Artinya.......
Saya teringat pelajaran tentang makna sewaktu kuliah dulu. Pelajaran itu membeberkan bahwa kita telah diajari bagaimana mengenal makna yang berasal dari tindakan ataupun perkataan. Pelajaran itu juga menyimpulkan bahwa kita tanpa sadar cenderung bertanya: "apa makna" dari ucapan ini atau tindakan itu bila kita tidak tahu. Padahal cara mengetahui makna lebih tepat jika menanya: "kapan itu bermakna". 'Itu' di sini bisa ucapan atau perbuatan.
Misalnya PKI. Jika bertanya apa, maka jawabnya 'Partai Komunis Indonesia'. Ini benar tetapi pertanyaa itu hanya menjawab definisinya saja. Belum menjawab konteknya. Sebab itu pertanyaan yang lebih menyeluruh adalah 'kapan PKI jadi bermakna?' Jawabnya macam-macam situasi. Misalnya mau melamar jadi pegawai negeri, maka PKI berarti sang pelamar harus lurus 'screening' bebas PKI. Lain situasi adalah kode Eks Tapol (ET) di Kartu Identitas Penduduk (KTP) mereka yang pernah terlibat PKI. Singkatnya, pertanyaan 'kapan bermakna' menjelaskan situasi-situasi yang membuat satu tindakan/ucapan memiliki makna.
TETAPI, itu baru menyentuh kesejarahan sebuah ucapan atau tindakan. Bagaimana kalau mau mengetahu masa depan yang timbul dari ucapan atau perbuatan tertentu? Jika demikian, maka makna harus dilihat dari sejumlah tindakan dan atau ucapan yang merujuk pada ucapan atau tindakan tadi.
Mengambil contoh di atas. Sekali seorang disebut PKI, maka dia akan menghadapi serangkaian halangan. Dia akan sulit berbisnis, bergaul. Dia akan dijauhi layaknya penderita lepra atau orang gila. Serangkaian tindakan inilah yang semakin meneguhkan makna dari PKI tadi.
Ada baiknya mungkin mengambil contoh yang lebih masa kini. "Kumpul kebo" adalah hidup bersama tanpa nikah. Istilah ini ngetop pada tahun 80-an awal. Pasangan yang dikenai cap 'berkumpul kebo' akan dijauhi masyarakat. TETAPI, bagaimana makna itu sekarang. Kumpul kebo tidak diperdebatkan lagi. Istilahnya bahkan diperhalus jadi hidup bersama. Sebuah frasa yang agak membingungkan dan tak merujuk pada 'hidup bagaiakan suami istri'. Masyarakat masa kini bahkan melihatnya sebagai sebuah gaya hidup, jadi tak perlu dicampuri. Tak ada sanksi yang perlu diterapkan.
Dengan kerangka pikir ini, maka ada baiknya bila kita melihat ucapan atau tindakan seseorang dari praktik yang menyertainya. Misalnya Gus Dur bilang bahwa dia demokratis, tetapi sewaktu dia dipilih jadi dewan syuro PKB secara aklamatif dan mengabaikan prosedur demokrasi, dia nyantai aja tuh. Banyak contoh lain: Mulyana W Kusuma aktivis jujur dan dedikatif, lah kok bisanya dia 'terjebak' penyuapan.
Ucapan bukanlah makna yang penting. Ucapan seringkali memiliki beda makna di tiap jaman. Tetapi tindakan adalah derivasi otomatis, mengikat dan permanen dari sebuah keinginan.
Keinginan zaman di Indonesia adalah seorang pemimpin harus lama dan hanya turun bila dia sakit, mati atau dipaksa turun. Sudah tahu begini kok ya nekad mengenalkan demokrasi. Waste of time, gitu lohhhhh.......
Jadi ya.... what can you expect gitu loh dari pemerintahan yang diam-diam berhasrat mempertahankan kekuasaannya dapat menciptakan negara yang penduduknya aman tentram makmur sehat bagahia....
Mimpi deh...
Ini kepala kadang-kadang berpikir yang enggak-enggak. Jadinya, ya begini-ini. Mimpi yang gak karu-karuan... untungnya kagak harus bayar.
19 April 2005
14 March 2005
Datang dan datang lagi
Dimulai ketika SBY terpilih. Itu adalah musibah pertama. Sebab Indonesia kembali mencatat terpilihnya orang karena ngetop, bukan karena berani. Dulu Gus Dur, trus Mega, sekarang SBY. Jadi maklum saja jika tak ada perubahan berarti dari tiap pergantian itu. Ini mungkin karena para presiden itu tidak diperlukan sama sekali. Orang-orang yang jadi presiden harusnya BERANI. Mungkin Jusuf Kalla lebih tepat. Sayangnya dia wapres dan kenal terlalu banyak orang, yang barangkali saja, akan memanfaatkannya.
Lalu ada bencana tsunami yang tingkat kehancurannya susah dimengerti, termasuk, mengapa di Aceh. Yang terakhir lebih metafisik. Artinya, dengan nama Serambi Mekkah, kok ya Tuhan, tega-teganya menimpakan bencana di sana... Atau barangkali, Aceh sudah tak pantas lagi menyandang julukan Serambi Mekkah lagi. Cara memahami ini juga sangat diterima ketika bom meledak di Kuta, Bali. Bahkan orang-orang Bali yakin bahwa Bali sudah tidak suci lagi sehingga perlu diingatkan.
Cara ini pula begitu marak setiap pergantian tahun. Para peramal dimintai pendapat mengenai apa yang akan terjadi di bumi nusantara selama setahun ini. Satu ringkasan ramalan yang pernah saya baca menganjurkan Indonesia untuk melakukan ruwat nasional pada perayaan kemerdekaan tahun ini. Untuk menghindarkan dari bala lebih lanjut. Apalagi ternyata SBY - dalam kalender Jawa - tidak memiliki weton yang cocok untuk jadi pemimpin nasional. Dengan weton sekarang, SBY akan mendatangkan aneka bencana - semacam gonjang-ganjing. Dan ternyata - entah ini logis apa tidak - beberapa malapetakan telah datang dan ada beberapa yang mulai terlihat.
Antaranya: perebutan blok Ambalat dengan Malaysia, bencana kelaparan (baca: KELAPARAN) di provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah apa lagi yang akan datang besok.
Percaya atau tidak percaya, kita tidak bisa mengandalkan orang untuk dapat mengurusi negeri kepulauan yang luas ini pada orang yang tidak berani. Kita perlu pemberani, seorang pahlawan yang tidak peduli pada keselamatan jiwanya dan banyak akal, sedikit licik mungkin, untuk maksud yang bermanfaat bagi penduduk Indonesia seluruhnya...
Dimulai ketika SBY terpilih. Itu adalah musibah pertama. Sebab Indonesia kembali mencatat terpilihnya orang karena ngetop, bukan karena berani. Dulu Gus Dur, trus Mega, sekarang SBY. Jadi maklum saja jika tak ada perubahan berarti dari tiap pergantian itu. Ini mungkin karena para presiden itu tidak diperlukan sama sekali. Orang-orang yang jadi presiden harusnya BERANI. Mungkin Jusuf Kalla lebih tepat. Sayangnya dia wapres dan kenal terlalu banyak orang, yang barangkali saja, akan memanfaatkannya.
Lalu ada bencana tsunami yang tingkat kehancurannya susah dimengerti, termasuk, mengapa di Aceh. Yang terakhir lebih metafisik. Artinya, dengan nama Serambi Mekkah, kok ya Tuhan, tega-teganya menimpakan bencana di sana... Atau barangkali, Aceh sudah tak pantas lagi menyandang julukan Serambi Mekkah lagi. Cara memahami ini juga sangat diterima ketika bom meledak di Kuta, Bali. Bahkan orang-orang Bali yakin bahwa Bali sudah tidak suci lagi sehingga perlu diingatkan.
Cara ini pula begitu marak setiap pergantian tahun. Para peramal dimintai pendapat mengenai apa yang akan terjadi di bumi nusantara selama setahun ini. Satu ringkasan ramalan yang pernah saya baca menganjurkan Indonesia untuk melakukan ruwat nasional pada perayaan kemerdekaan tahun ini. Untuk menghindarkan dari bala lebih lanjut. Apalagi ternyata SBY - dalam kalender Jawa - tidak memiliki weton yang cocok untuk jadi pemimpin nasional. Dengan weton sekarang, SBY akan mendatangkan aneka bencana - semacam gonjang-ganjing. Dan ternyata - entah ini logis apa tidak - beberapa malapetakan telah datang dan ada beberapa yang mulai terlihat.
Antaranya: perebutan blok Ambalat dengan Malaysia, bencana kelaparan (baca: KELAPARAN) di provinsi Nusa Tenggara Timur. Entah apa lagi yang akan datang besok.
Percaya atau tidak percaya, kita tidak bisa mengandalkan orang untuk dapat mengurusi negeri kepulauan yang luas ini pada orang yang tidak berani. Kita perlu pemberani, seorang pahlawan yang tidak peduli pada keselamatan jiwanya dan banyak akal, sedikit licik mungkin, untuk maksud yang bermanfaat bagi penduduk Indonesia seluruhnya...
10 March 2005
Batas kita sampai mana
Harus ada batas. Semua hal harus ada batasnya.
Pertanyaannya: bagaimana menemukan batas itu? Kapan? Di mana?
Seringkali, apalagi saat bahagia, batas itu tak nampak. Jikapun terlihat, kita abaikan. Sebab batas tadi akan menghentikan kebahagiaan kita. Sebaliknya, apabila sedih, sang batas adalah impian yang minta segera diwujudkan, atau hadir, atau ada. Dan ini wajar, sangat manusiawi.
Problemnya: kita tak bisa hidup semanusiawi itu selamanya. Setiap saat kita dituntut untuk seperti Tuhan. Baik budi taat beribadah, menjauhi yang kejahatan, beramal kebajikan. Sementara di sekeliling kita ada materi yang harus dimiliki, ada kekuasaan yang harus kita punyai, ada benda-benda nyata dan tak nyata yang lebih mengasyikan untuk dilakukan. Nampaknya kita hidup di lingkungan yang salah. Seperti ayam yang harus hidup di belantara.
Batas, bagaimanapun juga adalah persoalan. Seringkali, batas susah ditentukan. Ada yang menyangka batas di lokasi tertentu, batas ditentukan oleh perilaku tertentu. Lawan bicara kita bilang kita sudah kelewat batas, sementara kita pikir masih belum seberapa.
Ketidakcocokan pemahaman atas batas pasti menimbulkan perselisihan. Bisa bertengkar mulut, bisa juga beradu fisik, bahkan sampai mati.
Batas adalah kesepakatan. Batas dosa dan tidak dosa adalah kesepakatan kita dengan Tuhan, kiyai atau pemuka agama tak punya wewenang mengintervensi. Batas legal dan illegal merupakan kesepakatan kita dengan negara. Batas tak bisa ditentukan sendiri. Batas adalah resultan dari dua atau lebih pendapat.
Begitulah. Batas kita dengan Malaysia tak akan selesai jika tak ada kesepakatan. Dan kesepakatan itu bisa kita peroleh dengan duduk berbincang atau berperang. Yang kalah akan kalah, yang menang boleh ambil semua.
Dan itu sah saja untuk sekali-kali dengan tegas mengatakan kepada orang lain di mana batas kita dan bagaimana rupanya.
Harus ada batas. Semua hal harus ada batasnya.
Pertanyaannya: bagaimana menemukan batas itu? Kapan? Di mana?
Seringkali, apalagi saat bahagia, batas itu tak nampak. Jikapun terlihat, kita abaikan. Sebab batas tadi akan menghentikan kebahagiaan kita. Sebaliknya, apabila sedih, sang batas adalah impian yang minta segera diwujudkan, atau hadir, atau ada. Dan ini wajar, sangat manusiawi.
Problemnya: kita tak bisa hidup semanusiawi itu selamanya. Setiap saat kita dituntut untuk seperti Tuhan. Baik budi taat beribadah, menjauhi yang kejahatan, beramal kebajikan. Sementara di sekeliling kita ada materi yang harus dimiliki, ada kekuasaan yang harus kita punyai, ada benda-benda nyata dan tak nyata yang lebih mengasyikan untuk dilakukan. Nampaknya kita hidup di lingkungan yang salah. Seperti ayam yang harus hidup di belantara.
Batas, bagaimanapun juga adalah persoalan. Seringkali, batas susah ditentukan. Ada yang menyangka batas di lokasi tertentu, batas ditentukan oleh perilaku tertentu. Lawan bicara kita bilang kita sudah kelewat batas, sementara kita pikir masih belum seberapa.
Ketidakcocokan pemahaman atas batas pasti menimbulkan perselisihan. Bisa bertengkar mulut, bisa juga beradu fisik, bahkan sampai mati.
Batas adalah kesepakatan. Batas dosa dan tidak dosa adalah kesepakatan kita dengan Tuhan, kiyai atau pemuka agama tak punya wewenang mengintervensi. Batas legal dan illegal merupakan kesepakatan kita dengan negara. Batas tak bisa ditentukan sendiri. Batas adalah resultan dari dua atau lebih pendapat.
Begitulah. Batas kita dengan Malaysia tak akan selesai jika tak ada kesepakatan. Dan kesepakatan itu bisa kita peroleh dengan duduk berbincang atau berperang. Yang kalah akan kalah, yang menang boleh ambil semua.
Dan itu sah saja untuk sekali-kali dengan tegas mengatakan kepada orang lain di mana batas kita dan bagaimana rupanya.
12 January 2005
Same Old Story
Lahhhhhh..................ada air bah di Aceh. Ah itu sudah usang. Semua orang sudah tahu berkat pemberitaan media massa. Jadi tak penting dibahas.
Lahhhhhh..................ada anak mantan pejabat Orde Baru menembak mati anak rantau dari Indonesia timur dan semua orang kelihatannya kebingungan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Masak iya Presiden RI bicara untuk masalah ini seolah-olah penembakan itu akan dipeti-eskan. Sekarang kan jaman baru, semuanya mau menjalankan hidup sesuai aturan yang berlaku. Jadi tak perlu khawatir polisi tak berani mengatasi ini. TETAPI, kalaupun ternyata kemudian polisi kita memble, itu bukan cerita baru.
Lahhhhhh.................ada segerombolan pegawai negeri di Temanggung Jawa Tengah mengundurkan diri, seolah-olah mereka sudah kaya raya. Mereka mengaku karena diintimidasi Bupati supaya tidak menanggapi penyelidikan polisi atas dugaan korupsi si bupatinya. Ini kan bukan cara baru, yang baru hanya si yang mengaku ditekan bupati menolak permintaan bupati. Biar begitu, itu bukan hal baru lagi, khususnya sejak Soeharto diturunkan. Dulu ada Kapolri yang tak mau mundur, ada pejabat yang menolak diganti. Macam-macam lah...
Lahhhhhh................ada dugaan bantuan Aceh dikorupsi. Ini sama sekali bukan cerita baru. Tak perlu komentar lebih lanjut.
Lahhhhhh...............ada yang menyangka terjadi konflik antara Presiden dan Wakil Presiden. Ini juga bukan hal baru. Contohnya banyak, tapi yang paling sensasional ya antara Gus Dur dan Mega.
Lahhhhhh................ terus apa yang baru, padahal katanya kita baru memasuki tahun baru!
Lahhhhhh..................ada air bah di Aceh. Ah itu sudah usang. Semua orang sudah tahu berkat pemberitaan media massa. Jadi tak penting dibahas.
Lahhhhhh..................ada anak mantan pejabat Orde Baru menembak mati anak rantau dari Indonesia timur dan semua orang kelihatannya kebingungan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalah ini. Masak iya Presiden RI bicara untuk masalah ini seolah-olah penembakan itu akan dipeti-eskan. Sekarang kan jaman baru, semuanya mau menjalankan hidup sesuai aturan yang berlaku. Jadi tak perlu khawatir polisi tak berani mengatasi ini. TETAPI, kalaupun ternyata kemudian polisi kita memble, itu bukan cerita baru.
Lahhhhhh.................ada segerombolan pegawai negeri di Temanggung Jawa Tengah mengundurkan diri, seolah-olah mereka sudah kaya raya. Mereka mengaku karena diintimidasi Bupati supaya tidak menanggapi penyelidikan polisi atas dugaan korupsi si bupatinya. Ini kan bukan cara baru, yang baru hanya si yang mengaku ditekan bupati menolak permintaan bupati. Biar begitu, itu bukan hal baru lagi, khususnya sejak Soeharto diturunkan. Dulu ada Kapolri yang tak mau mundur, ada pejabat yang menolak diganti. Macam-macam lah...
Lahhhhhh................ada dugaan bantuan Aceh dikorupsi. Ini sama sekali bukan cerita baru. Tak perlu komentar lebih lanjut.
Lahhhhhh...............ada yang menyangka terjadi konflik antara Presiden dan Wakil Presiden. Ini juga bukan hal baru. Contohnya banyak, tapi yang paling sensasional ya antara Gus Dur dan Mega.
Lahhhhhh................ terus apa yang baru, padahal katanya kita baru memasuki tahun baru!
30 November 2004
Munir Mati
Munir, orang yang sangat terkenal saat masa gonjang-ganjing 1998 karena membela orang-orang yang hilang diculik tentara, mati saat berada di pesawat Garuda rute Jakarta-Belanda, kira-kira tiga bulan lalu. Kabarnya karena gangguan kesehatan, entah itu lever atau ginjal.
Waktu saya lihat berita itu di Metro TV, saya langsung ambil kesimpulan bahwa ia mati dibunuh. Saya rasa waktu itu kok banyak yang tak wajar, entah itu apa, tapi banyak yang tidak cocok di sana. Saat itu, kok saya merasa saya adalah Hercule Poirot. Apalagi ternyata, kisah kematian Munir sangat mirip dengan salah satu cerita Agatha Christie, sayangnya judulnya saya lupa.
Sayangnya lagi, saya kemudian tak memaksa sel-sel abu-abu saya untuk bekerja. Karena percuma juga kan? Baru belakangan hari ini saya melanjutkan kecurigaan saya setelah berita-berita mengatakan kalau si Munir mati di racun: satu metode yang sering digunakan oleh para tokoh pembunuh di novel Christie itu. Sekarang kematian Munir sedang diselidiki. Banyak yang terlibat, bahkan hingga presiden.
Seiring dengan itu, istri Munir diteror. Si peneror, langsung tidak langsung menyebut diri sebagai tentara. Tetapi si boss tentara, namaya Endriatono Sutarto, langsung memperingatkan untuk menjauhkan TNI dari kematian Munir. Sekarang, semua sedang tak punya petunjuk, apalagi si polisi kita itu.
Padahal kalau mengikuti plot cerita Hercule Poirot, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: siapa yang diuntungkan secara finansial oleh kematian Munir.
Untuk menjawab itu semua orang harus dicurihai, termasuk istrinya atau ahli warisnya. Apalagi ternyata sang istri adalah salah seorang yang punya akses memasukan racun beberapa saat sebelum Munir naik pesawat. Dari sini pertanyaan bisa dikembangkan: apakah Munir menyeleweng dengan perempuan lain, atau justru istrinya yang menyeleweng, atau pertanyaan seputar itu. Adakah orang lain? Mestinya para penyelidik mengungkap berapa kekayaan Munir dan siapa saja yang akan menerima limpahannya kalau dia mati. Pertanyaan dapat berkembang di tempat Munir biasa beraktivitas sehari-hari.
Jika tak ditemukan bukti kuat, maka harus dicari yang diuntungkan secara politis? Nah, jawaban ini sih tak akan ditemukan. Karena itu, pembunuh Munir yang sebenarnya juga tidak akan ketemu. Paling-paling yang akhirnya muncul si antah berantah yang dikambing-hitamkan.
Mungkin kita perlu seorang Hercule Poirot yang bisa kerja sehingga segala penjahat yang merajalela di Indonesia ditangkap dan dihukum.
Kalau tetap mengandalkan polisi kita yang sekarang, pasti jadinya lucu... sumpah!
Munir, orang yang sangat terkenal saat masa gonjang-ganjing 1998 karena membela orang-orang yang hilang diculik tentara, mati saat berada di pesawat Garuda rute Jakarta-Belanda, kira-kira tiga bulan lalu. Kabarnya karena gangguan kesehatan, entah itu lever atau ginjal.
Waktu saya lihat berita itu di Metro TV, saya langsung ambil kesimpulan bahwa ia mati dibunuh. Saya rasa waktu itu kok banyak yang tak wajar, entah itu apa, tapi banyak yang tidak cocok di sana. Saat itu, kok saya merasa saya adalah Hercule Poirot. Apalagi ternyata, kisah kematian Munir sangat mirip dengan salah satu cerita Agatha Christie, sayangnya judulnya saya lupa.
Sayangnya lagi, saya kemudian tak memaksa sel-sel abu-abu saya untuk bekerja. Karena percuma juga kan? Baru belakangan hari ini saya melanjutkan kecurigaan saya setelah berita-berita mengatakan kalau si Munir mati di racun: satu metode yang sering digunakan oleh para tokoh pembunuh di novel Christie itu. Sekarang kematian Munir sedang diselidiki. Banyak yang terlibat, bahkan hingga presiden.
Seiring dengan itu, istri Munir diteror. Si peneror, langsung tidak langsung menyebut diri sebagai tentara. Tetapi si boss tentara, namaya Endriatono Sutarto, langsung memperingatkan untuk menjauhkan TNI dari kematian Munir. Sekarang, semua sedang tak punya petunjuk, apalagi si polisi kita itu.
Padahal kalau mengikuti plot cerita Hercule Poirot, ada pertanyaan mendasar yang pantas diajukan: siapa yang diuntungkan secara finansial oleh kematian Munir.
Untuk menjawab itu semua orang harus dicurihai, termasuk istrinya atau ahli warisnya. Apalagi ternyata sang istri adalah salah seorang yang punya akses memasukan racun beberapa saat sebelum Munir naik pesawat. Dari sini pertanyaan bisa dikembangkan: apakah Munir menyeleweng dengan perempuan lain, atau justru istrinya yang menyeleweng, atau pertanyaan seputar itu. Adakah orang lain? Mestinya para penyelidik mengungkap berapa kekayaan Munir dan siapa saja yang akan menerima limpahannya kalau dia mati. Pertanyaan dapat berkembang di tempat Munir biasa beraktivitas sehari-hari.
Jika tak ditemukan bukti kuat, maka harus dicari yang diuntungkan secara politis? Nah, jawaban ini sih tak akan ditemukan. Karena itu, pembunuh Munir yang sebenarnya juga tidak akan ketemu. Paling-paling yang akhirnya muncul si antah berantah yang dikambing-hitamkan.
Mungkin kita perlu seorang Hercule Poirot yang bisa kerja sehingga segala penjahat yang merajalela di Indonesia ditangkap dan dihukum.
Kalau tetap mengandalkan polisi kita yang sekarang, pasti jadinya lucu... sumpah!
08 October 2004
Kalah Menang
Ada situasi di mana dua pihak berdiri berhadap-hadapan, bertanding, lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Situasi ini terjadi di Indonesia selama tahun 2004, melalui pemilihan umum, pemilihan presiden tahap satu dan paling kentara di putaran kedua pilpres. Hasilnya, Mega kalah dan SBY menang.
Ada banyak orang yang mencoba bijak dengan mengatakan tidak ada yang kalah, semuanya menang atau menegaskan bahwa yang menang adalah rakyat, bukan Mega dan SBY. Mengapa harus malu-malu bahwa memang ada yang kalah dan ada yang menang saat situasi serupa begitu kentara dan gamblang dipamerkan waktu pemilihan ketua DPR, DPD dan MPR.
Ada juga klaim kemenangan berupa iklan satu halaman penuh di berbagai media yang dibuat oleh pengacara Hotman Paris Hutapean mewakili kliennya yang dimenangkan oleh keputusan MA melawan pejabat-pejabat negara, antara lain Laksamana Sukardi dan Tumenggung, mantan ketua bekas BPPN.
Ada situasi-situasi di mana orang juga sering tidak mengaku kalah padahal semua orang tahu dia kalah. Misalnya Polri yang kecolongan lolosnya Adrian Woworuntu dan kegagalan mereka menangkap tersangka teroris asal Malaysia, Dr Azahari dan Noordin Moh Top.
Ada juga yang kalah tapi masih berusaha untuk terus berkuasa. Misalnya Golkar dan PDIP yang mau melakukan apa saja asal mereka bisa menjadi pimpinan lembaga legislatif di berbagai propinsi.
Ada yang kalah terus menerus dan kendati sudah tahu kalah tidak pernah belajar dan berusaha keras untuk bisa jadi pemenenang. Mereka ini adalah timnas sepakbola PSSI yang selalu kalah dalam kategori umur apapapun dan di turnamean apapun.
Sementara, jarang ada pemenang yang mencoba tetap arif dan menjadi orang biasa-biasa saja. Misalnya SBY yang kabarnya begitu jumawa bahwa dirinya saja sebenarnya mampu menjadi pilihaan rakyat tanpa harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kemenangan selalu diterima dengan berlebih-lebihan sehingga membuat orang lupa. Coba ingat bagaimana Elly Pical dielu-elukan, lalu hilang.
Terus.... apa lagi ya kemenangan yang pernah terjadi di negara kita, oleh negara kita, kok susah banget mengingat-ingat ya... rasa-rasanya kita ini kalah melulu.
Oh ya, kita ini sering menang di lomba-lomba sains belakangan hari ini, tapi kok justru tak ada yang peduli itu. Pemenang AFI 1 dan 2, juga Indonesian Idol, lalu KDI ternyata lebih dipuja.... dan lucunya, sebenarnya mereka bukan pemenang, sebab sebenarnya mereka tak mengalahkan siapapapun juga.
Jadi, kata kalah sebenarnya tak ada rujukannya di dunia nyata Indonesia, sebab semua orang merasa jadi pemenang. Jikapun orang yang kalah merasa kalah, dia akan selalu ditenangkan orang banyak bahwa dia hanya tidak beruntung. Sebaliknya, kata menang punya ekspresi yang lebih beragam..
Atau sebenarnya bukan Indonesia saja yang tidak mengenal kata kalah... Mungkin akan lebih tepat apabila kalah diganti menjadi belum-menang.
Tauk ah gelep.......
Ada situasi di mana dua pihak berdiri berhadap-hadapan, bertanding, lalu ada yang kalah dan ada yang menang. Situasi ini terjadi di Indonesia selama tahun 2004, melalui pemilihan umum, pemilihan presiden tahap satu dan paling kentara di putaran kedua pilpres. Hasilnya, Mega kalah dan SBY menang.
Ada banyak orang yang mencoba bijak dengan mengatakan tidak ada yang kalah, semuanya menang atau menegaskan bahwa yang menang adalah rakyat, bukan Mega dan SBY. Mengapa harus malu-malu bahwa memang ada yang kalah dan ada yang menang saat situasi serupa begitu kentara dan gamblang dipamerkan waktu pemilihan ketua DPR, DPD dan MPR.
Ada juga klaim kemenangan berupa iklan satu halaman penuh di berbagai media yang dibuat oleh pengacara Hotman Paris Hutapean mewakili kliennya yang dimenangkan oleh keputusan MA melawan pejabat-pejabat negara, antara lain Laksamana Sukardi dan Tumenggung, mantan ketua bekas BPPN.
Ada situasi-situasi di mana orang juga sering tidak mengaku kalah padahal semua orang tahu dia kalah. Misalnya Polri yang kecolongan lolosnya Adrian Woworuntu dan kegagalan mereka menangkap tersangka teroris asal Malaysia, Dr Azahari dan Noordin Moh Top.
Ada juga yang kalah tapi masih berusaha untuk terus berkuasa. Misalnya Golkar dan PDIP yang mau melakukan apa saja asal mereka bisa menjadi pimpinan lembaga legislatif di berbagai propinsi.
Ada yang kalah terus menerus dan kendati sudah tahu kalah tidak pernah belajar dan berusaha keras untuk bisa jadi pemenenang. Mereka ini adalah timnas sepakbola PSSI yang selalu kalah dalam kategori umur apapapun dan di turnamean apapun.
Sementara, jarang ada pemenang yang mencoba tetap arif dan menjadi orang biasa-biasa saja. Misalnya SBY yang kabarnya begitu jumawa bahwa dirinya saja sebenarnya mampu menjadi pilihaan rakyat tanpa harus berpasangan dengan Jusuf Kalla. Kemenangan selalu diterima dengan berlebih-lebihan sehingga membuat orang lupa. Coba ingat bagaimana Elly Pical dielu-elukan, lalu hilang.
Terus.... apa lagi ya kemenangan yang pernah terjadi di negara kita, oleh negara kita, kok susah banget mengingat-ingat ya... rasa-rasanya kita ini kalah melulu.
Oh ya, kita ini sering menang di lomba-lomba sains belakangan hari ini, tapi kok justru tak ada yang peduli itu. Pemenang AFI 1 dan 2, juga Indonesian Idol, lalu KDI ternyata lebih dipuja.... dan lucunya, sebenarnya mereka bukan pemenang, sebab sebenarnya mereka tak mengalahkan siapapapun juga.
Jadi, kata kalah sebenarnya tak ada rujukannya di dunia nyata Indonesia, sebab semua orang merasa jadi pemenang. Jikapun orang yang kalah merasa kalah, dia akan selalu ditenangkan orang banyak bahwa dia hanya tidak beruntung. Sebaliknya, kata menang punya ekspresi yang lebih beragam..
Atau sebenarnya bukan Indonesia saja yang tidak mengenal kata kalah... Mungkin akan lebih tepat apabila kalah diganti menjadi belum-menang.
Tauk ah gelep.......
07 October 2004
Jangan iri
Merit sebagai kata benda dapat ditafsirkan sebagai kualitas yang mengagumkan; sebagai kata kerja dia berarti layak atau memiliki nilai tertentu. Sistem merit yang diterapkan Singapura dalam rekrutmen SDM adalah pemilihan individual untuk menempati pos jabatan tertentu sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan kepantasan yang dirasa oleh si individu tersebut.
Sehingga, seseorang yang telah bekerja di, misalnya Departemen Pertahanan sejak lulus kuliah, lalu menekuni studi geopolitik serta berbagai keahlian atau pengetahuan lain dan ia mahir serta menguasai apa yang telah ia pelajari, maka dia pantas untuk memperoleh jabatan tertinggi, atau setidaknya penting, di dalam departemen tersebut, dengan fasilitas finansial yang membuatnya nyaman bekerja.
Di Indonesia jaman Orde Baru, sistem merit tidak diterapkan secara menyeluruh. Ada satu dua, tetapi pada umumnya rekrutmen pegawai lebih karena kedekatan seseorang kepada pusat kekuasaan. Istilah yang biasa dipakai adalah patron-client atau hubungan Bapak-anak. Di dalam lembaga kepolisian, ada sistem jendela. Maksudnya, apabila ada seorang polisi yang sering mondar-mandir di luar jendela atasannya, maka ia akan dengan mudah diingat apabila ada promosi jabatan.
Jadi orang-orang yang duduk di jabatan tertentu di dalam pemerintahan saat itu dipilih bukan karena kemampuannya atau karena orang tadi pantas menempati pos itu, melainkan karena tekad dan niat si orang yang ditunjuk untuk patuh dan memperkuat posisi atasannya, baik jabatan ataupun harta bendanya. Gampangnya, selain memberi upeti, seorang bawahan juga harus bersedia pasang badan melindungi atasannya.
Pada jaman itu juga sistem merit juga tidak terjadi di perusahaan swasta nasional. Kekeluargaan, persahabatan, geng adalah mekanisme perekrutan, khususnya untuk posisi-posisi vital dalam usaha tersebut. Ada yang baik, tetapi kebanyakan tidak. Sebab kultur itu ternyata menjalar hingga ke tingkat terendah. Jadi, si pesuruh kantor akan merekrut saudaranya apabila ada lowongan kerja serabutan. Si kepala proyek akan mengajak teman mainnya untuk jadi pelaksana proyek. Dan seterusnya. Walhasil, seluruh perusahaan diurus oleh orang yang kenal satu sama lain di masa sebelumnya.
Akibatnya, pengelolaan perusahaan menjadi tidak sempurna sebab ada ewuh pakewuh, sopan santun, tak enak, dan perasaan personal lainnya. Atau, karena kedekatan ini, pengelolaan perusahaan jadi tidak efisien sebab bila ada penyelewengan, semua bisa diajak bekerja sama.
Dampak lebih lanjut adalah ada orang yang kebagian uang banyak, ada orang yang kebagian sedikit, bahkan ada yang tidak menerima bagian sama sekali. Golongan yang tidak kebagian adalah mereka yang tidak dekat dengan kekuasaan, tidak bersaudara dengan salah satu pejabat yang berkuasa; mereka adalah orang-orang yang terpaksa bekerja keras mencari uang sebanyak-banyanknya dengan cara yang benar. Sebab orang-orang ini tidak memiliki kesempatan melakukan penyelewengan yang menguntungkan dirinya secara finansial. Orang-orang ini bisa jadi lebih mahir dan kompeten dalam pekerjaannya, akan tetapi karena kultur budaya tidak memungkinkan mereka naik pangkat atau memegang jabatan penting, mereka biasanya akan menjadi kacung selama hidupnya. Artinya, dialah sebenarnya yang bekerja, tetapi orang lain yang menikmati hasilnya.
Dapat disimpulkan, apabila sistem merit diberlakukan kepada orang dalam golongan terakhir, maka seharusnya dialah yang memegang jabatan penting dengan gaji yang sepadan dengan kemampuannya itu.
Apakah sekarang sistem merit sudah dapat diterapkan? Belum juga, sebab kultur kedekatan adalah cara yang sudah ada dan dipelihara selama bertahun-tahun oleh berbagai budaya di Indonesia. Sehingga, memerlukan waktu yang teramat lama untuk mengubah pola pikir semacam itu. Bahkan, sejujurnya, pola ini tidak akan pernah lenyap, mengingat bahwa sistem ini ternyata menguntungkan bagi orang yang termasuk di dalamnya. Bagi mereka yang tidak termasuk ke dalam sistem, alih-alih mempromosikan cara baru dalam rekrutmen, mereka justru berusaha masuk ke dalam sistem.
Yang tidak berhasil, jangan iri, kendati sistem itu menyebalkan bukan main. Cara paling tepat adalah membangun pusat kekuasaan sendiri bagaimanapun caranya.
Inilah Indonesia kita!
Merit sebagai kata benda dapat ditafsirkan sebagai kualitas yang mengagumkan; sebagai kata kerja dia berarti layak atau memiliki nilai tertentu. Sistem merit yang diterapkan Singapura dalam rekrutmen SDM adalah pemilihan individual untuk menempati pos jabatan tertentu sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan kepantasan yang dirasa oleh si individu tersebut.
Sehingga, seseorang yang telah bekerja di, misalnya Departemen Pertahanan sejak lulus kuliah, lalu menekuni studi geopolitik serta berbagai keahlian atau pengetahuan lain dan ia mahir serta menguasai apa yang telah ia pelajari, maka dia pantas untuk memperoleh jabatan tertinggi, atau setidaknya penting, di dalam departemen tersebut, dengan fasilitas finansial yang membuatnya nyaman bekerja.
Di Indonesia jaman Orde Baru, sistem merit tidak diterapkan secara menyeluruh. Ada satu dua, tetapi pada umumnya rekrutmen pegawai lebih karena kedekatan seseorang kepada pusat kekuasaan. Istilah yang biasa dipakai adalah patron-client atau hubungan Bapak-anak. Di dalam lembaga kepolisian, ada sistem jendela. Maksudnya, apabila ada seorang polisi yang sering mondar-mandir di luar jendela atasannya, maka ia akan dengan mudah diingat apabila ada promosi jabatan.
Jadi orang-orang yang duduk di jabatan tertentu di dalam pemerintahan saat itu dipilih bukan karena kemampuannya atau karena orang tadi pantas menempati pos itu, melainkan karena tekad dan niat si orang yang ditunjuk untuk patuh dan memperkuat posisi atasannya, baik jabatan ataupun harta bendanya. Gampangnya, selain memberi upeti, seorang bawahan juga harus bersedia pasang badan melindungi atasannya.
Pada jaman itu juga sistem merit juga tidak terjadi di perusahaan swasta nasional. Kekeluargaan, persahabatan, geng adalah mekanisme perekrutan, khususnya untuk posisi-posisi vital dalam usaha tersebut. Ada yang baik, tetapi kebanyakan tidak. Sebab kultur itu ternyata menjalar hingga ke tingkat terendah. Jadi, si pesuruh kantor akan merekrut saudaranya apabila ada lowongan kerja serabutan. Si kepala proyek akan mengajak teman mainnya untuk jadi pelaksana proyek. Dan seterusnya. Walhasil, seluruh perusahaan diurus oleh orang yang kenal satu sama lain di masa sebelumnya.
Akibatnya, pengelolaan perusahaan menjadi tidak sempurna sebab ada ewuh pakewuh, sopan santun, tak enak, dan perasaan personal lainnya. Atau, karena kedekatan ini, pengelolaan perusahaan jadi tidak efisien sebab bila ada penyelewengan, semua bisa diajak bekerja sama.
Dampak lebih lanjut adalah ada orang yang kebagian uang banyak, ada orang yang kebagian sedikit, bahkan ada yang tidak menerima bagian sama sekali. Golongan yang tidak kebagian adalah mereka yang tidak dekat dengan kekuasaan, tidak bersaudara dengan salah satu pejabat yang berkuasa; mereka adalah orang-orang yang terpaksa bekerja keras mencari uang sebanyak-banyanknya dengan cara yang benar. Sebab orang-orang ini tidak memiliki kesempatan melakukan penyelewengan yang menguntungkan dirinya secara finansial. Orang-orang ini bisa jadi lebih mahir dan kompeten dalam pekerjaannya, akan tetapi karena kultur budaya tidak memungkinkan mereka naik pangkat atau memegang jabatan penting, mereka biasanya akan menjadi kacung selama hidupnya. Artinya, dialah sebenarnya yang bekerja, tetapi orang lain yang menikmati hasilnya.
Dapat disimpulkan, apabila sistem merit diberlakukan kepada orang dalam golongan terakhir, maka seharusnya dialah yang memegang jabatan penting dengan gaji yang sepadan dengan kemampuannya itu.
Apakah sekarang sistem merit sudah dapat diterapkan? Belum juga, sebab kultur kedekatan adalah cara yang sudah ada dan dipelihara selama bertahun-tahun oleh berbagai budaya di Indonesia. Sehingga, memerlukan waktu yang teramat lama untuk mengubah pola pikir semacam itu. Bahkan, sejujurnya, pola ini tidak akan pernah lenyap, mengingat bahwa sistem ini ternyata menguntungkan bagi orang yang termasuk di dalamnya. Bagi mereka yang tidak termasuk ke dalam sistem, alih-alih mempromosikan cara baru dalam rekrutmen, mereka justru berusaha masuk ke dalam sistem.
Yang tidak berhasil, jangan iri, kendati sistem itu menyebalkan bukan main. Cara paling tepat adalah membangun pusat kekuasaan sendiri bagaimanapun caranya.
Inilah Indonesia kita!
26 August 2004
Masa Lalu
Banyak pencipta lagu yang terinspirasi oleh masa lalu. Ada lagu yang mengenang masa indah dengan teman karib atau pacar tercinta. Ada juga tentang kemalangan hidup. Biar beda temanya, lagu bersyair masa lalu selalu enak didengar dan dikenang.
Satu hal yang dapat ditarik dari kecenderungan manusia mengingat masa lalu adalah kenyataan bahwa masa lalu dapat dikontrol. Artinya, masa lalu yang dilihat dari masa kini sudah beku, diam dan permanen. Karena sifatnya yang tak bergerak-gerak itulah, masa lalu jadi gampang untuk ditafsir ulang, diambil hikmahnya, diberi nilai yang barangkali berguna bagi dirinya untuk, antara lain, memotivasi dirinya menghadapi masa kini dan masa depan.
Tetapi ada juga yang fatal. Masa lalu dijadikan pegangan hidup. Misalnya, di zaman Orde Baru,militer, khususnya Angkatan Darat, sangat kuat dan mereka dapat menjamin keamanan dan kenyamanan penduduknya. Sayangnya, pada masa itu orang non militer jadi tak punya kesempatan mengaktualisasikan dirinya. Sebab jabatan apapun, khususnya di pemerintahan, adalah jatah militer. Jadinya, orang sipil yang belajar mati-matian dari SD hingga kuliah S-3, akan selalu jadi kacung karena pejabat tertingginya militer, walaupun si militer tadi tak punya keahlian babar-blas. Masak iya, mantan jenderal jadi komisaris bank?
Nah ada banyak orang yang ingin keadaan kita saat ini kembali ke masa lalu itu. Alasannya cukup jelas: lelah menghadapi hidup sekarang yang tak pernah jelas juntrungnya. Para politisi terlalu banyak cakap tapi tak mahir bertindak. Rakyat banyak, yah... jadi korban juga. Sebab itu daripada jadi korban masa sekarang yang jelas-jelas tak enak, lebih baik jadi korban Orde Baru tapi bisa makan dan hidup enak...
Jadi kembali ke masa Orba tak fatal dong? .... kelihatannya enggak juga tuh. Duh... manusia memang selalu rindu pada masa lalu. Manusia memang selalu enggan dan takut menghadapi masa depan. Ini adalah masalah mengetahui dan tidak mengetahui.
Situasi ini seperti pacar lama dan pacar baru saja. Kita tentu sudah tahu siapa dan bagaimana pacar lama kita. Dan karena kita sudah tahu, kita juga tahu hal terbaik yang bisa kita berikan ke pacar lama itu dan apa yang harus direncanakan dan bagaimana mewujudkannya. Sementara dengan pacar baru, yang layaknya hal baru, semuanya harus dicoba. Bila gagal, ya sudah, cari yang baru atau kalau mau sedikit sabar, coba lagi, sampai berhasil. Dan bila sudah berhasil, silakan lah cari pacar baru. Atau bertahan seumur hidup dengan pacar itu.
Hidup, dalam konteks ini, adalah avonturir! Seseorang bertambah pengetahuannya karena rasa ingin tahu, dan seseorang bertambah bijak karena ia ragukan kebenaran yang ada dan menciptakan kebenaran bagi dirinya sendiri.
Jadi tak usah sesali masa lalu!
Banyak pencipta lagu yang terinspirasi oleh masa lalu. Ada lagu yang mengenang masa indah dengan teman karib atau pacar tercinta. Ada juga tentang kemalangan hidup. Biar beda temanya, lagu bersyair masa lalu selalu enak didengar dan dikenang.
Satu hal yang dapat ditarik dari kecenderungan manusia mengingat masa lalu adalah kenyataan bahwa masa lalu dapat dikontrol. Artinya, masa lalu yang dilihat dari masa kini sudah beku, diam dan permanen. Karena sifatnya yang tak bergerak-gerak itulah, masa lalu jadi gampang untuk ditafsir ulang, diambil hikmahnya, diberi nilai yang barangkali berguna bagi dirinya untuk, antara lain, memotivasi dirinya menghadapi masa kini dan masa depan.
Tetapi ada juga yang fatal. Masa lalu dijadikan pegangan hidup. Misalnya, di zaman Orde Baru,militer, khususnya Angkatan Darat, sangat kuat dan mereka dapat menjamin keamanan dan kenyamanan penduduknya. Sayangnya, pada masa itu orang non militer jadi tak punya kesempatan mengaktualisasikan dirinya. Sebab jabatan apapun, khususnya di pemerintahan, adalah jatah militer. Jadinya, orang sipil yang belajar mati-matian dari SD hingga kuliah S-3, akan selalu jadi kacung karena pejabat tertingginya militer, walaupun si militer tadi tak punya keahlian babar-blas. Masak iya, mantan jenderal jadi komisaris bank?
Nah ada banyak orang yang ingin keadaan kita saat ini kembali ke masa lalu itu. Alasannya cukup jelas: lelah menghadapi hidup sekarang yang tak pernah jelas juntrungnya. Para politisi terlalu banyak cakap tapi tak mahir bertindak. Rakyat banyak, yah... jadi korban juga. Sebab itu daripada jadi korban masa sekarang yang jelas-jelas tak enak, lebih baik jadi korban Orde Baru tapi bisa makan dan hidup enak...
Jadi kembali ke masa Orba tak fatal dong? .... kelihatannya enggak juga tuh. Duh... manusia memang selalu rindu pada masa lalu. Manusia memang selalu enggan dan takut menghadapi masa depan. Ini adalah masalah mengetahui dan tidak mengetahui.
Situasi ini seperti pacar lama dan pacar baru saja. Kita tentu sudah tahu siapa dan bagaimana pacar lama kita. Dan karena kita sudah tahu, kita juga tahu hal terbaik yang bisa kita berikan ke pacar lama itu dan apa yang harus direncanakan dan bagaimana mewujudkannya. Sementara dengan pacar baru, yang layaknya hal baru, semuanya harus dicoba. Bila gagal, ya sudah, cari yang baru atau kalau mau sedikit sabar, coba lagi, sampai berhasil. Dan bila sudah berhasil, silakan lah cari pacar baru. Atau bertahan seumur hidup dengan pacar itu.
Hidup, dalam konteks ini, adalah avonturir! Seseorang bertambah pengetahuannya karena rasa ingin tahu, dan seseorang bertambah bijak karena ia ragukan kebenaran yang ada dan menciptakan kebenaran bagi dirinya sendiri.
Jadi tak usah sesali masa lalu!
24 August 2004
Bela Diri
Sewaktu SMP saya ditawari untuk ikut pelajaran bela diri. Dari silat, karate, teakwondo, semuanya saya tolak. Saya pikir waktu itu belum tentu pelajaran itu berguna apabila kita menghadapi, misalnya, tawuran sekolah. Saya bilang kepada teman-teman saya, bila keadaan memaksa seseorang membela diri, tak ada orang yang akan ingat teknik berkelahi yang benar. Pokoknya asal hantam saja.
Alasan lain yang tak saya katakan pada mereka adalah saya takut berkelahi. Buat saya adu fisik itu benar-benar tak masuk akal. Lha wong kita punya mulut dan akal, masak iya tak bisa membuat yang bertentangan jadi rukun. Lain hal juga adalah kenyataan bahwa mereka yang sudah memiliki teknik bela diri, cenderung berkeinginan mempraktekan itu. Lain kata, dia akan cari masalah dengan orang dan sesudahnya dia dapat mempraktekan keahliannya itu.
Dan itu benar. Orang yang punya ilmu bela diri pasti akan lebih petantang-petenteng. Dia akan bergaya sok jago. Memang ada yang dengan bijak bertingkah laku seperti orang biasa, tetapi tindak tanduk itu akan ia tampakkan bila sudah berusia banyak. Bagi mereka yang baru memperoleh ilmu bela diri, dapat dipastikan bahwa orang tadi akan bergaya berlebihan.
Mau bukti. Parto anggota kelompok pembanyol Patrio, baru-baru ini menembakkan pistolnya ke langit-langit Planet Hollywood karena jengkel dikerumuni para wartawan. Ia mengaku bahwa dia baru dua bulan memiliki izin kepemilikan pistol dan karena baru, ia gagah-gagahan. Pasti akan lain kejadiannya jika ia tak punya pistol itu kan?
Sewaktu SMP saya ditawari untuk ikut pelajaran bela diri. Dari silat, karate, teakwondo, semuanya saya tolak. Saya pikir waktu itu belum tentu pelajaran itu berguna apabila kita menghadapi, misalnya, tawuran sekolah. Saya bilang kepada teman-teman saya, bila keadaan memaksa seseorang membela diri, tak ada orang yang akan ingat teknik berkelahi yang benar. Pokoknya asal hantam saja.
Alasan lain yang tak saya katakan pada mereka adalah saya takut berkelahi. Buat saya adu fisik itu benar-benar tak masuk akal. Lha wong kita punya mulut dan akal, masak iya tak bisa membuat yang bertentangan jadi rukun. Lain hal juga adalah kenyataan bahwa mereka yang sudah memiliki teknik bela diri, cenderung berkeinginan mempraktekan itu. Lain kata, dia akan cari masalah dengan orang dan sesudahnya dia dapat mempraktekan keahliannya itu.
Dan itu benar. Orang yang punya ilmu bela diri pasti akan lebih petantang-petenteng. Dia akan bergaya sok jago. Memang ada yang dengan bijak bertingkah laku seperti orang biasa, tetapi tindak tanduk itu akan ia tampakkan bila sudah berusia banyak. Bagi mereka yang baru memperoleh ilmu bela diri, dapat dipastikan bahwa orang tadi akan bergaya berlebihan.
Mau bukti. Parto anggota kelompok pembanyol Patrio, baru-baru ini menembakkan pistolnya ke langit-langit Planet Hollywood karena jengkel dikerumuni para wartawan. Ia mengaku bahwa dia baru dua bulan memiliki izin kepemilikan pistol dan karena baru, ia gagah-gagahan. Pasti akan lain kejadiannya jika ia tak punya pistol itu kan?
20 August 2004
Buruan Cium Gue
Ini judul film bioskop buatan Indonesia. Sudah dirilis, tapi harus ditarik kembali sebab ada adegan ciuman yang tak disensor.
Yang meminta menarik adalah perwakilan Islam, antaranya Majelis Ulama Indonesia dan Aa Gym. Alasannya adegan tersebut dapat mengajak para anak muda melakukan zina. Akhirnya Lembaga Sensor Film yang tadinya meloloskan film itu, harus mengeluarkan surat pembatalan Surat Lulus Sensor. Si pembuat film, Raam Punjabi, berharap film itu dapat dirilis lagi setelah adegan itu disensor.
Seorang artis, Lola Amaria namanya, mempertanyakan kewibawaan LSF yang sudah meloloskan kemudian menarik film itu. Katanya derajat kepornoan sebuah film sangat tergantung pada si penonton film, bukan tergantung LSF. Sayang dia tak berkomentar mengenai peran perwakilan Islam dalam penarikan film itu.
Lepas dari itu, saya lihat semuanya aneh. Saya yakin LSF merujuk pada film-film lain yang beredar di Indonesia, baik legal maupun illegal, film barat atau lokal, yang sudah terbiasa menawarkan adegan ciuman. Sebab itu, adegan cium di Buruan Cium Gue (BCG) kelihatan biasa-biasa saja. Para anggota LSF sudah terlalu sering menyaksikan adegan yang lebih 'serem' dan ciuman BCD cuma ecek-ecek.
MUI, Aa Gym dan perwakilan lain juga aneh. Kenyataan ciuman sudah jadi kegiatan yang biasa-biasa saja dalam pacaran anak muda sekarang, ternyata jarang sekali mereka komentari dengan demonstratif. Mereka hanya menghimbau semua pihak untuk menahan diri mengumbar adegan-adegan itu padahal sinetron TV juga sudah memuat adegan cium.
Yang lebih aneh lagi, mengapa BCG sekarang jadi isu? Apa sudah tak ada kerjaan lain bagi para ulama itu? Saya Islam, tetapi sungguh saya pikir ulama Indonesia adalah sebuah profesi yang seolah-olah masih berfungsi. Kenyataannya tidak. Mengapa?
Ulama itu bukan hanya memberi nasehat, tetapi yang lebih penting adalah memberi contoh dengan tindak tanduk. Sekarang pertanyaannya: adakah para ulama sekarang sudah memberi contoh bertingkah laku sesuai dengan kaidah agama dan konvensi sosial? Menurut saya tidak. Sebab, makin banyak umat yang hingga kini seperti anak ayam kehilangan induknya. Bagi umat, dari pada mencontek tingkah laku para ulama yang tidak konsisten, lebih baik mencontoh apa yang diajarkan oleh media massa: TV, koran, majalah, radio dan tabloid.
Menurut saya, peran para pemuka agama dalam kasus BCG sepertinya hanya ingin menegaskan mereka masih ada. Setelah peristiwa ini mereka akan diam. Jika masyarakat sudah mulai lupa, mereka akan cari peristiwa yang dapat mereka komentari.
Dengan menulis ini bukannya saya tidak setuju dengan pendapat para pemuka agama itu. Sebaliknya, saya setuju bahwa adegan-adegan tersebut harus dibatasi dalam ruang-ruang tertentu untuk kalangan terbatas. Sebab jika dibiarkan terlalu terbuka, maka semua orang akan berlomba mengumbar hawa nafsunya.
Hanya saja, kenapa koq para ulama tidak pernah berani berkata yang benar itu benar dan yang salah itu salah secara terus menerus dan konsisten. Sungguh amat memilukan....
Semoga keadaan ini cepat berubah!
Ini judul film bioskop buatan Indonesia. Sudah dirilis, tapi harus ditarik kembali sebab ada adegan ciuman yang tak disensor.
Yang meminta menarik adalah perwakilan Islam, antaranya Majelis Ulama Indonesia dan Aa Gym. Alasannya adegan tersebut dapat mengajak para anak muda melakukan zina. Akhirnya Lembaga Sensor Film yang tadinya meloloskan film itu, harus mengeluarkan surat pembatalan Surat Lulus Sensor. Si pembuat film, Raam Punjabi, berharap film itu dapat dirilis lagi setelah adegan itu disensor.
Seorang artis, Lola Amaria namanya, mempertanyakan kewibawaan LSF yang sudah meloloskan kemudian menarik film itu. Katanya derajat kepornoan sebuah film sangat tergantung pada si penonton film, bukan tergantung LSF. Sayang dia tak berkomentar mengenai peran perwakilan Islam dalam penarikan film itu.
Lepas dari itu, saya lihat semuanya aneh. Saya yakin LSF merujuk pada film-film lain yang beredar di Indonesia, baik legal maupun illegal, film barat atau lokal, yang sudah terbiasa menawarkan adegan ciuman. Sebab itu, adegan cium di Buruan Cium Gue (BCG) kelihatan biasa-biasa saja. Para anggota LSF sudah terlalu sering menyaksikan adegan yang lebih 'serem' dan ciuman BCD cuma ecek-ecek.
MUI, Aa Gym dan perwakilan lain juga aneh. Kenyataan ciuman sudah jadi kegiatan yang biasa-biasa saja dalam pacaran anak muda sekarang, ternyata jarang sekali mereka komentari dengan demonstratif. Mereka hanya menghimbau semua pihak untuk menahan diri mengumbar adegan-adegan itu padahal sinetron TV juga sudah memuat adegan cium.
Yang lebih aneh lagi, mengapa BCG sekarang jadi isu? Apa sudah tak ada kerjaan lain bagi para ulama itu? Saya Islam, tetapi sungguh saya pikir ulama Indonesia adalah sebuah profesi yang seolah-olah masih berfungsi. Kenyataannya tidak. Mengapa?
Ulama itu bukan hanya memberi nasehat, tetapi yang lebih penting adalah memberi contoh dengan tindak tanduk. Sekarang pertanyaannya: adakah para ulama sekarang sudah memberi contoh bertingkah laku sesuai dengan kaidah agama dan konvensi sosial? Menurut saya tidak. Sebab, makin banyak umat yang hingga kini seperti anak ayam kehilangan induknya. Bagi umat, dari pada mencontek tingkah laku para ulama yang tidak konsisten, lebih baik mencontoh apa yang diajarkan oleh media massa: TV, koran, majalah, radio dan tabloid.
Menurut saya, peran para pemuka agama dalam kasus BCG sepertinya hanya ingin menegaskan mereka masih ada. Setelah peristiwa ini mereka akan diam. Jika masyarakat sudah mulai lupa, mereka akan cari peristiwa yang dapat mereka komentari.
Dengan menulis ini bukannya saya tidak setuju dengan pendapat para pemuka agama itu. Sebaliknya, saya setuju bahwa adegan-adegan tersebut harus dibatasi dalam ruang-ruang tertentu untuk kalangan terbatas. Sebab jika dibiarkan terlalu terbuka, maka semua orang akan berlomba mengumbar hawa nafsunya.
Hanya saja, kenapa koq para ulama tidak pernah berani berkata yang benar itu benar dan yang salah itu salah secara terus menerus dan konsisten. Sungguh amat memilukan....
Semoga keadaan ini cepat berubah!
12 August 2004
Anagram
Adalah keahlian untuk mengotak-atik huruf-huruf dalam satu kata atau kalimat sehingga menghasilkan satu kata atau kalimat baru. Misalnya, kata kasur dapat diolah menjadi rusak. Anagram jadi salah satu kunci yang membuat novel Da Vince Code jadi menarik.
Anagram sendiri katanya datang dari Yunani jaman dulu. Kata anagram sendiri asalnya dari kata Ars Magna, bahasa latin untuk Great Art. Keahlian ini kemudian turun temurun di Eropa, khususnya Spanyol dan Perancis, sebagai sebuah cara menyampaikan informasi rahasia.
Yang ingin saya tekan di sini adalah penggunaan anagram untuk mengenali keadaan kita. Dulu para mahasiswa di tahun 98-an, mengusung Reformasi. Menurut saya, secara praktis reformasi mirip dengan anagram. Maksudnya begini, reformasi terdiri dari kata re dan formasi. Re gampangnya adalah 'lagi', formasi adalah penataan. Reformasi jadi menata lagi. Apa yang ditata? Ya, yang saat itu ada.
Zaman itu ada Golkar, tentara, KKN, rakyat tertindas, DPR impoten. Apabila di reformasi, ya tetap jadi begitu. Mau bukti, ya lihat saja keadaan saat ini. Kesemuanya masih ada. Memang ada tambahan, tetapi tak memberi efek, tuh...
Nah, apabila teknik anagram diterapkan ke keadaan sekeliling kita, sepertinya anagram akan menemui kegagalannya yang pertama. Saat ini ada Megawati, Akbar Tanjung, SBY, Gus Dur, Amin Rais, Islam, Kristen, infiltrasi Asing, Angkatan Darat, Korupsi, Perusakan Alam, Harga BBM, Sembako, Mahal, Kaya, Miskin, dstnya. Nah apabila keseluruhannya disusun jadi satu kata, maka hanya ada satu makna yang tercipta, yakni Payah! Apabila diotak-atik gatuk, a-ha, ternyata orang Jawa juga punya keqhlian beranagram lewat otak-atik-gatuk itu ya...., tetap saja akan menghasilkan makna Payah.
Akhirnya, memang tak ada yang dapat diharapkan dari apa yang kita miliki saat ini.
Payah!!!!
Adalah keahlian untuk mengotak-atik huruf-huruf dalam satu kata atau kalimat sehingga menghasilkan satu kata atau kalimat baru. Misalnya, kata kasur dapat diolah menjadi rusak. Anagram jadi salah satu kunci yang membuat novel Da Vince Code jadi menarik.
Anagram sendiri katanya datang dari Yunani jaman dulu. Kata anagram sendiri asalnya dari kata Ars Magna, bahasa latin untuk Great Art. Keahlian ini kemudian turun temurun di Eropa, khususnya Spanyol dan Perancis, sebagai sebuah cara menyampaikan informasi rahasia.
Yang ingin saya tekan di sini adalah penggunaan anagram untuk mengenali keadaan kita. Dulu para mahasiswa di tahun 98-an, mengusung Reformasi. Menurut saya, secara praktis reformasi mirip dengan anagram. Maksudnya begini, reformasi terdiri dari kata re dan formasi. Re gampangnya adalah 'lagi', formasi adalah penataan. Reformasi jadi menata lagi. Apa yang ditata? Ya, yang saat itu ada.
Zaman itu ada Golkar, tentara, KKN, rakyat tertindas, DPR impoten. Apabila di reformasi, ya tetap jadi begitu. Mau bukti, ya lihat saja keadaan saat ini. Kesemuanya masih ada. Memang ada tambahan, tetapi tak memberi efek, tuh...
Nah, apabila teknik anagram diterapkan ke keadaan sekeliling kita, sepertinya anagram akan menemui kegagalannya yang pertama. Saat ini ada Megawati, Akbar Tanjung, SBY, Gus Dur, Amin Rais, Islam, Kristen, infiltrasi Asing, Angkatan Darat, Korupsi, Perusakan Alam, Harga BBM, Sembako, Mahal, Kaya, Miskin, dstnya. Nah apabila keseluruhannya disusun jadi satu kata, maka hanya ada satu makna yang tercipta, yakni Payah! Apabila diotak-atik gatuk, a-ha, ternyata orang Jawa juga punya keqhlian beranagram lewat otak-atik-gatuk itu ya...., tetap saja akan menghasilkan makna Payah.
Akhirnya, memang tak ada yang dapat diharapkan dari apa yang kita miliki saat ini.
Payah!!!!
04 August 2004
Sumatra Barat
Setiap kali saya menyebut propinsi ini saya langsung teringat pada kejeniusan orang-orang sebagaimana dikisahkan dalam pertandingan adu kerbau melawan orang Jawa. Juga selalu mengidentikan dengan tokoh-tokoh cerdik pandai yang berjuang di masa penjajahan Belanda. Apabila didaftar, mungkin Sumatra Barat memiliki orang-orang berpengaruh paling banyak di jajaran petinggi negara.
Sumatra Barat juga adalah identik dengan agama Islam. Mereka adalah salah satu pemangku ajaran Islam paling ketat dan cerdas. Segala urusan sosial diberi nilai keislaman. Tapi itu dulu....
Sekarang, anggota DPRD Sumatra Barat dan Kota Padang adalah tersangka penggelapan uang negara. Ini adalah bukti bawah orang Sumatra Barat sekarang (mohon maaf bagi orang yang berentnis Sumatra Barat) tidak secerdas nenek moyang mereka, dan juga tak setaat para pemuka agama mereka. Mereka telah mengabaikan pentingnya belajar dan bermanfaatnya taat beragama.
Kasus terakhir adalah pengusiran penghuni panti Dhuafa. Ceritanya adalah ada sekelompok orang yang merelakan diri mengasush para anak orang miskin. Ketika bertambang banyak, mereka meminta izin untuk menggunakan sebuah bangunan milik pemerintah provinsi setempat untuk digunakan sebagai tempat tinggal dan belajar. Pemprov mengizinkan asalkan apabila pemprov memerlukan bangunan tersebut, maka pengasuh panti Dhuafa itu harus mengembalikannya.
Beberapa waktu lalu pemprov memerlukan gedung itu, entah untuk keperluan apa, dan meminta pengasuh panti mengosongkan panti itu. Sampai waktu yang ditentukan, pengasuh tak dapat mencari tempat lain sehingga memaksa para penghuni panti tetap tinggal di gedung tadi. Mengetahui ini, pemprov mengirim Satuan Polisi Pamong Praja mengosongkan gedung. Caranya, ya.... agak tidak beradab lah... Bahkan mereka terlibat lempar batu dengan para siswa yang tak bisa masuk gedung untuk bersekolah. Ini adalah ironi...... apalagi terjadi di Sumatra Barat saat ini.
Secara hukum, pemprov benar dan pengasuh panti salah. Secara adat, pemprov yang salah. Sayangnya adat yang mengatur hal ini sepertinya tak berjalan lagi, atau, semoga saja, belum berjalan lagi. Yang terjadi adalah keanehan. Sesuatu yang kontradiktif dengan sejarah Sumatra Barat yang cendekia dan beragama Islam dengan baik.
Sebenarnya, yang benar itu yang mana sih....... saya bingung!
Setiap kali saya menyebut propinsi ini saya langsung teringat pada kejeniusan orang-orang sebagaimana dikisahkan dalam pertandingan adu kerbau melawan orang Jawa. Juga selalu mengidentikan dengan tokoh-tokoh cerdik pandai yang berjuang di masa penjajahan Belanda. Apabila didaftar, mungkin Sumatra Barat memiliki orang-orang berpengaruh paling banyak di jajaran petinggi negara.
Sumatra Barat juga adalah identik dengan agama Islam. Mereka adalah salah satu pemangku ajaran Islam paling ketat dan cerdas. Segala urusan sosial diberi nilai keislaman. Tapi itu dulu....
Sekarang, anggota DPRD Sumatra Barat dan Kota Padang adalah tersangka penggelapan uang negara. Ini adalah bukti bawah orang Sumatra Barat sekarang (mohon maaf bagi orang yang berentnis Sumatra Barat) tidak secerdas nenek moyang mereka, dan juga tak setaat para pemuka agama mereka. Mereka telah mengabaikan pentingnya belajar dan bermanfaatnya taat beragama.
Kasus terakhir adalah pengusiran penghuni panti Dhuafa. Ceritanya adalah ada sekelompok orang yang merelakan diri mengasush para anak orang miskin. Ketika bertambang banyak, mereka meminta izin untuk menggunakan sebuah bangunan milik pemerintah provinsi setempat untuk digunakan sebagai tempat tinggal dan belajar. Pemprov mengizinkan asalkan apabila pemprov memerlukan bangunan tersebut, maka pengasuh panti Dhuafa itu harus mengembalikannya.
Beberapa waktu lalu pemprov memerlukan gedung itu, entah untuk keperluan apa, dan meminta pengasuh panti mengosongkan panti itu. Sampai waktu yang ditentukan, pengasuh tak dapat mencari tempat lain sehingga memaksa para penghuni panti tetap tinggal di gedung tadi. Mengetahui ini, pemprov mengirim Satuan Polisi Pamong Praja mengosongkan gedung. Caranya, ya.... agak tidak beradab lah... Bahkan mereka terlibat lempar batu dengan para siswa yang tak bisa masuk gedung untuk bersekolah. Ini adalah ironi...... apalagi terjadi di Sumatra Barat saat ini.
Secara hukum, pemprov benar dan pengasuh panti salah. Secara adat, pemprov yang salah. Sayangnya adat yang mengatur hal ini sepertinya tak berjalan lagi, atau, semoga saja, belum berjalan lagi. Yang terjadi adalah keanehan. Sesuatu yang kontradiktif dengan sejarah Sumatra Barat yang cendekia dan beragama Islam dengan baik.
Sebenarnya, yang benar itu yang mana sih....... saya bingung!
23 July 2004
Mata
Gunanya untuk melihat. Apa yang dilihat? Apa saja yang ada di sekeliling si empunya mata. Terutama yang menarik perhatiannya. Sewaktu bayi, mata cenderung melihat hal-hal cerah, misalnya warna merah atau kuning yang terang. Seiring waktu, anak berusia sedikit ini akan melihat bentuk-bentuk, terutama yang menimbulkan bunyi. Mainan berwarna gembira akan menjadi perhatiannya.
Setelah mulai bicara dia akan belajar mengenali lingkup sekelilingnya. Dari manusia lain selain orang tuanya, alam buatan dan asli, dan seterusnya. Saat melihat, mereka bertanya, "Apa ini, apa itu?". Orang tuanya atau orang yang dekat dengannya setiap hari akan memberi penjelasan, atau lebih tepatnya adalah pemberian makna atau nilai pada satu yang dilihat itu. Misalnya, ada satpam kompleks, yang akan diberi makna penjaga, yang tidak tidur bahkan saat hari sudah malam. Ada penjual roti, tukang koran, potong rumput, tukang sayur, dst. dll. Sementara nilai, layaknya pendidikan etika, adalah tentang benar, keliru, kurang tepat, tidak baik, terpuji, baik, atau masuk surga. Masih banyak lainnya.
Seluruh informasi ini dia simpan, yang ia akan gunakan ketika ia melihat hal baru lainnya. Dia akan menterjemahkannya sendiri, memberi nilai. Apabila menurutnya baik, ia akan simpan, apabila buruk, ia juga akan simpan juga. Penggunaannya ya... tergantung waktunya saja.
Seluruh informasi ini kemudian akan membentuknya menjadi manusia yang seperti apa. Maksudnya, ia akan memiliki preferensi tertentu terhadap hal-hal tertentu juga. Apakah dia akan jadi orang yang senang olah raga dan menghabiskan banyak waktunya bersenam dan menonton acara bugar sehat di tv. Ataukah dia senang musik, atau mendaki gunung, atau membaca, atau apa saja. Di akhir proses belajar ini, si anak kecil ini akan memiliki seperangkat pengetahuan mengenai apa yang disukainya, apa yang ingin dia lakukan. Pada saat yang sama, ia juga tahu apa yang ia hindari dan apa yang tidak akan pernah dia lakukan. Dia lain kata, sudah menjadi orang dewasa, menjadi manusia yang bermoral - terlepas dari nilai moral apa yang dia anut. Yang penting, ia sudah sadar bahwa hidup ini ada nilai-nilai yang harus ia patuhi.
Dari sinilah kemudia, dia akan selektif memperkerjakan seluruh indranya. Matanya akan memilih apa yang ingin dia lihat. Telinganya akan memilih apa yang akan dia dengar. Mulutnya memilih kata-kata yang pantas untuk ia ucapkan. Hidungya akan berkembang kempis jika mencium aroma yang ia senangi dan sebaliknya. Kulitnya akan sensitif pada lingkungan; apabila nyaman dia akan senanng, apabila dia benci, dia akan mengumpat. Singkatnya, dia telah memiliki sejumlah standar mengenai apa yang dia sukai. Pada saat yang sama, ia juga punya daftar yang ia benci. Sebab itu, tak mengherankan apabila seseorang tak melihat apa yang dilihat orang lain, dan seterusnya. Sebab apa yang orang lain sukai, belum tentu kita sukai.
Dari sini, tak usah bertanya-tanya tentang standar yang dimiliki orang lain. Jika kejaksaan agung kita melepas orang-orang yang telah memanfaatkan bantuan negara saat bank-banknya kolaps, atau bos kita ternyata terlalu sayang pada orang lain tetapi pada saat yang sama begitu membenci kita. Itu tak penting. Juga tak perlu sok kritis mempertanyakan mengapa kasus-kasus kecurangan pemilu kemarin yang begitu banyak tetapi yang diangkat bersama-sama oleh media adalah yang terjadi di Al-Zaytun. Juga tak perlu khawatir saat peristiwa penembakan seorang pendeta wanita di Sulawesi tengah menjadi kasus nasional.
Semua orang punya kepentingan sendiri-sendiri yang belum tentu sesuai dengan kepentingan kita. Perlukah kita bertengkar atau berkelahi supaya kita menang? Tak perlu, sebab jadinya akan seperti Israel atau Amerika Serikat yang akhirnya repot sendiri menangani problemn yang mereka buat bertahun lalu....
Itulah karma....
Setelah mulai bicara dia akan belajar mengenali lingkup sekelilingnya. Dari manusia lain selain orang tuanya, alam buatan dan asli, dan seterusnya. Saat melihat, mereka bertanya, "Apa ini, apa itu?". Orang tuanya atau orang yang dekat dengannya setiap hari akan memberi penjelasan, atau lebih tepatnya adalah pemberian makna atau nilai pada satu yang dilihat itu. Misalnya, ada satpam kompleks, yang akan diberi makna penjaga, yang tidak tidur bahkan saat hari sudah malam. Ada penjual roti, tukang koran, potong rumput, tukang sayur, dst. dll. Sementara nilai, layaknya pendidikan etika, adalah tentang benar, keliru, kurang tepat, tidak baik, terpuji, baik, atau masuk surga. Masih banyak lainnya.
Seluruh informasi ini dia simpan, yang ia akan gunakan ketika ia melihat hal baru lainnya. Dia akan menterjemahkannya sendiri, memberi nilai. Apabila menurutnya baik, ia akan simpan, apabila buruk, ia juga akan simpan juga. Penggunaannya ya... tergantung waktunya saja.
Seluruh informasi ini kemudian akan membentuknya menjadi manusia yang seperti apa. Maksudnya, ia akan memiliki preferensi tertentu terhadap hal-hal tertentu juga. Apakah dia akan jadi orang yang senang olah raga dan menghabiskan banyak waktunya bersenam dan menonton acara bugar sehat di tv. Ataukah dia senang musik, atau mendaki gunung, atau membaca, atau apa saja. Di akhir proses belajar ini, si anak kecil ini akan memiliki seperangkat pengetahuan mengenai apa yang disukainya, apa yang ingin dia lakukan. Pada saat yang sama, ia juga tahu apa yang ia hindari dan apa yang tidak akan pernah dia lakukan. Dia lain kata, sudah menjadi orang dewasa, menjadi manusia yang bermoral - terlepas dari nilai moral apa yang dia anut. Yang penting, ia sudah sadar bahwa hidup ini ada nilai-nilai yang harus ia patuhi.
Dari sinilah kemudia, dia akan selektif memperkerjakan seluruh indranya. Matanya akan memilih apa yang ingin dia lihat. Telinganya akan memilih apa yang akan dia dengar. Mulutnya memilih kata-kata yang pantas untuk ia ucapkan. Hidungya akan berkembang kempis jika mencium aroma yang ia senangi dan sebaliknya. Kulitnya akan sensitif pada lingkungan; apabila nyaman dia akan senanng, apabila dia benci, dia akan mengumpat. Singkatnya, dia telah memiliki sejumlah standar mengenai apa yang dia sukai. Pada saat yang sama, ia juga punya daftar yang ia benci. Sebab itu, tak mengherankan apabila seseorang tak melihat apa yang dilihat orang lain, dan seterusnya. Sebab apa yang orang lain sukai, belum tentu kita sukai.
Dari sini, tak usah bertanya-tanya tentang standar yang dimiliki orang lain. Jika kejaksaan agung kita melepas orang-orang yang telah memanfaatkan bantuan negara saat bank-banknya kolaps, atau bos kita ternyata terlalu sayang pada orang lain tetapi pada saat yang sama begitu membenci kita. Itu tak penting. Juga tak perlu sok kritis mempertanyakan mengapa kasus-kasus kecurangan pemilu kemarin yang begitu banyak tetapi yang diangkat bersama-sama oleh media adalah yang terjadi di Al-Zaytun. Juga tak perlu khawatir saat peristiwa penembakan seorang pendeta wanita di Sulawesi tengah menjadi kasus nasional.
Semua orang punya kepentingan sendiri-sendiri yang belum tentu sesuai dengan kepentingan kita. Perlukah kita bertengkar atau berkelahi supaya kita menang? Tak perlu, sebab jadinya akan seperti Israel atau Amerika Serikat yang akhirnya repot sendiri menangani problemn yang mereka buat bertahun lalu....
Itulah karma....
20 July 2004
Menghormati Rasa Sakit
Hormat adalah tindakan mulia. Juga pengakuan terhadap posisi yang lebih rendah, lebih lemah, lebih terjajah. Hormat adalah kepatuhan terhadap yang lebih tinggi, kuat, dan penjajah. Dengan lebih tepat, hormat adalah tunduk pada etika, kebiasaan, kenormalan sopan santun dalam hidup bersama. Misalnya, secara etis kita hormat pada yang lebih tua: orang tua kita sendiri, paman, penjual sayur tua, tetangga tua kita. Mengapa begitu? Sebab, orang-orang sebelum kita melakukannya. Ini adalah kebiasaan. Dan supaya kita disebut orang normal, ya... ikuti saja norma-norma itu.
Apalagi jika orang tua yang harus kita hormati ternyata sakit. Misalnya, mantan presiden Soeharto. Dia sudah tua, sakit pula. Jadi hormat kepada dia harus dua kali lipat banyaknya. Sebab, sakit adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun juga. Orang sakit adalah orang yang menderita sebab dia tidak dapat melakukan apa yang bisa dikerjakan oleh orang yang sehat. Orang lain harusnya merasa kasihan. Sakit adalah kondisi lemah manusia yang mampu menguasai orang lain untuk hormat. Orang lain dipaksa bertoleransi dan tentu saja, menghormati keadaannya yang tidak biasa dan normal.
Kita juga dipaksa maklum apabila orang yang sedang sakit bertindak tidak etis, tidak biasa dan tidak normal. Misalnya, Nurdin Halid tiba-tiba sakit ketika diperiksa jadi tersangka dalam kasus penyelundupan gula. Semua orang harus maklum dia tidak pada kondisi normal untuk menjalani proses yang bisa dijalani oleh orang sehat dan normal.
Adat istiadat semacam itu telah membuat sakit jadi alasan untuk melarikan diri dari kenormalan hidup bermasyarakat. Ada yang menjadikan sakit sebagai alasan untuk tidak masuk sekolah, berangkat kerja atau kondangan. Sakit jadi senjata ampuh karena orang kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Bahkan orang yang mendengar sakit akan mendoakan cepat sembuh. Sakit adalah keadaan yang super istimewa.
Kapan orang sakit? Menurut ilmu medis, orang bisa sakit jika kondisi tidak fit atau lingkungan sekitarnya tidak sehat. Flu adalah penyakit umum yang kebanyakan disebabkan oleh kondisi tubuh. Sementara penyakit menular lebih banyak disebabkan oleh lingkungan. Menggunakan konteks ini, penjara adalah lingkungan yang dapat menularkan penyakit. Dimulai dari Soeharto hingga terakhir Nurdin Halid. Memang penjara bukan tempat yang nyaman untuk hidup, banyak penghuninya yang sakit. Bahkan karena ketidaksehatannya, orang yang ketahuan akan masuk penjara saja bisa sakit, seperti Soeharto dan Nurdin Halid.
Jadi..... anda mungkin tahu terusannya, sebab saya tiba-tiba kehilangan kata-kata.
Hormat adalah tindakan mulia. Juga pengakuan terhadap posisi yang lebih rendah, lebih lemah, lebih terjajah. Hormat adalah kepatuhan terhadap yang lebih tinggi, kuat, dan penjajah. Dengan lebih tepat, hormat adalah tunduk pada etika, kebiasaan, kenormalan sopan santun dalam hidup bersama. Misalnya, secara etis kita hormat pada yang lebih tua: orang tua kita sendiri, paman, penjual sayur tua, tetangga tua kita. Mengapa begitu? Sebab, orang-orang sebelum kita melakukannya. Ini adalah kebiasaan. Dan supaya kita disebut orang normal, ya... ikuti saja norma-norma itu.
Apalagi jika orang tua yang harus kita hormati ternyata sakit. Misalnya, mantan presiden Soeharto. Dia sudah tua, sakit pula. Jadi hormat kepada dia harus dua kali lipat banyaknya. Sebab, sakit adalah keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun juga. Orang sakit adalah orang yang menderita sebab dia tidak dapat melakukan apa yang bisa dikerjakan oleh orang yang sehat. Orang lain harusnya merasa kasihan. Sakit adalah kondisi lemah manusia yang mampu menguasai orang lain untuk hormat. Orang lain dipaksa bertoleransi dan tentu saja, menghormati keadaannya yang tidak biasa dan normal.
Kita juga dipaksa maklum apabila orang yang sedang sakit bertindak tidak etis, tidak biasa dan tidak normal. Misalnya, Nurdin Halid tiba-tiba sakit ketika diperiksa jadi tersangka dalam kasus penyelundupan gula. Semua orang harus maklum dia tidak pada kondisi normal untuk menjalani proses yang bisa dijalani oleh orang sehat dan normal.
Adat istiadat semacam itu telah membuat sakit jadi alasan untuk melarikan diri dari kenormalan hidup bermasyarakat. Ada yang menjadikan sakit sebagai alasan untuk tidak masuk sekolah, berangkat kerja atau kondangan. Sakit jadi senjata ampuh karena orang kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Bahkan orang yang mendengar sakit akan mendoakan cepat sembuh. Sakit adalah keadaan yang super istimewa.
Kapan orang sakit? Menurut ilmu medis, orang bisa sakit jika kondisi tidak fit atau lingkungan sekitarnya tidak sehat. Flu adalah penyakit umum yang kebanyakan disebabkan oleh kondisi tubuh. Sementara penyakit menular lebih banyak disebabkan oleh lingkungan. Menggunakan konteks ini, penjara adalah lingkungan yang dapat menularkan penyakit. Dimulai dari Soeharto hingga terakhir Nurdin Halid. Memang penjara bukan tempat yang nyaman untuk hidup, banyak penghuninya yang sakit. Bahkan karena ketidaksehatannya, orang yang ketahuan akan masuk penjara saja bisa sakit, seperti Soeharto dan Nurdin Halid.
Jadi..... anda mungkin tahu terusannya, sebab saya tiba-tiba kehilangan kata-kata.
13 July 2004
Normalisasi
Michel Foucault, seorang pemikir Perancis, pernah menguraikan beberapa cara untuk secara sengaja tidak mengenali satu pengetahuan. Saya tidak ingat semuanya. Yang saya ingat adalah tabu. Maksudnya, ada pengetahuan yang memang tidak boleh diperbincangkan dalam ruang publik. Pengetahuan itu hanya boleh jadi bahan pembicaraan di ruang tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengatakannya.
Misalnya. Seks. Dulu, topik ini membuat orang yang membicarakan dan mendengarnya dibicarakan secara terbuka menjadi tersipu malu atau malah jengah. Topik ini hanya boleh dibincangkan oleh orang tua saja di kamar, misalnya. Kendati sekarang kebiasaan itu telah bergeser, namun seks masih ditabukan oleh sebagian besar dari 200 juta lebih penduduk Indonesia. Alasan terpenting adalah penggunaan seks yang tak bertanggung jawab, seperti seks di luar nikah, seks bebas, pemerkosaan, pembunuhan terhadap janin tak berdosa.
Seks dapat kembali jadi tabu apabila dilembagakan pelarangannya. Dengan kata lain, keadaan sekarang harus dinormalisasi oleh kekuasaan yang disebarluaskan melalui lembaga-lembaga. Misalnya DPR melarang seks pra nikah. Lalu pemerintah menerapkan larangan itu ke dalam peraturan-peraturan. Misalnya hukuman mati bagi aparat bea cukai yang meloloskan materi seks dari luar negeri, penyelundup, penduplikasi, distributor dan pengecer. Pemerintah juga akan menghukum mati aparat polisi, jaksa dan hakim yang membiarkan para pelaku bebas. Pemerintah menutup lokasi-lokasi yang biasa dijadikan tempat terjadinya seks, seperti hotel atau Ancol. Pemerintah melalui badan sensor melakukan penyeleksian terhadap acara-acara tv, termasuk iklan-iklan dan isi media massa lain. Buku-buku yang tidak senonoh juga harus diberangus. Dan seterusnya.
Selain ini, pemerintah harus menyediakan penyaluran terhadap gairah seks yang tertutup ini. Misalnya dengan membuka lapangan olah raga sebanyak-benyaknya. Entah itu lapangan bulu tangkis, voli, sepak bola. Pemerintah juga memberikan imbalan yang sangat besar bagi mereka yang sukses di bidang olah raga tadi. Sarana olah raga yang masih mungkin diadakan, harus dilaksanakan. Misalnya, lomba sepeda gunung ekstrim yang pesertanya bisa saja mati. Dan seterusnya… Taktik ini dapat disebut sebagai pengalih-perhatian.
Yang penting dari itu adalah waktu. Untuk menormalisasikan penyelewengan perlu durasi waktu yang sangat panjang. Di antara rentang waktu itu harus ada contoh. Jadi dalam dua tahun pertama, mungkin ada 10 pejabat bea cukai yang dihukum mati. Ada 20 polisi, jaksa dan hakim yang dipecat tidak hormat. Ada 50 orang atlit bulu tangkis yang diberi bea siswa seumur hidup. Ada 100 pemain sepakbola Indonesia yang dibiayai untuk berlatih di klub-klub Italia, Inggris, Jerman dan Belanda. Dengan contoh dan kesabaran, normalisasi dapat diwujudkan.
Cara ini dapat juga dipakai untuk memberantas korupsi atau ketidaknormalan lainnya di negara kita, itu kalau ada yang mencoba!
Michel Foucault, seorang pemikir Perancis, pernah menguraikan beberapa cara untuk secara sengaja tidak mengenali satu pengetahuan. Saya tidak ingat semuanya. Yang saya ingat adalah tabu. Maksudnya, ada pengetahuan yang memang tidak boleh diperbincangkan dalam ruang publik. Pengetahuan itu hanya boleh jadi bahan pembicaraan di ruang tertutup dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengatakannya.
Misalnya. Seks. Dulu, topik ini membuat orang yang membicarakan dan mendengarnya dibicarakan secara terbuka menjadi tersipu malu atau malah jengah. Topik ini hanya boleh dibincangkan oleh orang tua saja di kamar, misalnya. Kendati sekarang kebiasaan itu telah bergeser, namun seks masih ditabukan oleh sebagian besar dari 200 juta lebih penduduk Indonesia. Alasan terpenting adalah penggunaan seks yang tak bertanggung jawab, seperti seks di luar nikah, seks bebas, pemerkosaan, pembunuhan terhadap janin tak berdosa.
Seks dapat kembali jadi tabu apabila dilembagakan pelarangannya. Dengan kata lain, keadaan sekarang harus dinormalisasi oleh kekuasaan yang disebarluaskan melalui lembaga-lembaga. Misalnya DPR melarang seks pra nikah. Lalu pemerintah menerapkan larangan itu ke dalam peraturan-peraturan. Misalnya hukuman mati bagi aparat bea cukai yang meloloskan materi seks dari luar negeri, penyelundup, penduplikasi, distributor dan pengecer. Pemerintah juga akan menghukum mati aparat polisi, jaksa dan hakim yang membiarkan para pelaku bebas. Pemerintah menutup lokasi-lokasi yang biasa dijadikan tempat terjadinya seks, seperti hotel atau Ancol. Pemerintah melalui badan sensor melakukan penyeleksian terhadap acara-acara tv, termasuk iklan-iklan dan isi media massa lain. Buku-buku yang tidak senonoh juga harus diberangus. Dan seterusnya.
Selain ini, pemerintah harus menyediakan penyaluran terhadap gairah seks yang tertutup ini. Misalnya dengan membuka lapangan olah raga sebanyak-benyaknya. Entah itu lapangan bulu tangkis, voli, sepak bola. Pemerintah juga memberikan imbalan yang sangat besar bagi mereka yang sukses di bidang olah raga tadi. Sarana olah raga yang masih mungkin diadakan, harus dilaksanakan. Misalnya, lomba sepeda gunung ekstrim yang pesertanya bisa saja mati. Dan seterusnya… Taktik ini dapat disebut sebagai pengalih-perhatian.
Yang penting dari itu adalah waktu. Untuk menormalisasikan penyelewengan perlu durasi waktu yang sangat panjang. Di antara rentang waktu itu harus ada contoh. Jadi dalam dua tahun pertama, mungkin ada 10 pejabat bea cukai yang dihukum mati. Ada 20 polisi, jaksa dan hakim yang dipecat tidak hormat. Ada 50 orang atlit bulu tangkis yang diberi bea siswa seumur hidup. Ada 100 pemain sepakbola Indonesia yang dibiayai untuk berlatih di klub-klub Italia, Inggris, Jerman dan Belanda. Dengan contoh dan kesabaran, normalisasi dapat diwujudkan.
Cara ini dapat juga dipakai untuk memberantas korupsi atau ketidaknormalan lainnya di negara kita, itu kalau ada yang mencoba!
12 July 2004
Adil
Putus asa. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kegagalan kita mengharapkan keadilan sesuai perundangan dijalankan dengan sejujurnya oleh aparatur pengegak keadilan: polisi, jaksa dan hakim.
Entah alasan apa yang pantas untuk menjustifikasi keberadaan mereka saat ini di antara masyarakat. Ketiga fungsi penertiban sosial tadi tak ubahnya seperti pedagang saja. Mereka memiliki jasa yang diperjualbelikan layaknya pedagang sayur di pasar saja. Ada tarif untuk berbagai jenis jasa. Harganya sangat tergantung pada tingkat kerumitan problem yang dihadapi pembeli.
Secara teoritis, apabila ada sekelompok orang banyak berkumpul di satu tempat tentu memerlukan aturan main yang adil dan memaksa. Sebab kalau tidak, pasti ada sekelompok orang yang akan terus menerus menang dan sebaliknya, ada anggota masyarakat yang selalu jadi korban. Jadi orang kaya dan berkuasa tidak diperkenankan menguasai seluruh sumber makanan dan minuman. Maksudnya supaya orang lain memiliki akses mengelola sumber itu.
Untuk menjaga aturan itu, maka sebuah masyarakat memerlukan polisi yang bertugas menjaga peraturan tidak dilanggar, memberi informasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai peraturan yang berlaku dan menangkap orang yang nekad melanggar. Agar tidak dikira sewenang-wenang, maka masyarakat memerlukan jaksa yang bertugas menuntu ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang. Demi keadilan, maka diperlukan seorang hakim yang harus melihat seluruh fakta yang terjadi, dari pihak kepolisian dan kejaksaan serta dari pihak yang dikenai dakwaan. Lalu hakimlah yang menentukan apa yang akan terjadi berikutnya.
Praktisnya, ya tidak ada yang begitu. Polisi dapat tidak menangkap seseorang apabila ada uang. Apabila fakta-fakta lapangan tidak memungkinkan seseorang mau tidak mau harus ditangkap, maka dia dapat mempengaruhi jaksa untuk membuat tuntutan yang biasa-biasa saja, yang dengan mudah dipatahkan oleh tim penasihat hukum terdakwa. Ini dapat terjadi apabila ada uang. Apabila masih berlanjut ke pengadilan, maka si terdakwa masih dapat berharap dari hakim. Barangkali saja uang akan membebaskannya. Ini fakta yang ada sekarang ini. Jika dianologikan, trio polisi-jaksa-hakim adalah pemain dalam kubangan yang sama.
Dalam konteks semacam inilah pernyataan Jaksa Agung MA Rachman jadi aneh. Dia bilang di Tempo interaktif, 12 Juli 2004, mengharapkan penggantinya berasal dari jaksa karir. Adakah itu berarti jaksa dengan karir menerima uang dari berbagai tingkatan? Jika ini terjadi, ya, kacau balau. Bukan berarti tak ada jaksa jujur saat ini, tapi ya itu tadi, itu kubangan. Masak iya membersihkan badan dari air kubangan. Kotor juga kan hasilnya?
Menurut saya, dari tiga rantai polisi-jaksa-hakim, harus ada perbaikan di dua rantai terakhir: jaksa dan hakim. Kalau polisi, sudahlah... pasrah saja kita. Caranya bagaimana? Pecat dengan mendadak seluruh jaksa dan hakim secara serentak. Sebelum mengumumkan pemecatan, mintalah anggota masyarakat untuk mengisolasi gedung kejaksaan dan pengadilan. Umumkan pemecatan pada malam hari, sehingga para jaksa dan hakim tak sempat membakar berkas-berkasnya.
Setelah itu, seleksi ulang dari para mantan pegawai kejaksaan dan kehakiman, mulai dari tukang sapu hingga ke pimpinan. Ini perlu sebab seluruh jajaran kedua lembaga tadi memang berpartisipasi dalam pembengkokan undang-undang. Mereka yang terpilih diminta langsung bekerja untuk menganalisis kasus-kasus yang ada. Lalu mereka diminta memberlakukan perundangan dengan setegas-tegasnya. Tentu saja mereka harus digaji besar karena resiko dan kerja mereka memang berat.
Tetapi untuk menjalankan itu, perlu orang yang nekad dan berani mati. Adakah orang semacam itu di Indonesia? Ada, hanya saja mereka bukan pemimpin. Orang seperti itu banyak di negara kita ini dan biasanya mereka hanya jadi peserta kuis-kuis adu berani dan adu malu atau adu nekad di tv-tv?
Sayang sekali.......
Putus asa. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kegagalan kita mengharapkan keadilan sesuai perundangan dijalankan dengan sejujurnya oleh aparatur pengegak keadilan: polisi, jaksa dan hakim.
Entah alasan apa yang pantas untuk menjustifikasi keberadaan mereka saat ini di antara masyarakat. Ketiga fungsi penertiban sosial tadi tak ubahnya seperti pedagang saja. Mereka memiliki jasa yang diperjualbelikan layaknya pedagang sayur di pasar saja. Ada tarif untuk berbagai jenis jasa. Harganya sangat tergantung pada tingkat kerumitan problem yang dihadapi pembeli.
Secara teoritis, apabila ada sekelompok orang banyak berkumpul di satu tempat tentu memerlukan aturan main yang adil dan memaksa. Sebab kalau tidak, pasti ada sekelompok orang yang akan terus menerus menang dan sebaliknya, ada anggota masyarakat yang selalu jadi korban. Jadi orang kaya dan berkuasa tidak diperkenankan menguasai seluruh sumber makanan dan minuman. Maksudnya supaya orang lain memiliki akses mengelola sumber itu.
Untuk menjaga aturan itu, maka sebuah masyarakat memerlukan polisi yang bertugas menjaga peraturan tidak dilanggar, memberi informasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai peraturan yang berlaku dan menangkap orang yang nekad melanggar. Agar tidak dikira sewenang-wenang, maka masyarakat memerlukan jaksa yang bertugas menuntu ganti rugi atas pelanggaran yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang. Demi keadilan, maka diperlukan seorang hakim yang harus melihat seluruh fakta yang terjadi, dari pihak kepolisian dan kejaksaan serta dari pihak yang dikenai dakwaan. Lalu hakimlah yang menentukan apa yang akan terjadi berikutnya.
Praktisnya, ya tidak ada yang begitu. Polisi dapat tidak menangkap seseorang apabila ada uang. Apabila fakta-fakta lapangan tidak memungkinkan seseorang mau tidak mau harus ditangkap, maka dia dapat mempengaruhi jaksa untuk membuat tuntutan yang biasa-biasa saja, yang dengan mudah dipatahkan oleh tim penasihat hukum terdakwa. Ini dapat terjadi apabila ada uang. Apabila masih berlanjut ke pengadilan, maka si terdakwa masih dapat berharap dari hakim. Barangkali saja uang akan membebaskannya. Ini fakta yang ada sekarang ini. Jika dianologikan, trio polisi-jaksa-hakim adalah pemain dalam kubangan yang sama.
Dalam konteks semacam inilah pernyataan Jaksa Agung MA Rachman jadi aneh. Dia bilang di Tempo interaktif, 12 Juli 2004, mengharapkan penggantinya berasal dari jaksa karir. Adakah itu berarti jaksa dengan karir menerima uang dari berbagai tingkatan? Jika ini terjadi, ya, kacau balau. Bukan berarti tak ada jaksa jujur saat ini, tapi ya itu tadi, itu kubangan. Masak iya membersihkan badan dari air kubangan. Kotor juga kan hasilnya?
Menurut saya, dari tiga rantai polisi-jaksa-hakim, harus ada perbaikan di dua rantai terakhir: jaksa dan hakim. Kalau polisi, sudahlah... pasrah saja kita. Caranya bagaimana? Pecat dengan mendadak seluruh jaksa dan hakim secara serentak. Sebelum mengumumkan pemecatan, mintalah anggota masyarakat untuk mengisolasi gedung kejaksaan dan pengadilan. Umumkan pemecatan pada malam hari, sehingga para jaksa dan hakim tak sempat membakar berkas-berkasnya.
Setelah itu, seleksi ulang dari para mantan pegawai kejaksaan dan kehakiman, mulai dari tukang sapu hingga ke pimpinan. Ini perlu sebab seluruh jajaran kedua lembaga tadi memang berpartisipasi dalam pembengkokan undang-undang. Mereka yang terpilih diminta langsung bekerja untuk menganalisis kasus-kasus yang ada. Lalu mereka diminta memberlakukan perundangan dengan setegas-tegasnya. Tentu saja mereka harus digaji besar karena resiko dan kerja mereka memang berat.
Tetapi untuk menjalankan itu, perlu orang yang nekad dan berani mati. Adakah orang semacam itu di Indonesia? Ada, hanya saja mereka bukan pemimpin. Orang seperti itu banyak di negara kita ini dan biasanya mereka hanya jadi peserta kuis-kuis adu berani dan adu malu atau adu nekad di tv-tv?
Sayang sekali.......
09 July 2004
Suara Mahasiswa versus Suara Rakyat
Ada masanya ketika mahasiswa dipuja oleh rakyat. Pertama, mungkin, ketika tahun 1966 lampau. Saat itu mahasiswa, entah itu murni atau ditunggangi ABRI, menyerukan penentangan terhadap Bung Karno, sang presiden, dan juga pembubaran Partai Komunis Indonesia, menyusul tragedi pembunuhan terhadap beberapa jendral Angkatan Darat.
Kedua, adalah Mei 1998. Ketika para mahasiwa mulai rajin dan berani mengekspresikan penentangan terhadap Soeharto, presiden juga. Setelah beberapa kematian dan serangkaian demonstrasi, yang juga entah murni atau ditunggangi pihak lain, Soeharto mundur. Mahasiswa generasi 90-an ini memang menuntut Golkar supaya bubar, tetapi pola ini lebih mahir ditangani oleh para elit Golkar, yang dulunya adalah aktivis mahasiswa tahun 66.
Dalam kedua episode itu, rakyat bergembira ria dan mendukung perbuatan mahasiwa. Mereka lega karena sepertinya mereka bisa bebas dari kekuatan Orde Baru dan militer. Mereka setuju saja ketika mahasiswa menuntut agar pemerintahan berikutnya didominasi sipil yang berpihak kepada rakyat.
Kisah selanjutnya tahu sendiri kan? Ada pemilu 99 yang menghasilkan ketidakpastian dan tersebarnya KKN ke seluruh lapisan masyarakat. Ironisnya, justru KKN-lah isu terpenting yang memotivasi mahasiswa berjuang. Dalam istilah: jauh panggang dari api.
Menghidupi enam tahun terakhir dengan kekacaun, rakyat lelah, jenuh dan tak percaya lagi kepada janji-janji dari siapapun juga. Entah itu mahasiswa, entah itu tokoh politik pro-reformasi, atau orang-orang yang dianggap jujur oleh media massa. Rakyat ternyata lebih peduli ketenangan.
Ini wajar saja. Manusia pada dasarnya tercipta untuk menjalani rutinitas. Sebab dengan memilikinya, ada pola yang baku, pasti dan dapat diduga. Biarpun ada masanya ketika seseorang memberontak mencari identitas diri, pada akhirnya dia merindukan rutinitas. Mungkin inilah yang sekarang dinanti-nanti oleh kebanyakan rakyat. Sebuah rutinitas yang dulu pernah diberikan oleh Orde Baru. Oleh sebuah rezim yang kuat. Tak peduli mereka kejam dan korupsi, selama mereka masih mampu memberi makan dan hiburan kepada rakyat.
Dan siapa yang kira-kira dapat mewujudkan itu? Di benak rakyat, tentu saja orang yang dulu pernah ada, setidaknya kenal, dengan kekuasaan Orde Baru. Siapa orangnya? Ya, militer, atau setidaknya bekas militer. Mau bukti, ya lihat saja hasil pemilu sekarang.
Padahal di sisi lain, mahasiswa ataupun aktivis pro-demokrasi, pro-reformasi dan pro-pro yang lain, berkampanye untuk tidak memilih militer dan partai bekas Orde Baru. Rupanya usaha meraka kali ini tak seiring dengan kemauan rakyat. Mahasiswa telah gagal menyerap aspirasi rakyat. Mahasiswa sudah terlalu politis dengan memiliki agenda perjuangan sendiri. Mahasiswa sudah seperti para politisi yang dulu mereka perangi.Walhasil, mahasiwa ditinggalkan rakyat. Para martir mahasiswa jadi percuma.
Mengherankan? Tidak juga! Watak orang Indonesia memang begini. Pada awalnya ada sekelompok orang yang berjuang bersama menghadapi satu kekuatan tertentu demi tujuan bersama. Tetapi setelah lama berjuang, tujuan mereka tak tercapai juga. Dan pada saat itu, ketika ada tawaran yang menarik kepada para pejuang ini untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar, mereka lupa kelompok. Mereka jadi senang dengan diri sendiri. Tak ada setia kawan, tepo seliro dan semangat Pancasila. Semua adalah tentang bagaimana seorang individu hidup enak. Orang lain, peduli setan!
Kebiasaan ini belum hilang. Jadi, tak usah kaget bila ada yang aneh-aneh dalam kehidupan politik kita di masa datang.
Siap-siap ya..
Ada masanya ketika mahasiswa dipuja oleh rakyat. Pertama, mungkin, ketika tahun 1966 lampau. Saat itu mahasiswa, entah itu murni atau ditunggangi ABRI, menyerukan penentangan terhadap Bung Karno, sang presiden, dan juga pembubaran Partai Komunis Indonesia, menyusul tragedi pembunuhan terhadap beberapa jendral Angkatan Darat.
Kedua, adalah Mei 1998. Ketika para mahasiwa mulai rajin dan berani mengekspresikan penentangan terhadap Soeharto, presiden juga. Setelah beberapa kematian dan serangkaian demonstrasi, yang juga entah murni atau ditunggangi pihak lain, Soeharto mundur. Mahasiswa generasi 90-an ini memang menuntut Golkar supaya bubar, tetapi pola ini lebih mahir ditangani oleh para elit Golkar, yang dulunya adalah aktivis mahasiswa tahun 66.
Dalam kedua episode itu, rakyat bergembira ria dan mendukung perbuatan mahasiwa. Mereka lega karena sepertinya mereka bisa bebas dari kekuatan Orde Baru dan militer. Mereka setuju saja ketika mahasiswa menuntut agar pemerintahan berikutnya didominasi sipil yang berpihak kepada rakyat.
Kisah selanjutnya tahu sendiri kan? Ada pemilu 99 yang menghasilkan ketidakpastian dan tersebarnya KKN ke seluruh lapisan masyarakat. Ironisnya, justru KKN-lah isu terpenting yang memotivasi mahasiswa berjuang. Dalam istilah: jauh panggang dari api.
Menghidupi enam tahun terakhir dengan kekacaun, rakyat lelah, jenuh dan tak percaya lagi kepada janji-janji dari siapapun juga. Entah itu mahasiswa, entah itu tokoh politik pro-reformasi, atau orang-orang yang dianggap jujur oleh media massa. Rakyat ternyata lebih peduli ketenangan.
Ini wajar saja. Manusia pada dasarnya tercipta untuk menjalani rutinitas. Sebab dengan memilikinya, ada pola yang baku, pasti dan dapat diduga. Biarpun ada masanya ketika seseorang memberontak mencari identitas diri, pada akhirnya dia merindukan rutinitas. Mungkin inilah yang sekarang dinanti-nanti oleh kebanyakan rakyat. Sebuah rutinitas yang dulu pernah diberikan oleh Orde Baru. Oleh sebuah rezim yang kuat. Tak peduli mereka kejam dan korupsi, selama mereka masih mampu memberi makan dan hiburan kepada rakyat.
Dan siapa yang kira-kira dapat mewujudkan itu? Di benak rakyat, tentu saja orang yang dulu pernah ada, setidaknya kenal, dengan kekuasaan Orde Baru. Siapa orangnya? Ya, militer, atau setidaknya bekas militer. Mau bukti, ya lihat saja hasil pemilu sekarang.
Padahal di sisi lain, mahasiswa ataupun aktivis pro-demokrasi, pro-reformasi dan pro-pro yang lain, berkampanye untuk tidak memilih militer dan partai bekas Orde Baru. Rupanya usaha meraka kali ini tak seiring dengan kemauan rakyat. Mahasiswa telah gagal menyerap aspirasi rakyat. Mahasiswa sudah terlalu politis dengan memiliki agenda perjuangan sendiri. Mahasiswa sudah seperti para politisi yang dulu mereka perangi.Walhasil, mahasiwa ditinggalkan rakyat. Para martir mahasiswa jadi percuma.
Mengherankan? Tidak juga! Watak orang Indonesia memang begini. Pada awalnya ada sekelompok orang yang berjuang bersama menghadapi satu kekuatan tertentu demi tujuan bersama. Tetapi setelah lama berjuang, tujuan mereka tak tercapai juga. Dan pada saat itu, ketika ada tawaran yang menarik kepada para pejuang ini untuk memperoleh kekuasaan yang lebih besar, mereka lupa kelompok. Mereka jadi senang dengan diri sendiri. Tak ada setia kawan, tepo seliro dan semangat Pancasila. Semua adalah tentang bagaimana seorang individu hidup enak. Orang lain, peduli setan!
Kebiasaan ini belum hilang. Jadi, tak usah kaget bila ada yang aneh-aneh dalam kehidupan politik kita di masa datang.
Siap-siap ya..
06 July 2004
SBY dan Budaya Popular
Budaya popular adalah jalinan antara ekspresi kebanyakan rakyat dan kekuatan media massa. Misalnya Inul Daratista. Awalnya dia penyanyi kelas kampung yang ditanggap di acara nikahan atau sunatan. Dia terkenal di kalangan ini. Lalu ada pebisnis yang punya penciuman bisnis jenius, merekam goyangnya dalam VCD dan mengedarkannya. CD ini kemudian menyebar kemana-mana. Salah satunya ke petinggi stasiun TV di Jakarta yang kemudian memintanya tampil, dan lalu Blar!... Inul menggoyang Indonesia.
Ada sentuhan industri media dalam produksi budaya popular. Tanpa ada media, khususnya televisi, ekspresi rakyat kebanyakan akan terhalang oleh batas geografis. Televisi dengan kekuatannya membombardir khalayak penonton dengan tontonan yang itu-itu juga, mau tidak mau, tontonan itu melekat di benak penonton walaupun si khalayak membenci tontonan itu. Misalnya, kasus iklan moncong putih PDI Perjuangan dalam masa kampanye pemilu legislatif lalu, banyak sekali orang yang tiba-tiba kreatif memlesetkan moncong putih dengan montok putih, dll.
Budaya popular yang lain adalah Akademi Fantasi Indonesiar. Ini adalah tontonan yang sangat spektakuler, di mana para penontonnya hadir tanpa dipaksa dan dipastikan tetap terhibur meski ia sudah keluar dari lokasi pertunjukkan. Dengan bantuan media massa lain, majalah, koran, tabloid, AFI jadi fenomena budaya popular lain di Indonesia.
Ciri budaya popular adalah penyeragaman selera. Masyarakat dipandang homogen. Tak peduli jenis kelamin, usia, kelas sosial, tingkat pendidikan dan aliansi politik, media massa menawarkan jualan yang sama persis. Artinya barang dagangan itu harus distandardisasikan hingga level terendah. Lain kata, budaya popular adalah tidak cerdas dan sepele. Yang penting, asik.
Di politik juga begitu. Saya pernah menyelidiki bahwa politik bisa dikomodifikasi jadi budaya popular asalkan ada isu atau tokoh yang diposisikan sebagai oposisi penguasa saat itu. Dulu, saya mendapati bahwa tabloid Detik memuat topik-topik berita yang tak lazim di zaman Orde Baru. Ia mewawancarai tokoh-tokoh yang jelas-jelas dimusuhi Soeharto, seperti mantan perdana menteri Soebandrio. Hasilnya, Detik mampu menjual edisinya hingga ratusan ribu lembar, mengalahkan harian Kompas dan majalah Tempo.
Di zaman sekarang, SBY adalah budaya popular. Ia dengan pandai menempatkan diri sebagai korban. Ia adalah menteri yang diasingkan oleh Megawati cs. Dan partai yang ia bela, mendulang suara banyak. Selama masa kampanye calon presiden, SBY adalah orang yang paling sering membantah isu-isu negatif mengenai diri dan partainya. Ia dengan bijak meminta orang-orang tidak melakukan kampanye negatif melawan dirinya. Ini adalah usaha yang cerdik untuk memelihara statusnya sebagai "korban". Hasilnya, untuk sementara waktu dia memperoleh prosentase suara yang paling tinggi. Kata berbagai polling dan prakiraan pengamat politik, SBY dipastikan lolos ke putara kedua pilpres bulan September nanti.
Tetapi, layaknya budaya popular yang datang dengan cepat, menggemparkan, lalu hilang tanpa ada yang tahu, SBY pun akan begitu. Prediksi ini memang sangat spekulatif. Tetapi dengan kenyataan bahwa SBY terkenal bukan karena dukungan massa tradisional, seperti NU atau PDI Perjuangan, atau dukungan organisasi besar seperti Golkar, maka prediksi ini jadi salah satu kemungkinan meramal nasib SBY nantinya.
Menggunakan analogi, SBY adalah seperti buah mangga yang belum matang, dipetik, lalu dieramkan di tumpukan jerami supaya masak lebih cepat. Rasanya, memang enak, tetapi jika terlalu lama di eraman, ia busuk dengan cepat juga. Jadi, menurut saya, sebenarnya SBY perlu waktu lagi sebelum pantas menjadi dia yang sekarang ini.
Untungnya dia berpasangan dengan Jusuf Kalla, seseorang yang saya tahu sangat berani dan memegang kata-katanya. Jusuf Kalla layaknya La Ma'dukelleng, pejuang dari Sulawesi yang memerangi Belanda dengan sangat gagah berani. Semoga JK dapat menjadi seperti pahlawan yang belum diakui negara itu dan menjadi pasangan penyeimbang bagi SBY yang belum masak itu.
Budaya popular adalah jalinan antara ekspresi kebanyakan rakyat dan kekuatan media massa. Misalnya Inul Daratista. Awalnya dia penyanyi kelas kampung yang ditanggap di acara nikahan atau sunatan. Dia terkenal di kalangan ini. Lalu ada pebisnis yang punya penciuman bisnis jenius, merekam goyangnya dalam VCD dan mengedarkannya. CD ini kemudian menyebar kemana-mana. Salah satunya ke petinggi stasiun TV di Jakarta yang kemudian memintanya tampil, dan lalu Blar!... Inul menggoyang Indonesia.
Ada sentuhan industri media dalam produksi budaya popular. Tanpa ada media, khususnya televisi, ekspresi rakyat kebanyakan akan terhalang oleh batas geografis. Televisi dengan kekuatannya membombardir khalayak penonton dengan tontonan yang itu-itu juga, mau tidak mau, tontonan itu melekat di benak penonton walaupun si khalayak membenci tontonan itu. Misalnya, kasus iklan moncong putih PDI Perjuangan dalam masa kampanye pemilu legislatif lalu, banyak sekali orang yang tiba-tiba kreatif memlesetkan moncong putih dengan montok putih, dll.
Budaya popular yang lain adalah Akademi Fantasi Indonesiar. Ini adalah tontonan yang sangat spektakuler, di mana para penontonnya hadir tanpa dipaksa dan dipastikan tetap terhibur meski ia sudah keluar dari lokasi pertunjukkan. Dengan bantuan media massa lain, majalah, koran, tabloid, AFI jadi fenomena budaya popular lain di Indonesia.
Ciri budaya popular adalah penyeragaman selera. Masyarakat dipandang homogen. Tak peduli jenis kelamin, usia, kelas sosial, tingkat pendidikan dan aliansi politik, media massa menawarkan jualan yang sama persis. Artinya barang dagangan itu harus distandardisasikan hingga level terendah. Lain kata, budaya popular adalah tidak cerdas dan sepele. Yang penting, asik.
Di politik juga begitu. Saya pernah menyelidiki bahwa politik bisa dikomodifikasi jadi budaya popular asalkan ada isu atau tokoh yang diposisikan sebagai oposisi penguasa saat itu. Dulu, saya mendapati bahwa tabloid Detik memuat topik-topik berita yang tak lazim di zaman Orde Baru. Ia mewawancarai tokoh-tokoh yang jelas-jelas dimusuhi Soeharto, seperti mantan perdana menteri Soebandrio. Hasilnya, Detik mampu menjual edisinya hingga ratusan ribu lembar, mengalahkan harian Kompas dan majalah Tempo.
Di zaman sekarang, SBY adalah budaya popular. Ia dengan pandai menempatkan diri sebagai korban. Ia adalah menteri yang diasingkan oleh Megawati cs. Dan partai yang ia bela, mendulang suara banyak. Selama masa kampanye calon presiden, SBY adalah orang yang paling sering membantah isu-isu negatif mengenai diri dan partainya. Ia dengan bijak meminta orang-orang tidak melakukan kampanye negatif melawan dirinya. Ini adalah usaha yang cerdik untuk memelihara statusnya sebagai "korban". Hasilnya, untuk sementara waktu dia memperoleh prosentase suara yang paling tinggi. Kata berbagai polling dan prakiraan pengamat politik, SBY dipastikan lolos ke putara kedua pilpres bulan September nanti.
Tetapi, layaknya budaya popular yang datang dengan cepat, menggemparkan, lalu hilang tanpa ada yang tahu, SBY pun akan begitu. Prediksi ini memang sangat spekulatif. Tetapi dengan kenyataan bahwa SBY terkenal bukan karena dukungan massa tradisional, seperti NU atau PDI Perjuangan, atau dukungan organisasi besar seperti Golkar, maka prediksi ini jadi salah satu kemungkinan meramal nasib SBY nantinya.
Menggunakan analogi, SBY adalah seperti buah mangga yang belum matang, dipetik, lalu dieramkan di tumpukan jerami supaya masak lebih cepat. Rasanya, memang enak, tetapi jika terlalu lama di eraman, ia busuk dengan cepat juga. Jadi, menurut saya, sebenarnya SBY perlu waktu lagi sebelum pantas menjadi dia yang sekarang ini.
Untungnya dia berpasangan dengan Jusuf Kalla, seseorang yang saya tahu sangat berani dan memegang kata-katanya. Jusuf Kalla layaknya La Ma'dukelleng, pejuang dari Sulawesi yang memerangi Belanda dengan sangat gagah berani. Semoga JK dapat menjadi seperti pahlawan yang belum diakui negara itu dan menjadi pasangan penyeimbang bagi SBY yang belum masak itu.
30 June 2004
Gengsi Manusia Unggul
Nietszche (entah ejaaan ini benar apa tidak) berkata seharusnya tujuan hidup setiap insan adalah menjadi overman. Ada yang menterjemahkannya jadi superman. Ada yang lain, saya tak ingat. Yang dia maksud dengan overman adalah ada di jiwanya, rohnya, spirit-nya, manusia yang memiliki the will to power; kehendak untuk kuasa. Kehendak ini bukan berarti seseorang harus menguasai orang lain. Kehendak di sini lebih pantas dipadankan dengan nafsu berkuasa. Dengan memiliki ini seseorang selalu menuntut dirinya untuk menjadi yang terbaik. Cara yang dipakai akhirnya adalah kerja keras. Apabila ada halangan di depannya, misalnya orang atau bahkan konsep, seperti tercermin dalam kebenaran agama atau adat istiadat, dia harus mengatasinya. Apapun resikonya, termasuk menghancurkan persepsi yang sudah tertanam di dalam benaknya. Ini pengertian saya, karena sejujurnya, saya tak yakin saya mengerti seluruh tulisan Nietszche ini; saya pikir saya mengerti sepotong-sepotong saja. Jadi, ya.. harap maklum.
Hanya saja, konsep overman Nietszche memang gampang sekali diartikan sebagai dorongan manusia untuk menguasai orang lain, apapun caranya. Karena dengan memiliki kuasa atas orang lain, orang jadi punya hak untuk menentukan mana yang sah dan mana yang tidak, orang jadi terpandang, dihormati sesama dan memiliki kemungkinan untuk menjadi kaya raya.
Ini yang terjadi di Indonesia. Seiring dengan kekuasaan yang mereka miliki, banyak anggota legislatif yang kerasukan nafsu menjadi kaya. Mau bukti? Baca saja koran....
Persoalan yang perlu ditengok mungkin pada motif mengapa orang cenderung begitu. Menurut saya, kultur Jawa menyumbang gagasan dominan terhadap perilaku ini. Di Jawa, orang yang memiliki kekuasaan HARUS kaya. Jika tidak kaya, maka dia harus cari, bagaimanapun caranya.
Contoh mutahir adalah PP No 37/2006. Peraturan ini akan semakin memperkaya para anggota DPR/D dan memiskinkan rakyat. Lucunya, setelah "agak" sedikit ada keramaian, semua pejabat jadi bingung: siapa sih yang ngeluarin peraturan ini, tak ada yang mengaku dengan jantan. Parpol juga bersuara: ada yang setuju ada yang menolak. Padahal ini kan cuma pura-pura saja. Hare genee siapa yang nolak duit, apalagi politisi!
Dan suara-suara orang protes menjadi kebrisikan biasa saja, yang bakal capai sendiri atau akan diam bila disumpal mulutnya. Di lain pihak, media massa sepertinya tak bernafsu untuk mengangkat isu dengan lebih kontinyu, entah karena alasan malas atau memang ada berita lain yang lebih menarik, misalnya pertengkaran SBY dengan gerombolan pensiuanan TNI AD, yang tidak pernah kehabisan akal dalam merengkuh kekuasaan, bukan untuk menjadi seorang overman, tetapi yaitu tadi: gengsi doang!
Dan sekali lagi, rakyat adalah pihak yang kalah.
Nietszche (entah ejaaan ini benar apa tidak) berkata seharusnya tujuan hidup setiap insan adalah menjadi overman. Ada yang menterjemahkannya jadi superman. Ada yang lain, saya tak ingat. Yang dia maksud dengan overman adalah ada di jiwanya, rohnya, spirit-nya, manusia yang memiliki the will to power; kehendak untuk kuasa. Kehendak ini bukan berarti seseorang harus menguasai orang lain. Kehendak di sini lebih pantas dipadankan dengan nafsu berkuasa. Dengan memiliki ini seseorang selalu menuntut dirinya untuk menjadi yang terbaik. Cara yang dipakai akhirnya adalah kerja keras. Apabila ada halangan di depannya, misalnya orang atau bahkan konsep, seperti tercermin dalam kebenaran agama atau adat istiadat, dia harus mengatasinya. Apapun resikonya, termasuk menghancurkan persepsi yang sudah tertanam di dalam benaknya. Ini pengertian saya, karena sejujurnya, saya tak yakin saya mengerti seluruh tulisan Nietszche ini; saya pikir saya mengerti sepotong-sepotong saja. Jadi, ya.. harap maklum.
Hanya saja, konsep overman Nietszche memang gampang sekali diartikan sebagai dorongan manusia untuk menguasai orang lain, apapun caranya. Karena dengan memiliki kuasa atas orang lain, orang jadi punya hak untuk menentukan mana yang sah dan mana yang tidak, orang jadi terpandang, dihormati sesama dan memiliki kemungkinan untuk menjadi kaya raya.
Ini yang terjadi di Indonesia. Seiring dengan kekuasaan yang mereka miliki, banyak anggota legislatif yang kerasukan nafsu menjadi kaya. Mau bukti? Baca saja koran....
Persoalan yang perlu ditengok mungkin pada motif mengapa orang cenderung begitu. Menurut saya, kultur Jawa menyumbang gagasan dominan terhadap perilaku ini. Di Jawa, orang yang memiliki kekuasaan HARUS kaya. Jika tidak kaya, maka dia harus cari, bagaimanapun caranya.
Contoh mutahir adalah PP No 37/2006. Peraturan ini akan semakin memperkaya para anggota DPR/D dan memiskinkan rakyat. Lucunya, setelah "agak" sedikit ada keramaian, semua pejabat jadi bingung: siapa sih yang ngeluarin peraturan ini, tak ada yang mengaku dengan jantan. Parpol juga bersuara: ada yang setuju ada yang menolak. Padahal ini kan cuma pura-pura saja. Hare genee siapa yang nolak duit, apalagi politisi!
Dan suara-suara orang protes menjadi kebrisikan biasa saja, yang bakal capai sendiri atau akan diam bila disumpal mulutnya. Di lain pihak, media massa sepertinya tak bernafsu untuk mengangkat isu dengan lebih kontinyu, entah karena alasan malas atau memang ada berita lain yang lebih menarik, misalnya pertengkaran SBY dengan gerombolan pensiuanan TNI AD, yang tidak pernah kehabisan akal dalam merengkuh kekuasaan, bukan untuk menjadi seorang overman, tetapi yaitu tadi: gengsi doang!
Dan sekali lagi, rakyat adalah pihak yang kalah.
29 June 2004
Orang Pintar Dan Korupsi
Cawapres PDIP, Hasyim Muzadi, mengatakan kekayaan negara banyak di korupsi orang pintar (Bisnis Indonesia, 29 Juni 2004). Lengkapnya adalah sebagai berikut: Banyak orang pintar di Indonesia namun pekerjaannya tidak benar karena tidak berakhlaq dan tak beriman, sehingga kekayaan negara banyak dikorupsi. Para orang pintar itu bekerja-sama sehingga korupsi tak bisa diberantas.
Hasyim Muzadi bukan orang pertama yang bilang begitu. Saya mendengar kesimpulan serupa pertama kali dari para transmigran di Kalimantan. Masyarakat pedesaan terpencil di Jawa juga bilang begitu. Jadi, ungkapannya bukan hal baru.
Namum bukan itu yang menarik perhatian. Pernyataan itu akan menarik jika dikaitkan dengan standardisasi nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) anak-anak SMP dan SMU. Kisahnya dimulai ketika Depdiknas menetapkan nilai minimum untuk lulus adalah 3.01 kendati para ahli pendidik mengingatkan untuk menetapkan angka yang lebih rendah. Walhasil, para peserta UAN mayoritas hanya bisa menjawab 12 hingga 16 soal dari 40 dan 50. Artinya, nilai rata-rata yang diperoleh kebanyakan peserta UAN adalah 2,01. Akibatnya, lebih dari 70% siswa-siswa itu tak lulus ujian.
Untuk mengatasi ini Depdiknas mengeluarkan aturan standardisasi itu. Maksudnya mereka yang mempunyai nilai rendah, dikatrol sedemikian rupa sehingga mencapai ambang minimal standar kelulusan. Sebaliknya, mereka yang nilainya tinggi diturunkan sedemikan rupa sehingga kelihatan pantas. Artinya, mereka yang memperoleh nilai "cukup" harus turun menjadi "kurang", dan mereka yang bernilai "baik" harus turun menjadi "cukup". Ini semacam subsidi silang bagi mereka yang bernilai "tak lulus" menjadi "kurang".
Banyak yang protes. Khususnya siswa-siswi yang belajar mati-matian untuk lulus. Karena standardisasi ini membuat usaha mereka sia-sia. Sementara di lain pihak, mereka yang tak bekerja keras, malah dikasih bonus. "Sungguh tidak adil!" mereka menjerit.
Adakah ini usaha untuk mendemokratisasi kebodohan? Tujuan, bukan lain, untuk mencegah peyebaran korupsi. Logikanya, karena begitu bodohnya orang Indonesia, sampai tidak bisa berpikir untuk korupsi. Ini mungkin efek lain dari pernyataan Hasyim Muzadi tadi.
Jadi pemberantasan korupsi salah satunya adalah dengan membodohi masyarakat kebanyakan sehingga korupsi tak nampak jadi budaya. Biar korupsi dilakukan oleh orang-orang pintar saja, toh jumlah mereka sedikit, sehingga kelihatannya korupsi hasil dari "oknum" anggota masyarakat.
Negara kita memang benar-benar ajaib!
Cawapres PDIP, Hasyim Muzadi, mengatakan kekayaan negara banyak di korupsi orang pintar (Bisnis Indonesia, 29 Juni 2004). Lengkapnya adalah sebagai berikut: Banyak orang pintar di Indonesia namun pekerjaannya tidak benar karena tidak berakhlaq dan tak beriman, sehingga kekayaan negara banyak dikorupsi. Para orang pintar itu bekerja-sama sehingga korupsi tak bisa diberantas.
Hasyim Muzadi bukan orang pertama yang bilang begitu. Saya mendengar kesimpulan serupa pertama kali dari para transmigran di Kalimantan. Masyarakat pedesaan terpencil di Jawa juga bilang begitu. Jadi, ungkapannya bukan hal baru.
Namum bukan itu yang menarik perhatian. Pernyataan itu akan menarik jika dikaitkan dengan standardisasi nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) anak-anak SMP dan SMU. Kisahnya dimulai ketika Depdiknas menetapkan nilai minimum untuk lulus adalah 3.01 kendati para ahli pendidik mengingatkan untuk menetapkan angka yang lebih rendah. Walhasil, para peserta UAN mayoritas hanya bisa menjawab 12 hingga 16 soal dari 40 dan 50. Artinya, nilai rata-rata yang diperoleh kebanyakan peserta UAN adalah 2,01. Akibatnya, lebih dari 70% siswa-siswa itu tak lulus ujian.
Untuk mengatasi ini Depdiknas mengeluarkan aturan standardisasi itu. Maksudnya mereka yang mempunyai nilai rendah, dikatrol sedemikian rupa sehingga mencapai ambang minimal standar kelulusan. Sebaliknya, mereka yang nilainya tinggi diturunkan sedemikan rupa sehingga kelihatan pantas. Artinya, mereka yang memperoleh nilai "cukup" harus turun menjadi "kurang", dan mereka yang bernilai "baik" harus turun menjadi "cukup". Ini semacam subsidi silang bagi mereka yang bernilai "tak lulus" menjadi "kurang".
Banyak yang protes. Khususnya siswa-siswi yang belajar mati-matian untuk lulus. Karena standardisasi ini membuat usaha mereka sia-sia. Sementara di lain pihak, mereka yang tak bekerja keras, malah dikasih bonus. "Sungguh tidak adil!" mereka menjerit.
Adakah ini usaha untuk mendemokratisasi kebodohan? Tujuan, bukan lain, untuk mencegah peyebaran korupsi. Logikanya, karena begitu bodohnya orang Indonesia, sampai tidak bisa berpikir untuk korupsi. Ini mungkin efek lain dari pernyataan Hasyim Muzadi tadi.
Jadi pemberantasan korupsi salah satunya adalah dengan membodohi masyarakat kebanyakan sehingga korupsi tak nampak jadi budaya. Biar korupsi dilakukan oleh orang-orang pintar saja, toh jumlah mereka sedikit, sehingga kelihatannya korupsi hasil dari "oknum" anggota masyarakat.
Negara kita memang benar-benar ajaib!
Subscribe to:
Posts (Atom)