadiannya jika ia tak punya pistol itu kan?


20 August 2004

Buruan Cium Gue

Ini judul film bioskop buatan Indonesia. Sudah dirilis, tapi harus ditarik kembali sebab ada adegan ciuman yang tak disensor.

Yang meminta menarik adalah perwakilan Islam, antaranya Majelis Ulama Indonesia dan Aa Gym. Alasannya adegan tersebut dapat mengajak para anak muda melakukan zina. Akhirnya Lembaga Sensor Film yang tadinya meloloskan film itu, harus mengeluarkan surat pembatalan Surat Lulus Sensor. Si pembuat film, Raam Punjabi, berharap film itu dapat dirilis lagi setelah adegan itu disensor.

Seorang artis, Lola Amaria namanya, mempertanyakan kewibawaan LSF yang sudah meloloskan kemudian menarik film itu. Katanya derajat kepornoan sebuah film sangat tergantung pada si penonton film, bukan tergantung LSF. Sayang dia tak berkomentar mengenai peran perwakilan Islam dalam penarikan film itu.

Lepas dari itu, saya lihat semuanya aneh. Saya yakin LSF merujuk pada film-film lain yang beredar di Indonesia, baik legal maupun illegal, film barat atau lokal, yang sudah terbiasa menawarkan adegan ciuman. Sebab itu, adegan cium di Buruan Cium Gue (BCG) kelihatan biasa-biasa saja. Para anggota LSF sudah terlalu sering menyaksikan adegan yang lebih 'serem' dan ciuman BCD cuma ecek-ecek.

MUI, Aa Gym dan perwakilan lain juga aneh. Kenyataan ciuman sudah jadi kegiatan yang biasa-biasa saja dalam pacaran anak muda sekarang, ternyata jarang sekali mereka komentari dengan demonstratif. Mereka hanya menghimbau semua pihak untuk menahan diri mengumbar adegan-adegan itu padahal sinetron TV juga sudah memuat adegan cium.

Yang lebih aneh lagi, mengapa BCG sekarang jadi isu? Apa sudah tak ada kerjaan lain bagi para ulama itu? Saya Islam, tetapi sungguh saya pikir ulama Indonesia adalah sebuah profesi yang seolah-olah masih berfungsi. Kenyataannya tidak. Mengapa?

Ulama itu bukan hanya memberi nasehat, tetapi yang lebih penting adalah memberi contoh dengan tindak tanduk. Sekarang pertanyaannya: adakah para ulama sekarang sudah memberi contoh bertingkah laku sesuai dengan kaidah agama dan konvensi sosial? Menurut saya tidak. Sebab, makin banyak umat yang hingga kini seperti anak ayam kehilangan induknya. Bagi umat, dari pada mencontek tingkah laku para ulama yang tidak konsisten, lebih baik mencontoh apa yang diajarkan oleh media massa: TV, koran, majalah, radio dan tabloid.

Menurut saya, peran para pemuka agama dalam kasus BCG sepertinya hanya ingin menegaskan mereka masih ada. Setelah peristiwa ini mereka akan diam. Jika masyarakat sudah mulai lupa, mereka akan cari peristiwa yang dapat mereka komentari.

Dengan menulis ini bukannya saya tidak setuju dengan pendapat para pemuka agama itu. Sebaliknya, saya setuju bahwa adegan-adegan tersebut harus dibatasi dalam ruang-ruang tertentu untuk kalangan terbatas. Sebab jika dibiarkan terlalu terbuka, maka semua orang akan berlomba mengumbar hawa nafsunya.

Hanya saja, kenapa koq para ulama tidak pernah berani berkata yang benar itu benar dan yang salah itu salah secara terus menerus dan konsisten. Sungguh amat memilukan....

Semoga keadaan ini cepat berubah!