17 May 2004

Sistem Kesalahan Kolektif

Saya sering jengkel saat mengemudi di jalan di mana banyak angkutan umum: metro mini, kopaja, angkot. Sebab, mereka selalu seenaknya sendiri. Seolah-olah cuma mereka yang punya kepentingan khusus, yakni mencari uang untuk menguber setoran dan untuk diri dan keluarganya sendiri, orang lain tidak. Dalam bahasa susah: "Ends justify the means". Apapun sah dilakukan oleh para pengemudi angkutan umum itu asal tujuan tercapai. Betapa mulia!

Seorang kawan yang saya paksa mendengarkan keluhan saya mengenai angkutan umum ini, memberi informasi lain. Secara personal dia memang mengiyakan pendapat saya, tetapi dia memberi fakta lain. Suatu ketika, dia naik angkot. Jalan macet dan angkot yang dia tumpangi mencoba segala upaya melakukan apa yang seharusnya dilakukan pengemudi angkot lain: mengambil jalur dari arah sebaliknya untuk menyalip dan kemudian dengan tiba-tiba dan memaksa kembali ke jalur kiri apabila ada kendaraan dari depan yang tak bisa ia paksa minggir, misalnya truk Pertamina atau kendaraan besar lainnya. Nah, saat akan kembali ke kiri, ada pengemudi mobil pribadi yang tak memberi ruang, si supir angkot langsung mencak-mencak: "dasar gila, mau menang sendiri, mentang-mentang mobil pribadi, enggak mau ngalah sama angkot." Padahal, kalimat tadi seharusnya diucapkan si pemilik kendaraan pribadi tadi. Intinya adalah, pengemudi mobil pribadi akan menyalahkan angkutan umum dan pengemudi angkutan umum akan dengan lebih galak lagi memarahi pemilik mobil pribadi.

Saya pernah mencoba ber-empati terhadap pengemudi angkutan umum. Saya memang maklum dengan apa yang mereka lakukan, tetapi cara itu bukanlah cara yang benar menurut hukum. Jadi, seharusnya mereka tertib saja.

Sayangnya, fakta di lapanga lain. Ada banyak sekali angkutan umum yang mencoba mencari uang. Di beberap jalur, angkutan umum bahkan melebihi kapasitas penumpang. Sehingga, persaingan menjadi sangat keras. Untuk mengatasi itu, para pengemudi harus melakukan apa saja, termasuk melanggar peraturan dan mengacuhkan kepentingan pengguna jalan lain. Dapat diasumsikan jumlah uang yang diperoleh pengemudi berbanding lurus dengan kenekadan si pengemudi. Semakin gila, semakin banyak uang. Sebuah keabsurdan yang teramat nyata.

Tetapi, sekali lagi itu salah, menurut hukum. Tetapi sekali lagi karena keadaan ekonomi sulit, penjaga ketertiban, entah itu polisi, DLLAJ, pamong praja, maklum. Apalagi jika mereka diberi "gizi".

Di Indonesia, sebenarnya banyak yang salah. Tetapi kesalahan itu dibiarkan terus terjadi sebab apabila dilarang, maka akan terdapat terlalu banyak orang miskin. Jadi kehidupan kita sehari-hari, didasarkan atas hukum yang salah.

Atau, jangan-jangan justru hukumnya yang salah. Sudah tahu orang Indonesia tak bisa menunggu dan turun di halte, masih saja dibuat halte di mana. Sudah tahu orang Indonesia lebih senang menunggu di pertigaan atau perempatan jalan menunggu angkutan umum, masih saja membuat terminal yang terlalu jauh. Sudah tahu orang Indonesia suka menyebrang di mana saja, masih saja membuat jembatan penyebrangan atau zebra cross. Dengan ini, kita dapat artikan bahwa, orang-orang yang kita percaya dapat membuat peraturan dan hukum demi ketertiban malah tidak mampu memahami irama hidup manusia Indonesia.

Jadi kalau dirangkum. Ada kelompok orang yang akan membuat peraturan dan hukum supaya kehidupan menjadi aman tertib dan nyaman. Dalam pelaksanaannya, ada aparat yang bertugas memastikan semua peraturan ditaati. Tetapi karena peraturan itu tidak membuat kebanyakan anggota masyarakat, maka kelompok masyarakat ini akan menciptakan sebuah kebiasaan sendiri yang mereka rasa nyaman, kendati cara itu sama sekali tidak sesuai dengan peraturan dan hukum yang ada. Aparat yang seharusnya menjaga peraturan dengan terpaksa menerima kenyataan itu dan membolehkannya, apalagi mereka secara ekonomis diuntungkan. Jadi, terbentuklah sebuah kebiasaan baru yang lebih aktual, bukan imajiner.

Singkatnya, ada sistem hukum yang diciptakan berdasarkan idealisme. Ada sistem sosial yang diciptakan berdasarkan kesepakatan anggota masyarakat. Yang kedualah yang dijalankan.

Dalam cakupan yang lebih besar, asumsi ini juga dapat diterapkan, koq. Ada sistem pemilu presiden yang memungkinkan tiap individu untuk secara bebas aktif menentukan pilihannya sendiri. Ada juga sistem sosial di mana seorang kuat akan menentukan apa yang harus dilakukan oleh sekelompok massa yang lebih besar.

Sehingga, tak ada kewajiban untuk selalu taat peraturan yang ada. Lebih nyaman ikuti kebiasaan saja. Kendati salah, tetapi lebih membuat kita jadi anggota masyarakat biasa.

Dan tak ada kok yang akan bilang kita dungu karenanya!

06 May 2004

Siapa pemangku kebenaran?

Setiap orang memiliki kuasa. Artinya setiap orang dalam cakupan tertentu mampu mengeksekusi apa yang dia inginkan. Misalnya seorang anak kecil mampu menyuruh temannya untuk tidak berkawan dengan si Polan. Seorang ibu mampu melarang anaknya untuk tidak bermain pasir. Seorang suami mampu meminta istri dan anak-anaknya menghemat listrik. Seorang yang dituakan dalam lingkungan mampu meminta tetangganya agar bekerja bakti. Seorang pemimpin usaha mampu memecat anak buahnya. Dan seterusnya, hingga ke cakupan yang lebih mendunia. Seperti Presiden Amerika Serikat mampu memerintahkan pasukannya menyerbu Irak atau Afghanistan kendati kebanyakan negara menentangnya.

Seseorang selalu akan berusaha mengumpulkan dan melestarikan kekuasaan yang ia miliki. Caranya adalah dengan memperkuat fisiknya. Misalnya dengan berolah raga secara teratur, pergi ke salon untuk bersolek, melatih diri menguasai satu atau beberapa teknik beladiri. Atau belajar menggunakan senjata tertentu. Dengan memperkuat diri bukan berarti kekuasaan harus selalu diwujudkan melalui fisik, akan tetapi kekuatan fisik menjadi satu hal terpenting yang akan membuat orang itu wajar memiliki kekuasaan itu.

Cara kedua adalah dengan menciptakan pengetahuan. Misalnya, seseorang akan menciptakan semacam prosedur yang harus diikuti oleh orang lain. Prosedur ini harus dilengkapi dengan alasan-alasan lain, baik itu akademis, akhlaq atau sosial. Keseluruhan pengetahuan ini berawal dari keinginan melindungi tubuh si pencipta kebenaran dan akan berakhir pada menguatnya tubuh si empu kebenaran tadi. Bila rutinitas ini berlangsung lama, atau setidaknya memungkinkan rutinitas itu selalu diulang-ulang dengan cara yang cepat, maka semakin kuat saja si pemilik kebenaran tadi. Dus, akan semakin berkuasa pula. Misalnya, jika ada menerobos lampu merah di jalan HR Rasuna Said, Kuningan, maka serta merta polisi akan dengan mudah menangkap anda dan meminta tebusan. Rutinitas ini sudah terkenal dan secara konsisten dilaksanakan.

Lalu bagaimana apabila si pemilik kebenaran tadi tak punya tubuh yang sehat, misalnya seperti Gus Dur. Maka, kekuasaan ini sepenuhnya akan bertumpu pada pengetahuan, yang – mungkin – dapat dilihat melalui konsepsi ethos, pathos dan logos. Istilah ini dicetuskan oleh Aristoteles mengenai bentuk terpeting dari Rhetoric.

Ethos merujuk pada karakter si pembicara. Ini terkait dengan sejarah hidup. Apakah seseorang itu pada masa lalunya mempunyai reputasi yang baik pada bidang yang ia tekuni. Apakah pernah membuat kesalahan yang fatal dalam bidangnya itu. Dalam kasus Gus Dur, maka GD adalah seseorang yang memiliki sejarah panjang dalam ilmu agama dan juga dalam politik, sebagaimana dia dulu mampu bertahan memimpin Nahdlatul Ulama kendati kekuatan mantan presiden Soeharto via rejim Orba mencoba menjatuhkannya. Dia lolos dari itu karena mampu bermain politik dengan cerdas.

Pathos adalah emosi. Seorang orator yang baik harus mampu mengenali perilaku khalayaknya. Apakah mereka sudah jenuh, bosan, dan tak mendengar? Atau sebaliknya, mereka antusias dan tekun menyimak. Emosi juga terkait dengan peristiwa apa saja yang mengelilingi si orator. Apakah dia seorang yang didhalimi seperti SBY digambarkan media massa? Apakah dia dianggap orang yang sok kuasa seperti Taufik Kiemas? Khalayak cenderung mudah berempati pada mereka yang menderita. Namum cara khalayak bersikap pun ditentukan pula oleh pengetahuan umum yang dominan pada saat itu. Misalnya, ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang disakiti sistem hukum tetapi kebanyakan masyarakat tak memiliki sikap yang menentu sebab hampir seluruh institusi yang diberi kewenangan menyampaikan kebenaran, seperti polisi, hakim, media massa mencapnya sebagai dalang terorisme.

Logos adalah ilmu. Dalam kasus Gus Dur, maka GD adalah seorang intelek yang mampu berbahasa Arab dan Inggris dengan baik. Meski tak lulus sekolah formal, GD besar di lingkungan pesantren yang dapat memastikan bahwa dia dapat beragama Islam dengan baik. Beberapa tulisan GD di masa lalu juga membuktikan bahwa GD mampu berpikir sesuai alur pengetahuan mainstream. Singkatnya GD adalah mumpuni.

Dengan bermodal ketiganya, GD adalah orang yang berhak mencetus kebenaran terlepas dari kekurangan fisiknya. Dan dengan cerdas pula, dia mengolah ketiga bentuk retorik tadi sesuai dengan keadaan khalayaknya. Dengan ini pula ditegaskan bahwa tubuh – dalam beberapa kasus khusus – bukanlah syarat mutlak bagi pemangku kebenaran. Contoh nyata yang lain adalah Paus di agama Katolik.

Pemangku kebenaran biasanya juga didukung oleh lembaga. Suami menjadi lebih kuat karena dia berada dalam lembaga keluarga, sebuah entitas yang dipandang sempurna oleh agama maupun adat istiadat. Kasus lain adalah polisi – sebuah lembaga yang diperkenankan memegang kuasa menertibkan kehidupan bermasyarakat.

Gus Dur juga melembagakan kuasanya. Dengan posisinya sebagai ketua dewan pertimbangan PKB, dia menguasai sebuah sistem penciptaan kebenaran yang melembaga. Sebagai cucu pendiri NU, dia pun seperti memiliki hak khusus terhadap NU kendati secara organisatoris dia tak tersangkut paut. Dalam kalangan NU, GD sering dianggap wali. Semakin besar dan kuat lembaga yang menyokongnya, semakin kuat juga nilai kebenarannya. Untuk analogi yang lain adalah urutan-urutan kekuatan peraturan hukum negara kita, di mana UUD 45 yang diamandemen akan jadi payung seluruh peraturan lainnya.

Pertalian beberapa elemen tadi kemudian membentuk pengetahuan yang akan berfungsi menguatkan kuasa Gus Dur. Jadi, tak perlu heran apabila kata-kata GD sekarang ini sangat ditunggu oleh para politisi. Coba lihat bagaimana baik Akbar Tanjung dan Wiranto menemui GD untuk menanyakan calon dari NU atau PKB yang akan diajukan sebagai wakil presiden. Hasyim Muzadi pun demikian. Kendati dia terkesan tak mau peduli dengan GD, akan tetapi dia kelihatan canggung dan tak percaya diri untuk mengiyakan pinangan PDIP. Coba juga perhatikan bagaimana GD selalu diperlukan oleh partai-partai kecil setiap kali mereka membuat gerakan-gerakan, poros-poros atau sekedar pernyataan. Yang terakhir adalah upaya Sri Sultan HB X mempertemukan Megawati dan GD. Singkat kata, GD memiliki posisi pivotal dalam peta politik Indonesia saaat ini.

Akan tetapi GD pada akhirnya akan mentok pada kekuatan tubuhnya. Seorang yang betubuh sehat cenderung lebih stabil secara emosional. Keadaan ini akan berpengaruh pada hasil pengetahuan yang dia ciptakan. Jadi akan tiba masanya apabila GD membuat pernyataan yang bukan hanya membingungkan para pendengarnya, tetapi juga membingungkan dirinya sendiri. Dan ini bukan hal yang aneh. Sebab, kualitas dan kuantitas pengetahuan selalu berbanding lurus dengan kekuatan tubuh seseorang.

Lalu bagaimana dengan orang-orang semacam Stephen Hawkings? Bukankan dia cacat, dan hingga sekarang pendapatnya selalu diperhitungkan oleh ilmuwan-ilmuwan yang bertubuh sehat. Benar, dan itu dapat terjadi karena Hawking memiliki pendapat yang konsisten. Apakah GD selalu konsisten dengan pendapatnya? Mungkin iya, hanya saja cara menyampaikannya memang lain dari yang lain. Mungkin si pendengar atau pembaca tulisan GD harus aktif menafsirkan apa yang GD maksudkan. Jika benar begini, GD secara tak langsung membuat orang lain cerdas.

Dan itulah yang terjadi. Pendapat GD sering dinilai kontroversial. Tetapi efeknya adalah pencerdasan si lawan bicaranya.

Itu menurut saya..



29 April 2004

Siapa Yang Kuat?

Adakah orang yang kuat bukan karena kita anggap dia kuat, melainkan kuat karena dirinya sendiri? Mungkin ada, tetapi dalam lingkup teramat kecil. Misalnya, seorang kepala rumah tangga, dalam hal ini pria, haruslah kuat mengatur organisasi rumah tangganya. Dia akan tambah kuat apabila istri dan anak-anaknya menganggapnya kuat. Dengan keadaan itu, dia mungkin akan mengatur rumah tangganya dengan baik, jika dia demokratis, ataupun dengan buruk, jika dia seorang otoriter.

Dalam lingkup yang lebih besar dari keluarga, yakni lingkungan tetangga, seseorang akan merasa dirinya kuat apabila dia secara ekonomi mampu, secara intelektual terdidik, secara usia dia cukup tua. Dia akan merasa dirinya kuat. Tetapi apakah keadaan ini akan membuatnya mampu mengatur lingkungannya, misalnya jadi ketua RT? Belum tentu. Sebab dia harus berdialog dengan para tetangganya supaya dia dianggap kuat.

Dalam organisasi lain juga begitu. Misalnya tempat kerja. Atau kelompok hobinya. Model ini juga dapat diproyeksikan ke dalam negara. Pertanyaannya, sekali lagi: adakah orang yang kuat itu?

Wiranto? Bahkan di Golkar pun ia kalah kuat dibanding Akbar Tanjung kendati dia memenangi konvensi. Akbar Tanjung? Ah, dia sudah kalah dalam segala hal. Amien Rais? Kuat di PAN atau di Muhammadiyah, tetapi tak cukup kuat dalam lingkup bangsa. Gus Dur juga begitu. Megawati juga. Singkat kata, ketiga orang yang disebut terakhir adalah jago kandang. Eh, ternyata, istilah ini juga dapat diterapkan pada semua nama-nama yang biasa disebut sebagai calon pemimpin.

Jadi tak ada calon pemimpin yang dapat kita anggap kuat, dong? Memang tak ada. Itu sebabnya semua orang mencari teman untuk menambah kekuatannya. SBY main sama Jusuf Kalla. Mega dan Wiranto berusaha main bareng Hasyim Muzadi, si ketua NU. Gus Dur memang kelihatannya tak mau main sama siapa-siapa, tetapi dia hanya mau mengambil orang yang kuat saja untuk jadi anak buahnya. Jadi, seperti ada gerombolan-gerombolan.

Padaha menurut saya yang kuat cuma militer. Bukan karena mereka punya senjata. Tetapi mereka kuat karena mereka berusaha mengumpulkan dan menjaga kekuatan yang sudah terkumpul. Dan merekalah sebenarnya yang menjalankan negara ini. Mereka tahu itu. Dan tanpa harus berteman dengan siapapun, kemampuan mereka tak berkurang, cuma mungkin jadi kelihatan tak pantas. Analoginya, seperti preman ngurusi pasar. Sebab itu mereka secara verbal mengatakan bahwa mereka netral.

Biar begitu, masih saja ada orang yang membujuki mereka ikut jadi teman. Kalaupun tidak bisa ya bekas militer juga bolehlah. Maka tak perlu heran bila Wiranto dan SBY jadi kandidat presiden.

Maka boleh dibilang, jalannya Indonesia tergantung militer. Jika militer mau ada pemilu presiden aman, ya dia bikin aman. Bila tidak, ya tidak. "Jadi mereka tak bertindak demi NKRI dong?" Memang tidak. Mereka akan melakukan segala yang perlu demi keuntungan sendiri. Jargon NKRI kan sama saja jargon yang biasa dipakai sipil "Brantas KKN".

Akhirnya, kalau mau lihat Indonesia nantinya seperti apa ya lihat saja militer akan kebagian apa. Bila kekuasaan mereka secara hakiki terkurangi, mungkin Indonesia tak akan pernah aman. Setidaknya itu yang akan terjadi hingga 2009.

Begitulah menurut saya!


23 April 2004

Menciptakan Kebenaran

Adakah yang namanya untung? Ada lah! Istilah ini identik dengan dagang. Kita ambil barang dua ribu, kita jual tiga ribu. Untung seribu. Jadi kata "untung" memang ada rujukannya di dunia nyata.

Apakah untung dapat diterapkan di dunia selain dagang? Oh ya, tentu saja bisa. Ada istilah ilmiah di ilmu sosial, khususnya komunikasi, yakni: economy of the truth! Maksudnya adalah apabila seseorang atau sekelompok orang yang diuntungkan oleh satu atau beberapa kebenaran. Misalnya: kemarin ada wabah deman berdarah. Lalu para dokter berkata, "hindarkan diri anda dari gigitan nyamuk". Ini adalah kebenaran. Dan yang diuntungkan adalah para pedangan obat nyamuk.

Kalau begitu kebenaran bisa sengaja diciptakan supaya orang memperoleh untung, dong? Jawabnya: betul! Contoh sederhana begini. Misalnya ada sebuah keluarga yang memiliki anak. Karena keluarga ini tidak kaya, maka sang kepala keluarga tidak mampu menyediakan kebutuhan anaknya dengan berlebihan. Apabila anak laki-laki, dia tidak bisa membelikan mobil dengan remote control. Apabila anak perempuan, dia tak mampu beli boneka Barbie. Lalu kedua orang tua ini menciptakan "kebenaran" yang dapat menghindarkan anak-anaknya mengkonsumsi mainan yang mahal-mahal itu. Misalnya dengan mengatakan, "Mobil remot dan boneka barbie buatan Amerika, nanti yang untung Amerika kalau kita beli. Lebih baik main mobil-mobilan dari kulit jeruk bali dan beli boneka cepot saja. Kita harus bangga jadi orang Indonesia!"

Coba deh lihat sendiri. Pasti pernah mendengar, entah itu orang tua kita, guru, atasan, teman, bahkan pacar yang menciptakan satu pernyataan "kebenaran" karena dengan melakukan itu mereka untung. Atau ingat-ingat sendiri, barangkali saja kita pernah melakukan itu.

Karena untung-rugi juga ada dalam penciptaan kebenaran, maka dari itu kita tak harus percaya-percaya betul apapun kata orang, kendati si pengucap kalimat itu adalah orang yang memiliki otoritas atas kebenaran itu. Misalnya, kyai/ulama atau pendeta yang mengeluarkan pernyataan keagamaan, dokter dengan istilah-istilah yang kedengarannya indah untuk penyakit kelamin, atau hakim/jaksa yang menggunakan kata ulangan untuk membebaskan seorang tersangka, politisi yang berjanji akan memberantas KKN. Sebab semua pernyataan tadi mengikuti prinsip ekonomi kebenaran.

Lalu bagaimana menghadapi dunia yang seperti ini? Waduh... itu saya juga tak tahu. Ada filsuf yang bilang bahwa dunia pernyataan tadi adalah fenomena. Maksudnya, pernyataan tadi benar hanya pada saat itu dan di tempat itu saja dan tidak terkait dengan apapun di luar pernyataan itu sendiri. Misalnya ada yang bilang, "Saya adalah seorang kapiten." Itu artinya, ya dia adalah kapiten pada saat ia mengatakannya dan tak perlu dirujuk kalau dia hidup di laut. Singkatnya, tak perlu menghubungkan sebuah pernyataan dengan pernyataan lain sehingga pernyataan tadi seolah-olah memiliki makna lain.

Tetapi karena orang cenderung selalu mencoba memahami satu pernyataan dengan kerangka pikir lain, ada seorang pakar sosial lain yang bilang bahwa kebiasaan itu dapat menciptakan kenyataan dari kenyataan yang semu. Analoginya adalah seperti seekor anak kucing yang berdiri di depan cermin dan ia menganggap ada kucing lain di seberang sana. Istilahnya, hiper-realitas.

Dan hiperrealitas ini terkadang buruk sebab cenderung menuntun orang merealisasikan kenyataan berdasarkan imajinasinya. Misalnya, ada orang yang ingin membangun rumah. Ia survey ke berbagai perumahan. Ia membaca banyak majalah atau tabloid tentang arsitektur rumah. Dan akhirnya ia menghubungi jasa pembuatan desain rumah yang dilengkapi efek tiga dimensi. Ia telah membuat kenyataan; dan kenyataan itu kemudian mengendalikan dirinya. Ia jadi bekerja lebih keras, lebih tak mempedulikan kemaslahatan orang banyak, asal ia dapat uang untuk membangun impiannya itu. Well, ini sih masih wajar.

Tetapi coba bila ada seorang yang yakin bahwa dunia akan aman apabila dia yang menjadi pemimpin dan mengikuti segala cara yang dia inginkan? Ya, seperti sekarang ini..... datar semua. Tak ada yakin bahwa masa depan patut dipertimbangkan lagi....

Sungguh memilukan!

15 April 2004

Ketidakjelasan yang sangat jelas

Aduh, rasanya sudah lama sekali tak menulis. Memang sebenarnya juga tak ada ide yang pantas untuk ditulis. Habis, saya sejujurnya agak kecewa dan patah arang dengan hasil pemilu kemarin. Saya memang terkejut dengan komposisi hasil perolehan suara, tetapi itu bukan masalahnya. Yang saya tunggu adalah hasil itu cepat selesai dan segera diumumkan, supaya kita tak tertunda dalam mempersiapkan apa yang sepantasnya disiapkan.

Pada hari pertama seusai pemilu, jadi tanggal 6 april, saya masih maklum dengan perolehan suara yang masih seribu dua ribu. Namun pada hari-hari berikutnya, penambahan suara seperti dicicil. Waktu itu saya menduga, paling lama seminggu seluruh suara dapat dihitung. Dan sekarang, tanggal 15 april, belum ada 100 juta suara. Jadi masih ada kurang lebih 40-an juta suara yang belum terhitung. Itu sudah 10 hari.

Memang rada kacau perhitungan suara ini. Kecurangan yang biasa terjadi semasa Orba, dilakukan. Dan panwaslu serta orang-orang yang berkepentingan atas itu juga lalai. Sementara, KPU sebagai panitia pemilu juga kelihatan gagap dengan segala hal. Dalam perundangan, dalam percetakan, dalam pengiriman logistik, dalam perhitungan suara, mungkin juga nanti dalam pengaturan pemiliha presiden. Tapi, ya sudahlah... sebenarnya itu tak ada sangkut pautnya secara langsung dengan kehidupan sehari-hari saya, cuma ini menyebalkan saja... Keseluruhan proses ini makin membuat saya yakin bahwa tak ada satu pun orang Indonesia dapat dipercaya memimpin, tak peduli siapa dia!

Nah, terkait dengan pemimpin, sekarang juga sedang berlangsung, kata koran, lobi tingkat tinggi. Wah, para calon pemimpin itu sepertinya tak kapok juga dan tak menyadari jika rakyat itu bisa menghukum. Perolehan suara PDIP menurun adalah hukuman, juga perolehan suara PAN. Sebaliknya, suara banyak untuk Demokrat dan PK Sejahtera adalah hadiah.

Apa yang para elit lakukan sebenarnya sah saja, setidaknya begitulah ungkapan lisan tiap orang. Tapi dalam hati, seharusnya apa yang seharusnya tidak dilakukan ya jangan dilakukan. Elit itu harusnya tak bermain dengan daerah "abu-abu". Rakyat sudah lelah. Rakyat inginnya yang jelas saja. Sebut saja: saya ingin jadi pemimpin karena ini dan itu dan saya berdedikasi tinggi bagi rakyat semua, karena itu saya tak mau bergabung dengan parpol ini atau itu sebab hal itu akan menganggu keinginan saya memihak rakyat!

Tapi tak ada tuh yang begitu. Mereka masih khawatir dengan jumlah suara yang mereka peroleh. Meski suara itu berpengaruh untuk mencalonkan nama capres dan wapres tetapi itu tak berpengaruh terhadap bagaimana rakyat memilih orang.

Rakyat hanya akan memilih orang yang "kelihatannya" dan "kedengarannya" atau "rasa-rasanya" ada di pihak mereka. Jika mereka melihat dan mendengar X membela mereka, rakyat akan merasa pantas saja memilih X untuk menjadi pemimpinnya. Begitu sederhana.

Tetapi, para elit memang punya kepentingan lain. Jadi... biar saja mereka sekali lagi dihukum oleh rakyat.

Dan ternyata, bagi orang-orang seperti saya yang tidak terdaftar jadi pemilih, dapat mendaftar untuk ikut memilih presiden. Jadi, saya agak senang dan mau memanfaatkan hak pilih saya itu. Setidaknya itu adalah keinginan saya saat ini.
Entah besok......

02 April 2004

NGOTB

Pemilu tinggal beberapa hari lagi. Dan dua hari yang lalu, saya mendapati kalau ternyata saya tidak terdaftar sebagai pemilih tetap. Jadi, mungkin saya tak akan ikut nyoblos.

Sebenarnya bisa saja mengeluhkan hal ini ke RT, yang kemudian akan meneruskan hingga ke, entah KPU, entah Panwaslu. Tetapi tak saya lakukan, sebab kasihan saja: mereka sudah bekerja keras, di-grecokin sana-sini. Jadi dengan tidak mengeluhkan perihal ini, saya pikir setidaknya inilah yang bisa saya lakukan untuk mensukseskan Pemilu.

Golputkah saya? Menurut saya sih bukan. Golput adalah mereka yang sudah terdaftar menjadi pemilih tetap, mendatangi TPS, mengambil kertas suara, lalu masuk ke bilik suara, tetapi kemudian memilih untuk tidak memilih satu pun partai, atau nama caleg atau DPD. Dengan kata lain, golput adalah abstain.

Sedang saya kan tidak terdaftar. Mungkin saya boleh dibilang warga negara liar. Kalau meminjam istilah yang dipakai Pak Harto - presiden Orba itu - untuk mengidentifikasi orang-orang yang dituduh di belakang kerusuhan 27 Juli saat penyerbuan kantor PDI-nya Mega - saya dan orang-orang seperti saya adalah organisasi tanpa bentuk, disingkat OTB.

Waktu saya mengaitkan dengan ketidakikutsertaan saya di Pemilu, mungkin orang-orang seperti kami lebih pantas kalau disebut Gerombolan Tanpa Bentuk, disingkay GTB. Supaya kedengaran keren - dan sedikit memplesetkan boyband Amerika NKOTB (New Kids on the Block), maka pantas juga kalau singkatannya diperpanjang menjadi NGOTB = New Gerombolan On The Block!

Kendati saya tak nyaman dengan ini, tapi apa mau dikata: Pemilu kali ini, saya dipastikan hanya akan jadi anggota NGOTB saja.

Hidup NGOTB. Merdeka!!!



30 March 2004

Ada yang aneh deh...

Rasa-rasanya pabrik-pabrik banyak yang terbakar dalam beberapa bulan terakhir ini. Pasar-pasar juga banyak yang terbakar. Dan seiring dengan itu, harga-harga pada mulai naik. Elpiji naik, minyak goreng naik, harga telur juga.

Sepertinya pabrik yang menampung banyak pekerja sengaja dibikin tidak produktif sehingga memaksa perusahaan melakukan pemecatan. Selanjutnya, mereka tidak akan punya uang. Di sisi lain, kebutuhan pokok juga pada naik. Sehingga uang yang seharusnya dapat dipakai sekian hari, jadi sanggup hanya untuk beberapa hari saja.

Menuju ke manakah fenomena ini?

Coba lihat juga persiapan Pemilu 2004 yang selalu diberitakan media kekurang sempurnaannya. Perdebatan terakhir adalah penundaan Pemilu. Mulai pula beredar isu-isu menyangkut tokoh tertentu. Yang sekarang heboh, Gus Dur dibaptis. Terus ada bom yang meledak di Cimanggis, Depok.

Adakah ini diatur menuju ke satu tujuan tertentu?

Saya koq khawatir sekali. Semoga saja tak terjadi yang aneh-aneh...

23 March 2004

Tips Memilih Presiden

Saya kenal sebuah keluarga yang unik. Mereka terdiri dari enam orang: Bapak, Ibu, dua anak laki dan dua anak perempuan. Keunikan mereka terletak pada cara mereka memandang dunia. Misalnya, waktu ada wabah tikus menyerang tanah pertanian yang siap panen di Lampung, mereka menganjurkan untuk mengirim manusia sebanyak-banyaknya untuk mengatasi keadaan. "Kenapa?" saya bertanya. Sebab, manusia itu pemakan segala; jadi biar tikus-tikus yang menyerang padi, dimakan manusia, pasti habis. Saya selalu ingat nasehat mereka ketika ada wabah apapun melanda pertanian kita. Entah itu wabah belalang, atau serangga apa pun.

Kadang-kadang saya berpikir mereka itu saman, yakni cara pandang sebuah masyarakat di Jawa Tengah bagian utara (mungkin Blora). Ada sebuah cerita. Waktu itu jaman Soeharto. Apabila kita bertanya siapa presiden Indoensia, orang saman akan bilang Soekarno. "Bukannya Soeharto?" Mereka akan menjawab, "Soeharto kan gantinya."

Saya sudah lama tak jumpa mereka. Mereka tinggal jauh dari tempat saya. Pada satu kesempatan libur panjang, saya berkujung. Saat itu, hanya ada Bapak, Ibu, satu anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Setelah berbincang ngalor-ngidul, akhirnya kita ngomongin juga masalah Pemilu. Tentang bagaimana mencoblosnya. Partai mana yang lebih baik. Dan seterusnya. Waktu kita bicara tentang siapa presiden yang akan dipilih, mereka menunjukkan watak aslinya. Si anak laki-laki berkata akan memilih Yusril Ihza Mahendra karena ia gagah. Si anak perempuan bilang akan memilih Susilo Bambang Yudoyono karena SBY lebih gagah dari Yusril, dan lebih berwibawa. Si Ibu bilang ia akan pilih Surya Paloh sebab tak ada satupun calon presiden yang brewok.

Duh, waktu saya dengar alasan mereka memilih saya jadi ingat teman saya yang pada pemilu 1999 tidak akan pernah memilih Gus Dur karena Gus Dur tak fotogenik sama sekali.

Sementara si Bapak bilang akan memilih Megawati. Kenapa? "Kasihan, masa mau jadi presiden lagi ndak boleh? Wong Soeharto saja sampai 32 tahun, koq," jawabnya santai.

Mendengar alasan mereka memilih, saya jadi ingin ikut pemilu deh..

19 March 2004

Sujiwo Tedjo's Klenikism

Pagi ini, Jum'at, 19 Maret 2004, saya mendengarkan dialog di Delta FM yang menghadirkan Sujiwo Tedjo. Pada intronya, si penyiar menyebut aktivitas Tedjo yang paling anyar adalah novelis dan pembawa acara klenik di TV, setelah sebelumnya menekuni alat-alat musik barat, khususnya saxophone, pemain film, dalang, wartawan dan penyiar radio dari masa sekolahnya di ITB, di Teknik Industri dan satu lagi - duanya drop-out.

Dalam dialog, ada beberapa SMS dan telepon yang masuk. Ada SMS yang memarahi Tedjo karena dalam mendalang ia menyalahi pakem pendalangan. Tedjo berargumen bahwa justru pakem yang sekarang sering dipakai adalah salah sebab pakem yang sekarang diadaptasi dari versi India pada masa orang Jawa dijajah Belanda. Jadi yang menjiwai adalah semangat orang yang kalah. Tedjo menutup dengan minta maaf bagi yang tidak berkenan, tapi dia akan melanjutkan caranya mendalang.

SMS lain menanyakan adakah sekolah dalang. Tedjo menjawab ada, tetapi kebanyakan murid sekolah itu berakhir menjadi peneliti atau dosen perdalangan. Sangat jarang yang jadi dalang. Sebab, katanya, percaya atau tidak, dalang adalah profesi turun temurun, seperti jabatan Presiden Indonesia. He..he..

Ada beberapa SMS lain dan penelepon masuk yang saya tidak ingat betul bertanya apa. Yang menarik perhatian saya adalah tentang klenik. Tedjo diprotes karena ia membawakan acara hantu-hantuan. Dia menjawab bahwa dia dengan sengaja membawakan acara itu dengan alasan bahwa acara-acara hantu-hantuan - yang dalam istilahnya klenik - ternyata lebih rasional ketimbang dunia nyata di Indonesia, khususnya politik. Dia merujuk, Akbar Tanjung kok bisa bebas? Ini tak logis. Atau dengan kata lain: ini klenik!

Dan saya pikir banyak yang tak masuk akal di sekeliling kita ini. Pegawai negeri atau anggota TNI/Polri dengan gaji sedemikian kecil dapat hidup dengan berkecukupan, bahkan mewah. Ada orang yang tak bekerja, punya uang banyak. Sebaliknya, yang jujur dan bekerja keras, hidup dalam keterbatasan. Ini klenik.

Dalam usahanya untuk membuktikan bahwa dunia politik Indonesia memang klenik, Tedjo sedang menyiapkan film tentang Sumanto. Ya! Si kanibal itu. Dia akan memerankan jadi guru Sumanto, yang katanya memberi petunjuk kanibalismenya si Sumanto. Saya tak menangkap hubungannya. Hanya saya senang saja waktu dia bilang ada yang lebih klenik dari dunia klenik sendiri.

Dan kita memang begitu kan ya?




16 March 2004

Coba Lihat

Coba lihat di sekeliling kita. Tetangga kita. Orang-orang yang kita lihat sepanjang perjalanan menuju sekolah, kantor atau tempat aktivitas kita. Coba lihat secara ekonomis: miskin kah mereka atau kaya kah? dan secara kelas sosial: mereka priyayi atau bukan? atau secara agamis: taatkah mereka atau tidak? dan coba saja dengan cara lain untuk melihat mereka.

Coba lihat juga teman seperjalanan kita di jalanan yang macet ini. Bersepeda motor, bermobil tua, baru, mahal, CBU, curian. Jalan kaki, naik sepeda. Mengojek, menumpang tetangga? Membayar angkutan kota sesuai tarif, atau sebisanya, atau tak bayar sama sekali?

Coba lihat diri sendiri? Kayakah kita dibanding rata-rata mereka? Terhormatkah kita dibanding mereka? Taatkah kita dibanding mereka? Siapa kita ini?

Dan tahukah jawabnya? Mudah sekali. Secara verbal, tak ada. Secara praktis, juga tak ada? Artinya, pertanyaan seperti tadi tak perlu ada kok. Saya cuma iseng saja karena tak punya sesuatu untuk ditulis?

Horas!

15 March 2004

Kampanye

Saya mencoba mencari-cari sesuatu yang menarik dari kampanye pemilu sekarang. Dan saya gagal. Calon legislatif yang mengajukan diri kebanyakan tak diketahui rimbanya. Sekali diketahui, ternyata orang yang dulu-dulu juga. Janji yang mereka ucapkan, ya.. cuma beda redaksional saja. Esensi (jika ada) sama. Tak peduli yang bicara itu orang yang telah begitu lama di politik atau mereka yang mencobai politik sebagai lahan baru.

Cara berkampanye juga sama. Ada orang-orang yang penuh semangat berorasi di hadapan segelintir orang yang tak sabar untuk segera berpawai, bersama segenap keluarga: istri dan anak-anak mereka. Kampanye, dari kacamata ini, seperti darma wisata. Dan amat salah jika KPU atau Panwaslu mengatakan perilaku ini sebagai pelanggaran.

Apabila ada massa yang lebih besar berkumpul di lapangan terbuka dan besar, menunggu idola politik mereka berorasi, keadaan jadi agak kacau. Sebab, semua orang di wilayah itu 'dipaksa' untuk ikut kampanye walaupun mereka sebenarnya bukan anggota partai itu, atau bahkan simpatisannya sama sekali. Tetapi karena mereka menghadapi gelombang massa yang lebih besar, terpaksalah mereka ikut kampanye dengan tidak membuka toko, menunda keberangkatan, membatalkan acara, dan bersabar. Padahal, si idola politik yang ditunggu datang begitu terlambat sampai penyusun kamus bahasa Indonesia mungkin harus menciptakan definisi baru. Mereka datang pun hanya untuk bicara paling lama 10 menit, lalu mencelat begitu saja.

Kampanye juga menyebabkan segala benda yang bisa dicantoli dan ditempeli jadi berwarna. Ada bendera merah, kuning, hijau, putih, atau kombinasi warna-warna itu. Posternya juga. Dengan ini, masyarakat tiba-tiba bisa menjadi kritikus seni. "Bendera itu jelek, bendera ini bagus, kertasnya murah, kertas ini mahal. Tak kreatif, masa logo partai saja sama. Dst, dll." Masyarakat juga seperti ikut kursus sempoa. "Parta nomer sekian, gambarnya ini." Jadi bolehlah, kampanye membuat "rasa" dan "logika" masyarakat lebih tajam.

Semoga saja "ketajaman" mereka juga menjadi alasan untuk memilih parpol yang "cukup" bersih dan mau membela rakyat. Mengapa cukup? Karena, mustahil menyebut parpol "bersih". Logikanya begini: politik adalah sebuah sistem. Di Indonesia, politik diakui lebih kotor ketimbang seni. Jadi, politik di Indonesia adalah seni kekotoran. Siapapun yang mau menerjuni politik di Indonesia harus bersedia kotor. Dengan mempertahankan sistem kekotoran ini, sistem politik berjalan. Ini logika politik kita. Lalu ada orang yang dengan serta merta berkata menerjuni politik dengan semangat bersih. Yah, tak mungkin lah. Pepatah bilang, "main api terbakar, main air basah." Demikian juga mereka nantinya. Jika terus bermain politik, tentulah akan kotor juga. Tak ada kesempatan mereka untuk bersih. Singkat kata, pemilu kali ini tak akan menawarkan sesuatu yang baru. Kita akan tahu bahwa keadaan sesudah pemilu 2004 seratus persen mirip dengan keadaan yang kita miliki selama lima tahun terakhir ini. Istilahnya, "Deja Vu!"

Jadi, kembali ke keinginan tahu saya mencari sesuatu yang baru di kampanye kali ini, kegagalan saya mendapatinya telah memperoleh jawabnya. Saya sedih tapi bagaimana lagi. Perlu lebih dari sekedar pemilu untuk mengubah Indonesia kita ini. Amat menakutkan kemungkinan ini, tetapi, seperti kata pakar matematika di Jurassic Park edisi pertama, "life will find its way". Dan Indonesia akan menemukan jalan hidupnya sendiri, nanti, dengan resiko apapun.

Bersiaplah semua!

08 March 2004

Pemusik Sebagai Penghibur

Saya sering jengkel saat melihat pertunjukan musik hidup (memang ada musik mati?), terutama artis-artis yang sudah punya nama. Pasalnya, mereka tak bisa tampil sebaik kaset rekamannya. Mereka seringkali bersuara jelek. Kalaupun mereka bisa, mereka tak melakukannya. Mereka lebih senang berimprovisasi. Mungkin dipikirnya dengan melakukan itu, para penggemar mereka akan menganggap mereka lebih hebat. Padahal bukan itu yang terjadi.

Para penggemar menginginkan satu: hiburan. Dalam kasus artis rekaman, mereka ingin mendengar lagu. Lagu apa? Ya, lagu-lagu yang ada di kaset rekaman. Mereka ingin mendengar irama serupa yang ada di kaset. Tentu saja dibumbuhi dengan aksi panggung.

Tetapi sepertinya ada keengganan dari para artis 1untuk menghibur para penggemar mereka. Mereka lebih asyik mengeksloparasi diri mereka sendiri tanpa persetujuan penggemar. Mudahnya, mereka pamer kalau mereka itu bisa yang susah-susah. Jadi kaset adalah pintu masuk ke audiens yang lebih luas, dan setelah laku, mereka berbuat semau-maunya.

Amatlah berbeda dengan penyanyi asing. Red Hot Chilli Peppers menyanyikan seluruh lagunya persis seperti yang direkaman. Mereka menambahinya dengan aksi panggung. Mariah Carey juga. Metallica juga. Bahkan The Beatles juga. Karena mereka tahu mereka harus menghibur. Eksplorasi dilakukan di ruang studio, atau di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau media massa dan fans.

Kok artis Indonesia tidak begitu? Mereka, layaknya orang Indonesia yang lain, merasa amat jumawa begitu terkenal. Dengan terkenal mereka menjadi berkuasa. Setelah berkuasa ya.. bebas melakukan segala. Tak ada jiwa pengabdian. Tak ada semangat menghibur. Semuanya adalah tentang aku!
Kok tulisan ini kedengarannya lebih cocok dengan kondisi para politisi kita ya? Mereka berjanji-janji manis, seperti artis merekam. Ketika janji manis itu dibeli oleh para pemilih, mereka mangkir. Duh..

Singkatnya, orang Indonesia memang adatnya begitu-itu!


04 March 2004

Usaha Sendiri

Adalah membuang waktu untuk mengharapkan ada mukjizat yang menguntungkan kita. Seluruh keajaiban yang menimpa kita adalah buah dari usaha kita sendiri. Besar kecil usaha berbanding lurus dengan besar kecilnya keuntungan yang kita peroleh.

Dulu, saya adalah orang yang tak percaya pada nasehat-nasehat orang bijak bahwa letak segala perubahan adalah diri kita sendiri. Bukannya mereka berkata salah, ataupun karena saya tidak tahu itu. Saya pikir itu cuma buang-buang waktu. Tentu saja semua orang akan tahu apa yang akan mereka lakukan tanpa harus dinasehati dulu. Apalagi bila itu berhubungan dengan "survival".

Jadi ketika ada iklan koran yang menawarkan sesi pengembangan dan atau motivasi diri serta beraneka ragam buku yang membahas perihal serupa, saya acuhkan saja. Dalam hati, "adakah orang yang rela dan ikhlas menghabiskan uang untuk itu?". Ternyata banyak.

Sepertinya banyak dari kita kehilangan kepercayaan diri. Bukan berarti mereka sendiri menghilangkannya, akan tetapi situasi yang mereka hadapi saat ini membuat mereka hilang akal, buntu dan kesepian. Duh, begita kejamnya lingkungan kita ini.

Jeleknya, kebanyakan dari kita tak sanggup bangkit sendiri menjadi diri kita yang biasa lagi setelah terpuruk, dalam bisnis, pekerjaan dan cinta. Seolah seluruh dunia ada di pundak mereka. Jalan keluar yang tersedia satu-satunya adalah menuju ke "pelarian diri". Tak mau menghadapi kenyataan. Sebab itu perlu diciptakan kenyataan lain yang berasal dari kenyataan yang nyata. Istilah yang menyederhanakan adalah "impian". Kata seorang pintar Prancis, disebut: hiperealitas. Singkatnya, banyak yang sekarang hidup dalam impian.

Dan untuk bangun dari mimpi itu ternyata butuh lebih dari sekedar "kemauan". Harus ada situasi lain yang menarik mereka keluar dari itu. Harus ada bantuan dari orang lain. Inilah fungsi para motivator kepercayaan diri. Supaya peserta sesi ini atau pembaca buku dapat memberi makna pada diri mereka sediri dengan cara apapun.

Melihat dalam konteks yang lebih luas, sepertinya masyarakat Indonesia juga perlu sesi memulihkan percaya diri mereka. Sebelum krisis, semua orang dapat hidup enak. Akan tetapi sebagian besar adalah karena ketergantungan. Dan ketika gantungan itu runtuh, semuanya jadi berantakan.

Saat ini ketika masyarakat belum cukup mampu berdiri sendiri, krisis lain datang silih berganti. Ada harga kebutuhan pokok yang naik, ada bencana alam di sana sini, ada orang yang tidak tahu diri mencalonkan jadi pemimpin. Semuanya kelihatan tidak tertib.

Nah, daripada terlibat pada hal-hal semacam itu, mungkin akan lebih baik berusaha sendiri. Karena bila berharap pada "gantungan", tak ada harapan. Dengan memulai usaha sendiri, kita juga membangun masyarakat yang pada nantinya punya "daya tawar" tinggi dan kuat ketika berhadapan dengan "gantungan" yang ada.

Semoga kita bisa mulai usaha sendiri hari ini. Ciao!!

27 February 2004

Jalan Berliku dan Jalan Lurus (2)

Terlepas dari itu, mungkin ada baiknya meneliti sejarah kuda sebagai kendaraan di Indonesia. Di Kelantan, Malaysia ada seseorang yang begitu mencintai kuda sampai ia membuat web-page mengenai sejarah kuda di wilayah itu.

Kembali ke pokok persoalan, mungkin karena alam juga mengapa orang Indonesia berpikir agak berkelok-kelok. Orang Indonesia, khususnya Jawa, amatlah sulit mengatakan secara langsung apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia akan memulai dari percakapan sederhana hingga ke penggunaan metafora bagi kepentingannya. Orang Jawa mengharapkan lawan bicara mereka mengerti apa yang mereka maksud dari metafora tadi. Istilah mudahnya, "tahu-sama-tahu". Mungkin di suku-suku lain juga begitu. Ini nampak dari, misalnya, rumit dan bertele-telenya adat perkawinan yang asli, bukan yang telah dimodifikasi.

Karakter ini juga yang sepertinya mewarnai corak kehidupan bernegara. Terlalu berliku, seringkali tak tentu arah.

Yang diperlukan adalah orang yang menempuh jalan lurus - bukan berarti orang dengan pendidikan Amerika Serikat - untuk menguntai kekusutan persoalan di Indonesia. Orang yang lurus sepanjang hidupnya, dalam beragama dan berkehidupan sosial.

Pertanyaannya: adakah dia di sini?

26 February 2004

Jalan Berliku dan Jalan Lurus

Seorang kawan berteka-teki, "Mengapa jalan di Indonesia banyak berliku dan jalan di luar negeri (dia merujuk ke Amerika Serikat) lurus?" Saya mencoba menjawab sebisa saya, dari yang ngawur sampai yang ilmiah. Semuanya tak memuaskannya. Lalu ia memberi jawab sendiri, "Sebab, jalan di Indonesia bekas jalan setapak, dan jalan di AS bekas jalan kuda!" Berbelok-belok karena seorang manusia bebas bergerak, sementara kuda kan rada susah. Dalam hati saya bilang, "iya kali juga ya."

Saya memang tidak tahu persis apakah itu yang terjadi. Namun saya pikir keadaan alam suatu wilayah akan menyebabkan sebuah jalan berliku atau lurus. Di AS memang banyak tanah datar yang luas, seperti juga di Australia, atau Arab Saudi, atau negara-negara di Afrika Utara dan Russia, sehingga memungkinkan kuda untuk berlari di sana. Sementara di Indonesia, tanahnya berbukit-bergunung, yang justru akan merepotkan apabila membawa kuda. Kuda memang juga digunakan di Indonesia, misalnya di Nusa Tenggara. Kuda juga jadi kendaraannya Pangeran Diponegoro. Ingat tidak, patung atau lukisan Diponegoro pasti sedang menunggang kuda. Kuda juga dikenal di berbagai wilayah sebagai tenaga penarik sado, dokar, bendi, dan istilah lain.
Cuma memang tidak umum. Kenapa? Ya itu tadi, repot mbawa kuda jalan di tanah bergelombang dan berhutan lebat.

(nanti saya lanjutkan)

20 February 2004

Profesi versus tau-apalah-namanya

Saya dapat email yang bercerita tentang sebuah rumah sakit mahal telah lalai, alpa, teledor, merawat seorang pasien anak orang kaya yang mampu membayar berapapun biaya yang dibutuhkan untuk kesembuhan anaknya. Si anak meninggal karena DB. Letak kealpaan rumah sakit itu adalah tidak menurunkan dokter terbaiknya, sebaliknya, hanya menugaskan perawat. Salah diagnosa, tidak kompeten merawat pasien dalam keadaan gawat.

Kemarin ada berita tentang Menteri Kesehatan Suyudi, Gubernur DKI Jakarta dan Taufiek Kiemas. Mereka menengok sebuah rumah sakit yang dibanjiri penderita DB. Bang Yos bilang pemprov DKI menyubsidi dana untuk perawatan orang miskin. Tetapi ketika ada seorang pasien miskin yang langsung mengeluh ke Menteri Kesehatan karena ia dipaksa rumah sakit mengganti biaya perawatan yang mahal, pak Menteri kehilangan kata-kata. Dia cuma minta pihak rumah sakit membereskannya.

Hujan yang belakang hari turun semakin deras, selain menyebabkan banyak penyakit, juga adalah batu ujian bagi kekuatan sebuah konstruksi, khususnya jalan raya. Adalah kebiasaan setiap jalan pasti rusak kendati baru saja diperbaiki. Belum cerita, entah itu tanggul, Sekolah Dasar, pasar umum, semua rubuh sebelum satu tahun. Saya tak habis pikir saja. Penjajah Belanda - dengan teknologi abad ke 18 dan 19 saja, mampu membangun konstruksi yang tahan hingga puluhan, atau mungkin ratusan tahun. Adakah teknologi konstruksi telah demikian mundurnya, sehingga seluruh konstruksi yang dibangun orang Indonesia sendiri di abad 21 sedemikian rapuhnya. Sebuah paradox yang mengenaskan.

Tapi saya teramat terharu ada seorang pemegang dua gelas kesarjanaan mengabdikan diri di belantara hutan Riau mengajari anak-anak suku Anak Dalam. Dan saya yakin masih ada satu dua orang yang berprofesi khusus mengabdikan diri karena merasa yakin bahwa profesi yang ia emban dan segala macam ilmu yang ia peroleh harus berguna untuk masyarakat. Ia bertindak atas nama profesinya an sich.

Kendati mereka tahu ada realitas eksternal yang harus mereka hadapi dan juga penuhi. Tetapi mereka mendahulukan profesi mereka. Tugas dokter adalah merawat yang sakit. Seorang sarjana tekhik adalah membuat konstruksi yang kuat dan tahan lama.

Tulisan ini bukan untuk menggarisbawahi kedua profesi di atas. Saya niatkan itu hanya jadi model saja bagi kita untuk melihat profesi lain dan profesi diri sendiri.

Yang bikin saya sedih, saya tidak punya profesi yang khusus...

18 February 2004

Lipatan waktu

Kemarin hidup berkesudahan
Lelah mengajari manusia
Menerbitkan sayang

Lelah menjamu manusia
Meluluhlantakkan sayang

Hari ini
hidup tidak kembali hidup

Sayang…

Jkt, August 11, 2003, 8.06 pm

17 February 2004

Demam Berdarah

Sudah banyak yang meninggal, kebanyakan anak-anak. Bukan di Jakarta saja, tetapi di daerah lain juga ada. Mewabah sejak Januari 2004 dan baru diumumkan sebagai Keadaan Luar Biasa (KLB) Februari. Dengan ini, pemerintah dapat mengeluarkan dana emergency. Terlambat? Yah, itu kan sudah wataknya Indonesia= CELUP TELMI (Cepat lupa, telat mikir). Flu burung yang lagi nge-trend itu, ternyata sudah ketahuan sejak November 2003, tapi baru dipublikasikan awal tahun 2004! Politis? Semua di Indonesia jadi politis. Kita kentut di DPR aja mungkin akan dianggap politis!

Karena watak pemerintah yang seperti itu, akan lebih baik sebenarnya bagi kita untuk aktif sendiri. Apabila ada kabar tak enak datang, ya kita siap-siap saja. Ada deman berdarah, ya kita bersih-bersih rumahlah. Bakal ada banjir, ya kita siapkan Standard Operating Procedure sendiri untuk mengungsi. Ada ancaman kerusuhan, ya kita menumpuk minyak tanah atau beras untuk persiapan.

Oops, kalau yang terakhir dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha yang cerdik pandai sekaligus egois tak bermoral Pancasila! Sebenarnya, langkah itu bukan salah mereka juga. Sebab, yang memicu segalanya adalah keadaan. Karena keadaan tertentu, seseorang dianggap sah di muka hukum, untuk mengambil langkah-langkah darurat.

Karena keadaan pula, pemerintah akan berdalih macam-macam untuk keterlambatan apapun yang mereka lakukan. Force mejeur. Enak benar?

Lalu apa saja kerja mereka kalau ternyata tak bisa mengatasi keadaan. Bukankah inti dari segala pekerjaan pemerintah adalah menguasai keadaan. Coba lihat saja TNI/Polri, "keadaan aman terkendali" dan bom serta kerusuhan etnis ada di mana-mana. Belum lagi kapak merah serta kombinasi warna-benda tajam lainnya.

Bagaimana mungkin "keadaan" tidak taat lagi kepada aparat negara lagi. "Keadaan" telah mbalelo, dissident, subversif, setan gundul, dll, dsb. Mungkin "keadaan" sekarang juga tahu, tunduk patuh kepada aparat negara tak ada untungnya bagi mereka. Jadi lebih baik independen saja. Lebih menguntungkan dan sepertinya juga lebih bergengsi.

Dilihat dari situasi ini, sepertinya keadaan deman berdarah juga akan bergerak bebas di Indonesia layaknya segala hal dan semua orang Indonesia sendiri sekaligus orang asing bebas bergerak di sini. Masing-masing berusaha menguasai "keadaan" mereka masing-masing karena orang yang seharusnya menguasai mereka juga sedang sibuk mengurusi "keadaan" yang lain untuk kepentingan mereka sendiri, yakni Pemilu 2004! Beberapa "keadaan" memang dapat bekerja sama selama hal itu dapat menciptakan sintesa "keadaan" yang lebih baik. Tetapi sintesa macam itu tak akan menciptakan "keadaan" yang lebih baik bagi masyarakat.

Walhasil, wabah deman berdarah saat ini mungkin akan sukses seperti Inul menggoyang Indonesia! Serem banget sih... apa asyik banget ya?

16 February 2004

Masalah dan masalah lagi

Sebagai orang biasa-biasa saja, masalah seperti tak henti-hentinya datang. Setelah SIM hilang, PLN dicabut. Dan sekarang, saya harus cari rumah. Padahal, tak adalah biaya untuk itu.

Bukan berarti saya berkeluh kesah. Hanya saja, banyak sekali masalah yang datang bukan dari kita sendiri. Beberapa bulan ini, ada saja masalah. Ada penyakit sapi gila yang membuat kita khawatir makan daging. Yang sekarang sedang ramai adalah flu burung yang memaksa kita menghindari makan ayam. Beberapa minggu yang lalu, el-pi-ji menghilang dari pasaran, katanya akibat kerusakan pemasok. Bagi masyarakat yang lebih susah lagi, minyak tanah juga sulit didapat di pasaran. Belum lagi, ada rencana kenaikan tarif telepon. Dan saya pikir masih banyak lagi. Pendeknya, semua persoalan itu datang dari luar.

Luar - hingga saat ini - dikelola oleh negara. Dilihat dari sudut pandang ini, negara sepertinya tidak mampu mengurus dengan baik. Negara yang dikelola oleh pemerintah seolah-olah tak pernah memiliki penyelesaian yang tidak menjadi persoalan lain. Meminjam motto Perum Pegadaian, "Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah" maka pemerintah kita selalu "Menyelesaikan Masalah Dengan Menciptakan Masalah Lain". Sebuah pengalih-perhatian. Jadi tak pernah ada satupun masalah di Indonesia yang secara menyeluruh teratasi.

Dan paling buruk dari semuanya adalah media massa. Para pengasuh media massa mengaku sebagai lembaga yang berperan bagi kemaslahatan masyarakat. Akan tetapi media saat ini cenderung mengombang-ambingkan masyarakat. Belum lagi kasus korupsi ini selesai, pasar tanah abang terbakar. Pengangguran banyak, Akbar Tanjung lepas. Hantu pondok indah hilang, kolor ijo muncul. Dari sini dapat dilihat, media juga tak berperan membantu rakyat aktif menyelesaikan masalah yang diciptakan negara. Kebanyakan mereka masih bersaing untuk mempertahankan bisnis mereka. Sudikah mereka berkorban demi rakyat, wah.... tak mungkin lah. Mereka kan juga dikelola manusia Indonesia yang masih lapar juga. Jadi, mereka sebenarnya juga punya masalah.

Jadi kembali ke pokok persoalan di awal, bisa selesai nggak masalah saya ini? "Bisa, asal usaha!", kata orang-orang bijak. "Putus urat malu yang lo punya, lo bakal dapat uang banyak!" kata para calon selebritis. "Nggak usah jujur-jujur amat, enggak kebagian," kata seorang pegawai negera yang berpengalaman. Nasehat-nasehat tadi dapat disimpulkan: "Elu-elu, gua-gua" - "Urusan lain, belakangan". Nekad dengan percaya diri!

Memang susah jadi orang biasa-biasa saja!

13 February 2004

Rasa Adil dan Adil Rasa

Hari ini topik terhangat di media massa, di hampir semua forum komunikasi masyarakat, adalah pembebasan Akbar Tanjung, Ketua DPR RI dan Golkar dari tuduhan keteledoran pengelolaan uang negara sejumlah 40 milyar oleh lembaga tertinggi kehakiman, Mahkamah Agung. Tak gentar dengan opini di luar gedung, seperti mahasiswa, MA kukuh dengan putusannya. MA juga tak peduli dengan dissenting opinion atau pendapat berbeda dari salah anggota dewan hakim yang berkeberatan atas pembebasan Akbar. Sepertinya, keputusan MA sudah "jadi" bahkan ketika Akbar belum mengajukan kasasi.

Sebagian besar rakyat, walau tak habis mengerti mengapa hal itu dapat terjadi, sudah menyangka keputusan MA akan begitu. Rakyat sepertinya sudah tak bernafsu bicara sama sekali tentang "adil". Rasa adil rakyat tak sesuai dengan rasa adil lembaga pengadilan dalam tingkat apapun, atau bahkan dengan rasa adil lembaga pemerintah di semua wilayah. Rasa adil adalah perasaan yang seharusnya tidak ada di hati masyarakat. Singkat kata, pemerintah harus mengeluarkan pernyataan ini: "Rakyat Dilarang Memiliki Rasa Adil. Barangsiapa terbukti secara sah memiliki rasa adil akan dikenai pasal-pasal subversif, dst..."