30 June 2004

Gengsi Manusia Unggul

Nietszche (entah ejaaan ini benar apa tidak) berkata seharusnya tujuan hidup setiap insan adalah menjadi overman. Ada yang menterjemahkannya jadi superman. Ada yang lain, saya tak ingat. Yang dia maksud dengan overman adalah ada di jiwanya, rohnya, spirit-nya, manusia yang memiliki the will to power; kehendak untuk kuasa. Kehendak ini bukan berarti seseorang harus menguasai orang lain. Kehendak di sini lebih pantas dipadankan dengan nafsu berkuasa. Dengan memiliki ini seseorang selalu menuntut dirinya untuk menjadi yang terbaik. Cara yang dipakai akhirnya adalah kerja keras. Apabila ada halangan di depannya, misalnya orang atau bahkan konsep, seperti tercermin dalam kebenaran agama atau adat istiadat, dia harus mengatasinya. Apapun resikonya, termasuk menghancurkan persepsi yang sudah tertanam di dalam benaknya. Ini pengertian saya, karena sejujurnya, saya tak yakin saya mengerti seluruh tulisan Nietszche ini; saya pikir saya mengerti sepotong-sepotong saja. Jadi, ya.. harap maklum.

Hanya saja, konsep overman Nietszche memang gampang sekali diartikan sebagai dorongan manusia untuk menguasai orang lain, apapun caranya. Karena dengan memiliki kuasa atas orang lain, orang jadi punya hak untuk menentukan mana yang sah dan mana yang tidak, orang jadi terpandang, dihormati sesama dan memiliki kemungkinan untuk menjadi kaya raya.

Ini yang terjadi di Indonesia. Seiring dengan kekuasaan yang mereka miliki, banyak anggota legislatif yang kerasukan nafsu menjadi kaya. Mau bukti? Baca saja koran....

Persoalan yang perlu ditengok mungkin pada motif mengapa orang cenderung begitu. Menurut saya, kultur Jawa menyumbang gagasan dominan terhadap perilaku ini. Di Jawa, orang yang memiliki kekuasaan HARUS kaya. Jika tidak kaya, maka dia harus cari, bagaimanapun caranya.

Contoh mutahir adalah PP No 37/2006. Peraturan ini akan semakin memperkaya para anggota DPR/D dan memiskinkan rakyat. Lucunya, setelah "agak" sedikit ada keramaian, semua pejabat jadi bingung: siapa sih yang ngeluarin peraturan ini, tak ada yang mengaku dengan jantan. Parpol juga bersuara: ada yang setuju ada yang menolak. Padahal ini kan cuma pura-pura saja. Hare genee siapa yang nolak duit, apalagi politisi!

Dan suara-suara orang protes menjadi kebrisikan biasa saja, yang bakal capai sendiri atau akan diam bila disumpal mulutnya. Di lain pihak, media massa sepertinya tak bernafsu untuk mengangkat isu dengan lebih kontinyu, entah karena alasan malas atau memang ada berita lain yang lebih menarik, misalnya pertengkaran SBY dengan gerombolan pensiuanan TNI AD, yang tidak pernah kehabisan akal dalam merengkuh kekuasaan, bukan untuk menjadi seorang overman, tetapi yaitu tadi: gengsi doang!

Dan sekali lagi, rakyat adalah pihak yang kalah.

29 June 2004

Orang Pintar Dan Korupsi

Cawapres PDIP, Hasyim Muzadi, mengatakan kekayaan negara banyak di korupsi orang pintar (Bisnis Indonesia, 29 Juni 2004). Lengkapnya adalah sebagai berikut: Banyak orang pintar di Indonesia namun pekerjaannya tidak benar karena tidak berakhlaq dan tak beriman, sehingga kekayaan negara banyak dikorupsi. Para orang pintar itu bekerja-sama sehingga korupsi tak bisa diberantas.

Hasyim Muzadi bukan orang pertama yang bilang begitu. Saya mendengar kesimpulan serupa pertama kali dari para transmigran di Kalimantan. Masyarakat pedesaan terpencil di Jawa juga bilang begitu. Jadi, ungkapannya bukan hal baru.

Namum bukan itu yang menarik perhatian. Pernyataan itu akan menarik jika dikaitkan dengan standardisasi nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) anak-anak SMP dan SMU. Kisahnya dimulai ketika Depdiknas menetapkan nilai minimum untuk lulus adalah 3.01 kendati para ahli pendidik mengingatkan untuk menetapkan angka yang lebih rendah. Walhasil, para peserta UAN mayoritas hanya bisa menjawab 12 hingga 16 soal dari 40 dan 50. Artinya, nilai rata-rata yang diperoleh kebanyakan peserta UAN adalah 2,01. Akibatnya, lebih dari 70% siswa-siswa itu tak lulus ujian.

Untuk mengatasi ini Depdiknas mengeluarkan aturan standardisasi itu. Maksudnya mereka yang mempunyai nilai rendah, dikatrol sedemikian rupa sehingga mencapai ambang minimal standar kelulusan. Sebaliknya, mereka yang nilainya tinggi diturunkan sedemikan rupa sehingga kelihatan pantas. Artinya, mereka yang memperoleh nilai "cukup" harus turun menjadi "kurang", dan mereka yang bernilai "baik" harus turun menjadi "cukup". Ini semacam subsidi silang bagi mereka yang bernilai "tak lulus" menjadi "kurang".

Banyak yang protes. Khususnya siswa-siswi yang belajar mati-matian untuk lulus. Karena standardisasi ini membuat usaha mereka sia-sia. Sementara di lain pihak, mereka yang tak bekerja keras, malah dikasih bonus. "Sungguh tidak adil!" mereka menjerit.

Adakah ini usaha untuk mendemokratisasi kebodohan? Tujuan, bukan lain, untuk mencegah peyebaran korupsi. Logikanya, karena begitu bodohnya orang Indonesia, sampai tidak bisa berpikir untuk korupsi. Ini mungkin efek lain dari pernyataan Hasyim Muzadi tadi.

Jadi pemberantasan korupsi salah satunya adalah dengan membodohi masyarakat kebanyakan sehingga korupsi tak nampak jadi budaya. Biar korupsi dilakukan oleh orang-orang pintar saja, toh jumlah mereka sedikit, sehingga kelihatannya korupsi hasil dari "oknum" anggota masyarakat.

Negara kita memang benar-benar ajaib!

28 June 2004

100 hari

Ini adalah rentang waktu yang biasa digunakan, baik oleh pengamat politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, serta bidang kemasyarakatan lain dan juga oleh para politisi untuk mengukur keberhasilan sebuah program politik. Gampangnya, capres Wiranto berjanji dalam 100 hari akan menaikkan gaji guru. Hamzah Haz berjanji memberantas KKN, dan capres-capres lain saya tak ingat janjinya.

Bukan itu yang saya ingin bahas, melainkan waktu 100 hari itu. Phileas Fogg, tokoh rekaan Jules Verne, dapat mengelilingi dunia dalam 80 hari, masih tersisa 20 hari. Di budaya Jawa, bahkan ada kisah yang lebih dramatis. Seorang putri bernama Rara Jonggrang bersedia menikah dengan Bandung Bondowosa asalkan dibangunkan 1000 candi dalam semalam. Bondowosa berhasil dengan menjadikan si calon istrinya candi ke seribunya.

Konteks mana yang dapat kita pakai untuk memperkirakan apa yang bakal terjadi dengan janji para capres itu? Dalam kedua kisah, si tokoh mendapat halangan macam-macam. Fogg, harus menyebrangi bukan hanya benua dan negara saja, dia juga harus melintasi budaya yang tak mengerti nafsunya. Dia juga harus menghindar kejaran polisi. Akhirnya, berhasil tanpa ada seorang yang mati.

Lain dengan Bandung Bondowoso. Selama 2/3 malan dia bekerja tanpa halangan. Baru ketika dia memasuki sisa 1/3 malam, dia diganggu oleh anak-bauh Roro Jonggrang yang memukul alat penumbuk padi supaya para ayam jantan berkokok. Bandung memang sangat terganggu dan hampir gagal, tetapi dia akhirnya berhasil dengan merapal mantra menjadikan Jonggrang jadi batu. Berhasil, tapi gagal.

Jika merujuk pada apa yang telah dilakukan oleh dua presiden terakhir, 100 hari cuma bualan saja. Kedua presiden, Gus Dur dan Megawati, tak memberikan sesuatu yang berarti dalam rentang waktu itu. Gus Dur, dalam derajat tertentu, berhasil membangkitkan semangat kita untuk berpikir merdeka. Dia berhasil, walau gagal mempertahankan jabatannya. Mega, hingga hari ini, berhasil membuat kita sedikit nyaman, tetapi hasilnya, kita harus tunggu hingga pemilu 5 juli nanti. Keduanya tak mencapai itu dalam 100 hari. Jadi, waktu selama itu bukan hal yang penting.

Sebab, terlalu banyak yang harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum dapat menetapkan waktu. Fogg tahu dapat mengelilingi dunia dalam 80 hari karena moda transportasi telah ada. Bondowoso mau memenuhi permintaan Jonggrang karena dia tahu dia akan didukung oleh pasukan jin-nya. Lah sekarang, para presiden itu akan didukung oleh apa?

Ambil contoh janji Hamzah Haz meludeskan KKN. Maka dia harus mengubah mentalitas orang Indonesia apapun agamanya, menghancurkan struktur pemiskinan massal yang sudah begitu permanen, mencari sumber uang yang dapat mengimbangi rasa lapar dan lapar akan rasa hormat, membentuk aparat polisional: polisi dan jaksa yang berdedikasi dan meyakinkan masyarakat semua bahwa kerja itu bukan miliknya saja. Bila keadaan ini terpenuhi, baru dia bisa menentukan tanggal. Ataukah dia akan menyiapkan segala ini dalam 90 hari, dan menghabisi KKN dalam 10 hari berikutnya? Sungguh.... sebuah janji nan memilukan!

Tetapi tak apa juga toh kita orang Indonesia juga sudah terbiasa mendengar orang-orang berkata sesuatu dengan maksud sesuatu yang lain. Ini namanya sopan santun, tepo seliro dan musyawarah untuk mufakat.

Sehingga, mungkin lebih baik menonton film 30 hari mencari cinta yang ternyata juga menyajikan kegagalan, tanpa harus ada yang mati!

..........

25 June 2004

Asap

Sejak tahun 1997, pas krisis menghantam Indonesia, asap dari kebakaran hutan di Indonesia telah terbang hingga ke Singapura dan Malaysia. Sejak tahun itu, asap jadi problem serius bagi kedua negara tadi. Dari tahun ke tahun, kedua negara tadi 'membantu' Indonesia memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan.

Bantuan mereka mungkin karena merasa bertanggung jawab juga sebab kedua negara tadi adalah asal cukong yang mendanai penebangan hutan di Indonesia. Bahkan jaringan cukong ini telah begitu kuatnya di Kalimantan, sampai-sampai petugas penjaga ketertiban di sana, polisi, aparat pemerintah daerah dan juga kepala adat di sana, jadi kawan mereka. Mungkin dalam konteks inilah pernyataan Hamzah Haz, wakil presiden RI dapat dimengerti. Di harian Koran Tempo, Hamzah dikutip seperti ini: "Jelas mereka kena. Tapi kan banyak kayu yang dilempar dari sini jatuh ke Malaysia dan Singapura."

Pernyataan ini mungkin tak sepantasnya keluar dari mulut orang nomer dua di negara kita itu. Mungkin akan lebih elok bila Hamzah agak diplomatis. Kendati tak dipungkiri juga, pernyataannya juga merupakan 'jeritan' sebagian besar rakyat Indonesia terhadap perilaku kedua negara yang sepertinya benar-benar memanfaatkan ketidakberdayaan Indonesia.

Tidak berdaya? Iyalah. Lihat bagaimana ribuan TKI bertekad bulat bekerja di kedua negara tadi, dan kemudian dicap sebagai pendatang haram di Malaysia. Lihat juga perlakuan para majikan di Singapura sebagaimana nampak dalam nasib TKI Nirmala Bonet. Lihat bagaimana Singapura berkongkalikong menenggelamkan pulau-pulau di Kep. Riau. Lihat bagaimana Malaysia berlagak pilon mendiamkan penyelundupan kayu dari Indonesia ke Malaysia.

Adakah ungkapan tadi kecemburuan, tak mau merasa kalah, atau semacam ultra-nasionalisme? Tak tahulah... dan mungkin juga tak penting...

Yang pokok, kita ini memang paling spontan dalam mencari kambing hitam. Sekali ada pihak yang 'kelihatannya' dapat disalahkan, langsung saja kita dengan sangat terlatih dan fasihnya menghajar pihak itu. Memang dalam kasus asap ini, Malaysia dan Singapura juga salah. Tetapi harus diingat juga, pangkal kesalahan ada di kita sendiri.

Saya jadi ingat seorang kawan, yang selalu bernyanyi untuk mengusir asap tiap kali ber-api-unggun-an: Asap, sana, sana, Ibu beli daging, sana, sana

Entah apa sebenarnya maksud syair itu, tetapi kadang-kadang, nyanyiannya berhasil mengusir asap.

24 June 2004

Kampanye Negatif

Ini adalah penafsiran lebih jauh dari istilah bahasa Inggris, black campaign. Koran Tempo menterjemahkannya jadi kampanye gelap. Ada yang menyebutnya kampanye hitam. Kesemuanya merujuk pada aktivitas seseorang atau kelompok orang membuat kabar atau berita yang tidak benar mengenai seseorang. Dalam kaitan kampanye presiden kali ini, misalnya ada fax yang dikirim dari kantor kampanye Amin Rais ke seluruh penjuru dunia berisi informasi palsu tentang SBY. Saya yakin, ini seperti kata pepatah, melempar satu batu, dua tiga burung mati.

Yang menarik saya adalah istilah kampanye negatif yang jadi judul opini Media Indonesia. Harian ini membuka opini dengan menyepadankan kampanye presiden dengan penjual obat pinggir jalan yang menjajakan produknya paling bagus, tanpa cacat dan tak berefek samping. Para capres juga begitu, menjual mimpi dengan sangat berlebih-lebihan. Semuanya baik dan mungkin. Nah, kampanye negatif adalah apabila ada orang yang menampilkan fakta lain, yang tidak positif, dari setiap capres ke publik. Ini dapat dikategorikan penghinaan dan perbuatan yang tidak menyenangkan, sebab itu bisa dikenai hukuman penjara.

Tetapi, Media Indonesia menggarisbawahi bahwa kampanye negatif baik sepanjang hal itu digunakan untuk mengungkapkan perjalanan hidup si para calon capres. Sebab, informasi yang utuh ini dapat digunakan oleh rakyat untuk menentukan pilihannya. Ada yang dirugikan nggak? Ya, si capres itu semua. Tentu wajar jika orang marah, sedih, kecewa, trauma, saat aib masa lalunya diotak-atik. Apalagi jika orang itu mati-matian menjauhkannya dari mata publik.

Duh... pusing. Menurut saya, kampanye presiden Indonesia - hakikatnya - adalah negatif. Para capres secara tak langsung mengorbankan rakyat. Jadi... tak tahu saya mau menulis apa lagi......

Pusiiiingggggg.....

16 June 2004

Meramalkan Bunuh Diri

Anak usia sekolah dasar belakangan hari ini banyak yang bunuh diri. Ada yang gagal dan berhasil. Penyebabnyapun aneka. Misalnya, Miftahul Jannah, 15 tahun, gantung diri karena diduga dirinya tak punya uang untuk ikut study tour sebagai perayaan kelulusan sekolahnya. Profil Mitha, begitu dia dipanggil, adalah anak sebatang kara yang sejak kecil tinggal bersama kakek dan neneknya akibat perceraian orang tuanya. Karena ini, dalam kesehariannya, Mitha adalah seorang pemurung penyendiri yang mungkin minder berkawan dengan teman sebayanya.

Heryanto, anak 12 tahun, mencoba bunuh diri karena tak mampu membayar Rp.2,500 biaya ketrampilan di sekolahnya. Yanto merasa malu ketika gurunya tetap menagih uang itu, sementara orang tua Yanto tak mampu memberinya. Jangankan uang sekolah, makan sehari-hari saja mereka masih kepayahan. Harap dimaklumi sebab Yanto adalah salah satu anak miskin dari sembilan juta keluarga miskin di Jawa Barat.

Orang dewasa juga banyak yang bunuh diri. Alasannya: tak ada yang pernah mengerti pasti. Hanya saja, mereka yang bunuh diri rata-rata berpenghasilan kecil. Sebab itu, sepintas lalu alasan ekonomi ini jadi latar belakang yang masuk akal orang lain bagi tindakan mereka. Tapi pada kenyataannya, tidaklah semudah itu. Ekonomi hanya salah satu dari ribuan alasan.

Terlepas dari itu, ada 62 orang bunuh diri di Jakarta di tahun 2003. Di pulau Bali, dari 30 orang yang mencoba bunuh diri, 20 di antaranya tak terselamatkan.

Bunuh diri sepertinya jadi solusi yang baik untuk beragam persoalan. Jika memantau pemberitaan koran di Batam, berbagai alasan bunuh diri ada di situ: ada yang berhutang, seorang pembantu nekad bunuh diri karena takut dimarahi majikannya sehabis pergi ke diskotik, seorang wanita mudah bunuh diri karena pacarnya mangkir. Mereka lari dari apa? Kemiskinan, kesumpekan-hidup atau patah hati?

Terlepas dari itu, gejala bunuh diri yang semakin banyak ini dapat diduga karena runtuhnya pijakan agama dan budaya. Khusus dalam Islam, manusia yang bunuh diri dilaknat masuk neraka. Sementara para kyai atau guru agama yang seharusnya menjadi "penjaga gerbang" akhlaq dan ajaran Islam, sedang asyik masyuk berpolitik dan menelantarkan umatnya. Apalagi dalam berpolitik, para pemuka agama ini membuat pernyataan yang aneh-aneh. Dan perilaku ini dengan sendirinya menghancurkan kredibilitas mereka sebagai orang yang bijak dan tak memihak. Para pemuka agama bukanlah tujuan umat mencari nasihat lagi.

Seiring dengan itu, tercipta standar hidup baru. Umumnya standar ini dibuat di kota-kota besar. Standar ini biasanya sangat sulit dipenuhi oleh orang-orang yang tidak tinggal di kota. Apabila orang pedesaan ini mau memenuhi standar, maka ia harus ke kota, atau setidaknya berlagak layaknya orang kota. Penerapan paling khas dari standar baru ini adalah gaya hidup, yang tercermin antara lain dalam berbusana. Akibatnya, orang desa yang dulunya sudah tertinggal, makin dalam jatuh ke dalam jurang perbedaan.

Bagaimana standar baru ini bisa sampai ke mata, telinga dan pikiran orang desa. Tentu saja karena TV. Karena persaingan begitu kerasnya, stasiun tv berlomba membangun stasiun pemancar untuk menjangkau seluas mungkin wilayah Indonesia. Saya yakin, mungkin sekarang hanya sedikit blank-spot yang tertinggal di negara kita ini.

Dalam caranya memenangi perlombaan, stasiun tv terpaksa harus membuat standar logika baru, yang sialnya, diturunkan hingga ke standar paling rendah. Efek dari ini adalah penyeragaman audien. TV sekarang adalah ganti kyai yang sudah menelantarkan umatnya. TV adalah panduan gaya hidup, bertingkah laku dan guru spiritual sekaligus.

Bagaimana TV menyikapi ini? Sepertinya sih acuh tak acuh. Yang terpenting bagi TV adalah acara yang mereka buat menyerap penonton yang pada akhirnya mengundang iklan, atau uang. Mengenai efek dari acara itu, TV tak terlalu peduli. Apabila penontonnya mampu menerima logika TV itu dengan cerdas, ya syukur, kalau tidak ya... tanggung sendiri.

Nah, terkait dengan bunuh diri, semua TV menyajikan acara kriminal. Seluruh tindak kriminal sekarang sah masuk ke TV. Dari pencurian biasa hingga pembunuhan. Lokasinya bisa di desa terpencil hingga metropolitan. Telah terjadi demokratisasi tindakan kriminal. Dalam genre acara ini, perbuatan yang merenggut nyawa diri sendiri juga boleh masuk. Secara tak langsung, ini jadi model tindakan bagi masyarakat umum. Coba saja sekarang teliti, peningkatan tindakan kriminal di seluruh Indonesia dan tingkat bunuh diri. Kendati perlu penelitian lebih lanjut, saya berkesimpulan bahwa masyarakat Indonesia adalah peniru model perilaku di TV.

Kendati menggarisbawahi TV sebagai salah satu penyebab bunuh diri, saya bukan menunjuk TV sebagai penyebab utama. Bahkan, kebanyakan pakar sosiologi dan psikologi berpendapat tak ada sebab dominan dalam tindak bunuh diri. Umumnya penyebab bunuh diri adalah kombinasi berbagai faktor personal dan sosial.

Karena bisa dihitung, sebenarnya bunuh diri juga dapat diramalkan. Sebab perkembangan personal selalu terkait dengan lingkungan di mana seseorang tinggal. Jadi, seiring dengan perbaikan lingkungan (maksudnya bukan lingkungan hidup, seperti hutan, binatang dst-nya saja), maka tindakan bunuh diri bisa berkurang.

Dan para pemuka agama adalah juga bagian dari lingkungan yang harus diperbaiki... entah itu diganti dengan orang yang lebih peduli dan bijak, entah itu dihilangkan saja perannya...



15 June 2004

Nurani

Hampir semua calon presiden menganjurkan rakyat untuk memilih dengan hati nurani. Apa itu? Nurani, atau hati nurani mungkin sepadan dengan istilah Inggris conscience. Kata itu sering dibayangkan sebagai moral faculty, sense, or consciousness which prompts the individual to make right choices. (free-definition.com). Dalam konteks anjuran para capres, rakyat diminta secara langsung untuk memilih mereka yang mengeluarkan anjuran itu. Jadi apabila Wiranto berkata, "Pilihlah dengan hati nurani", maksudnya adalah permintaan untuk memilih dirinya. Demikian juga apabila SBY, Amin Rais berkata sama.

Tetapi bila kita kaji definisi nurani lebih dalam, ada kata moral di sana. Moral sendiri gampangnya adalah baik, buruk, tepat dan tidak tepat. Sedangkan kategori-kategori itu lebih sering ditentukan oleh lingkungan. Jadi ada satu tindakan yang dulu buruk, sekarang baik, dulunya tepat sekarang tidak tepat. Singkatnya moral berubah-ubah sesuai pengetahuan yang lagi ngetrend saat itu. Dulu, pria pantang ke salon, sekarang pria yang tak ke salon, dianggap kampungan. Akibatnya, nurani juga berubah-ubah.

Dan itu wajar saja. Sebab kata Oscar Wilde, "Kebanyakan orang adalah sama. Isi benak mereka adalah orang lain. kehidupannya hanya mimikri (tiruan), dan semangatnya cuma sebuah pengulangan." (Koran Tempo, 13 Juni 2004). Memang agak menyepelekan, tapi begitulah kenyataannya. Apalagi kenyataan di dunia saat ini ditentukan oleh media massa. Media massa membuat tontonan berdarah dan hantu-hantu, maka ada anak kecil yang mogok sekolah karena dia takut di luar sana ada orang jahat yang siap sedia merampas kebebasan dan harta bendanya. Iklan anti ketombe datang bertubi-tubi dan membuat baju warna hitam tak laku dipakai. Ini telah jadi knowledge (saya mau menterjemahkannya menjadi pengetahuan, tapi kok aneh) seseorang yang akhirnya mempengaruhi sistem kepercayaan seseorang. Bila dikaitkan dengan keseluruhan paparan di atas, maka seseorang sebenarnya terperangkap dalam nuraninya sendiri. Lucunya, Amnesty International sampai-sampai menciptakan frasa Prisoner of Conscience bagi orang-orang yang tidak bisa menjalankan kepercayaannya. Dengan kata lain organisasi itu menguatkan orang untuk selalu terperangkap.

Mengapa begitu? Ya karena dengan mengenali nurani seseorang, maka orang lain akan dengan mudah meramalkan tindakan orang lain. Atau setidaknya ya... memberi label bagi bagi sebuah tindakan. Atau dengan kata lain, memberi nilai moral terhadap sebuah tindakan. Misalnya, meludah di gedung milik pemerintah Amerika Serikat akan dikenai pasal anti-terorisme. Dalam bahasa Immanuel Kant, banyak kategori imperatif diberikan kepada aneka tindakan. Siapa pemberi nama tindakan itu? Ya... rejim kebenaran yang berlaku saat itu. Artinya adalah bahwa tiap orang akan punya kekuasaan untuk memberi nilai moral terhadap orang lain. Bisa jadi suami ke istri, boss ke anak buah, satpam ke para pengunjung mall, dst. Dari mana mereka punya kuasa itu? Ya dari nurani yang sudah dibentuk oleh media massa tadi.

Jadi hingga saat ini tak ada seorang yang punya pemikiran original atas nuraninya sendiri. Manusia adalah orang yang tidak merdeka. Jadi agak membesar-besarkan juga andaikata ada orang berteriak, "Saya orang merdeka yang bebas menyatakan pendapat saya, kapan saja saya mau, di media apapun yang saya sukai". Absurd. Tapi biar begitu, orang masih saja menyangka dirinya adalah individu yang independen. Dalam logika lain, manusia masih percaya pada absurditas. Kalaupun tak percaya, ya setidaknya mengakui absurditas itu ada dan dia tak berbuat apa-apa. Kalaupun mau berbuat, dia tak bisa, karena dia telah jadi anggota rezim kebenaran yang mengagungkan retorika kebebasan. Dan, apabila ini berlanjut, kata Voltaire, manusia terus akan meyakini kekejian. Nyatanya begitu.

Maka dari itu, semakin sedikit kategori imperatif yang kita yakini, semakin merdeka. Dulu saya pernah denger Emha Ainun Najib ceramah dan dia berkata semakin sedikit peraturan yang kita ikuti semakin bebaslah kita. Kalau diterapkan semakin jauh, semakin tak bermoral dan tak berhati nurani, semakin merdekalah manusia. Dan orang-orang seperti itu dikenali oleh berbagi kebudayaan dunia sebagai "orang gila".

Tetapi karena gila, ya terserah dong.... seperti Zarathustra!








11 June 2004

Melodramatic

Padanan kata Indonesianya saya tak tahu persis, lha wong definisi Inggrisnya saja saya juga ragu artinya. Yang saya tangkap, segala aktivitas di atas panggung yang menguatkan kesan dramatis. Jadi kalau mau digampangkan, ya... mendramatisir!

Drama jadi menarik apabila cerita yang dipentaskan mengenai konflik: dua kerajaan berperang, konflik bapak anak, konflik percintaan. Dalam konflik, ada dua peran penting yang membuat cerita itu jalan, yakni yang baik dan yang jahat. Dalam film-film Holywood, Bollywood, Indonesiawood juga begitu. Penjahat menang dulu, yang baik menang setelah menderita sepanjang film dan melatih keahlian: main pedang, ilmu silat, komputer, bikin bom, kursus jadi model, dst-nya.

Saya pikir ini adalah metode umum yang bias kita pakai sehari-hari untuk mengenali realitas. Misalnya, si A baik, si B jahat. Karena sopan santun, kita biasanya menyebut si jahat dengan "kurang baik" atau "cukup jahat". Kita selalu berbelok-berbelok dan memilih cara tak langsung untuk mengatakan kejujuran karena takut si obyek pembicaraan tersinggung, marah dan kemudian membalas dengan lebih keras dan merugikan kita sendiri. Tapi bukan itu yang saya bahas.

Melodramatis. Sekarang ini lagi kampanye presiden. Setiap capres dan cawapres nampaknya berusaha keras ditampilkan oleh media sebagai "korban". Penyebabnya mungkin sukses SBY menjadikan dirinya korban kedzaliman Megawati, melalui pernyataan yang dibuat Taufik Kiemas dan Sekretaris Kabinet. Media massa membesar-besarkan ini dan yang diuntungkan SBY. Hasilnya, dia populer dan Partai Demokrat punya suara banyak.

Sekarang, Megawati berusaha memposisikan diri sebagai korban dari pernyataan para kyai yang mendukung Wiranto dan Salahuddin Wahid. Para kyai bilang "haram" presiden perempuan. Segera saja, orang lain yang punya pendapat lain dengan kyai di-blowout oleh media dan Megawati diuntungkan.

Tetapi, yang kelihatannya mati-matian berusaha menjadikan dirinya korban adalah Wiranto. Dia memposisikan diri sebagai orang lemah yang melakukan sebisanya untuk menjaga negara apabila ada tuduhan tentang keterlibatannya di masa lalu dalam kerusuhan Mei 98 atau Timor Timur. Tetapi, dia memposisikan diri jadi orang yang bakal kuat untuk memimpin masa depan Indonesia. Hasilnya, untuk orang-orang berpendidikan tinggi dan tinggal di kota, kampanye itu tak berefek maksimal, tetapi di desa-desa, kampanye itu mungkin memperkuat posisinya.

Sayangnya, sebagian besar rakyat Indonesia yang sebenarnya jadi korban kebijakan negara, baik langsung atau tidak langsung, tanpa akting dan membuat-buat, tak memperoleh simpati dari mana pun. Kalaupun ada perhatian dari para capres dan cawapres, atau organisasi non-laba asing maupun domestik, itu hanya usaha mereka untuk mencari kesan baik, kurang kerjaan dan bahkan jadi mata pencaharian.

Siapa yang peduli sebenarnya?


09 June 2004

Rasa Malu

Dari mana datangnya? Saya mencoba mencari tahu dengan berkeliling di internet. Ada yang menulis lebih baik mengenali malu dengan cara menggandengkannya dengan kata cemas. Resikonya, kita akan terjebak pada debat kusir seperti dalam kasus "telur sama ayam duluan mana?" Terkadang rasa malu timbul terlebih dulu dan akhirnya membuat cemas yang nampak dalam ekpresi bahasa tubuh; dan sebaliknya kelihatannya kecemasan muncul dulu dan menyebabkan seseorang jadi malu. Dalam keduanya ada situasi eksternal yang mempengaruhi si pemilik rasa malu. Jadi rasa malu itu adalah perasaan tak nyaman ketika: berada di antara orang banyak, berbicara dengan orang lain dan meminta tolong orang lain (www.wordiq.com)

Rasa malu biasanya melekat pada anak kecil. Ia malu ketemu orang lain. Semakin dewasa anak, rasa malu itu akan berkurang, apalagi jika seseorang merasa nyaman di dalam situasi yang dihadapinya. Kendati demikian, tiap orang dewasa punya tendensi untuk merasa malu.

Rasa malu bisa menjadi bagus, bisa juga tidak. Rasa malu bisa jadi pangkal segala perbuatan bajik, karena ia mencegah orang untuk berbuat seenaknya sendiri. Seorang jadi punya kontrol atas dirinya sendiri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan mendeskreditkan namanya.

Rasa malu juga bisa memicu tindakan kriminal. Misalnya ada seorang perempuan yang hamil di luar nikah, janinnya coba digugurkan, atau membunuh bayinya begitu terlahir. Padahal janin atau bayi itu hanyalah sekedar hasil dari perbuatan yang tidak malu-malu. Jadi yang harus dihabisi bukan janin atau bayi itu, melainkan rasa tidak malu-malu ketika melakukan persetubuhan. Logika ini juga bisa diterapkan untuk kasus korupsi: saat melakukannya tak malu, tapi begitu dihukum malu, orang tua malu apabila anaknya tak naik kelas karena masyarakat akan menganggap anaknya tak pandai atau bengal, tetapi tidak malu ketika anaknya tidak belajar sebab masyarakat tak tahu anaknya tak belajar (Oleh: Margaretha Sih Setija Utami)

Rasa malu juga dapat menyebabkan orang jadi fatalis. Misalnya, Tupiyanti (25), seorang ibu nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri di plafon rumah kontrakannya, disaksikan anak satu-satunya di Kampung Cibeurih, Desa Galumpit, Kecamatan Plered, Purwakarta, Selasa (24/2). Anak sekecil itu dipaksa untuk melihat sang ibu yang meregang nyawa secara perlahan. Penyebabnya diduga Tupiyanti tak kuat menahan malu lantaran terus-terusan ditagih utang sebesar Rp 50.000,00 (kolom tajuk Pikiran Rakyat).

Bila disimpulkan, rasa malu terkait dengan ruang privat dan ruang publik. Seseorang tak akan merasa malu apabila dia berada di situasi personal yang ia kuasai sendiri; sebaliknya orang akan malu apabila dia berada di situasi yang disangkanya dapat membuka tabir hidup personalnya. Itu sebabnya, sepasang kekasih bermesraan tak malu, tetapi malu ketika si perempuan hamil di luar nikah.

Nah, bagaimana apabila orang yang seharusnya malu malah tak malu. Misalnya, seorang artis membuka tabir pakaian dalamnya di media publik. Atau, ketika Akbar Tanjung langsung memimpin delegasi DPR berkunjung ke luar negeri padahal dia baru saja dikenai hukuman tiga tahun. Wah, kalau ini sekarang sedang trend di Indonesia. Budaya tak tahu malu. Jadi, tak heran pula situasi Indonesia kacau balua sebab orang sudah tak punya kontrol atas perbuatan baik-buruk, benar-salah. Motivasi terpenting dari tindakan manusia Indonesia saat ini adalah - dalam istilahnya Darwin - "survival of the fittest". Hukum rimba!

Adakah yang masih memiliki rasa malu di antara kita? Menurut saya, sebaiknya malu dikeluarkan saja dari kamus Bahasa Indonesia, sebab itu membuat orang Indonesia jadi tak sederajat. Misalnya ada orang yang korupsi trilyunan tanpa malu-malu, tetapi ada orang yang bunuh diri gara-gara uang lima puluh ribu.

Sepertinya kacau banget nih negara kita ya?

08 June 2004

Milih presiden

Tibalah pada tanggal 5 Juli 2004. Penduduk yang punya kartu pemilih mendatangi TPS. Di salah satu TPS ada seorang pemilih yang telah masuk ke bilik sekitar lima menit keluar lagi dengan wajah marah, lalu berteriak, "Kertas suara ini salah cetak. Masak tak ada namanya Siswono Yudhoyono1"

Pada giliran lain, ada seorang pemilih yang begitu lama di dalam bilik tak keluar-keluar. Karena sudah melebih waktu wajar, petugas PPS mendatangi bilik, lalu dari luar bilik ia berkata:
PPS: Sudah, pak
Pemilih (agak gugup): bentar, sebentar lagi, mas
PPS: jangan lama-lama pak
Pemilih: baik, mas
Satu menit berselang, si pemilih keluar, tersenyum ke petugas PPS dan dengan terburu-buru menuju kotak suara. Karena begitu tergesa, ia tersandung, dan gedubrak. Ia terjatuh, dan berserakanlah pensil warna di sekeliling tubuhnya yang terjerembab itu. Sementara kertas suaranya meski tak terbuka semua, menyembul gambar wiranto sudah berwajah merah dan berkumis. Orang lain pada senyum-senyum saja. Karena mereka yakin, bukan cuma wajah wiranto yang berubah, tetapi semuanya, sebab si pemilih tadi ada di bilik lebih dari 20 menit!

Ada satu peristiwa lagi. Seorang ibu menunggu giliran mencoblos. Di beberapa lokasi di sekeliling TPS ada alat peraga. Ia berkomentar. "Kenapa presiden sama wakilnya fotonya di kotak sendiri-sendiri. Kan lebih bagus kalau mereka fotonya berpelukan, kayak teletubbies." Mungkin usulnya juga dapat menghemat ongkos cetak.

Ah... sebel!



02 June 2004

Kita yang harus selalu jadi korban


Sial bener deh kita ini anggota masyarakat biasa yang tak tahu dengan pasti mengapa harga-harga kebutuhan pokok naik. Kata pemerintah, pengamat ekonomi dan orang-orang yang pandai-pandai itu penyebabnya adalah harga minyak mentah naik terus dan nilai rupiah yang semakin lemah menghadapi dolar. Saya tidak tahu hubungannya bagaimana, apalagi untuk harga minyak mentah. Semua orang bilang Indonesia kaya raya akan sumber minyak, karenanya seharusnya senang dong dengan kenaikan harga minyak, sebab kita bisa menangguk untung berlipat. Tetapi, belum-belum si menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) menegaskan kenaikan harga minyak mengakibatkan subsidi BBM naik dan anggaran belanja juga harus naik. Sumpah mati saya tak mengerti logika ini. Bukankah dulu tahun 70-an, Indonesia kelimpahan untung begitu banyak ketika harga minyak naik, dan keuntungan itu sebagian untuk membangun negara dan sebagian dikantongi Soeharto, militer dan kroninya. Kok sekarang tak bisa? Mengapa?

Kalau nilai tukar rupiah melemah melawan dolar, saya sedikit mengerti. Misalnya, tempe dibuat di Indonesia. Bahan mentahnya, yakni kedelai diimpor dari sebuah negara di Amerika Selatan. Membayarnya dengan dolar Amerika. Kedele itu diolah lalu dijual dalam rupiah. Pabrik tempe mengambil untung dari selisih nilai dolar dan rupiah itu. Apabila dolar naik, maka selisih semakin kecil. Dia masih dapat untung jika tetap menjual dengan harga sekarang. Hanya saja setelah itu dia akan bangkrut sebab keuntungannya tak cukup untuk beli kedele yang dijual dalam dolar AS. Oleh sebab itu, harga tempe harus naik. Demikian juga harga-harga barang konsumsi yang masih menggunakan bahan baku impor.

Persoalannya adalah sebagian besar sembako masih membutuhkan impor. Beras, diimpor. Minyak goreng masih menggunakan bahan campuran yang diimpor. Pakan ternak juga. Mi instan juga perlu gandum impor. Jadi semuanya naik. Sudah tahu begini, pemerintah kelihatannya juga tak mencoba mengatasinya. Kita seperti semut yang akan mati di timbunan gula. Tanah kita yang subur ternyata tak mampu menumbuhkan segala kebutuhan kita. Kita harus beli dari tanah lain.

Nah, di tengah-tengah ini ada kampanye presiden. Entah apa yang akan mereka janjikan untuk mengatasi hal-hal mendasar seperti ini. Saya yakin apapun janji mereka untuk mengatasi persoalan ini tak ada yang dapat dilaksanakan sebab aturan main yang berlaku saat ini adalah aturan yang tak dibukukan dalam undang-undang. Mereka bisa berhasil mengatasi masalah ini jika mereka memakai cara yang tak terdapat dalam undang-undang juga.

Kalaupun mereka mau pakai undang-undang, maka mereka harus menggunakannya dengan saklek. Hanya ada intepretasi tunggal atas sebuah perundangan, tak ada kompromi. Itu pun baru akan jadi sebuah contoh, belum tentu akan jadi sistem yang akan dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat.

Contoh akan jadi sistem apabila terus menerus dilakukan, dan bukan hangat-hangat tai ayam!

Begitu dah!



17 May 2004

Sistem Kesalahan Kolektif

Saya sering jengkel saat mengemudi di jalan di mana banyak angkutan umum: metro mini, kopaja, angkot. Sebab, mereka selalu seenaknya sendiri. Seolah-olah cuma mereka yang punya kepentingan khusus, yakni mencari uang untuk menguber setoran dan untuk diri dan keluarganya sendiri, orang lain tidak. Dalam bahasa susah: "Ends justify the means". Apapun sah dilakukan oleh para pengemudi angkutan umum itu asal tujuan tercapai. Betapa mulia!

Seorang kawan yang saya paksa mendengarkan keluhan saya mengenai angkutan umum ini, memberi informasi lain. Secara personal dia memang mengiyakan pendapat saya, tetapi dia memberi fakta lain. Suatu ketika, dia naik angkot. Jalan macet dan angkot yang dia tumpangi mencoba segala upaya melakukan apa yang seharusnya dilakukan pengemudi angkot lain: mengambil jalur dari arah sebaliknya untuk menyalip dan kemudian dengan tiba-tiba dan memaksa kembali ke jalur kiri apabila ada kendaraan dari depan yang tak bisa ia paksa minggir, misalnya truk Pertamina atau kendaraan besar lainnya. Nah, saat akan kembali ke kiri, ada pengemudi mobil pribadi yang tak memberi ruang, si supir angkot langsung mencak-mencak: "dasar gila, mau menang sendiri, mentang-mentang mobil pribadi, enggak mau ngalah sama angkot." Padahal, kalimat tadi seharusnya diucapkan si pemilik kendaraan pribadi tadi. Intinya adalah, pengemudi mobil pribadi akan menyalahkan angkutan umum dan pengemudi angkutan umum akan dengan lebih galak lagi memarahi pemilik mobil pribadi.

Saya pernah mencoba ber-empati terhadap pengemudi angkutan umum. Saya memang maklum dengan apa yang mereka lakukan, tetapi cara itu bukanlah cara yang benar menurut hukum. Jadi, seharusnya mereka tertib saja.

Sayangnya, fakta di lapanga lain. Ada banyak sekali angkutan umum yang mencoba mencari uang. Di beberap jalur, angkutan umum bahkan melebihi kapasitas penumpang. Sehingga, persaingan menjadi sangat keras. Untuk mengatasi itu, para pengemudi harus melakukan apa saja, termasuk melanggar peraturan dan mengacuhkan kepentingan pengguna jalan lain. Dapat diasumsikan jumlah uang yang diperoleh pengemudi berbanding lurus dengan kenekadan si pengemudi. Semakin gila, semakin banyak uang. Sebuah keabsurdan yang teramat nyata.

Tetapi, sekali lagi itu salah, menurut hukum. Tetapi sekali lagi karena keadaan ekonomi sulit, penjaga ketertiban, entah itu polisi, DLLAJ, pamong praja, maklum. Apalagi jika mereka diberi "gizi".

Di Indonesia, sebenarnya banyak yang salah. Tetapi kesalahan itu dibiarkan terus terjadi sebab apabila dilarang, maka akan terdapat terlalu banyak orang miskin. Jadi kehidupan kita sehari-hari, didasarkan atas hukum yang salah.

Atau, jangan-jangan justru hukumnya yang salah. Sudah tahu orang Indonesia tak bisa menunggu dan turun di halte, masih saja dibuat halte di mana. Sudah tahu orang Indonesia lebih senang menunggu di pertigaan atau perempatan jalan menunggu angkutan umum, masih saja membuat terminal yang terlalu jauh. Sudah tahu orang Indonesia suka menyebrang di mana saja, masih saja membuat jembatan penyebrangan atau zebra cross. Dengan ini, kita dapat artikan bahwa, orang-orang yang kita percaya dapat membuat peraturan dan hukum demi ketertiban malah tidak mampu memahami irama hidup manusia Indonesia.

Jadi kalau dirangkum. Ada kelompok orang yang akan membuat peraturan dan hukum supaya kehidupan menjadi aman tertib dan nyaman. Dalam pelaksanaannya, ada aparat yang bertugas memastikan semua peraturan ditaati. Tetapi karena peraturan itu tidak membuat kebanyakan anggota masyarakat, maka kelompok masyarakat ini akan menciptakan sebuah kebiasaan sendiri yang mereka rasa nyaman, kendati cara itu sama sekali tidak sesuai dengan peraturan dan hukum yang ada. Aparat yang seharusnya menjaga peraturan dengan terpaksa menerima kenyataan itu dan membolehkannya, apalagi mereka secara ekonomis diuntungkan. Jadi, terbentuklah sebuah kebiasaan baru yang lebih aktual, bukan imajiner.

Singkatnya, ada sistem hukum yang diciptakan berdasarkan idealisme. Ada sistem sosial yang diciptakan berdasarkan kesepakatan anggota masyarakat. Yang kedualah yang dijalankan.

Dalam cakupan yang lebih besar, asumsi ini juga dapat diterapkan, koq. Ada sistem pemilu presiden yang memungkinkan tiap individu untuk secara bebas aktif menentukan pilihannya sendiri. Ada juga sistem sosial di mana seorang kuat akan menentukan apa yang harus dilakukan oleh sekelompok massa yang lebih besar.

Sehingga, tak ada kewajiban untuk selalu taat peraturan yang ada. Lebih nyaman ikuti kebiasaan saja. Kendati salah, tetapi lebih membuat kita jadi anggota masyarakat biasa.

Dan tak ada kok yang akan bilang kita dungu karenanya!

06 May 2004

Siapa pemangku kebenaran?

Setiap orang memiliki kuasa. Artinya setiap orang dalam cakupan tertentu mampu mengeksekusi apa yang dia inginkan. Misalnya seorang anak kecil mampu menyuruh temannya untuk tidak berkawan dengan si Polan. Seorang ibu mampu melarang anaknya untuk tidak bermain pasir. Seorang suami mampu meminta istri dan anak-anaknya menghemat listrik. Seorang yang dituakan dalam lingkungan mampu meminta tetangganya agar bekerja bakti. Seorang pemimpin usaha mampu memecat anak buahnya. Dan seterusnya, hingga ke cakupan yang lebih mendunia. Seperti Presiden Amerika Serikat mampu memerintahkan pasukannya menyerbu Irak atau Afghanistan kendati kebanyakan negara menentangnya.

Seseorang selalu akan berusaha mengumpulkan dan melestarikan kekuasaan yang ia miliki. Caranya adalah dengan memperkuat fisiknya. Misalnya dengan berolah raga secara teratur, pergi ke salon untuk bersolek, melatih diri menguasai satu atau beberapa teknik beladiri. Atau belajar menggunakan senjata tertentu. Dengan memperkuat diri bukan berarti kekuasaan harus selalu diwujudkan melalui fisik, akan tetapi kekuatan fisik menjadi satu hal terpenting yang akan membuat orang itu wajar memiliki kekuasaan itu.

Cara kedua adalah dengan menciptakan pengetahuan. Misalnya, seseorang akan menciptakan semacam prosedur yang harus diikuti oleh orang lain. Prosedur ini harus dilengkapi dengan alasan-alasan lain, baik itu akademis, akhlaq atau sosial. Keseluruhan pengetahuan ini berawal dari keinginan melindungi tubuh si pencipta kebenaran dan akan berakhir pada menguatnya tubuh si empu kebenaran tadi. Bila rutinitas ini berlangsung lama, atau setidaknya memungkinkan rutinitas itu selalu diulang-ulang dengan cara yang cepat, maka semakin kuat saja si pemilik kebenaran tadi. Dus, akan semakin berkuasa pula. Misalnya, jika ada menerobos lampu merah di jalan HR Rasuna Said, Kuningan, maka serta merta polisi akan dengan mudah menangkap anda dan meminta tebusan. Rutinitas ini sudah terkenal dan secara konsisten dilaksanakan.

Lalu bagaimana apabila si pemilik kebenaran tadi tak punya tubuh yang sehat, misalnya seperti Gus Dur. Maka, kekuasaan ini sepenuhnya akan bertumpu pada pengetahuan, yang – mungkin – dapat dilihat melalui konsepsi ethos, pathos dan logos. Istilah ini dicetuskan oleh Aristoteles mengenai bentuk terpeting dari Rhetoric.

Ethos merujuk pada karakter si pembicara. Ini terkait dengan sejarah hidup. Apakah seseorang itu pada masa lalunya mempunyai reputasi yang baik pada bidang yang ia tekuni. Apakah pernah membuat kesalahan yang fatal dalam bidangnya itu. Dalam kasus Gus Dur, maka GD adalah seseorang yang memiliki sejarah panjang dalam ilmu agama dan juga dalam politik, sebagaimana dia dulu mampu bertahan memimpin Nahdlatul Ulama kendati kekuatan mantan presiden Soeharto via rejim Orba mencoba menjatuhkannya. Dia lolos dari itu karena mampu bermain politik dengan cerdas.

Pathos adalah emosi. Seorang orator yang baik harus mampu mengenali perilaku khalayaknya. Apakah mereka sudah jenuh, bosan, dan tak mendengar? Atau sebaliknya, mereka antusias dan tekun menyimak. Emosi juga terkait dengan peristiwa apa saja yang mengelilingi si orator. Apakah dia seorang yang didhalimi seperti SBY digambarkan media massa? Apakah dia dianggap orang yang sok kuasa seperti Taufik Kiemas? Khalayak cenderung mudah berempati pada mereka yang menderita. Namum cara khalayak bersikap pun ditentukan pula oleh pengetahuan umum yang dominan pada saat itu. Misalnya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang disakiti sistem hukum tetapi kebanyakan masyarakat tak memiliki sikap yang menentu sebab hampir seluruh institusi yang diberi kewenangan menyampaikan kebenaran, seperti polisi, hakim, media massa mencapnya sebagai dalang terorisme.

Logos adalah ilmu. Dalam kasus Gus Dur, maka GD adalah seorang intelek yang mampu berbahasa Arab dan Inggris dengan baik. Meski tak lulus sekolah formal, GD besar di lingkungan pesantren yang dapat memastikan bahwa dia dapat beragama Islam dengan baik. Beberapa tulisan GD di masa lalu juga membuktikan bahwa GD mampu berpikir sesuai alur pengetahuan mainstream. Singkatnya GD adalah mumpuni.

Dengan bermodal ketiganya, GD adalah orang yang berhak mencetus kebenaran terlepas dari kekurangan fisiknya. Dan dengan cerdas pula, dia mengolah ketiga bentuk retorik tadi sesuai dengan keadaan khalayaknya. Dengan ini pula ditegaskan bahwa tubuh – dalam beberapa kasus khusus – bukanlah syarat mutlak bagi pemangku kebenaran. Contoh nyata yang lain adalah Paus di agama Katolik.

Pemangku kebenaran biasanya juga didukung oleh lembaga. Suami menjadi lebih kuat karena dia berada dalam lembaga keluarga, sebuah entitas yang dipandang sempurna oleh agama maupun adat istiadat. Kasus lain adalah polisi – sebuah lembaga yang diperkenankan memegang kuasa menertibkan kehidupan bermasyarakat.

Gus Dur juga melembagakan kuasanya. Dengan posisinya sebagai ketua dewan pertimbangan PKB, dia menguasai sebuah sistem penciptaan kebenaran yang melembaga. Sebagai cucu pendiri NU, dia pun seperti memiliki hak khusus terhadap NU kendati secara organisatoris dia tak tersangkut paut. Dalam kalangan NU, GD sering dianggap wali. Semakin besar dan kuat lembaga yang menyokongnya, semakin kuat juga nilai kebenarannya. Untuk analogi yang lain adalah urutan-urutan kekuatan peraturan hukum negara kita, di mana UUD 45 yang diamandemen akan jadi payung seluruh peraturan lainnya.

Pertalian beberapa elemen tadi kemudian membentuk pengetahuan yang akan berfungsi menguatkan kuasa Gus Dur. Jadi, tak perlu heran apabila kata-kata GD sekarang ini sangat ditunggu oleh para politisi. Coba lihat bagaimana baik Akbar Tanjung dan Wiranto menemui GD untuk menanyakan calon dari NU atau PKB yang akan diajukan sebagai wakil presiden. Hasyim Muzadi pun demikian. Kendati dia terkesan tak mau peduli dengan GD, akan tetapi dia kelihatan canggung dan tak percaya diri untuk mengiyakan pinangan PDIP. Coba juga perhatikan bagaimana GD selalu diperlukan oleh partai-partai kecil setiap kali mereka membuat gerakan-gerakan, poros-poros atau sekedar pernyataan. Yang terakhir adalah upaya Sri Sultan HB X mempertemukan Megawati dan GD. Singkat kata, GD memiliki posisi pivotal dalam peta politik Indonesia saaat ini.

Akan tetapi GD pada akhirnya akan mentok pada kekuatan tubuhnya. Seorang yang betubuh sehat cenderung lebih stabil secara emosional. Keadaan ini akan berpengaruh pada hasil pengetahuan yang dia ciptakan. Jadi akan tiba masanya apabila GD membuat pernyataan yang bukan hanya membingungkan para pendengarnya, tetapi juga membingungkan dirinya sendiri. Dan ini bukan hal yang aneh. Sebab, kualitas dan kuantitas pengetahuan selalu berbanding lurus dengan kekuatan tubuh seseorang.

Lalu bagaimana dengan orang-orang semacam Stephen Hawkings? Bukankan dia cacat, dan hingga sekarang pendapatnya selalu diperhitungkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang bertubuh sehat. Benar, dan itu dapat terjadi karena Hawking memiliki pendapat yang konsisten. Apakah GD selalu konsisten dengan pendapatnya? Mungkin iya, hanya saja cara menyampaikannya memang lain dari yang lain. Mungkin si pendengar atau pembaca tulisan GD harus aktif menafsirkan apa yang GD maksudkan. Jika benar begini, GD secara tak langsung membuat orang lain cerdas.

Dan itulah yang terjadi. Pendapat GD sering dinilai kontroversial. Tetapi efeknya adalah pencerdasan si lawan bicaranya.

Itu menurut saya..



29 April 2004

Siapa Yang Kuat?

Adakah orang yang kuat bukan karena kita anggap dia kuat, melainkan kuat karena dirinya sendiri? Mungkin ada, tetapi dalam lingkup teramat kecil. Misalnya, seorang kepala rumah tangga, dalam hal ini pria, haruslah kuat mengatur organisasi rumah tangganya. Dia akan tambah kuat apabila istri dan anak-anaknya menganggapnya kuat. Dengan keadaan itu, dia mungkin akan mengatur rumah tangganya dengan baik, jika dia demokratis, ataupun dengan buruk, jika dia seorang otoriter.

Dalam lingkup yang lebih besar dari keluarga, yakni lingkungan tetangga, seseorang akan merasa dirinya kuat apabila dia secara ekonomi mampu, secara intelektual terdidik, secara usia dia cukup tua. Dia akan merasa dirinya kuat. Tetapi apakah keadaan ini akan membuatnya mampu mengatur lingkungannya, misalnya jadi ketua RT? Belum tentu. Sebab dia harus berdialog dengan para tetangganya supaya dia dianggap kuat.

Dalam organisasi lain juga begitu. Misalnya tempat kerja. Atau kelompok hobinya. Model ini juga dapat diproyeksikan ke dalam negara. Pertanyaannya, sekali lagi: adakah orang yang kuat itu?

Wiranto? Bahkan di Golkar pun ia kalah kuat dibanding Akbar Tanjung kendati dia memenangi konvensi. Akbar Tanjung? Ah, dia sudah kalah dalam segala hal. Amien Rais? Kuat di PAN atau di Muhammadiyah, tetapi tak cukup kuat dalam lingkup bangsa. Gus Dur juga begitu. Megawati juga. Singkat kata, ketiga orang yang disebut terakhir adalah jago kandang. Eh, ternyata, istilah ini juga dapat diterapkan pada semua nama-nama yang biasa disebut sebagai calon pemimpin.

Jadi tak ada calon pemimpin yang dapat kita anggap kuat, dong? Memang tak ada. Itu sebabnya semua orang mencari teman untuk menambah kekuatannya. SBY main sama Jusuf Kalla. Mega dan Wiranto berusaha main bareng Hasyim Muzadi, si ketua NU. Gus Dur memang kelihatannya tak mau main sama siapa-siapa, tetapi dia hanya mau mengambil orang yang kuat saja untuk jadi anak buahnya. Jadi, seperti ada gerombolan-gerombolan.

Padaha menurut saya yang kuat cuma militer. Bukan karena mereka punya senjata. Tetapi mereka kuat karena mereka berusaha mengumpulkan dan menjaga kekuatan yang sudah terkumpul. Dan merekalah sebenarnya yang menjalankan negara ini. Mereka tahu itu. Dan tanpa harus berteman dengan siapapun, kemampuan mereka tak berkurang, cuma mungkin jadi kelihatan tak pantas. Analoginya, seperti preman ngurusi pasar. Sebab itu mereka secara verbal mengatakan bahwa mereka netral.

Biar begitu, masih saja ada orang yang membujuki mereka ikut jadi teman. Kalaupun tidak bisa ya bekas militer juga bolehlah. Maka tak perlu heran bila Wiranto dan SBY jadi kandidat presiden.

Maka boleh dibilang, jalannya Indonesia tergantung militer. Jika militer mau ada pemilu presiden aman, ya dia bikin aman. Bila tidak, ya tidak. "Jadi mereka tak bertindak demi NKRI dong?" Memang tidak. Mereka akan melakukan segala yang perlu demi keuntungan sendiri. Jargon NKRI kan sama saja jargon yang biasa dipakai sipil "Brantas KKN".

Akhirnya, kalau mau lihat Indonesia nantinya seperti apa ya lihat saja militer akan kebagian apa. Bila kekuasaan mereka secara hakiki terkurangi, mungkin Indonesia tak akan pernah aman. Setidaknya itu yang akan terjadi hingga 2009.

Begitulah menurut saya!


23 April 2004

Menciptakan Kebenaran

Adakah yang namanya untung? Ada lah! Istilah ini identik dengan dagang. Kita ambil barang dua ribu, kita jual tiga ribu. Untung seribu. Jadi kata "untung" memang ada rujukannya di dunia nyata.

Apakah untung dapat diterapkan di dunia selain dagang? Oh ya, tentu saja bisa. Ada istilah ilmiah di ilmu sosial, khususnya komunikasi, yakni: economy of the truth! Maksudnya adalah apabila seseorang atau sekelompok orang yang diuntungkan oleh satu atau beberapa kebenaran. Misalnya: kemarin ada wabah deman berdarah. Lalu para dokter berkata, "hindarkan diri anda dari gigitan nyamuk". Ini adalah kebenaran. Dan yang diuntungkan adalah para pedangan obat nyamuk.

Kalau begitu kebenaran bisa sengaja diciptakan supaya orang memperoleh untung, dong? Jawabnya: betul! Contoh sederhana begini. Misalnya ada sebuah keluarga yang memiliki anak. Karena keluarga ini tidak kaya, maka sang kepala keluarga tidak mampu menyediakan kebutuhan anaknya dengan berlebihan. Apabila anak laki-laki, dia tidak bisa membelikan mobil dengan remote control. Apabila anak perempuan, dia tak mampu beli boneka Barbie. Lalu kedua orang tua ini menciptakan "kebenaran" yang dapat menghindarkan anak-anaknya mengkonsumsi mainan yang mahal-mahal itu. Misalnya dengan mengatakan, "Mobil remot dan boneka barbie buatan Amerika, nanti yang untung Amerika kalau kita beli. Lebih baik main mobil-mobilan dari kulit jeruk bali dan beli boneka cepot saja. Kita harus bangga jadi orang Indonesia!"

Coba deh lihat sendiri. Pasti pernah mendengar, entah itu orang tua kita, guru, atasan, teman, bahkan pacar yang menciptakan satu pernyataan "kebenaran" karena dengan melakukan itu mereka untung. Atau ingat-ingat sendiri, barangkali saja kita pernah melakukan itu.

Karena untung-rugi juga ada dalam penciptaan kebenaran, maka dari itu kita tak harus percaya-percaya betul apapun kata orang, kendati si pengucap kalimat itu adalah orang yang memiliki otoritas atas kebenaran itu. Misalnya, kyai/ulama atau pendeta yang mengeluarkan pernyataan keagamaan, dokter dengan istilah-istilah yang kedengarannya indah untuk penyakit kelamin, atau hakim/jaksa yang menggunakan kata ulangan untuk membebaskan seorang tersangka, politisi yang berjanji akan memberantas KKN. Sebab semua pernyataan tadi mengikuti prinsip ekonomi kebenaran.

Lalu bagaimana menghadapi dunia yang seperti ini? Waduh... itu saya juga tak tahu. Ada filsuf yang bilang bahwa dunia pernyataan tadi adalah fenomena. Maksudnya, pernyataan tadi benar hanya pada saat itu dan di tempat itu saja dan tidak terkait dengan apapun di luar pernyataan itu sendiri. Misalnya ada yang bilang, "Saya adalah seorang kapiten." Itu artinya, ya dia adalah kapiten pada saat ia mengatakannya dan tak perlu dirujuk kalau dia hidup di laut. Singkatnya, tak perlu menghubungkan sebuah pernyataan dengan pernyataan lain sehingga pernyataan tadi seolah-olah memiliki makna lain.

Tetapi karena orang cenderung selalu mencoba memahami satu pernyataan dengan kerangka pikir lain, ada seorang pakar sosial lain yang bilang bahwa kebiasaan itu dapat menciptakan kenyataan dari kenyataan yang semu. Analoginya adalah seperti seekor anak kucing yang berdiri di depan cermin dan ia menganggap ada kucing lain di seberang sana. Istilahnya, hiper-realitas.

Dan hiperrealitas ini terkadang buruk sebab cenderung menuntun orang merealisasikan kenyataan berdasarkan imajinasinya. Misalnya, ada orang yang ingin membangun rumah. Ia survey ke berbagai perumahan. Ia membaca banyak majalah atau tabloid tentang arsitektur rumah. Dan akhirnya ia menghubungi jasa pembuatan desain rumah yang dilengkapi efek tiga dimensi. Ia telah membuat kenyataan; dan kenyataan itu kemudian mengendalikan dirinya. Ia jadi bekerja lebih keras, lebih tak mempedulikan kemaslahatan orang banyak, asal ia dapat uang untuk membangun impiannya itu. Well, ini sih masih wajar.

Tetapi coba bila ada seorang yang yakin bahwa dunia akan aman apabila dia yang menjadi pemimpin dan mengikuti segala cara yang dia inginkan? Ya, seperti sekarang ini..... datar semua. Tak ada yakin bahwa masa depan patut dipertimbangkan lagi....

Sungguh memilukan!

15 April 2004

Ketidakjelasan yang sangat jelas

Aduh, rasanya sudah lama sekali tak menulis. Memang sebenarnya juga tak ada ide yang pantas untuk ditulis. Habis, saya sejujurnya agak kecewa dan patah arang dengan hasil pemilu kemarin. Saya memang terkejut dengan komposisi hasil perolehan suara, tetapi itu bukan masalahnya. Yang saya tunggu adalah hasil itu cepat selesai dan segera diumumkan, supaya kita tak tertunda dalam mempersiapkan apa yang sepantasnya disiapkan.

Pada hari pertama seusai pemilu, jadi tanggal 6 april, saya masih maklum dengan perolehan suara yang masih seribu dua ribu. Namun pada hari-hari berikutnya, penambahan suara seperti dicicil. Waktu itu saya menduga, paling lama seminggu seluruh suara dapat dihitung. Dan sekarang, tanggal 15 april, belum ada 100 juta suara. Jadi masih ada kurang lebih 40-an juta suara yang belum terhitung. Itu sudah 10 hari.

Memang rada kacau perhitungan suara ini. Kecurangan yang biasa terjadi semasa Orba, dilakukan. Dan panwaslu serta orang-orang yang berkepentingan atas itu juga lalai. Sementara, KPU sebagai panitia pemilu juga kelihatan gagap dengan segala hal. Dalam perundangan, dalam percetakan, dalam pengiriman logistik, dalam perhitungan suara, mungkin juga nanti dalam pengaturan pemiliha presiden. Tapi, ya sudahlah... sebenarnya itu tak ada sangkut pautnya secara langsung dengan kehidupan sehari-hari saya, cuma ini menyebalkan saja... Keseluruhan proses ini makin membuat saya yakin bahwa tak ada satu pun orang Indonesia dapat dipercaya memimpin, tak peduli siapa dia!

Nah, terkait dengan pemimpin, sekarang juga sedang berlangsung, kata koran, lobi tingkat tinggi. Wah, para calon pemimpin itu sepertinya tak kapok juga dan tak menyadari jika rakyat itu bisa menghukum. Perolehan suara PDIP menurun adalah hukuman, juga perolehan suara PAN. Sebaliknya, suara banyak untuk Demokrat dan PK Sejahtera adalah hadiah.

Apa yang para elit lakukan sebenarnya sah saja, setidaknya begitulah ungkapan lisan tiap orang. Tapi dalam hati, seharusnya apa yang seharusnya tidak dilakukan ya jangan dilakukan. Elit itu harusnya tak bermain dengan daerah "abu-abu". Rakyat sudah lelah. Rakyat inginnya yang jelas saja. Sebut saja: saya ingin jadi pemimpin karena ini dan itu dan saya berdedikasi tinggi bagi rakyat semua, karena itu saya tak mau bergabung dengan parpol ini atau itu sebab hal itu akan menganggu keinginan saya memihak rakyat!

Tapi tak ada tuh yang begitu. Mereka masih khawatir dengan jumlah suara yang mereka peroleh. Meski suara itu berpengaruh untuk mencalonkan nama capres dan wapres tetapi itu tak berpengaruh terhadap bagaimana rakyat memilih orang.

Rakyat hanya akan memilih orang yang "kelihatannya" dan "kedengarannya" atau "rasa-rasanya" ada di pihak mereka. Jika mereka melihat dan mendengar X membela mereka, rakyat akan merasa pantas saja memilih X untuk menjadi pemimpinnya. Begitu sederhana.

Tetapi, para elit memang punya kepentingan lain. Jadi... biar saja mereka sekali lagi dihukum oleh rakyat.

Dan ternyata, bagi orang-orang seperti saya yang tidak terdaftar jadi pemilih, dapat mendaftar untuk ikut memilih presiden. Jadi, saya agak senang dan mau memanfaatkan hak pilih saya itu. Setidaknya itu adalah keinginan saya saat ini.
Entah besok......

02 April 2004

NGOTB

Pemilu tinggal beberapa hari lagi. Dan dua hari yang lalu, saya mendapati kalau ternyata saya tidak terdaftar sebagai pemilih tetap. Jadi, mungkin saya tak akan ikut nyoblos.

Sebenarnya bisa saja mengeluhkan hal ini ke RT, yang kemudian akan meneruskan hingga ke, entah KPU, entah Panwaslu. Tetapi tak saya lakukan, sebab kasihan saja: mereka sudah bekerja keras, di-grecokin sana-sini. Jadi dengan tidak mengeluhkan perihal ini, saya pikir setidaknya inilah yang bisa saya lakukan untuk mensukseskan Pemilu.

Golputkah saya? Menurut saya sih bukan. Golput adalah mereka yang sudah terdaftar menjadi pemilih tetap, mendatangi TPS, mengambil kertas suara, lalu masuk ke bilik suara, tetapi kemudian memilih untuk tidak memilih satu pun partai, atau nama caleg atau DPD. Dengan kata lain, golput adalah abstain.

Sedang saya kan tidak terdaftar. Mungkin saya boleh dibilang warga negara liar. Kalau meminjam istilah yang dipakai Pak Harto - presiden Orba itu - untuk mengidentifikasi orang-orang yang dituduh di belakang kerusuhan 27 Juli saat penyerbuan kantor PDI-nya Mega - saya dan orang-orang seperti saya adalah organisasi tanpa bentuk, disingkat OTB.

Waktu saya mengaitkan dengan ketidakikutsertaan saya di Pemilu, mungkin orang-orang seperti kami lebih pantas kalau disebut Gerombolan Tanpa Bentuk, disingkay GTB. Supaya kedengaran keren - dan sedikit memplesetkan boyband Amerika NKOTB (New Kids on the Block), maka pantas juga kalau singkatannya diperpanjang menjadi NGOTB = New Gerombolan On The Block!

Kendati saya tak nyaman dengan ini, tapi apa mau dikata: Pemilu kali ini, saya dipastikan hanya akan jadi anggota NGOTB saja.

Hidup NGOTB. Merdeka!!!



30 March 2004

Ada yang aneh deh...

Rasa-rasanya pabrik-pabrik banyak yang terbakar dalam beberapa bulan terakhir ini. Pasar-pasar juga banyak yang terbakar. Dan seiring dengan itu, harga-harga pada mulai naik. Elpiji naik, minyak goreng naik, harga telur juga.

Sepertinya pabrik yang menampung banyak pekerja sengaja dibikin tidak produktif sehingga memaksa perusahaan melakukan pemecatan. Selanjutnya, mereka tidak akan punya uang. Di sisi lain, kebutuhan pokok juga pada naik. Sehingga uang yang seharusnya dapat dipakai sekian hari, jadi sanggup hanya untuk beberapa hari saja.

Menuju ke manakah fenomena ini?

Coba lihat juga persiapan Pemilu 2004 yang selalu diberitakan media kekurang sempurnaannya. Perdebatan terakhir adalah penundaan Pemilu. Mulai pula beredar isu-isu menyangkut tokoh tertentu. Yang sekarang heboh, Gus Dur dibaptis. Terus ada bom yang meledak di Cimanggis, Depok.

Adakah ini diatur menuju ke satu tujuan tertentu?

Saya koq khawatir sekali. Semoga saja tak terjadi yang aneh-aneh...

23 March 2004

Tips Memilih Presiden

Saya kenal sebuah keluarga yang unik. Mereka terdiri dari enam orang: Bapak, Ibu, dua anak laki dan dua anak perempuan. Keunikan mereka terletak pada cara mereka memandang dunia. Misalnya, waktu ada wabah tikus menyerang tanah pertanian yang siap panen di Lampung, mereka menganjurkan untuk mengirim manusia sebanyak-banyaknya untuk mengatasi keadaan. "Kenapa?" saya bertanya. Sebab, manusia itu pemakan segala; jadi biar tikus-tikus yang menyerang padi, dimakan manusia, pasti habis. Saya selalu ingat nasehat mereka ketika ada wabah apapun melanda pertanian kita. Entah itu wabah belalang, atau serangga apa pun.

Kadang-kadang saya berpikir mereka itu saman, yakni cara pandang sebuah masyarakat di Jawa Tengah bagian utara (mungkin Blora). Ada sebuah cerita. Waktu itu jaman Soeharto. Apabila kita bertanya siapa presiden Indoensia, orang saman akan bilang Soekarno. "Bukannya Soeharto?" Mereka akan menjawab, "Soeharto kan gantinya."

Saya sudah lama tak jumpa mereka. Mereka tinggal jauh dari tempat saya. Pada satu kesempatan libur panjang, saya berkujung. Saat itu, hanya ada Bapak, Ibu, satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Setelah berbincang ngalor-ngidul, akhirnya kita ngomongin juga masalah Pemilu. Tentang bagaimana mencoblosnya. Partai mana yang lebih baik. Dan seterusnya. Waktu kita bicara tentang siapa presiden yang akan dipilih, mereka menunjukkan watak aslinya. Si anak laki-laki berkata akan memilih Yusril Ihza Mahendra karena ia gagah. Si anak perempuan bilang akan memilih Susilo Bambang Yudoyono karena SBY lebih gagah dari Yusril, dan lebih berwibawa. Si Ibu bilang ia akan pilih Surya Paloh sebab tak ada satupun calon presiden yang brewok.

Duh, waktu saya dengar alasan mereka memilih saya jadi ingat teman saya yang pada pemilu 1999 tidak akan pernah memilih Gus Dur karena Gus Dur tak fotogenik sama sekali.

Sementara si Bapak bilang akan memilih Megawati. Kenapa? "Kasihan, masa mau jadi presiden lagi ndak boleh? Wong Soeharto saja sampai 32 tahun, koq," jawabnya santai.

Mendengar alasan mereka memilih, saya jadi ingin ikut pemilu deh..

19 March 2004

Sujiwo Tedjo's Klenikism

Pagi ini, Jum'at, 19 Maret 2004, saya mendengarkan dialog di Delta FM yang menghadirkan Sujiwo Tedjo. Pada intronya, si penyiar menyebut aktivitas Tedjo yang paling anyar adalah novelis dan pembawa acara klenik di TV, setelah sebelumnya menekuni alat-alat musik barat, khususnya saxophone, pemain film, dalang, wartawan dan penyiar radio dari masa sekolahnya di ITB, di Teknik Industri dan satu lagi - duanya drop-out.

Dalam dialog, ada beberapa SMS dan telepon yang masuk. Ada SMS yang memarahi Tedjo karena dalam mendalang ia menyalahi pakem pendalangan. Tedjo berargumen bahwa justru pakem yang sekarang sering dipakai adalah salah sebab pakem yang sekarang diadaptasi dari versi India pada masa orang Jawa dijajah Belanda. Jadi yang menjiwai adalah semangat orang yang kalah. Tedjo menutup dengan minta maaf bagi yang tidak berkenan, tapi dia akan melanjutkan caranya mendalang.

SMS lain menanyakan adakah sekolah dalang. Tedjo menjawab ada, tetapi kebanyakan murid sekolah itu berakhir menjadi peneliti atau dosen perdalangan. Sangat jarang yang jadi dalang. Sebab, katanya, percaya atau tidak, dalang adalah profesi turun temurun, seperti jabatan Presiden Indonesia. He..he..

Ada beberapa SMS lain dan penelepon masuk yang saya tidak ingat betul bertanya apa. Yang menarik perhatian saya adalah tentang klenik. Tedjo diprotes karena ia membawakan acara hantu-hantuan. Dia menjawab bahwa dia dengan sengaja membawakan acara itu dengan alasan bahwa acara-acara hantu-hantuan - yang dalam istilahnya klenik - ternyata lebih rasional ketimbang dunia nyata di Indonesia, khususnya politik. Dia merujuk, Akbar Tanjung kok bisa bebas? Ini tak logis. Atau dengan kata lain: ini klenik!

Dan saya pikir banyak yang tak masuk akal di sekeliling kita ini. Pegawai negeri atau anggota TNI/Polri dengan gaji sedemikian kecil dapat hidup dengan berkecukupan, bahkan mewah. Ada orang yang tak bekerja, punya uang banyak. Sebaliknya, yang jujur dan bekerja keras, hidup dalam keterbatasan. Ini klenik.

Dalam usahanya untuk membuktikan bahwa dunia politik Indonesia memang klenik, Tedjo sedang menyiapkan film tentang Sumanto. Ya! Si kanibal itu. Dia akan memerankan jadi guru Sumanto, yang katanya memberi petunjuk kanibalismenya si Sumanto. Saya tak menangkap hubungannya. Hanya saya senang saja waktu dia bilang ada yang lebih klenik dari dunia klenik sendiri.

Dan kita memang begitu kan ya?